Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sindi
Nadia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seperti ini.
Ia berdiri mematung di ruang tamu, menatap koper yang masih tegak di dekat pintu. Koper yang semalam ia siapkan dengan hati berbunga-bunga. Koper yang seharusnya menemaninya merayakan ulang tahun pernikahan bersama orang-orang yang paling ia cintai.
Namun pagi ini, koper itu justru menjadi saksi bahwa dirinya telah ditinggalkan.
Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya.
Nadia menyekanya cepat. Tetapi semakin ia berusaha menahan, semakin deras air mata itu turun.
Dalam keadaan seperti itu, satu nama terlintas di benaknya.
Sindi.
Sahabat yang berkali-kali memperingatkannya.
Sahabat yang dengan terus terang mengatakan bahwa Raka Selingkuh
Sahabat yang justru ia jauhi.
Bahkan ia blokir.
Bukan karena membenci Sindi, tetapi karena Nadia tidak siap mendengar kenyataan yang mungkin akan menghancurkan dunianya.
Dengan tangan gemetar, Nadia meraih ponsel.
Ia membuka daftar kontak, mencari nama Sindi, lalu membuka blokir nomor sahabatnya itu.
Untuk sesaat, Nadia hanya menatap layar.
Dadanya terasa sesak.
Ia membutuhkan seseorang untuk berbicara.
Seseorang yang mau mendengarkan, tanpa menghakimi.
Dan saat ini, hanya Sindi yang terlintas di benaknya.
Nadia menekan tombol panggil.
Telepon baru berdering sekali ketika suara Sindi langsung terdengar.
“Kenapa, Beb? Suami kamu selingkuh, kan?”
Nadia mengembuskan napas panjang.
“Aku enggak tahu, Sin.”
Sindi terdiam sejenak.
Lalu suaranya berubah lembut.
“Ya Allah, kamu nangis?”
Nadia menggigit bibir.
Air matanya kembali jatuh.
“Beb, kamu sekarang di mana? Aku jemput, ya?”
“Memangnya kamu di mana?” tanya Nadia lirih.
“Aku di apartemen. Tunggu tiga puluh menit. Aku ke rumah kamu. Jangan ke mana-mana, ya.”
Nadia menutup mata.
Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa ada seseorang yang benar-benar memedulikannya.
“Baiklah.”
Setelah sambungan terputus, rumah kembali sunyi.
Namun keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan.
Kepercayaan Nadia kepada Raka mulai runtuh.
Perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Seperti kaca yang retak tanpa suara.
“Kenapa kamu tega, Mas?” bisiknya lirih.
Ia memeluk tubuh sendiri.
“Apakah karena aku belum bisa memberimu anak?”
“Atau… apakah aku sudah tidak berarti lagi?”
“Kenapa kamu menutup semua pintu komunikasi denganku?”
Tatapan Nadia beralih ke foto pernikahan yang terpajang di dinding.
Foto tujuh tahun lalu.
Raka tersenyum lebar, menatapnya seolah Nadia adalah satu-satunya perempuan di dunia ini.
Dulu, Raka yang paling gigih memperjuangkannya.
Awalnya Nadia tidak memiliki perasaan istimewa.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, hatinya seperti ikut terkubur bersama mereka.
Ia tak lagi percaya bahwa hidup masih bisa memberinya kebahagiaan.
Namun Raka hadir.
Pria itu datang dengan perhatian sederhana.
Menanyakan kabarnya.
Menemani hari-harinya.
Meyakinkan Nadia bahwa ia tidak sendiri.
Sedikit demi sedikit, dinding yang Nadia bangun di sekeliling hatinya runtuh.
Ia membuka diri.
Dan akhirnya menerima Raka.
Dua tahun pertama pernikahan mereka terasa begitu indah.
Penuh tawa.
Penuh harapan.
Penuh cinta.
Namun setelah itu, semuanya berubah.
Tanpa penjelasan.
Tanpa alasan.
Raka mulai menjaga jarak.
Yuni tak lagi bersikap hangat.
Dan Nadia, tanpa pernah benar-benar menyadarinya, perlahan tersisih dari keluarga yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati.
Tak lama kemudian, sebuah mobil Pajero berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumah Nadia.
Beberapa detik setelah mesin dimatikan, pintu mobil terbuka. Sindi turun dengan langkah cepat. Seperti biasa, perempuan itu tidak menunggu dipersilakan. Ia langsung membuka gerbang sendiri dan masuk ke halaman.
Di teras, Nadia masih duduk terdiam.
Tatapannya kosong.
Wajahnya pucat.
Seolah seluruh tenaga dan harapannya telah terkuras dalam semalam.
Melihat kondisi sahabatnya, Sindi tak berkata apa-apa. Ia segera memeluk Nadia erat.
“Beb, are you okay?”
Pertanyaan itu justru menjadi pemicu.
Tangis Nadia yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah. Bahunya berguncang. Air mata yang semula menetes pelan kini mengalir tanpa kendali.
Sindi membiarkannya.
Ia hanya mengusap punggung Nadia dan menepuk-nepuk bahunya dengan lembut.
“Menangislah,” bisiknya. “Aku di sini.”
Entah berapa lama Nadia larut dalam tangis. Sampai akhirnya isaknya mereda dan pelukannya mengendur.
Nadia menyeka pipinya.
“Maafkan aku, Sin. Yuk, masuk dulu.”
Sindi mengangguk.
Mereka berjalan masuk ke ruang tamu. Nadia melangkah pelan, sementara Sindi menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran.
Setelah duduk, Sindi menggenggam tangan Nadia.
“Ada apa, Sayang?”
Nadia menarik napas panjang.
Ia bukan tipe orang yang mudah mengeluh. Selama ini, seberat apa pun luka yang ia rasakan, Nadia selalu memilih diam. Namun ketika ia benar-benar tidak sanggup lagi menanggung semuanya sendiri, hanya ada satu orang yang ia percaya.
Sindi.
Dengan suara pelan dan sesekali terputus, Nadia menceritakan semuanya.
Tentang Raka yang tak pulang semalaman.
Tentang hari jadi pernikahan mereka.
Tentang koper yang telah ia siapkan dengan penuh harapan.
Dan tentang pagi ketika Raka, Nanda, dan Yuni pergi ke Puncak tanpa mengajaknya.
Sindi mengembuskan napas panjang.
“Jadi, Raka, Nanda, dan ibu mertuamu pergi ke Puncak karena katanya ada acara kantor?”
Nadia mengangguk.
Sindi langsung meraih ponselnya. Jemarinya bergerak cepat, menghubungi beberapa orang.
Tak sampai lima menit, ia mengangkat wajah.
“Beb, di perusahaan Raka tidak ada meeting atau gathering di Puncak.”
Nadia tertegun.
“Dari mana kamu tahu?”
Sindi menyandarkan tubuh ke sofa.
“Sayang, aku salah satu pemegang saham di perusahaan itu. Cuma cari tahu agenda mereka bukan hal sulit.”
Wajah Nadia mendadak pucat.
“Jadi… Mas Raka bohong?”
Sindi mendengus pelan.
“Kalau menurutku, yang mengejutkan justru kalau suamimu ternyata jujur.”
Nadia menatap sahabatnya.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
Sindi tampak ragu sesaat.
“Maaf, ya. Aku sebenarnya sudah beberapa kali melihat Raka jalan dengan sepupumu.”
Nadia menahan napas.
“Ratna?”
Sindi menjentikkan jari.
“Nah, itu dia. Ratna. Aku pernah melihat mereka di mal, di restoran, bahkan sekali di lobi hotel.”
Nadia memejamkan mata.
Tiba-tiba semua peringatan Sindi yang dulu ia anggap berlebihan terasa seperti tamparan.
“Aku sudah bilang ke kamu,” lanjut Sindi lembut. “Tapi waktu itu kamu terlalu mencintai Raka untuk percaya.”
Nadia hanya terdiam.
Dadanya kembali sesak.
Sindi meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.
“Beb, kita ikuti mereka.”
Nadia mengangkat wajah.
“Raka cuma bilang ke Puncak. Puncak itu luas, Sin.”
Sindi tersenyum penuh percaya diri.
“Serahkan padaku.”
Nadia menyipitkan mata.
“Kamu hafal nomor mobil suamimu?”
“Hafal.”
“Nomor teleponnya?”
“Hafal.”
Sindi tertawa kecil.
“Benar-benar istri teladan.”
Ia kembali menelepon seseorang.
Setelah beberapa menit, wajahnya berubah serius.
“Sudah ketemu. Lokasinya memang mengarah ke Puncak.”
Nadia masih tampak ragu.
“Kenapa lagi?”
“Bagaimana kalau Mas Raka marah? Aku belum izin.”
Sindi memegang dahinya.
“Ya ampun, Nadia. Kita sedang mencari suamimu. Kalau nanti ketahuan, tinggal bilang kamu menyusul karena khawatir.”
Nadia masih terdiam.
Sindi mencondongkan tubuh.
“Aku yakin kita akan menemukan sesuatu.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu bilang ibu mertuamu membawa kebaya, kan?”
“Iya. Memangnya kenapa?”
Sindi menatapnya lekat-lekat.
“Kebaya dipakai untuk acara resmi.”
Jantung Nadia berdebar.
“Gathering kantor biasanya pakai kaus seragam, bukan kebaya.”
Nadia merasa darahnya seperti berhenti mengalir.
Sindi melanjutkan dengan suara pelan.
“Kalau firasatku benar…”
Ia berhenti sejenak.
“Sepertinya Raka akan menikah lagi beb.”
Nadia bangkit begitu cepat hingga lututnya hampir membentur meja.
“Ayo kita pergi.”
Kali ini tak ada keraguan lagi di matanya.
Kalau benar ada sesuatu yang selama ini disembunyikan Raka, Nadia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭