"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25.Identitas pemilik yang tergambar di sketsa.
Melihat sosok Rian yang berdiri tegak di samping mobil hitam itu, wajah Salsa seketika bersinar cerah. Rasanya lelah seharian belajar seolah terbang terbawa angin sore yang sejuk. Di sampingnya, Rani sudah melompat kecil kegirangan, melambaikan tangan dengan semangat.
"Kak Rian! Kami disini!" teriak Rani tak sabar.
Salsa mengikuti langkah sahabatnya berjalan mendekat. Jantungnya berdegup tenang, ada rasa aman yang selalu muncul setiap kali melihat sosok suaminya itu. Meski pernikahan mereka didasari atas wasiat kakek, perlahan tapi pasti, kehadiran Rian mulai menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Saat mereka sampai di pinggir jalan, Bobby langsung menyambut dengan senyum paling lebarnya. Pemuda itu segera menyalami Rani lalu beralih ke Salsa dengan antusias sekali.
"Halo Nona Salsa! Wah, ternyata kamu Kakih lebih muda dari yang saya bayangkan. Hebat sekali, benar-benar berbakat luar biasa!" seru Bobby bersemangat, matanya berbinar penuh kekaguman.
Salsa sedikit terkejut namun tetap tersenyum sopan. "Eh... halo juga, Kak. Maksudnya berbakat bagaimana ya?"
Rian yang baru saja menutup pintu mobil perlahan mendekat. Ia hanya diam sambil menyaksikan tingkah rekannya itu, sedikit menggelengkan kepala sambil menahan senyum. Bobby memang dikenal orangnya ramah, ceria, dan sangat mudah akrab dengan siapa saja. Kadang kalahnya, pemuda itu sama sekali tidak tahu fakta besar bahwa gadis di hadapannya ini adalah istri sah atasannya sendiri.
"Tentu saja soal gambar sketsa itu dong!" jawab Bobby cepat sambil menepuk-nepuk saku jasnya di mana kertas itu tersimpan. "Pak Rian sudah cerita sedikit sama saya. Gambar yang kamu buat itu sangat presisi, detailnya sampai ke urat rambut dan bentuk hidungnya. Persis seperti hasil gambar seniman forensik berpengalaman.Seperti kamu pernah melihat gadis itu"
Salsa melirik sekilas ke arah Rian, sedikit gugup. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa ia tidak menggambar berdasarkan imajinasi, melainkan apa yang ia lihat langsung dari arwah gadis itu?
"Aku cuma...diminta tolong oleh nya," jawab Salsa pelan.
"Minta tolong! Bagaimana bisa dia minta tolong padamu? " Wajah Bobby yang terkejut dengan jawaban Salsa.
Rian akhirnya angkat bicara, menyelamatkan Salsa yang mulai tampak tidak nyaman. "Sudah, Bob. Sebaiknya kita bicara di kantor saja,jangan disini tidak enak."
"Siap, Komandan!" Bobby memberi hormat main-main, lalu membukakan pintu belakang mobil untuk Salsa. "Ayo silakan!. Adik Salsa ikut kami."
Rani pun berpisah dari mereka, naik ke mobil jemputnya.
Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Salsa duduk di kursi belakang, Bobby terus saja berbicara dan bercanda dengan Salsa dan Salsa tidak canggung dengan Bobby lagi. Sementara di kursi depan, Rian menyetir dengan tenang, sesekali matanya menatap pantulan wajah Salsa dari kaca spion tengah.
Setelah percakapan mereda sedikit, Rian pun mulai membahas tujuan utamanya datang ke sini. Ia mengeluarkan kertas sketsa itu dari map cokelatnya, lalu menyerahkannya ke belakang.
"Salsa, coba lihat lagi baik-baik," ucap Rian lembut namun serius. "Apakah kamu kenal dengan wanita yang kamu gambar?"
Ia menggeleng perlahan. "Tidak, Kak Rian.Sebenarnya aku bertemu dengan nya kemarin malam,dia tidak ingat siapa dirinya dan aku pun meminta bantuan kakak."
Tanpa di jelaskan lebih jauh Rian paham, dimana Salsa pernah bertemu dan itu bukan wujud manusia tapi arwah.
Rian mengangguk paham. Jawaban itu persis seperti yang ia duga.
"Baiklah. Terima kasih, Salsa. Gadis yang kamu gambar ini korban pembunuhan dan ciri-cirinya sangat cocok dengan salah satu daftar orang hilang yang kami terima dua bulan lalu. Namanya Riza Amalia. Penemuanmu ini membuka jalan besar bagi penyelidikan kami."
Bobby yang duduk di sebelah pengemudi langsung menoleh penuh takjub bukan takjub dia mengerti, tapi takjub karena atasannya percaya begitu saja ucapan Salsa.
Keheningan sejenak menyelimuti ruang mobil, sebelum suara Bobby kembali terdengar, penuh rasa ingin tahu yang memuncak. Matanya menatap tajam ke arah kertas sketsa di tangan Salsa, lalu beralih menatap gadis itu lewat kaca spion.
"Tunggu... tunggu sebentar," potong Bobby sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudmu bertemu kemarin malam? Di mana? Di jalan raya? Di taman? Dan kau bilang dia minta tolong... padahal kau tidak mengenalnya sama sekali."
Salsa menarik napas pelan. Ia tahu, pada akhirnya penjelasan ini harus ia sampaikan. Ia melirik Rian sekilas, memastikan suaminya tetap tenang, sebelum perlahan membuka suara.
"Jujur saja... wanita bernama Riza ini bukan aku temui dalam wujud manusia, Kak Bobby," ucap Salsa lembut namun tegas. "Dia adalah arwah. Hantu yang masih terperangkap di dunia ini karena kematiannya tidak adil. Aku... punya kemampuan untuk melihat mereka."
Sempat ia menduga, mendengar hal itu Bobby akan ketakutan atau menganggapnya gila. Berbeda dengan Rian yang dulunya sempat ragu dan berhati-hati, pemuda di sebelah depan itu justru matanya semakin berbinar terang.
"Wah?! Jadi benar ya? Kemampuan supranatural sungguhan?!" seru Bobby antusias malah semakin mendekatkan badannya ke kursi belakang. "Luar biasa! Selama ini cuma baca di buku cerita, ternyata ada orang aslinya! Terus apa rasanya? Apakah mereka sering datang padamu? Bisa ngobrol panjang lebar kah?"
Rentetan pertanyaan keluar tanpa jeda. Salsa sedikit tertegun, ia pikir orang akan menjauh, tapi Bobby justru makin penasaran. Ia tersenyum kecil sambil menggeleng.
"Maaf, aku tidak bisa jelaskan lebih jauh. Aku tidak ingin membuat kalian merasa tidak nyaman atau takut. Intinya... gambar itu benar adanya, dan dia sangat berharap kebenaran bisa terungkap," jawab Salsa menutup pembicaraan itu.
Rian tersenyum tipis melihat tingkah rekannya itu. Ia bersyukur ternyata Bobby bisa menerimanya dengan cara unik seperti itu. "Sudah cukup, Bob. Nanti waktu akan menjawab semuanya. Sekarang kita sampai."
Mobil berhenti tepat di halaman gedung forensik kepolisian. Suasana tempat itu terlihat dingin dan hening, berbeda dengan hiruk pikuk jalanan luar.
Saat mereka hendak masuk, Bobby tiba-tiba menahan langkah Salsa. Wajahnya yang ceria berubah serius.
"Pak Rian... apa kita yakin mengajak Salsa masuk ke dalam? Di sana itu tempat mayat dan barang bukti kasus kejam. Nanti kalau dia trauma atau kaget bagaimana? Dia masih muda lho," bisik Bobby khawatir.
Namun Rian hanya mengangguk mantap, menatap Salsa dengan pandangan penuh keyakinan.
"Jangan khawatir. Salsa bukan gadis lemah yang kamu kira. Dia sudah menghadapi hal jauh lebih berat dari ini. Dia akan baik-baik saja," jawab Rian tegas.
Mereka pun melangkah masuk melewati lorong panjang berbau antiseptik. Sesampainya di ruang pemeriksaan, petugas sudah menyiapkan jenazah yang tertutup kain putih. Saat kain itu dibuka perlahan...
Di sana terbaring tubuh Riza Amalia yang sudah membusuk sebagian, wajahnya kaku dan penuh bekas kekerasan.
Bobby refleks menutup hidung dan memalingkan wajah, namun Salsa justru maju selangkah. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya, tidak ada jeritan kaget.
Matanya meneliti setiap sudut wajah dan tubuh itu dengan saksama. Di benaknya, bayangan sosok transparan yang ia temui kemarin malam perlahan menyatu dengan tubuh fisik di hadapannya.
Benar... ini dia. batin Salsa.
Garis mata, bentuk bibir, hingga tahi lalat kecil di sudut pipi kanan... semuanya sama persis. Bahkan aura kesedihan yang dulu ia rasakan, kini terasa samar masih melekat pada jenazah itu.
"Dia memang Riza..." ucap Salsa pelan sambil menoleh ke arah Rian. "Jadi namanya Riza Amalia,kasihan sekali masih muda sudah meninggal dengan tragis."
"Saat melihat arwah itu atau apa dia mengucapkan sesuatu tentang pelakunya?,"
"Dia hanya memintaku mencari informasi tentang dirinya, dia sebenarnya tidak ingat siapa dirinya bahkan kapan dia meninggal. "
Di belakang mereka, Bobby menggeleng takjub. "Gila... benar-benar hebat. Rasanya bangga punya dua rekan setim sehebat kalian berdua."
Hari itu menjadi bukti nyata, perbedaan dunia antara logika polisi dan dunia gaib Salsa justru menyatu sempurna untuk mencari keadilan.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍