SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PESTA DI GUDANG SAMPAH DAN AMUKAN RAKSASA
Minggu Malam, Pukul 20.00 WIB
Gudang Tua No. 4, Pelabuhan Sunda Kelapa
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Di depan sebuah gudang raksasa, dua mobil berhenti dengan formasi taktis.
Posisi:
Tim Serbu (Masuk ke Gudang): Fattah, Roseanna, Lia, Ilham, Raisa, Harry, Mohan, Aqeela.
Tim Intel (Di dalam Mobil Van): Oliver (Tech) & Naura (Strategist).
"Koneksi earpiece stabil," suara Oliver terdengar jernih di telinga semua orang. "CCTV gudang sudah gue retas. Di dalam ada 35 musuh. Senjata tumpul dan tajam."
"Perhatikan sudut mati," tambah Naura, suaranya tajam dan curigaan. "Gue liat ada tumpukan drum di pojok kiri, bisa jadi tempat sembunyi. Jangan lengah. Aqeela, drone siap?"
"Siap, Naura! Baby aku udah terbang!" jawab Aqeela semangat.
Fattah menatap pasukannya. Dia mengangguk pada Roseanna.
"Siap, Ratu?"
Roseanna membenarkan letak blazernya. "Buka pintunya, Preman."
Fattah menendang pintu besi berkarat itu sekuat tenaga.
BRAKKKK!!
DI DALAM GUDANG
Suara tendangan itu menggema. Di tengah gudang yang remang-remang, Kairos (Ketua Kalingga) berdiri di atas peti kemas, memegang tongkat baseball. Di bawahnya, puluhan anggota geng Black Cobra bersiap dengan rantai dan balok kayu.
Dan di kursi tengah, Julian Adhitya terikat, wajahnya lebam, menangis ketakutan.
"Akhirnya dateng juga," seringai Kairos. "Selamat datang di kuburan kalian."
Fattah Maverick (The Brawler Leader)
Fattah maju paling depan, menjadi tameng hidup bagi Roseanna. Dia tidak banyak bicara. Dia meretakkan lehernya. Krek.
"Lo salah pilih lawan, Kairos," kata Fattah rendah. "Malam ini, gue ratain lo sama aspal."
"Serang!!" teriak Kairos.
Gelombang musuh maju menyerbu.
"SIKAT!" teriak Fattah.
Pertempuran pecah.
Fattah bertarung seperti banteng gila. Pukulannya berat dan brutal.
BUGH! Satu musuh terpental.
DUAGH! Tendangan memutar Fattah menjatuhkan dua orang sekaligus. Dia adalah pusat gravitasi pertempuran, menarik perhatian musuh terkuat agar tidak mendekati yang lain.
Roseanna Vallerian (The Mentalist Queen)
Roseanna tidak bergerak satu inci pun. Dia berdiri tenang di tengah badai, dikawal ketat oleh Fattah. Dia menatap musuh yang mencoba mendekatinya dengan tatapan merendahkan.
Seorang anggota Kalingga berlari membawa pisau ke arah Roseanna.
"Berhenti," kata Roseanna dingin. Suaranya tidak keras, tapi memancarkan otoritas mutlak.
Musuh itu ragu sejenak.
"Liat sepatu lo," kata Roseanna, menunjuk sepatu butut musuh itu. "Bolong. Lo pertaruhin nyawa lo buat bos yang bahkan nggak beliin lo sepatu layak?"
Musuh itu terdiam, melihat sepatunya. Mentalnya goyah.
"Mundur sekarang, dan gue transfer 10 juta ke rekening lo detik ini juga," tawar Roseanna sambil memegang HP. "Atau maju, dan gue pastiin lo membusuk di penjara tanpa pengacara."
Musuh itu menurunkan pisaunya, bingung. "S-sepuluh juta?"
"Pilihan ada di tangan lo. Jadi sampah atau jadi kaya?"
Saat musuh itu bengong... PLAK! Raisa menendang kepalanya.
"Jangan bengong bego!" teriak Raisa.
Ilham Mahendra (The Sarcastic Fighter)
Di sisi kiri, Ilham sedang menari-nari menghindari pukulan balok kayu. Gerakannya lincah banget karena kepalanya licin (aerodinamis).
"Woy! Pukulan lo lambat banget! Nenek gue lagi kayang juga bisa ngehindar!" ledek Ilham.
WUSH! Ilham menunduk.
BUGH! Dia memukul ulu hati musuh.
"Aduh, bajunya bau apek! Nggak pernah di-laundry ya? Kasian deh," Ilham lanjut mengejek sambil memiting leher musuh lain. "Sini gue pijetin leher lo. Gratis!"
Krek. Musuh pingsan.
Lia (The Lazy Assassin)
Di tengah keributan, Lia terlihat seperti orang yang lagi jalan-jalan di mall. Dia nguap lebar, tangannya masuk saku jaket.
Seorang musuh berbadan besar menerjang Lia dari belakang.
"Lia! Jam 6!" teriak Naura di earpiece. "Tunduk!"
Lia menunduk santai. Pukulan musuh meleset di atas kepalanya.
Tanpa menoleh, Lia menyikut perut musuh itu ke belakang.
BUKK!
Musuh membungkuk kesakitan. Lia berbalik perlahan, lalu menendang dagu musuh itu dengan ujung sepatunya. Efisien. Tanpa keringat.
"Berisik," gumam Lia, lalu melangkahinya.
Aqeela Azalea (The Rich Support)
Aqeela berdiri di tempat aman (di atas tumpukan palet), dikawal Harry.
"Harry! Ada yang mau nyerang dari kiri!" teriak Aqeela.
Lalu Aqeela mengeluarkan Drone-nya yang dimodifikasi Oliver.
"Silau Attack!"
Lampu sorot drone ditembakkan ke mata musuh-musuh yang mengeroyok Fattah.
"Aaaa! Mata gue!"
"Rasain!" teriak Aqeela. Dia merogoh tas Chanel-nya. "Nih! Makan nih kemiskinan!"
Aqeela melempar botol parfum kaca mahal (bekas) ke kepala musuh. PRANG!
"Itu botol Dior! Pecahannya lebih tajem dari beling biasa tau!"
Harry (The Cool Joker)
Harry bertugas menjaga Aqeela. Dia memegang Taser Gun.
Seorang musuh mendekat membawa ruyung.
"Eits, sabar Bang! Jangan emosi!" Harry menghindar dengan gerakan silat kocak. "Mending kita dangdutan!"
ZRRRTTT!
Harry menyetrum pinggang musuh itu. Musuh kejang-kejang.
"Tuh kan, goyang dombret jadinya!" Harry ketawa puas. "Keren kan Neng Aqeela? Harry Potter lewat!"
Tapi tiba-tiba...
Tiga orang musuh bertubuh kekar muncul dari bayangan drum (yang tadi dibilang Naura). Mereka mengepung Harry dan Aqeela.
"Mati lo, Kribo!"
Salah satu musuh memukul punggung Harry dengan balok kayu. Keras banget.
BRAKK!!
"HARRY!!" jerit Aqeela.
Harry jatuh tersungkur, mengerang kesakitan. "Aduh... encok gue..."
Musuh itu mengangkat baloknya lagi, mau menghantam kepala Harry yang sudah tidak berdaya.
"JANGAN SENTUH HARRY!!"
Suara itu bukan dari Aqeela. Tapi dari Mohan.
THE RAGE OF MOHAN
Mohan, si raksasa berhati Hello Kitty yang sedari tadi cuma dorong-dorong musuh pelan (karena nggak tega), melihat sahabat kecilnya, Harry, dipukul sampai jatuh.
Mata Mohan yang biasanya sayu dan polos, tiba-tiba berubah merah. Urat-urat di leher dan tangannya menonjol keluar. Napasnya menderu seperti banteng.
"Kalian..." geram Mohan, suaranya berat dan menakutkan. "...JAHAT!!!"
Mohan berlari menerjang. Tanah gudang terasa bergetar.
BUM! BUM! BUM!
Dia menabrak tiga orang yang mengepung Harry sekaligus. Seperti bola bowling menabrak pin.
BRAKKK!!
Tiga orang itu terpental jauh seolah ditabrak truk tronton.
Satu musuh masih mencoba bangun. Mohan mencengkeram kerah baju musuh itu dengan satu tangan, lalu mengangkatnya ke udara sampai kakinya menggantung.
"MOHAN MARAH!!" teriak Mohan.
Dia melempar orang itu ke tumpukan kardus kosong. GUBRAKK!!
Semua orang di gudang (termasuk Fattah dan Ilham) berhenti sejenak melihat amukan Mohan.
"Gila..." bisik Ilham. "Si Gajah ngamuk. Kelar idup lo semua."
Mohan berdiri di depan Harry yang masih kesakitan, pasang badan.
"Nggak ada yang boleh nyakitin temen Mohan," kata Mohan, napasnya memburu. "Maju sini kalau berani! Mohan geprek kalian!"
Musuh-musuh Kalingga mundur ketakutan. Siapa yang berani lawan Hulk versi lokal?
FINAL BOSS: FATTAH VS KAIROS
Pasukan Kalingga sudah rata tanah (berkat amukan Mohan dan efisiensi Lia). Tinggal Kairos.
Kairos turun dari peti kemas, memegang pisau belati.
"Oke. Gue akuin kalian hebat," kata Kairos. Dia menatap Fattah. "Tapi lo mati di sini."
Fattah maju, tangannya kosong.
"Oliver, Naura," bisik Fattah. "Matiin lampu gudang. Sekarang."
"Copy," jawab Oliver.
KLIK.
Lampu gudang mati total. Gelap gulita.
Kairos panik. "Woy! Curang lo!"
Fattah, yang sudah hafal denah gudang (berkat briefing Naura tadi), bergerak dalam gelap.
"Ini bukan curang," bisik Fattah yang tiba-tiba sudah ada di belakang Kairos. "Ini strategi."
BUGH!
Fattah memukul tengkuk Kairos.
Kairos terhuyung ke depan. Lampu Drone Aqeela tiba-tiba menyala, menyorot wajah Kairos. Silau.
"Sori, Bos Ular," suara Lia terdengar dari samping.
Lia menendang lutut Kairos sampai dia berlutut.
Fattah menyelesaikannya dengan satu pukulan uppercut telak ke rahang Kairos.
DUAGH!
Kairos ambruk pingsan.
"Lampu nyala!" perintah Fattah.
Lampu menyala kembali. Pemandangan kemenangan terpampang jelas.
Musuh bergelimpangan. Julian masih terikat dan ngompol di celana saking takutnya liat Mohan ngamuk tadi.
AFTERMATH
Fattah berjalan mendekati Roseanna. Napasnya masih ngos-ngosan, ada luka sobek di bibirnya.
"Ratu," sapa Fattah. "Istana aman."
Roseanna menatap Fattah. Dia mengeluarkan sapu tangan sutra dari sakunya, lalu dengan lembut membersihkan darah di bibir Fattah.
"Kerja bagus, Preman," kata Roseanna lembut. "Lo nggak ngecewain gue."
Di sisi lain, Ilham membantu Harry berdiri.
"Lo gapapa, Har?"
"Sakit, Ham... tapi liat tuh si Mohan," Harry menunjuk Mohan yang masih napas kembang kempis.
Harry mendekati Mohan, menepuk pundaknya.
"Han... udah Han. Gue idup kok. Jangan jadi Hulk lagi, serem."
Mohan menunduk, matanya kembali sayu. "Harry gapapa? Mohan takut Harry mati..."
"Enggak elah. Gue kan punya 9 nyawa kayak kucing lo," Harry memeluk Mohan. "Makasih ya, Gajah. Lo keren banget tadi."
Lia duduk di atas peti kemas, nguap lagi.
"Udah kelar kan? Gue mau pesen Pijat. Kaki gue pegel."
Tiba-tiba, sirene polisi terdengar mendekat.
"Naura lapor," suara di earpiece. "Polisi masuk area dalam 1 menit. Barang bukti rekaman sudah Oliver kirim ke Polres."
Fattah menatap Roseanna.
"Saatnya kita menghilang, Rose," kata Fattah. "Biar polisi yang ngurus sisanya."
"Setuju," Roseanna tersenyum miring. Dia menatap Julian yang masih nangis. "Bye, Julian. Nikmati hotel prodeo lo."
Mereka semua berlari keluar lewat pintu belakang gudang, meninggalkan Kairos dan Julian sebagai "hadiah" untuk polisi.
Di bawah sinar bulan pelabuhan, Savage Royalty berjalan beriringan menuju mobil.
Mereka babak belur, kotor, dan bau amis. Tapi malam ini, mereka adalah raja dan ratu sesungguhnya.
Dan Mohan? Dia jalan sambil digandeng Harry, senyum-senyum lagi seolah barusan nggak ngelempar orang kayak lempar bantal.