NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Tabib Dadakan

Mentari pagi baru saja merangkak naik, mengusir kabut tipis yang menyelimuti halaman rumah Tabib Wen. Zhao Fei baru saja meletakkan sapu lidi di sudut teras setelah membersihkan sisa-sisa daun kering. Keringat tipis membasahi keningnya, namun tubuh barunya ini terasa jauh lebih segar setelah semalam penuh menyelaraskan diri dengan energi pedang Pemutus Awan.

Belum sempat dia melangkah masuk untuk meneguk air, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang ramai dari arah jalan setapak.

Dia menghampiri jendela, mengintip lewat celah kayu saat seorang pemuda terlihat sedang menuntun nenek tua berjalan perlahan menuju teras. Wajah nenek itu pucat, dan setiap helaan nafasnya seperti perjuangan melawan beban yang tidak terlihat.

Tak hanya mereka saja rupanya, beberapa orang lain juga mulai berdatangan dari arah yang sama. Seorang petani dengan keranjang berisi sayuran segar di punggungnya. Seorang wanita paruh baya menggenggam kantong kain yang tampaknya berisi koin. Seorang pria berperawakan tambun dengan bangga membawa sekantong emas, logam mulia itu menggantung di tangannya seperti jimat keberuntungan.

Mereka semua datang untuk satu tujuan, yaitu berobat pada Tabib Wen.

Zhao Fei yang telah dipasrahi tugas oleh tabib lawak itu lantas menarik napas sebelum membuka pintu.

Dia berdiri di depan teras dan surat Tabib Wen sudah di tangannya.

"Kebetulan sekali Tabib Wen sedang pergi," katanya dengan tenang. “Beliau meninggalkan pesan agar saya mencatat nama serta keluhan penyakit kalian. Lalu jika beliau kembali seminggu lagi, seluruh catatan ini akan segera ditanggapi."

Mendengar pengumuman itu, suasana pun langsung berubah.

"Seminggu?" Pemuda penuntun nenek itu melangkah maju. Wajahnya memanas. “Nenekku sudah menderita dan menunggu selama dua bulan hanya untuk mendapatkan giliran bertemu Tabib Wen! Bagaimana mungkin kami harus menunggu lagi?”

“Benar! Kami datang dari desa di seberang gunung, berjalan kaki melintasi hutan selama tiga hari tiga malam!” timpal seorang pria paruh baya jauh di belakang.

“Penyakit kami menyerang sekarang, tidak bisa diajak berunding. Menunggu seminggu lagi, mungkin tubuh kami sudah tertimbun tanah!” gerutu yang lain, mulai melangkah mundur dengan rasa kecewa yang teramat sangat.

Melihat keputusasaan yang mulai menyebar bagaikan wabah, beberapa orang di barisan belakang bahkan sudah berbalik, bersiap untuk pulang dengan tangan hampa. Tepat ketika pemuda kekar itu hendak menarik kembali lengan neneknya untuk pergi, Zhao Fei kembali bersuara.

"Tunggu."

Langkah kaki mereka terhenti. Seluruh mata kembali tertuju pada pemuda yang berdiri di teras rumah itu.

“Aku bisa mencoba mengurangi penderitaan kalian,” lanjut Zhao Fei, tatapannya menyapu kerumunan dengan penuh keyakinan dan entah kenapa dia berbicara tidak formal kali ini. “Tapi ada satu syarat yang harus dipenuhi. Kalian harus bersedia meminum ramuanku, dan tentu saja, kalian tetap harus membayar dengan layak atas obat yang kuberikan.”

Bisikan demi bisikan langsung bergema di antara mereka.

"Hey Anak muda. Memangnya kau ini siapa?" seorang pria menyela. "Kau bukan Tabib Wen."

“Mungkin dia hanya seorang murid magang yang baru belajar memotong herbal,” duga yang lain, mencemooh.

“Bagaimana kami bisa mempercayakan nyawa pada pemuda mentah sepertinya? Usianya pasti belum genap dua puluh tahun!”

Di tengah keraguan massal itu, sang nenek tua tiba-tiba menarik ujung baju putranya. Wanita senja itu mendekatkan bibirnya ke telinga sang pemuda, bersuara lirih, membisikkan sesuatu yang membuat alis putranya bertaut rapat. Pemuda itu pun menghela napas panjang, menatap ibunya yang kepayahan sebelum akhirnya kembali menatap Zhao Fei.

“Ibuku mau coba,” kata pemuda itu, meski gurat ragu masih tercetak jelas di wajahnya yang keras. Dia terpaksa setuju alih-alih melihat ibunya terus menderita tanpa kepastian.

Zhao Fei memberikan isyarat dengan lambaian tangannya. “Silakan masuk. Kita bicara di dalam agar suasananya lebih tenang.”

Dia membuka pintu kayu lebar-lebar, mempersilakan kedua orang itu melangkah masuk sebelum menutupnya kembali dengan rapat, mengunci pandangan penasaran dari orang-orang di luar.

Di dalam kediaman Tabib Wen, Zhao Fei mempersilakan nenek itu duduk di kursi kayu dekat jendela, dibarengi dengan cahaya pagi yang masuk lewat celah-celah kayu, menciptakan garis-garis tipis di lantai.

“Sebutkan apa saja yang dirasakan oleh Ibu,” ucap Zhao Fei, mengambil posisi di hadapan mereka.

Putranya mulai menjelaskan. Nenek itu sudah sakit selama lebih dari setahun. Batuk terus-menerus, terutama di malam hari. Kadang batuknya begitu keras sampai sulit bernapas. Nafsu makannya juga hilang. Badan semakin kurus, dari hari ke hari seperti daun yang mengering di pohon. Beberapa tabib sudah didatangi, ramuan demi ramuan sudah diminum, tapi tidak ada yang berhasil.

Zhao Fei menyimak seluruh penjelasan itu dengan saksama tanpa memotong sedikit pun. Setelah mengerti inti masalahnya, dia bangkit berdiri dan berjalan menuju sudut ruangan, tempat tas kain kumal miliknya diletakkan.

Aku benar-benar beruntung. Berkat cincin ini, aku bisa mengambil barang-barang yang selama ini aku simpan di Alam Dewa, batinnya sambil tersenyum tipis.

Dari balik sekat ruangan yang agak gelap, Zhao Fei mengeluarkan sebuah kantong kain yang terikat tali sutra erat-erat. Ketika ikatannya dibuka, cahaya keemasan yang lembut langsung memancar keluar, menerangi sudut ruangan itu dengan pendaran yang lebih terang daripada nyala lilin di atas meja. Di dalam kantong itu terdapat beberapa butir pil putih keemasan yang dikenal sebagai Pil Jawaban Seratus Penyakit, obat tingkat rendah dari Alam Dewa yang dulu sering dia buat hanya untuk pengisi waktu luang.

Zhao Fei mengambil satu pil sebelum memarutnya menjadi serbuk halus di atas cawan kecil. Gerakannya pelan, presisi, seperti seorang ahli ramuan yang sudah melakukannya ribuan kali. Setelah serbuknya cukup, dia menambahkan sedikit air dari kendi di dekatnya. Lalu mengaduk campuran itu sampai semuanya larut.

Dulu aku membuatnya untuk berjaga-jaga. Satu pil ini saja mungkin cukup untuk dua puluh pasien.

Pikirannya melayang sejenak ke gudang persenjataannya di Alam Dewa. Gudang yang masih utuh setelah ribuan tahun. Semua pil di sana sekarang bisa dia gunakan.

Setelah selesai, pemuda itu segera keluar dari balik sekat ruangan dengan cawan di tangannya. Cairan di dalamnya berwarna putih keruh dengan kilau keemasan di permukaannya, seperti cahaya matahari yang terperangkap di dalam air.

"Minumlah ini," katanya sambil menyodorkan cawan itu pada nenek.

Putra nenek itu sempat menjulurkan tangan, mencoba menahan. “Tunggu! Obat apa ini sebenarnya? Cairan ini terlihat aneh, apa tidak berbahaya bagi ibuku?”

Alih-alih mendengarkan kepanikan putranya, sang nenek justru menggerakkan tangan keriputnya untuk menerima cawan tersebut. Tanpa ragu, dia meneguk seluruh cairan itu dalam satu tarikan napas yang cepat.

“Rasanya tidak aneh, Cuma seperti air biasa yang agak hangat,” komentar sang nenek setelah meletakkan kembali cawan kosong itu.

Beberapa detik berlalu dalam kebisuan yang menegangkan. Pemuda itu menahan napas, memperhatikan setiap perubahan pada wajah ibunya. Hingga sang ibu batuk keras. “Ibu! Apa yang terjadi?!”

Namun, batuk itu mendadak berhenti. Sang nenek menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan sangat panjang. Ekspresi wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa, sejenis kebebasan bernapas yang tidak pernah dia rasakan selama setahun terakhir.

“Ibu... bagaimana rasanya? Katakan sesuatu!”

Nenek itu menatap putranya. Matanya yang tadi sayu, keruh seperti air kolam yang tergenang terlalu lama, kini lebih bersinar.

“Ringan, Nak,” jawab sang nenek, suaranya tidak lagi serak dan berat, melainkan terdengar begitu bersih. “Dadaku terasa sangat lapang, tidak ada lagi rasa sesak yang menyumbat.”

Setelah melihat keajaiban yang terjadi di depan matanya, pemuda itu langsung berbalik dan keluar rumah dengan tergesa-gesa. Raut keraguan di wajahnya telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh kekaguman yang luar biasa.

Begitu kakinya menginjak halaman, orang-orang yang masih setia menunggu langsung mengerumuninya dengan rentetan pertanyaan.

“Bagaimana hasilnya? Apa ibumu baik-baik saja?”

“Apakah pemuda di dalam itu benar-benar bisa mengobati?”

“Jangan-jangan ibumu diberi racun!”

Pemuda itu mengangkat kedua tangannya, berteriak lantang agar semua orang mendengar. “Ibuku sudah sembuh! Batuk setahun yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun, lenyap seketika hanya dengan satu cawan ramuan! Napasnya sekarang sangat lega!” Dia menoleh ke belakang, menatap pintu rumah dengan penuh rasa hormat. “Pemuda di dalam itu... dia tidak boleh diremehkan. Dia bukan orang biasa!”

Alhasil, suasana di halaman rumah Tabib Wen langsung berubah drastis bagaikan air yang mendidih.

Mereka yang tadinya berjalan menjauh kini berbalik arah dan berlari kencang. Rasa ragu yang sempat merayap di hati mereka kini berganti menjadi ambisi untuk mendapatkan obat dewa tersebut. Mereka mulai berjejalan di depan pintu, saling sikut, dan mendorong satu sama lain demi menjadi yang terdepan dalam antrean.

“Aku duluan! Istriku di rumah sedang bertaruh nyawa karena demam!”

“Minggir! Aku sudah berdiri di gunung ini sejak subuh!”

“Lihat ini! Aku membawa kantong emas ini, berikan aku giliran pertama!” teriak pria berpakaian sutra sambil mengangkat tinggi-tinggi hartanya.

Zhao Fei menyaksikan seluruh kegaduhan itu dari balik celah pintu yang terbuka setengah. Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibirnya. Kendati penampilannya luar tampak begitu tenang dan bersahaja, di dalam lubuk hatinya, dia sedang tersenyum lebar dengan rasa puas yang meledak.

Tabib Wen tidak akan mempermasalahkan hal ini jika dia tahu, batin Zhao Fei seraya bersiap menerima koin-koin yang akan mengisi pundi-pundinya. Lagipula, tindakan ini murni untuk menolong sesama yang sedang kesusahan.

Dengan gerakan yang anggun namun tegas, dia membuka pintu rumah lebar-lebar.

“Harap mengantre dengan tertib satu per satu. Ayolah, jangan saling mendorong. Siapa pun yang kondisinya paling kritis, dialah yang akan mendapatkan pelayanan terlebih dahulu.”

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!