NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Romansa di Antara Dentingan Peluru

Helikopter hitam legam milik Vancort Corp mendarat di sebuah lapangan rumput yang tak jauh dari kompleks panti asuhan "Kasih Bunda". Debu berterbangan, menciptakan tirai kecokelatan yang menyambut kedatangan Leon dan Ailen. Namun, romansa tenang yang mereka bayangkan setelah pelarian bajaj tadi sirna seketika.

Udara di sekitar panti asuhan terasa berat. Leon, dengan insting predatornya, segera menarik Ailen ke balik pintu helikopter yang masih terbuka. "Marco, lapor!"

"Tuan, sisa-sisa aliansi Black Cobra ternyata sudah mengantisipasi kunjungan ini. Mereka menjadikan panti asuhan sebagai benteng terakhir mereka. Ada sandera di dalam," suara Marco terdengar berat melalui transmisi radio.

Wajah Ailen yang tadinya ceria seketika pucat pasi. "Anak-anak... Ibu Pengasuh... Mas Leon, mereka nggak ada hubungannya sama masalah kita!"

Leon mencengkeram bahu Ailen, menatap matanya dalam-dalam. "Aku tahu. Dan aku berjanji, tidak akan ada satu helai rambut pun dari mereka yang hilang. Tapi kau harus tetap di sini."

"Nggak! Saya tahu seluk-beluk panti itu lebih dari siapa pun. Ada jalan rahasia di bawah dapur yang cuma saya yang tahu. Kalau tim Mas Leon masuk lewat depan, mereka bakal pake anak-anak buat tameng," Ailen bersikeras. Matanya menyala dengan keberanian yang membuat Leon tertegun.

Leon menghela napas. Ia tahu ia tidak bisa melarang badai bernama Ailen Gavril. "Baik. Tapi kau berada di bawah perlindunganku setiap detik. Paham?"

Mereka bergerak dalam senyap, menyusuri selokan besar di belakang panti. Leon mengenakan rompi antipeluru dan membawa senapan serbu taktis, sementara Ailen membawa tas ranselnya yang kini berisi campuran "senjata" yang lebih serius: botol kaca berisi minyak cabai dan kelereng-kelereng yang sudah dilumuri oli.

Di balik tembok dapur yang sudah mengelupas catnya, Leon menghentikan langkah. Ia menarik Ailen mendekat, menempelkan punggung mereka ke dinding. Suara tembakan terdengar dari arah aula depan—tim Alpha sedang melakukan pengalihan.

"Ailen," bisik Leon di tengah desing peluru yang mulai bersahutan.

"Ya, Mas?"

Leon menarik napas pendek, lalu dengan cepat ia mencium kening Ailen di tengah kekacauan itu. "Jika kita keluar dari sini dengan selamat, aku akan membangunkan panti asuhan ini menjadi istana yang paling megah di negeri ini."

Ailen tersenyum tipis, meskipun tangannya gemetar. "Mas nggak perlu istana. Mas cuma perlu pastiin Ibu Pengasuh nggak liat Mas bawa pistol, nanti dia sangka Mas mau ngerampok bank."

Mereka masuk melalui lubang pembuangan udara yang sempit. Ailen memimpin di depan, merangkak dengan lincah, sementara Leon yang bertubuh besar harus berjuang ekstra keras untuk tidak meruntuhkan pipa besi.

Saat mereka sampai di area dapur, dua orang penjaga Black Cobra sedang berjaga sambil merokok. Mereka tampak lengah karena fokus pada pertempuran di aula depan.

"Mas Leon, bagian kanan punya saya, bagian kiri punya Mas," bisik Ailen.

Sebelum Leon sempat memprotes, Ailen sudah melemparkan sebuah bola bekel yang telah ia modifikasi. Bola itu menghantam lantai, pecah, dan melepaskan gas air mata buatan (campuran lada bubuk dan cuka).

"Uhuk! Apa ini?!"

Leon bergerak secepat kilat. Dengan dua gerakan bela diri yang efisien, ia melumpuhkan penjaga kiri, sementara Ailen menggunakan teknik "Sandal Jepit Maut"—menghantam titik saraf di leher penjaga kanan dengan ujung sandalnya yang keras.

"Lumayan juga teknik Mas," puji Ailen sambil mengikat tangan penjaga itu dengan tali jemuran.

"Fokus, Ailen," sahut Leon, meskipun dalam hati ia takjub dengan efektivitas "senjata" gadis itu.

Mereka sampai di ambang pintu aula utama. Di sana, sekitar tiga puluh anak panti dan dua pengasuh tua dikumpulkan di tengah ruangan. Pemimpin penyerang, seorang pria dengan luka parah di wajahnya bernama Raka, berdiri di atas podium sambil memegang detonator.

"Vancort! Keluar kau! Kalau tidak, gedung ini akan jadi kuburan bagi bocah-bocah ini!" teriak Raka.

Leon memberikan isyarat pada Ailen untuk tetap di balik pilar. Ia kemudian melangkah keluar, menunjukkan dirinya. "Aku di sini, Raka. Lepaskan mereka. Urusanmu denganku, bukan dengan mereka."

"Hahaha! Sang Iblis akhirnya punya kelemahan!" Raka tertawa gila. "Mana gadis itu? Aku ingin dia melihatmu mati!"

Ailen, yang melihat celah di antara langit-langit aula, mulai memanjat ke atas balok kayu penyangga atap. Ia bergerak seperti kucing, tanpa suara. Di tangannya, ia memegang sebotol besar cairan pembersih lantai yang sangat licin.

"Raka," suara Leon menggema, tenang namun mematikan. "Kau pikir kau menang karena memegang nyawa mereka? Kau salah. Kau menang karena aku belum kehilangan kesabaranku."

Saat Raka lengah karena intimidasi Leon, Ailen menjatuhkan cairan licin tepat di bawah kaki Raka dan anak buahnya yang mengelilingi sandera.

"SEKARANG, MAS!" teriak Ailen dari atas plafon.

Leon melepaskan tembakan presisi ke arah lampu gantung besar di tengah aula. Lampu itu jatuh, menciptakan ledakan percikan api dan kegelapan sesaat. Tim Alpha merangsek masuk lewat jendela.

Di tengah kegelapan dan desing peluru, Leon berlari menuju kerumunan anak-anak, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Sementara itu, Ailen melompat turun dari plafon—sebuah tindakan gila yang hampir membuatnya patah tulang jika Leon tidak menangkapnya tepat waktu.

Bruk!

Mereka terguling di lantai saat sebuah peluru menghantam pilar di atas kepala mereka. Dalam posisi itu, di tengah suara teriakan dan tembakan, Leon mendekap Ailen erat.

"Sudah kubilang tetap di atas!" bentak Leon, suaranya parau karena cemas.

"Kalau saya di atas, siapa yang mau jagain anak-anak di bawah sini?" sahut Ailen. Ia menatap mata Leon. Di tengah maut yang mengintai, ada sebuah momen hening di antara mereka. Leon bisa merasakan detak jantung Ailen yang kencang, dan Ailen bisa merasakan kehangatan dari pelukan pria yang dianggap dunia sebagai monster itu.

"Jangan pernah mati, Ailen," bisik Leon. Ia kemudian mencium bibir Ailen dengan singkat namun penuh tekanan—sebuah janji bisu di antara dentingan selongsong peluru yang jatuh ke lantai marmer.

Ailen terpaku sejenak, wajahnya merona merah bahkan di tengah kepulan asap mesiu. "Mas Leon... ini bukan waktu yang tepat buat adegan drama Korea!"

"Aku tidak peduli," sahut Leon sambil kembali berdiri dan melepaskan tembakan ke arah musuh yang mencoba mendekat.

Pertempuran itu berakhir dalam hitungan menit. Tim Alpha yang sangat terlatih dengan cepat melumpuhkan sisa-sisa Black Cobra. Raka tertangkap saat mencoba melarikan diri lewat jendela samping setelah terpeleset berkali-kali karena cairan pembersih lantai milik Ailen.

Aula panti asuhan yang tadinya mencekam kini dipenuhi oleh isak tangis lega. Anak-anak panti berlarian memeluk Ailen. "Kak Ailen! Kak Ailen nggak apa-apa?"

Ailen memeluk mereka satu per satu, air matanya jatuh. "Kakak nggak apa-apa. Ada Om Ganteng ini yang jagain."

Leon berdiri di sudut ruangan, mencoba membersihkan noda darah di lengan bajunya. Ia tampak canggung saat anak-anak kecil mulai memperhatikannya. Salah satu anak laki-laki paling kecil mendekatinya dan menarik ujung kemeja mahalnya yang sudah robek.

"Om... Om itu pahlawan ya?" tanya bocah itu polos.

Leon terdiam. Ia menatap tangannya yang biasa digunakan untuk menghancurkan hidup orang lain. Ia kemudian berlutut agar sejajar dengan bocah itu. "Bukan. Aku hanya pria yang sedang mencoba belajar menjadi baik karena Kak Ailen-mu."

Ailen melihat pemandangan itu dari kejauhan dan tersenyum. Ia tahu, sisi Iblis dalam diri Leon belum sepenuhnya hilang, tapi setidaknya, hari ini, Iblis itu memilih untuk menjadi pelindung.

Sore harinya, setelah semua urusan medis dan polisi selesai, Leon dan Ailen duduk di teras panti asuhan yang menghadap ke arah matahari terbenam. Panti itu berantakan, lubang peluru ada di mana-mana, namun suasananya terasa sangat damai.

"Mas Leon," panggil Ailen sambil menyandarkan kepalanya di bahu Leon.

"Hmm?"

"Tadi itu... ciuman pertama Mas ya?" goda Ailen.

Leon berdehem, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Jangan konyol. Aku seorang Vancort."

"Halah, bohong! Mas tadi gemeteran kok pas nyium saya. Ngaku aja, Mas grogi kan nyium gadis secantik saya di tengah hujan peluru?"

Leon akhirnya menyerah. Ia tertawa kecil, suara yang sangat jarang terdengar namun terdengar sangat merdu di telinga Ailen. "Mungkin. Lagipula, siapa yang tidak grogi saat harus berciuman dengan gadis yang membawa botol pembersih lantai di tasnya?"

Mereka terdiam sejenak, menikmati semilir angin sore.

"Ailen," ucap Leon dengan nada serius.

"Ya, Mas?"

"Besok, aku akan mengirim kontraktor terbaik untuk membangun kembali tempat ini. Dan aku ingin kau yang mendesainnya. Mau ada ruang karaoke, perpustakaan, atau bahkan gudang sandal jepit... terserah kau."

Ailen menatap Leon dengan mata berkaca-kaca. "Mas beneran?"

"Aku tidak pernah bercanda soal janji," Leon merangkul pinggang Ailen, menariknya lebih dekat. "Dan satu lagi... mulai besok, kau tidak boleh lagi menggunakan teknik melarikan diri dengan daster atau bajaj. Aku akan memberimu perlindungan paling ketat di dunia."

"Yah, nggak seru dong! Padahal saya baru mau bikin teknik pelarian pake odong-odong," sahut Ailen sambil tertawa.

Di bawah langit yang berubah menjadi jingga, di antara puing-puing panti asuhan yang menjadi saksi bisu masa kecil Ailen, Sang Iblis dan Gadis Semprul itu duduk berdampingan. Mereka tahu, dunia mereka masih penuh dengan bahaya, pengkhianatan, dan musuh-musuh baru yang mengintai. Namun, setelah melewati dentingan peluru hari ini, mereka sadar bahwa selama mereka bersama, neraka sekalipun akan terasa seperti rumah.

"Mas Leon?"

"Apalagi, Ailen?"

"Laper nih. Beli bakso depan komplek yuk? Mas yang bayar ya!"

Leon menghela napas panjang, tersenyum pasrah, lalu berdiri sambil menggandeng tangan Ailen. "Ayo. Tapi jangan minta tambah kerupuk sampai lima plastik lagi."

"Dua plastik aja deh kalau gitu! Diskon dikit!"

Dan begitulah, sang penguasa dunia bawah tanah berjalan menuju gerbang panti asuhan, menggandeng seorang gadis dengan daster biru yang masih compang-camping, siap menghadapi tantangan terbesar berikutnya: mengantre bakso di jam pulang kantor.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!