Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: RENCANA
Semburat merah di pipi Jasmine masih belum hilang sepenuhnya ketika ia melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah merambat ke angka lima sore lewat lima belas menit. Hawa dingin sisa gerimis tadi perlahan digantikan oleh temaram lampu-lampu jalan kompleks yang mulai menyala satu per satu.
"Sudah sore banget ternyata, Mas. Saya harus pamit pulang dulu," ujar Jasmine sambil berdiri dari kursi rotan teras, merapikan sedikit blus rajut kremnya yang terkena terpaan angin. "Si Nadeo sendirian di rumah, takutnya dia kebangun dari tidur sorenya terus nyariin saya."
Aldi ikut berdiri, tubuh bongsornya menjulang gagah di depan Jasmine. Sisa-sisa demam di badannya seolah sirna total setelah mendengar pengakuan jujur dari wanita di depannya. "Eh, iya, Bu Jasmine. Makasih banyak ya buat bubur sama kompresannya hari ini. Bener-bener ngebantu banget."
Jasmine mendongak, menatap Aldi dengan binar mata yang jauh lebih hangat dan santai dari biasanya. "Sama-sama, Mas Aldi. Istirahat lagi ya di dalam, jangan langsung keluyuran malam ini. Saya pulang duluan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Aldi, matanya terus melekat pada punggung Jasmine yang berjalan anggun menyeberangi jalan gang hingga siluetnya menghilang di balik tikungan menuju rumahnya sendiri.
Aldi mengembuskan napas panjang, sebuah senyuman lebar yang tak bisa ditahan terukir di wajahnya. Langkah kakinya saat masuk kembali ke dalam rumah terasa sangat ringan, seolah beban berat yang menghimpit dadanya sejak semalam telah diangkat bersih.
Tepat pukul enam sore, suasana sunyi di rumah Aldi kembali pecah. Suara raungan knalpot motor matic hitam milik Sendy terdengar berhenti di depan pagar, disusul oleh suara tawa heboh yang sudah sangat familier. Pintu depan diketuk dengan tidak sabaran.
Tok... tok... tok...
"Oy, Dul! Buka pintunya woy! Pasukan elite datang membawa raga untuk menumpang tidur!" teriak Sendy dari luar.
Aldi membuka pintu dan langsung mendapati Kenan serta Sendy berdiri di ambang pintu sambil menggendong tas ransel besar mereka yang tampak penuh.
"Loh, kok bawa ransel gede bener? Lu berdua mau demo di mana?" tanya Aldi heran.
Kenan melangkah masuk duluan tanpa permisi, langsung mengempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu. "Bunda Baren, Dul. Tadi sore pas kita masih di kampus, nyokap lu nelepon gue. Beliau nanya kondisi lu, terus pas tahu lu sendirian di rumah karena Mikha lagi di Sukabumi, Bunda Baren langsung nyuruh gue sama Sendy buat nginep di sini malam ini. Katanya biar ada yang jagain lu kalau demamnya kambuh lagi."
"Nah, bener! Ditambah kuliah malam kita jam tujuh nanti untungnya ditiadakan gara-gara dosennya ada rapat darurat. Jadi, malam ini adalah malam resmi untuk menguasai rumah Ketua Karang Taruna!" timpal Sendy heboh, langsung melemparkan jaket denimnya ke atas meja kayu.
Aldi terkekeh pelan, menyusul duduk di sofa tunggal di depan kedua sahabatnya. Ia merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang penuh perhatian seperti Bunda Baren, dan sahabat yang selalu siap siaga seperti Kenan dan Sendy.
Suasana ruang tamu malam itu terasa hangat dengan pendaran lampu kuning redup. Sambil meluruskan kakinya di atas meja, Aldi menatap Kenan dan Sendy bergantian. Ada sebuah rahasia besar yang sudah tidak sabar ingin ia tumpahkan kepada kedua orang kepercayaannya ini.
"Eh, Nan, Sen. Sini deketan deh, gue mau cerita sesuatu yang bakal bikin otak lu berdua terbang ke bulan," ujar Aldi dengan nada suara yang mendadak serius dan berbisik.
Sendy yang baru saja mau membuka ponselnya langsung menoleh, matanya berbinar usil. "Apaan? Atau lu dapet dana tunjangan gede?"
"Bukan, ini soal aslinya Bu Jasmine. Soal status dia yang sebenarnya di komplek kita," potong Aldi cepat.
Kenan yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan punggungnya, insting kepemimpinannya mendadak peka. "Maksud lu gimana, Al? Status apa?"
Dengan nada bicara yang tertata namun penuh penekanan, Aldi mulai menceritakan seluruh obrolan jujurnya dengan Jasmine di teras sore tadi. Ia menjabarkan dari awal bahwa Nadeo sebenarnya bukanlah anak kandung Jasmine, melainkan anak dari almarhum kakak kandungnya yang telah tiada akibat kecelakaan tragis. Dan yang paling membuat Kenan serta Sendy melotot sempurna adalah fakta bahwa Jasmine sebenarnya belum pernah menikah sama sekali dengan pria mana pun alias masih lajang, dan status janda itu hanyalah sebuah karangan demi melindungi dirinya dan Nadeo dari fitnah serta gunjingan miring warga komplek saat pertama kali pindah.
Mendengar penuturan panjang dari Aldi, ruang tamu itu mendadak senyap total. Sendy yang biasanya paling banyak omong kali ini hanya bisa melongo dengan mulut terbuka lebar, sementara Kenan memijat pelipisnya, berusaha mencerna plot twist kehidupan nyata yang baru saja mereka dengar.
"Anjir... Demi apa, Dul?!" pekik Sendy akhirnya setelah berhasil menguasai diri. "Jadi selama ini Kanjeng Ratu kita itu masih gadis?! Belum pernah disentuh suami orang?!"
"Iya, Sen. Gue berani sumpah, dia cerita langsung tadi di teras," jawab Aldi mantap.
Kenan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan kagum. "Gila... Hormat gue sama Bu Jasmine. Dia rela mengorbankan status mudanya dan dicap janda demi merawat keponakannya sendiri. Itu wanita langka bener, Al."
Aldi mengangguk setuju, lalu ia menarik napas dalam-dalam, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan mata yang penuh dengan ambisi anak muda yang sudah matang.
"Maka dari itu, Nan, Sen... Pikiran gue udah bulat sekarang," ujar Aldi mantap. "Apa gue nikahin aja ya Bu Jasmine secepatnya? Tapi... nikahnya tertutup gitu, gak usah dirayain gede-gedean kayak pakai tenda di jalanan komplek. Dan buat tempat tinggal, kita gak bakal sering-sering satu atap di rumah ini dulu. Rencana gue, misal nanti gue beli rumah baru di luar komplek ini, khusus buat sesekali berduaan gitu sama dia kalau ada waktu luang."
Sendy mengerutkan alisnya. "Loh, kenapa harus sembunyi-sembunyi begitu, Dul?"
Aldi menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang tamu. "Lu berdua tahu sendiri kan, gue ini masih muda, status gue masih kuliah lagi. Gue gak mau ada gosip miring yang enggak-enggak di kalangan warga atau temen kampus kalau tiba-tiba Ketua Karang Taruna nikah sama Bu RT-nya sendiri secara mendadak. Biar semuanya berjalan tenang dulu sampai gue lulus."
Kenan mendengarkan argumen Aldi dengan saksama. Sebagai sahabat yang paling rasional, ia mencoba menakar bobot keputusan besar itu. "Ya... kalau itu emang udah jadi keputusan bulat lu mah gak apa-apa, Dul. Ide rumah rahasia itu masuk akal buat ngejaga privasi lu berdua. Cuma ya... seperti yang gue bilang di kantin siang kemarin, konsekuensinya waktu main dan nongkrong kita bertiga bakal makin berkurang drastis."
"Kaga elah, Nan!" bantah Aldi cepat sambil tertawa lebar, menepis kekhawatiran sahabatnya itu dengan lambaian tangan. "Mungkin kalau di depan Bu Jasmine, prioritas utama gue memang bakal tertuju ke dia sebagai calon istri. Tapi ikatan kita bertiga gak bakal berubah. Kita masih bisa sering main bareng, bahkan nanti kalau rumah baru itu udah gue beli, gue bakal buatin satu ruangan gede khusus di sana!"
Dahi Sendy berkerut heran. "Ruangan gede buat apa, Dul?"
"Ya buat kita bertiga doang lah! Buat ruangan PS, komputer, atau tempat rebahan kalau misal kita kangen tidur bertiga kayak waktu zaman ngebolang dulu," jawab Aldi asal ceplos sambil menyenggol bahu Sendy usil. "Nanti kalau kalian main ke sana, Jasmine bisa gue tinggal tidur sendiri dulu sesekali di kamar utama, pasti dia juga setuju dan maklum karena dia tahu kalian itu udah kayak saudara kandung buat gue."
Sendy langsung tertawa terbahak-bahak mendengar ide gila ketuanya itu. "Sialan lu, Dul! Jadi lu mau bikin markas Karang Taruna cabang rahasia di rumah lu sama istri lu? Mantap bener otak lu kalau urusan begini!"
Di sela-sela tawa mereka, Kenan mengetuk meja kayu dengan ujung jarinya, mengembalikan fokus pembicaraan ke jalur yang lebih krusial. "Rencana lu udah matang, Al. Tapi ada satu hal paling penting yang belum lu sentuh."
"Apaan, Nan?" tanya Aldi.
Kenan menatap lurus ke mata Aldi. "Lu udah bilang nyokap? Udah izin ke Bunda Baren soal rencana besar lu ini?"
Aldi seketika terdiam, senyumannya sedikit menyusut digantikan oleh helaan napas pendek. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Belum, Nan. Gue belum bilang ke siapa-siapa di keluarga gue. Mungkin kalau Bunda sama Ayah udah balik dari luar kota besok atau lusa, baru gue bakal cari momen yang pas buat bilang jujur ke mereka."
"Sip. Itu langkah yang bener," timpal Kenan sambil menepuk pundak Aldi dengan hangat. "Restu orang tua itu nomor satu, apalagi buat keputusan segede ini. Pokoknya apa pun jalurnya nanti, gue sama Sendy bakal selalu ada di belakang lu, Dul."
Malam semakin larut di ruang tamu rumah Aldi. Ketiga pemuda itu kembali melanjutkan obrolan mereka, melarutkan sisa-sisa kecemasan malam sebelumnya ke dalam kehangatan persahabatan sejati, sementara di luar sana, takdir baru perlahan-lahan mulai merajut jalannya sendiri.