LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Jejak Yang Tertinggal
Ruang istirahat sementara terasa pengap. Sabiru terbaring lemas di ranjang medis, tubuhnya masih sesekali berkedut halus. Allbiru duduk di sampingnya, jari-jari lentuhnya menempelkan sensor dingin ke pelipis Sabiru, memantau gelombang otak melalui tablet holografik.
"Otaknya mengalami overheat parah," jelas Allbiru, matanya tidak lepas dari grafik data. "Tapi struktur neural-nya berubah. Ada jalur-jalur baru yang terbentuk dengan kecepatan mustahil. Seolah-olah otaknya baru saja di-'upgrade' paksa oleh sistem Rio."
Malia mengusap keringat di dahi Sabiru dengan tangan gemetar. "Apakah dia akan baik-baik saja?"
"Dia akan baik-baik saja," kata Aldo, suaranya berat namun yakin. Dia bersandar pada dinding, lengan terlipat erat. "Malahan, dia sekarang jauh lebih kuat. Neural Link-nya tidak lagi sekadar penerima pasif. Tapi kita harus berhati-hati. Pesan dari 'A' tadi... itu peringatan."
Sementara Sabiru tidur, Aldo dan Allbiru memeriksa konsol data portable yang berhasil diselamatkan Sabiru dari Hard Drive Hidup. Layar kecil menyala redup, menampilkan ribuan file.
Allbiru menggulir daftar nama. "Ini lokasi laboratorium utama Rio di Jakarta. Dan ini... daftar petinggi organisasi pendukung Project Rambutan."
Jari Allbiru terhenti. Wajahnya pucat. "Aldo, lihat ini."
Aldo mendekat, matanya menyipit membaca teks kecil: DR. VIKTOR KANE – HEAD OF GENETIC ARCHITECTURE.
Darah Aldo membeku. "Viktor Kane. Rekan lama Arisendra. Aku kira dia mati. Dia masih hidup? Dan bekerja sama dengan Rio?"
"Kita punya masalah baru, Yah," bisik Allbiru. "Musuh kita bukan hanya Rio. Ini konspirasi yang lebih besar."
Tiba-tiba, Sabiru terbangun. Matanya terbuka lebar sekaligus, pupilnya berkontraksi tajam. Tatapannya kosong, penuh kewaspadaan ekstrem.
"Mereka datang," kata Sabiru datar.
"Siapa?" tanya Aldo, tangannya refleks bergerak ke arah pistol tersembunyi.
"Pasukan elit Rio. Unit 'Shadow Protocol'. Mereka menggunakan sinyal neural pendek. Aku bisa merasakannya seperti dengungan lebah di tengkorakku. Mereka ada di lift utara. Tiga puluh detik lagi sampai di lantai ini."
Aldo mengernyit. "Bagaimana kau tahu?"
Sabiru menunjuk kepalanya. Kilauan biru elektrik tipis terlihat sekilas di matanya. "Karena aku sekarang terhubung dengan jaringan keamanan mereka. Saat aku memutus akses Rio, sebagian protokol defensifnya melekat padaku. Ironisnya, aku adalah mata-mata terbaik mereka karena mereka tidak tahu aku sudah berbalik arah."
Allbiru tersenyum bangga meski situasi genting. "Kalau begitu, mari kita beri mereka sambutan hangat. Ru, apa yang bisa kau lakukan?"
Sabiru menutup mata. Jari-jarinya mengetik udara seolah ada keyboard tak terlihat. Di layar konsol, kode hijau mengalir deras.
> COMMAND: OVERRIDE_LOCK [ELEVATOR_NORTH]
> STATUS: LOCK_FLOOR_5 [ACTIVE]
> COMMAND: ACTIVATE_FIRE_SUPPRESSION [CORRIDOR_NORTH]
> AGENT: FOAM_CONCENTRATE
Dari kejauhan, terdengar suara alarm melengking, diikuti bunyi hiss keras uap bertekanan tinggi. Suara teriakan panik dan benturan tubuh terdengar samar, lalu mereda digantikan dengungan mesin pemadam. Pasukan elit terjebak di koridor utara, tertutup busa pekat, sementara lift terkunci rapat.
Sabiru membuka mata. Kilauan biru pudar, kembali menjadi cokelat hangat. Senyum tipis, dingin, dan kalkulatif terukir di bibirnya—sangat mirip Arisendra.
"Satu down," bisiknya. "Mereka butuh waktu minimal satu jam untuk membersihkan koridor. Itu memberi kita jendela kesempatan."
"Tapi ini baru permulaan," lanjut Sabiru sambil berdiri, kakinya sedikit goyah namun ditopang Allbiru. "Rio tahu kita ada di sini. Dia tahu aku telah mengakses core-nya. Kita harus menyerang sekarang, selagi dia panik."
"Aku butuh kau di sisiku, Biru," kata Sabiru menatap mata Allbiru lekat-lekat. "Neural Link-ku stabil ketika kau dekat. Kau adalah 'anchor'-ku."
Allbiru tersenyum, pipinya sedikit memerah. "Selalu."
Aldo menghela napas lega. "Baiklah. Target kita adalah Ruang Kontrol Utama di ujung fasilitas. Di sanalah Rio menyimpan server induk. Sabiru, kau bisa membukakan jalan?"
Sabiru mengangguk. "Pintu-pintu keamanan biometrik sudah kubajak. Mereka akan terbuka untuk kita. Tapi hati-hati, ada kemungkinan jebakan manual di ruang utama."
"Malia, tetap di sini. Kunci pintu dari dalam," perintah Aldo.
Malia mengangguk, air mata menggenang, namun ia mengucap doa singkat.
Sabiru, Allbiru, dan Aldo melangkah keluar. Koridor panjang di hadapan mereka gelap, hanya diterangi lampu darurat merah. Bagi Sabiru, koridor itu terang benderang; ia bisa "merasakan" aliran data di setiap kamera dan sensor. Ia adalah hantu di dalam mesin.
Setiap belokan, Sabiru mengangkat tangan, dan pintu baja berat terbuka otomatis sebelum mereka menyentuhnya. Akhirnya, mereka sampai di depan pintu raksasa berbahan titanium hitam. Hanya ada pemindai retina tunggal yang menyala merah.
Sabiru menatapnya. Pemindai berkedip, berubah dari merah menjadi hijau.
> IDENTITY CONFIRMED: ADMINISTRATOR LEVEL [GUEST ACCESS GRANTED VIA SABIRU_NAVERLLA]
Pintu terbuka perlahan, mengungkapkan ruangan luas, dingin, dan steril. Inilah akhirnya.