Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : MENGAJARI
"Aku harap kau mau menceritakannya kepada kami jika pria itu memperlakukanmu dengan kasar," ujar Elex, tatapannya menuntut kepastian.
"Ya, Elex benar, Tata. Kau memiliki kami. Kami yang akan berdiri di gardu terdepan untuk melindungimu," sambung Alex, mengukuhkan janji persaudaraan mereka.
"Dan jangan pernah lupa, kau juga memilikiku sebagai orang terdekatmu, Talia. Panggil aku kapan saja, aku akan selalu menjadi perisaimu," ungkap Rey, suaranya melembut, menyiratkan ketulusan yang mendalam.
Talia merasakan kehangatan menjalar di dadanya. "Terima kasih, semuanya. Aku benar-benar beruntung memiliki kalian," bisiknya penuh haru, sambil melingkarkan lengannya, memeluk sang kakak.
Melihat momen emosional itu, Alex dan Elex tidak tinggal diam; mereka melangkah maju, ikut mendekap Talia dan Rey dalam satu pelukan keluarga yang erat.
Sementara itu, di sudut ballroom, Ethan hanya bergeming. Sepasang matanya yang kelam menatap dingin interaksi manis tersebut. Merasa atmosfer di ruangan mewah itu kian mencekik, ia memutar tubuh, melangkah pergi meninggalkan kegemerlapan pesta yang mendadak terasa hambar.
Bagi Ethan, pernikahan tak lebih dari sebuah lelucon tanpa arti. Mengapa ia harus mengikat diri dalam sebuah pernikahan yang diatur oleh ambisi leluhur? Skenario hidupnya sedang ditulis oleh orang-orang tua itu, seolah ia hanyalah boneka yang tak punya hak untuk memilih jalannya sendiri.
Kini Ethan telah berada di rooftop hotel. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, namun tak mampu mendinginkan kepalanya yang panas. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebatang rokok, lalu menyulutnya dengan pemantik. Ia tidak menghisapnya. Pria itu hanya membiarkan silinder putih tersebut terselip di antara jemarinya, membiarkan bara apinya mengikis sunyi dan melepaskan kepulan asap kelabu ke udara.
"Aku tidak tahu ternyata seorang Ethan suka menyendiri," sebuah suara feminin yang familier tiba-tiba memecah kesunyian.
Ethan menoleh sekilas, mendapati sosok yang memenuhi pikirannya sejak tadi, sebelum kembali melemparkan pandangannya ke cakrawala kota yang penuh lampu.
"Ada keperluan apa Anda kemari, Nona Tata?" tanyanya, dingin dan formal.
Talia mengernyit, melangkah mendekat. "Jangan memanggilku dengan sebutan itu."
"Kenapa? Apa hanya pemuda tadi yang boleh memanggilmu begitu?" Nada sindiran terdengar jelas dari suara berat Ethan.
"Jika kau memanggilku begitu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus bersikap. Aku takut akan melihatmu seperti aku melihat Alex, sepupuku," ujar Talia, kini posisinya sudah berdiri tepat di samping Ethan, bertumpu pada pagar pembatas.
Ethan mendengus pelan. Ia menjatuhkan rokok yang bahkan belum sempat dikecapnya ke lantai beton, lalu menginjak baranya hingga padam sepenuhnya.
Pria itu mengubah posisinya. Ia berdiri miring, menumpukan sikut kirinya pada pagar tralis rooftop, memutar tubuhnya hingga kini menghadap Talia sepenuhnya. Matanya meredup, mengunci paras cantik gadis di hadapannya dengan tatapan intens yang mengintimidasi sekaligus memikat.
"Kau hanya menganggapnya sepupu?" tanya Ethan ragu, suaranya merendah satu oktaf
"Tentu saja," jawab Talia lugas. "Tidak seperti kau. Kau menganggap wanita di dalam tadi jauh lebih dari sekadar sepupu. Benarkan?"
"Aku tidak pernah menganggapnya demikian."
"Hahaha, tidak menganggapnya? Tapi kau menciumnya. Kau sangat lucu, Tuan Ethan."
"Sudah kukatakan, dia yang menciumku, bukan aku yang menciumnya."
Talia tertawa renyah, sebuah tawa yang menyembunyikan rasa sesak yang entah kenapa. "Hanya masalah subjek dan objek. Di mataku, itu sama saja."
"Tentu saja berbeda, Talia."
Talia menahan napas saat Ethan perlahan mengikis jarak di antara mereka. Langkah pria itu begitu tenang namun penuh dominasi, mengurung tubuh mungil Talia di antara kedua lengannya yang kini mencengkeram erat pagar tralis. Talia tersudut, merasakan besi dingin pagar menyentuh pinggang bagian belakangnya. Jarak mereka mengikis habis hingga Talia bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh Ethan.
"Kau mau tahu apa bedanya dicium dan mencium? Akan aku tunjukkan..." bisik Ethan, suaranya serak, sarat akan ketegangan yang mendadak meledak di udara.
"Apa—"
Sebelum Talia sempat memprotes, tangan kekar Ethan bergerak cepat ke belakang kepala gadis itu, menahannya dengan lembut namun posesif. Sementara tangan satunya lagi naik, membingkai pipi Talia, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipinya.
"Ethan..." desah Talia, separuh memperingatkan, separuh memohon.
"Ya... sebut namaku seperti itu, Talia," bisik Ethan tepat di depan bibirnya.
Bersambung~~~