NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Senyum Dingin dari Kursi Roda

Klak! Klak! Klak!

Suara sakelar besar yang ditekan beruntun menggema kasar di langit-langit ruangan. Dalam sekejap mata, deretan lampu neon panjang di langit-langit kantor sortir pusat yang semula mati mendadak menyala serentak. Cahaya putih yang teramat benderang memancar tanpa ampun, menusuk langsung ke bola mataku yang terbiasa dengan remang kabut subuh. Aku refleks memejamkan mata erat-erat, merutuki rasa silau yang membuat kepalaku pening seketika, sementara lengkingan alarm dari boks mesin absen di dinding masih terus menderu tinggi, memekakkan telinga.

Aku mencoba mundur, menempelkan punggung kotor janyiku ke pintu besi tebal yang beberapa detik lalu meluncur menutup jalanku. Dinginnya besi itu merembes ke balik jaket pelabuhanku, mengirimkan sinyal ngeri yang membuat seluruh persendianku mendadak kaku.

Zzzzt... Zzzzt...

Suara desis halus roda motor listrik yang bergerak statis mulai terdengar di antara jeda deru alarm.

Suara itu datang dari balik sekat tripleks kubikal admin—meja kerja tempat aku biasanya menyusun manifes kargo setiap pagi. Perlahan, sesosok bayangan meluncur keluar dari balik bayangan tripleks, membelah ruangan kantor sortir yang kini tampak begitu luas dan lengang.

Seorang pria tua duduk di atas kursi roda elektronik yang besar dan mewah. Tubuhnya dibungkus oleh setelan jas abu-abu mahal yang kelihatan terlalu longgar untuk ukuran badannya yang kurus. Kulit wajahnya pucat pasi, hampir sekuning kertas koran lama, dengan urat-urat kebiruan yang menonjol jelas di sekitar pelipis dan punggung tangannya yang kurus. Sepasang selang kecil transparan terpasang di hidungnya, terhubung ke tabung oksigen kecil yang terselip di belakang sandaran kursi roda.

Meskipun fisiknya kelihatan begitu ringkih dan ringsek oleh penyakit, sorot mata pria tua itu sangat mematikan. Dua bola matanya yang kelabu menatapku dengan ketenangan yang dingin, seolah aku hanyalah seekor kecoak pelabuhan yang tersangkut di sudut gudangnya. Bau obat-obatan kimia yang menyengat bercampur minyak angin langsung menguar pekat, mengalahkan bau kertas resi di ruangan ini.

Dialah Tuan Baron. Pemilik tunggal imperium Baron Logistics yang menguasai hajat hidup hampir seluruh buruh di dermaga Tanjungbalai.

"Kau membuang banyak waktu anak buahku semalam, Gadis Kurir," suara Tuan Baron terdengar sangat tipis, nyaris seperti bisikan serak yang dipaksakan keluar dari tenggorokan kering, namun entah bagaimana rasanya begitu menekan dadaku.

Sebelum aku sempat membalas, sekelebat bayangan melangkah maju dari balik punggung kursi roda itu. Begitu melihat wajahnya di bawah sorot lampu neon, darahku rasanya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun.

Roy.

Senior licik dari depo sortir itu berdiri di sana dengan senyum miring yang memuakkan di wajahnya. Tangannya yang menggunakan sarung tangan kain murahan tidak sedang memegang manifes barang, melainkan sedang menenteng sebuah benda yang membuat jantungku rasanya berhenti berdetak: sebuah ransel oranye dengan tali yang agak koyak.

Itu ransel oranyeku. Tas yang kukemas dengan tergesa-gesa di Bab 22 dan tertinggal di lantai gubug rumbia saat aku nekat menyelinap pergi subuh tadi.

"Dasar pengkhianat sialan!" teriakku spontan, mencoba merangsek maju. Suaraku melengking marah, bergema di antara sisa alarm yang mendadak dimatikan lewat remot kontrol di tangan Tuan Baron.

"Jaga mulutmu, Anak Kosan," cibir Roy, melempar ransel oranyeku ke atas meja admin dengan kasar hingga botol air minum di dalamnya berdentang.

"Kau pikir siasat jalananmu itu hebat? Merangkak di lumpur, memotong kabel generator portabel... Ck, taktik murahan anak pelabuhan. Kau lupa siapa yang memasukkan nomor resimu ke sistem pelacakan depo? Aku tahu ke mana saja kakimu melangkah sejak kita di jembatan layang."

"Kau—"

Belum sempat aku menyelesaikan makianku, dua pasang tangan berukuran raksasa mendadak mencengkeram kedua bahuku dari arah belakang.

Dua orang penjaga berbadan besar berpakaian hitam yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu besi langsung memiting lenganku ke belakang dengan pitingan yang sangat kuat.

"Lepas! Sakit, sialan!" aku memberontak liar, menendang-nendang udara dengan sepatu botku yang penuh lumpur kering. Namun, tenagaku tidak ada apa-apanya dibandingkan otot-otot besar mereka.

Dengan satu hentakan kasar, kedua penjaga itu menekan pundakku ke bawah, memaksaku jatuh bertumpu pada kedua lutut di atas lantai semen kantor yang dingin dan berdebu. Rasa nyeri menjalar dari tempurung lututku yang menghantam lantai, membuat air mata kesakitan hampir saja lolos dari pelupuk mataku. Namun, aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku menolak terlihat cengkeraman cengeng di depan dua orang ini. Aku menatap mereka dengan tatapan mata yang menyala penuh dendam.

Tuan Baron menggerakkan jemarinya yang kurus di atas tuas kendali kursi roda, membuatnya maju beberapa senti lebih dekat ke arah tempatku berlutut. Pria tua itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali; wajah pucatnya tetap datar, menampilkan ketenangan penguasa yang tahu betul bahwa semua kartu as berada di tangannya.

"Ayahmu, Ibrahim, dulu adalah orang yang sangat keras kepala," kata Tuan Baron pelan, suaranya yang serak berdesis bersamaan dengan aliran oksigen di selang hidungnya. "Dia mengira bisa menyembunyikan rahasia besar sungai Asahan dariku di dalam rawa-rawa busuk itu."

Tuan Baron meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah benda berbentuk buku kecil, lalu melemparkannya ke lantai semen tepat di depan ujung sepatuku.

Plak.

Buku catatan tua berdebu dengan sampul kulit yang sudah mengelupas di bagian sudutnya tergeletak pasrah di atas semen. Jantungku kembali mencelos. Itu buku catatan peninggalan almarhum ayahvyang kusimpan rapat di dalam lemari pakaian kosanku. Buku yang berisi sketsa kuno tentang naga hulu sungai dan pola luka keperakan yang persis seperti milik Kala. Mereka sudah menggeledah kosanku sampai luluh lantak, menyita semua hal yang kupunya.

Siasat jalanan yang kubanggakan selama ini patah total pagi itu. Seluruh rencana ringanku untuk mengambil kunci hidrolik cadangan, membobol sel tahanan untuk mengeluarkan Mbah Jarot, lalu kembali ke gubug merawat Kala... semuanya hancur berantakan menjadi serpihan tidak berguna. Aku telah kalah langkah sepenuhnya. Rasa panik yang mendorongku bergerak subuh tadi ternyata adalah tali gantungan mati yang kupasang sendiri di leherku.

Aku masuk dengan sukarela ke dalam sangkar yang sudah mereka siapkan sejak awal.

"Roy sudah membersihkan gubug rumbia itu sebelum subuh berakhir, Lara," Tuan Baron kembali berbisik, memanggil namaku dengan nada kasual yang membuat bulu kudukku berdiri.

Dia memberikan senyum dingin dari atas kursi rodanya—sebuah senyuman tipis yang sangat mengejek kegagalanku. "Kau meninggalkan paket berhargaku dalam kondisi lemas tak berdaya di sana. Sungguh kurir yang tidak bertanggung jawab."

Mendengar ucapan itu, rasa dingin yang teramat sangat langsung menyergap dadaku, membuatku hampir tidak bisa bernapas.

Kala.

Cowok bermata emas itu masih berada di gubug dalam kondisi kritis, dan sekarang Roy beserta sisa pasukan bersenjata Baron pasti sudah tahu posisi persis persembunyiannya akibat ransel oranyeku yang tertinggal. Pikiranku mendadak kosong, dipenuhi ketakutan luar biasa bukan atas apa yang akan mereka lakukan kepadaku di kantor sortir ini, melainkan atas bahaya maut yang kini sedang mengarah tepat ke arah satu-satunya cowok yang hatinya telah terikat bersama urat nadiku di dalam rawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!