NovelToon NovelToon
Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Di Bawah Sepatu, Di Atas Tahta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di balik sapu yang digenggamnya, Bagas menyimpan kecerdasan yang tak pernah disadari siapa pun. Ia pun diam-diam memendam rasa pada Naya, wanita yang dunianya terasa sejauh langit dan bumi darinya. Dihimpit kemiskinan dan biaya pengobatan ibu yang mahal, ia bertekad mengubah setiap informasi yang didengarnya menjadi jalan keluar. Cintanya yang tulus perlahan meluluhkan hati Naya, meski harus berhadapan dengan penghinaan, saingan licik, dan larangan tegas orang tua. Saat segalanya tampak mustahil dan terhalang tembok kasta tinggi, Bagas pergi membangun kerajaan bisnisnya sendiri dari nol. Ia kembali bukan lagi sebagai OB yang diremehkan, melainkan pengusaha sukses yang membuat semua orang terdiam kagum. Bukti nyata bahwa kesabaran dan ketajaman akal mampu mengangkat derajat setinggi langit. Akhirnya, ia bersanding dengan pujaan hati, hidup bahagia, dan membuktikan bahwa nasib buruk bisa diubah menjadi kemewahan yang abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiah tak terduga

Seminggu berlalu sejak Bagas menyelipkan kertas berisi usulan ide efisiensi biaya ke meja Pak Hendra. Selama itu pula, ia bekerja seperti biasa, menyapu, mengepel, membersihkan kaca, dan berjalan menunduk seolah tak tahu apa-apa. Padahal hatinya selalu berdebar setiap kali lewat di depan ruangan Pak Hendra. Ia sering mendengar suara diskusi ramai dari dalam sana, sesekali terdengar kata-kata seperti "strategi baru", atau "ide brilian". Bagas tersenyum dalam diam. Ia tahu, idenya diterima dan sedang dijalankan.

Dan benar saja, tak lama kemudian kabar gembira itu sampai juga ke telinganya. Dari obrolan para staf kantin, Bagas mendengar bahwa keuntungan divisi logistik melonjak tajam hanya dalam waktu singkat. Biaya pengiriman yang dulu membebani, kini turun drastis berkat kerja sama baru dengan perusahaan angkutan rute pulang kosong itu. Semua orang memuji langkah cerdas yang diambil manajemen, tapi tak ada satu pun yang tahu dari mana ide itu berasal. Bagi mereka, ini adalah keberhasilan tim, hasil kerja keras para pejabat tinggi yang pintar berstrategi. Tak ada yang menyangka, pemikir hebat itu hanyalah seorang OB yang setiap hari lewat di depan mata mereka.

Pagi itu, saat jam kerja baru saja dimulai, Pak Hendra memanggil Bagas masuk ke ruangannya. Panggilan itu dilakukan diam-diam, saat tak ada orang lain yang melihat. Jantung Bagas berdegup kencang. Ia berjalan masuk dengan langkah hati-hati, tetap dengan sikap rendah diri dan sopan yang biasa ia tampilkan.

"Masuk, Bagas. Silakan duduk sebentar," sapa Pak Hendra ramah, nada bicaranya jauh lebih hangat dan bersahabat dibanding biasanya.

Bagas duduk di ujung kursi, punggungnya tegak tapi kepalanya sedikit menunduk. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Pak Hendra tersenyum tipis, lalu mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari laci mejanya dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Bagas.

"Kamu tahu kan soal perubahan sistem pengiriman yang baru kita terapkan minggu ini?" tanya Pak Hendra sambil menatap tajam ke manik mata pemuda itu.

"Saya cuma dengar-dengar dari orang, Pak. Katanya hasilnya bagus dan hemat banyak biaya," jawab Bagas tenang, pura-pura tak tahu banyak.

Pak Hendra tertawa kecil, lalu menggeser amplop itu ke arah Bagas. "Jangan banyak menyembunyikan sesuatu ya. Awalnya saya juga bingung siapa yang menulis catatan itu. Saya tanya ke sana ke mari, semua mengaku tidak tahu. Tapi setelah saya lihat tulisan tanganmu di daftar hadir, dan saya ingat-ingat posisi kamu saat itu berada, saya jadi paham. Kamu pikir saya tidak sadar kamu selalu ada di dekat sini mendengar segala hal, ya?"

Wajah Bagas memerah. Ia tahu ia tak bisa lagi menutupi semuanya. Ia mengangkat wajah, menatap Pak Hendra dengan jujur.

"Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud lancang atau ikut campur urusan atasan. Saya cuma kebetulan mendengar Bapak kesulitan, dan saya kebetulan punya sedikit pemikiran. Saya takut kalau saya bilang langsung, Bapak tidak percaya karena saya cuma petugas kebersihan. Makanya saya tulis begitu saja, tanpa nama."

Pak Hendra mengangguk-angguk, raut wajahnya penuh kekaguman.

"Justru itu yang hebat dari kamu, Bagas. Kamu cerdas, kamu jeli, dan kamu punya solusi yang jauh lebih baik dari staf-staf sarjana saya. Kamu tahu berapa banyak uang yang perusahaan ini hemat berkat idemu itu? Hampir dua ratus juta rupiah dalam sebulan. Itu angka yang luar biasa besar, lho."

Bagas menahan napas, matanya membelalak sedikit. Ia memang menghitung ada penghematan, tapi tak menyangka jumlahnya sefantastis itu.

"Ini adalah bagian dari apresiasi perusahaan. Anggap saja bonus rahasia, hadiah pribadi dari saya, dan imbalan atas pemikiran cerdasmu. Ambilah," kata Pak Hendra sambil menunjuk amplop di depannya. "Jangan khawatir, ini urusan kita berdua saja. Tidak ada orang lain yang tahu, dan tidak perlu ada yang tahu. Kamu tetap bekerja seperti biasa, tetaplah menjadi orang pendiam yang teliti. Tapi ingat, kalau kamu punya ide lagi, sampaikan saja ke saya. Kemampuanmu ini sayang sekali kalau hanya dipakai untuk menyapu lantai."

Dengan tangan sedikit gemetar, Bagas menerima amplop itu. Beratnya terasa nyata. Saat ia membukanya sedikit di bawah meja, matanya hampir terbelalak. Isinya uang tunai dalam jumlah yang sangat besar, jauh melebihi gajinya setahun penuh. Jumlahnya cukup untuk melunasi seluruh hutang rentenir yang mencekik itu, membayar lunas biaya rawat inap ibunya, dan masih tersisa banyak sekali untuk ditabung atau dijadikan modal.

"Te... terima kasih banyak, Pak. Ini terlalu banyak rasanya," ucap Bagas terbata-bata, hatinya dipenuhi rasa haru dan syukur yang meluap-luap.

"Tidak ada yang berlebihan untuk pemikiran yang bernilai ratusan juta itu. Kamu berhak mendapatkannya. Sudah sana kembali bekerja. Dan ingat, tutup mulut rapat-rapat ya," pesan Pak Hendra sambil tersenyum lebar.

Bagas keluar dari ruangan itu dengan perasaan melayang. Kakinya terasa ringan sekali, seolah tak menyentuh lantai. Beban berat yang selama ini membebaninya, rasa takut, cemas, dan putus asa, seketika terangkat semuanya. Ia punya uang sekarang. Uang halal, hasil pemikirannya sendiri.

Sepulang kerja hari itu, hal pertama yang dilakukan Bagas adalah menemui Pak Hadi, si rentenir. Ia melunasi seluruh hutang beserta bunganya sampai bersih, menebus kembali surat perjanjian itu, lalu merobeknya di depan mata orang itu. Rasanya lega bukan main, seolah lepas dari belenggu berat yang mengikat lehernya berbulan-bulan lamanya. Sisa uangnya, sebagian besar langsung ia bawa ke rumah sakit, membayar lunas semua tagihan pengobatan ibunya, dan memastikan Bu Siti mendapatkan kamar rawat yang lebih nyaman serta obat-obatan terbaik yang harganya tak lagi ia pikirkan.

"Bu... sekarang ibu bisa makan enak, bisa minum obat yang bagus, bisa istirahat tenang. Nggak usah mikirin biaya lagi ya," kata Bagas sambil menggenggam tangan ibunya yang mulai terlihat lebih segar.

Bu Siti menatap anaknya dengan bingung namun bahagia. "Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini, Nak? Jangan bilang kamu berbuat hal yang nggak benar ya?"

Bagas tersenyum hangat, mengusap punggung tangan ibunya lembut. "Tenang saja Bu. Ini uang halal, uang hasil kerja keras aku, hasil pikiran aku. Aku dapat kepercayaan proyek kecil di kantor. Ibu tenang saja, insyaallah mulai sekarang hidup kita bakal jauh lebih baik."

Sisa uang yang ada, Bagas simpan rapi. Ia menggunakan sebagian kecilnya untuk membeli peralatan dagang sederhana. Ia berniat membuka warung kecil-kecilan di depan rumah nanti, supaya ibunya punya kegiatan ringan saat sudah pulang dan sembuh, serta ada pemasukan tambahan yang tetap. Ia tidak mau menghabiskan uang itu untuk kesenangan semata. Bagas sadar, uang ini adalah bibit. Bibit yang harus dikembangkan, disimpan, dan diperbesar. Ini adalah awal dari modal besar yang ia impikan.

Sementara itu, kabar tentang adanya sosok jenius yang membantu perusahaan mulai terdengar sampai ke telinga pemilik tertinggi, termasuk Naya. Suatu sore, Naya berdiskusi dengan ayahnya dan Pak Hendra di ruang direksi.

"Kerja bagus sekali, Hendra. Langkah ini cerdas dan tepat sasaran. Siapa kepala tim yang merancang strategi ini? Aku ingin beri penghargaan khusus," tanya Pak Ardiansyah, ayah Naya, dengan wajah puas.

Pak Hendra melirik sekilas ke arah Naya yang duduk di seberang, lalu menjawab dengan senyum misterius.

"Jujur saja Pak, saya juga sedang mencarinya. Ide ini datang dari seorang karyawan yang sangat cerdas tapi rendah hati. Dia bekerja diam-diam, tak ingin dipuji, tak ingin dikenal. Saya sebut dia 'orang pintar' untuk sementara. Dia bukan pejabat, bukan manajer, tapi dia sangat paham seluk-beluk perusahaan kita. Keahlian analisisnya luar biasa tajam."

Naya yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba tertarik. Ia mencondongkan badan sedikit ke depan.

"Orang pintar? Bukan dari manajemen? Terus siapa? Staf bagian mana?" tanya Naya penasaran. Di dalam benaknya, ia teringat kembali kejadian di ruang panel listrik dulu. Catatan misterius yang menyelamatkan hari itu. Apakah orang yang sama?

"Itulah dia misterinya, Nona. Dia ada di antara kita, bekerja setiap hari seperti kita, tapi dia tak terlihat karena ia terlalu sederhana. Tapi percayalah, keberadaannya sangat berharga. Kalau kita dapatkan dia sepenuhnya, Artha Mas bakal makin maju pesat," jawab Pak Hendra diplomatis, berjanji dalam hatinya untuk tetap menjaga rahasia Bagas sampai pemuda itu sendiri siap menampakkan jati dirinya.

Sepanjang perjalanan pulang sore itu, pikiran Naya terus teringat pada sosok "orang pintar" itu. Ia membayangkan sosok laki-laki yang cerdas, berpendidikan tinggi, mungkin tampan, dan sangat berwawasan luas. Ia ingin sekali bertemu, ingin berterima kasih, dan ingin tahu apa yang ada di kepala orang itu.

"Siapa pun kamu... kamu hebat," gumam Naya pelan di dalam mobil mewahnya. "Kamu bukan tipe orang yang cari muka atau cari perhatian. Kamu bekerja untuk perusahaan, murni karena kemampuanmu. Aku suka orang sepertimu. Kalau aku ketemu, aku pastikan aku angkat derajatmu."

Di tempat lain, di sudut lorong yang sepi, Bagas melihat mobil Naya lewat lagi. Kali ini ia tidak lagi merasa rendah diri atau sedih. Ia berdiri tegak, memegang erat amplop kosong bekas bayaran itu di dalam saku bajunya. Ia tersenyum lebar, penuh percaya diri.

 Hari itu menjadi titik balik yang nyata. Hutang lunas, ibu aman, modal terkumpul, dan rasa percaya diri meluap-luap.

1
miumiu
ada sedihnya tapi ada kekuatan juga. lanjuut ya thor.
curbel
seru juga. Dan enak dibaca. 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!