"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Altar Pengorbanan dan Umpan Hitam
Pagi berikutnya tiba dengan kabut kecemasan yang semakin tebal di atas gedung PT Adiwangsa Logistik. Adrian duduk di balik meja kebesarannya, menatap hamparan berkas keuangan yang dipenuhi angka-angka berwarna merah—sebuah indikator nyata bahwa perusahaannya sedang berada di ambang pendarahan finansial yang parah akibat penarikan dana sepihak oleh Wirata Group. Pikirannya yang buntu setelah konfrontasi melankolis dengan Aruna semalam, akhirnya memaksa Adrian untuk mengambil langkah paling berisiko dalam karier bisnisnya.
Ia menekan tombol interkom, memanggil Valerie masuk ke ruangannya.
Ketika Valerie melangkah masuk dengan gaun kerja berwarna zamrud yang memikat, atmosfer ruangan yang tadinya dingin mendadak berubah tegang. Tidak ada lagi sisa gairah sensual dari kejadian kemarin siang; yang tersisa di antara mereka saat ini hanyalah kalkulasi bisnis yang dingin dan tajam.
"Mas, kamu memanggilku?" tanya Valerie, suaranya sengaja dilembutkan, walau matanya langsung melirik ke arah meja, mencari tahu apakah Adrian sudah siap menyerah.
Adrian menarik napas panjang, menatap Valerie dengan pandangan mata seorang penjudi yang terdesak. "Val, duduklah. Aku sudah memikirkan matang-matang soal draf mahar dan stabilitas perusahaan kita untuk jangka panjang."
Valerie duduk di hadapan Adrian, melipat kakinya dengan anggun, memasang ekspresi menyimak yang sempurna.
"Aku tahu perusahaan papamu memiliki likuiditas dana segar yang sangat besar saat ini," tutur Adrian, memajukan tubuhnya dengan raut wajah manipulatif yang dipaksakan. "Aku bersedia menawarkan pengalihan saham sebesar 30% dari PT Adiwangsa Logistik langsung atas nama perusahaan papamu sebagai jaminan jalinan aliansi keluarga kita. Dengan syarat, papamu harus segera menyuntikkan dana talangan minggu ini juga untuk menutup lubang yang ditinggalkan oleh Wirata Group."
Bagi Valerie, kalimat yang keluar dari mulut Adrian terdengar bagai musik paling indah di telinganya. Ini adalah kesempatan emas yang sudah lama ia dan Toni tunggu-tunggu. Tiga puluh persen saham adalah pintu masuk yang sangat luas untuk mengudeta posisi Adrian secara perlahan dari dalam korporasi miliknya sendiri.
Namun, sebagai wanita yang dididik di lingkungan bisnis yang culas, Valerie tidak langsung memperlihatkan kegembiraannya. Ia justru menghela napas panjang, memasang wajah sangsi yang manipulatif.
"Mas... 30% saham itu memang penawaran yang sangat besar. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya watak Papaku, bukan?" rayu Valerie, memajukan tubuhnya dan menyentuh punggung tangan Adrian di atas meja. "Papaku adalah seorang investor murni. Dia tidak akan mau mengeluarkan dana segar bernilai miliaran rupiah hanya berdasarkan draf saham dari perusahaan yang sedang digoyang oleh Purnama Group. Harus ada daya tarik lain yang instan."
Adrian mengernyitkan dahi. "Daya tarik apa lagi, Val? Itu sudah hampir sepertiga dari kepemilikan total perusahaanku!"
Valerie tersenyum manis, sebuah senyuman beracun yang mengunci logika Adrian. "Untuk meyakinkan Papaku agar dia mau menyetujui suntikan dana ini dengan cepat... kamu harus menandatangani kesepakatan jaminan proyek. Proyek eksplorasi tambang di pulau seberang yang hak kelolanya baru saja dimenangkan oleh Adiwangsa bulan lalu. Masukkan proyek itu sebagai jaminan pendamping draf sahammu. Jika kamu setuju, aku jamin sore ini juga Papaku akan menandatangani cek dana talangan untukmu."
Adrian tertegun. Jantungnya berdegup kencang, terjepit di antara dilema yang teramat besar. Proyek tambang di pulau seberang adalah aset masa depan yang menjadi taruhan terakhir Adiwangsa Logistik untuk bangkit. Memasukkannya sebagai jaminan sama saja dengan menaruh lehernya di atas pisau jagal perusahaan papa Valerie.
Namun, melihat angka-angka kerugian di laptopnya dan mengingat ancaman kebangkrutan yang sudah di depan mata, Adrian merasa tidak punya pilihan lain. Putus asa dan dibutakan oleh kesombongannya yang merasa bisa menebusnya kembali nanti, Adrian akhirnya mengangguk pasrah.
"Baik... aku terpaksa setuju, Val," ucap Adrian dengan suara parau yang sarat beban. "Siapkan drafnya bersama tim legalmu. Kita tanda tangani siang ini."
Valerie tersenyum sangat puas di dalam hatinya. Umpan hitam telah ditelan dengan sempurna oleh si dungu Adrian.
Sementara itu, di kediaman mewah Adiwangsa, atmosfer domestik berjalan ke arah titik kulminasinya.
Di dalam kamar utama, Aruna berdiri di depan lemari besar. Ia tidak lagi mengenakan draf gaun tidur satinnya, melainkan pakaian pergi yang sederhana namun rapi. Dengan ketenangan mutlak seorang pemenang yang telah menyelesaikan tugas penyamarannya, Aruna melipat beberapa lembar baju sisa miliknya ke dalam sebuah koper kain berukuran sedang. Ia tidak membawa barang-barang mewah, perhiasan, atau tas mahal yang dibelikan Adrian selama lima tahun ini. Baginya, semua benda itu telah ternoda oleh kepalsuan.
Saat Aruna menarik ritsleting kopernya dan berbalik untuk melangkah keluar, sosok Nyonya Widya Adiwangsa sudah berdiri mencegatnya di ambang pintu kamar. Wajah tua itu tampak tegang, matanya menatap koper di tangan Aruna dengan penuh rasa curiga dan ketakutan laten.
"Mau kemana kamu, Aruna?!" bentak Widya, suaranya melengking ketus namun ada nada panik yang bergetar di dalamnya. "Kenapa kamu mengemas baju-bajumu siang-siang begini? Jangan-jangan... kamu mau pergi ke kantor Komnas HAM lagi untuk mengadukan kami, hah?!"
Aruna menatap mertuanya dengan pandangan datar yang teramat dingin. "Bukan, Bu."
"Lalu mau apa?! Adrian dan Ibu kan sudah tidak berbuat kasar lagi sama kamu beberapa hari ini! Kami bahkan menuruti semua kemauan gila ponselmu itu!" cerus Widya, membela diri dengan egois.
"Besok adalah jadwal sidang putusan perceraian kita di pengadilan, Bu," jawab Aruna, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan. "Hari ini aku memutuskan untuk keluar dan meninggalkan rumah ini lebih cepat. Aku mau pergi mencari rumah kontrakan sederhana di luar sana dan mulai hidup mandiri."
Mendengar kata "kontrakan" dan "hidup mandiri", Widya seketika mendengus meremehkan. Rasa congkak yang sempat ciut beberapa hari ini mendadak bangkit kembali karena merasa Aruna telah kembali ke posisi bawahnya sebagai wanita miskin.
"Mencari kontrakan? Ha! Kamu emangnya punya uang untuk bayar sewa, Aruna?!" cemooh Widya, melipat tangannya di dada dengan angkuh. "Jangan bermimpi bisa hidup mewah di luar sana setelah keluar dari sini!"
"Aku memang belum punya uang tunai yang cukup saat ini, Bu," jawab Aruna dengan nada polos yang menipu. "Tapi salah satu teman baikku memiliki rumah kontrakan kosong. Aku sudah berbicara dengannya, dan aku akan membayar seluruh biaya sewanya nanti... tepat setelah hak pembagian harta gono-gini diberikan oleh Mas Adrian di persidangan."
Mendengar kata 'gono-gini', wajah Widya langsung berubah merah padam. Keserakannya terusik hebat. "Heh! Enak saja kamu bicara gono-gini! Dengar ya, Aruna! Kamu tidak boleh dan jangan harap bisa membawa pergi sedikit pun harta dari rumah ini! Sepeser pun tidak akan kami berikan!"
Aruna menurunkan kopernya, berdiri tegak menantang tatapan mata mertuanya dengan keberanian yang belum pernah Widya lihat selama lima tahun ini.
"Ibu jangan lupa... perusahaan Adiwangsa Logistik ini dulunya adalah milik almarhum Papaku," tutur Aruna, suaranya melunak namun setiap katanya menghantam telak. "Secara hukum moral dan silsilah, akulah hak waris tunggal yang sesungguhnya atas bisnis itu. Namun, karena keserakan Mas Adrian dan Ibu di masa lalu, kalian secara paksa mengakuisisi dan membalik nama perusahaan ini atas nama keluarga kalian saat aku sedang berduka. Masa sekarang... aku bahkan tidak punya hak untuk meminta bagian yang sah?"
Widya membelalakkan matanya, urat-urat di leher tuanya menegang menahan dongkol. "Kalau tidak dikelola dan dipimpin oleh anakku Adrian, perusahaan papamu yang kolot itu sudah bangkrut dan gulung tikar dari dulu, ingat itu! Adrian yang menyelamatkan muka keluargamu!"
Aruna tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang sarat akan cemoohan mendalam atas ketidaktahuan mertuanya. "Apa tidak salah, Bu? Ibu jangan mencoba memutarbalikkan fakta sejarah yang sebenarnya di depan saya."
"Kenyataannya memang seperti itu! Anakku yang membuat perusahaan itu menjadi besar!" bentak Widya, suaranya meninggi egois.
"Kenyataan yang mana yang Ibu maksud?" sindir Aruna, matanya menyipit penuh intrik manipulatif. "Apakah kenyataan bahwa PT Adiwangsa Logistik sekarang justru lagi keteteran dana, kehilangan investor utama, dan sedang merangkak di ambang kehancuran keuangan? Begitu maksud Ibu...?"
Deg!
Widya tertegun, lidahnya mendadak kelu. Kalimat Aruna menembus tepat pada ketakutan terbesarnya tentang kondisi kantor Adrian yang dilaporkan merosot sejak pagi tadi.
"Kamu...!" Widya menunjuk wajah Aruna dengan jari yang bergetar hebat karena malu dan murka. "Wanita bodoh kayak kamu tahu apa soal masalah perusahaan, hah?! Kamu itu dari dulu cuma dididik jadi anak manja yang tidak tahu kerja keras oleh almarhum ayah dan ibumu!"
Aruna menatap telunjuk mertuanya dengan dingin, lalu tersenyum tipis yang sangat menyengat. "Apa... Ibu secara tidak langsung sedang menyindir tabiat Mas Adrian saat ini?"
"Pintar melawan sekarang kamu ya, Aruna?!" teriak Widya, napasnya memburu tidak teratur karena egonya diinjak-injak oleh menantu yang selalu ia remehkan.
"Dari dulu... dari dulu saya itu sebenarnya pintar, Bu," bisik Aruna, melangkah satu langkah maju yang membuat Widya secara insting mundur selangkah karena terintimidasi oleh aura dominan Aruna. "Hanya saja... selama lima tahun ini saya memilih untuk pura-pura bodoh dan mengalah... tepat di depan orang-orang yang berotak tolol dan serakah seperti kalian."
"Kamu... kurang ajar!"
Kemarahan Widya meledak total. Kehilangan kendali atas emosinya, tangan kanan wanita tua itu melayang tinggi di udara, siap melayangkan tamparan keras berkekuatan penuh ke pipi Aruna.
Namun, gerakan tangan itu tidak pernah sampai pada tujuannya. Dengan refleks yang sangat cepat dan kuat, tangan kiri Aruna bergerak ke atas, mencengkeram pergelangan tangan Widya di udara dengan cengkeraman yang begitu kencang hingga membuat wanita tua itu meringis kesakitan.
Bersamaan dengan itu, tangan kanan Aruna mengangkat ponsel pintar hitam dari Komnas HAM tepat di depan wajah Widya yang pucat. Layar ponsel itu mengedipkan lampu merah tanda perekaman audio darurat sedang berjalan.
"Ibu... Ibu benar-benar mau berurusan langsung dengan jeruji besi Komnas HAM hari ini?" tanya Aruna, suaranya teramat rendah, berbisik bagai malaikat pencabut nyawa di telinga Widya. "Satu ketukan lagi di layar ini, dan polisi akan menjemput Ibu atas dugaan penganiayaan fisik bermotif tekanan psikologis terhadap korban perlindungan."
Napas Widya tercekat. Ketakutan maut seketika merenggut seluruh keberanian tuanya. Dengan tubuh yang gemetar menahan malu dan ngeri, Widya terpaksa mengendurkan tenaganya.
Aruna melepaskan cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Widya dengan sentakan yang cukup kasar, membuat wanita tua itu mundur beberapa langkah hingga menabrak tepi lemari.
Widya memegang pergelangan tangannya yang memerah, menatap Aruna dengan pandangan yang sarat akan dendam dan kebencian yang mendalam. "Kamu... kamu jangan pernah menyesal ya, Aruna! Setelah nanti kamu resmi bercerai dengan anakku besok, kamu akan hidup melarat di jalanan!"
Aruna meraih kembali gagang kopernya, menegakkan tubuhnya, dan menatap mertuanya untuk terakhir kalinya dengan senyuman kemenangan mutlak yang sangat dingin.
"Kita lihat saja nanti, Bu... Kita lihat bersama-sama, siapa di antara kita yang pada akhirnya akan menangis darah dan memohon penyesalan di bawah kaki siapa," ucap Aruna dengan nada datar yang teramat tenang namun mematikan. "Tolong kasih tahu pada anak kebanggaanmu, Adrian... mulai hari ini, mulai detik ini, aku tidak akan pernah sudi lagi menginjakkan kaki ini di dalam rumah terkutuk kalian ini."
Aruna melangkah melewati Widya tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terdengar mantap mengetuk lantai marmer koridor, menuruni tangga utama kediaman Adiwangsa untuk keluar menuju gerbang kebebasan yang sesungguhnya.
Widya berdiri mematung di kamar utama yang kini kosong, tangannya mengepal erat dengan dada yang kembang kempis menahan rasa kesal dan kehinaan yang luar biasa. Ia tidak menyadari bahwa kepergian Aruna siang itu adalah tanda bahwa draf perlindungan telah ditarik, dan badai penghancuran korporasi serta medis yang sesungguhnya kini siap meluluhlantakkan seluruh eksistensi keluarga Adiwangsa dalam hitungan jam menuju persidangan esok hari.