NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.16

Riuh tepuk tangan menggema di seluruh ballroom hotel mewah itu. Cahaya lampu kristal yang menambah kemegahan  memantulkan kilauan keemasan yang menambah kemegahan suasana. Para tamu berdatangan bersilih berganti, membawa senyum ucapan selamat, dan doa yang terbaik untuk pasangan yang berdiri di panggung.

Alvaro dan Elizabets, dua nama yang menjadi pusat perhatian hari itu.

Beberapa pengusaha ternama, pejabat daerah, hingga rekan bisnis tuan Denis tampak memenuhi ruangan. Pertunangan itu  bukan sekedar penyatuan dua insan, melainkan juga simbol eratnya hubungan oleh dua keluarga terpandang.

" Selamat, Tuan Denis, semoga semuanya berjalan lancar sampai hari pernikahan nanti." Ucap seorang pengusaha sambil menjabat tangan pak Denis.

*Aamiin, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang di acara putra kami. " Senyum Denis mengembang dengan penuh kebanggaan.

Di balik senyum ramahnya, pak Denis merasa malam itu adalah puncak keberhasilannya. Putra tunggalnya akhirnya bertunangan dengan putri keluarga terpandang. Menurutnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi soal penyakit Elizz, dia akan sembuh ketika bersama Alvaro. Sayangnya, bertolak belakang dengan keinginan putranya.

Tak jauh dari sana, Lidya berdiri menemani para tamu wanita. Senyum tipis terus menghiasi wajahnya, tetapi matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah Alvaro. Seorang ibu tak pernah salah membaca isi hati anaknya. Ia tahu senyum Alvaro hanyalah topeng. Tatapan putranya kosong, setiap kali kamera menyorot wajahnya, ia tersenyum seperlunya, lalu kembali memasang ekspresi datar.

Melihat sikap dingin Alvaro, Denis mendekati istrinya, lalu berbisik sesuatu.

" Coba bilang pada Alvaro supaya terlihat lebih bahagia. Jangan sampai tamu melihat wajah murungnya."

Nada suaminya terdengar tenang, tapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah.

Lidya menghembuskan nafas panjang.

Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Alvaro yang sedang berdiri di samping Elizabets.

" Al..." panggilnya pelan.

Alvaro menoleh, dengan kening berkerut Alvaro mendengarkan yang dikatakan ibunya.

" Papa minta kamu lebih banyak tersenyum."

Ck....Alvaro berdecak kesal, dengan wajah memerah, ia berkata pelan.

" Kenapa urusan seperti ini pun Papa harus ikut campur?" geramnya sambil menahan suara.

" Jangan membantah, Nak. Papa akan marah kalau terjadi sesuatu yang tidak dinginkan. Hari bahagia ini penting bagi keluarga.

" Penting bagi kalian, bukan bagiku." Ucapan itu membuat Lidya terdiam sesaat.

Ia ingin membela putranya, tapi ia juga tak ingin membuat keadaan semakin rumit.

" Tolong Al, demi mama." Mohonnya.

Alvaro memejamkan mata beberapa detik, rahangnya mengeras. Namun, amarahnya yang selama ini dipendam akhirnya tak sanggup lagi ia tahan.

" Hem..., sampai kapan pun aku tidak sudi menerima perjodohan ini.

Kalimat itu keluar pelan, namun cukup jelas untuk didengar oleh seseorang yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Elizabeth...jantung wanita itu seakan berhenti berdetak. Tangannya yang semula, menggenggam buket bunga perlahan melemas. Senyum yang sejak tadi dipaksanya memudar.

Jadi... selama ini memang benar, Alvaro belum bisa menerimaku, dan tidak menginginkan pertunangan ini.

Semua perhatian tamu masih tertuju ke panggung, sehingga tak seorang pun menyadari perubahan ekspresi Elizabets. Hanya Lidya yang melihat mata calon menantunya mulai berkaca-kaca.

" Eliz..." panggil Lidya lirih.

Namun, Elizabets hanya menggeleng kecil lali berucap," Aku tidak apa-apa, Tante.

Kalimat itu terdengar tegar, tetapi suaranya bergetar

" Kamu sudah tahu kalau Alvaro dan Anna saling mencintai, lantas kenapa kamu masih menginginkan Alvaro, dan menjadikannya pendampingmu? Siapa yang patut disalahkan kalau seperti ini?" Batin Lidya bergelut, pandangannya masih tertuju pada wanita yang berada di samping putranya.

Di sudut ruangan, pak Denis memperhatikan putranya dengan tatapan tajam. Meski dari kejauhan ia tak mendengar percakapan mereka, firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ia mengenal Alvaro lebih dari siapa pun. Tatapan dingin itu pertanda badai. Dan bila Alvaro benar-benar menolak, bukan hanya nama baik keluarga yang dipertaruhkan. Kerjasama bisnis bernilai miliaran rupiah yang telah dirancang selama berbulan-bulan juga bisa hancur dalam sekejap. Paka Denis mengepalkan tangannya

" Jangan sampai kamu mempermalukan papa, Alvaro," gumamnya pelan.

Sementara itu, Alvaro menatap langit-langit ballroom dengan sorot mata penuh penyesalan. Di dalam hatinya, hanya ada satu nama. Perempuan yang seharusnya berdiri di sampingnya hari ini bukan Elizabets melainkan Anna Aluna, wanita pujaan hatinya.

***

Selamat tinggal dokter, Alvaro.

Cinta kita hanyalah kenangan semata

Berbahagialah bersama Elizabets

Hati siapa yang tidak terluka ketika orang yang dicintainya akan bersanding di pelaminan dengan perempuan lain. Terlebih lagi perempuan itu adiknya sendiri.

Anna memeluk kedua lututnya di sudut kamar yang tak begitu luas. Tirai tipisnya bergerak pelan diterpa angin semilir, sementara cahaya matahari mulai redup menyudup melalui jendela seolah enggan meninggalkan ruangan yang dipenuhi kesedihan itu.

Di atas ranjang tergeletak sebuah undangan berwarna putih gading. Nama itu kembali menusuk matanya.

"Alvaro dan Elizabets, tidak lama lagi mereka menikah," lirihnya lagi.

Anna tersenyum pahit, tenggorokannya terasa tercekat, berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk.

Masih terngiang-ngiang di telinga suara ibunya memohon sambil menggenggam erat kedua tangannya.

" Mama tahu Alvaro sangat mencintaimu, mama juga tahu kalian sudah berjanji akan menikah."

Anna diam terpaku mendengar ucapan ibunya tentang pernikahan yang harus segera dilangsungkan. Hancur... itu yang dirasakan.

" Kenapa Anna yang selalu mengalah, Ma? Aku mencintai Alvaro."

"Tapi Elizabeth juga mencintai Alvaro," kata ibunya," seolah tak ingin bantahan.

"Dia bilang tidak ada pria lain yang tulus padanya selain Alvaro."

Mendengar itu, Anna hampir saja kehilangan kendali. Ia sempat menolak, tapi setelah banyak orang menentang cinta mereka, akhirnya dia pun mengalah.

" Mama, cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksa.

" Mama tahu, Anna."

Mata ibunya berkaca-kaca.

" Tapi, Eliz jauh lebih rapuh dari kamu, Nak. Kamu itu anak sulung, kamu anak yang kuat. Tolong... kali ini aja kamu mengalah demi untuk adikmu.

“Nona Anna, ada di dalam?” Sebuah teriakan tiba-tiba menyentak lamunan gadis itu. Tangan mungilnya segera menghapus jejak-jejak cairan bening yang tak kunjung berhenti mengalir. “Iya, Bi, ada apa?” jawabnya pelan.

“Sudah makan?” tanya suara dari luar.

“Belum, tapi Anna masih kenyang,” sahutnya. “Tidak boleh begitu, Non, nanti sakit lho.” Seorang ibu rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja tampak sangat prihatin menyelimuti. Ia tak ingin hal buruk menimpa anak baik seperti Anna. 

 “Aku baik-baik saja, Bi,” balas Anna dengan suara lirih.

Anna mencondongkan tubuhnya sedikit di ambang pintu, menunjukkan bahwa tidak ada yang terjadi padanya. Bibi itu menghela napas lega lalu pergi meninggalkannya.

"Kalau bukan karena mama mencegahku, mungkin aku sudah pergi. Tapi, bila saatnya tiba, aku akan pergi jauh."

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!