NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Ternyata melayani Baskara jauh lebih melelahkan daripada mengurus Daisy dan Lily sekaligus. Selain galak dan sok berwibawa, Baskara sangat cerewet soal makanan dan membuat Andara kesal gara-gara urusan KOPI !

Padahal Andara sudah memastikan kalau takaran kopi, air panas dan gulanya persis sama seperti yang Baskara inginkan tapi pria itu tidak pernah puas dan menyuruh Andara membuatnya berulang-ulang.

Pagi ini saja sudah empat cangkir ditolak Baskara dengan berbagai alasan.

“Kebanyakan kopinya.”

“Kurang panas.”

“Kemanisan.”

“Terlalu encer.”

Sepertinya Baskara memang sedang berusaha membuat Andara menyerah dan pergi atas kemauannya sendiri karena tidak mungkin Baskara memecatnya tanpa berhadapan dengan Deswita.

“Menyebalkan !” omel Andara saat membawa cangkir keempat ke dapur.

Tiba-tiba muncul ide jahil di kepalanya. Untung saja kopi yang terakhir belum tercampur air keran. Andara mengambil kembali cangkirnya dan menambahkan sesuatu lalu membawa kembali ke hadapan Baskara.

“Silakan Pak,” ujar Andara dengan sopan disertai senyuman manis.

Mata Baskara memicing, curiga melihat kelakuan Andara padahal ia tahu kalau perempuan ini menggerutu kesal saat masuk ke daput.

“Kamu masukan apa ke dalam kopi ini ?”

“Kopi, sedikit gula dan air panas.”

“Yakin cuma itu ?”

“Tentu saja. Kalau memang saya berniat meracuni bapak sudah dari kemarin-kemarin saya lakukan.”

Meskipun tidak yakin dengan jawaban Andara, Bakara mengangkat cangkir, mengendusnya sebentar sebelum menyeruput.

Andara langsung tergelak saat Baskara menyemburkan kembali kopi yang sempat masuk ke dalam mulutnya.

“Kamu…..”

“Saya tambahkan sedikit garam supaya tekanan darah bapak tambah naik,” ledek Andara.

Dengam wajah sangar, Baskara beranjak ingin mencengkram Andara namun dengan gesit perempuan itu sudah melesat menjauhi Baskara.

“Mau kemana kamu ?” pekik Baskara.

Andara sempat berbalik dan tersenyum puas.

“Hati-hati kena stroke Pak !”

Sebelum Baskara mendekatinya, Andara buru-buru pergi ke kamar Lily dan mengunci pintunya supaya Baskara tidak bisa menangkapnya.

“Tunggu pembalasanku ! Aku akan membuatmu menyesal dan memohon supaya aku mengampunimi !” geram Baskara dengan kedua tangan terkepal.

**

Kedua alis Rio menaut saat melihat wajah Baskara ditekuk, kelihatannya ada sesuatu yang membuatnya sangat kesal.

“Selamat pagi Pak.”

Hhhmmmm.”

“Apa ada masalah ?”

“Segera cari cara yang paling cepat untuk mengusirnya !”

Rio memalingkan wajah dan mengulum senyum. Sungguh tidak di sangka kalau Andara bisa membuat Baskara kesal secepat ini.

“Kalau boleh tahu, masalah apa yang Andara buat supaya saya bisa membuat nyonya….”

Baskara langsung menoleh dengan mata melotot. “Jangan pernah berpikir melibatkan mama !”

“Tapi hanya nyonya Deswita….”

“Kamu sudah bosan kerja ?”

“Maaf Pak.” Rio mengangguk sekilas. “Saya tidak akan memberikan ide itu lagi.”

“Hhhhhmmm.”

Baru sekitar lima langkah keluar dari lift, Baskara baru teringat sesuatu.

“Ada apa sampai kamu menungguku di lobi ?” tanya Baskara dengan alis terangkat sebelah.

“Nona Savira memaksa menunggu di ruangan pak Bas. Saya sudah mencoba melarangnya tapi nona Savira membuat ulah di lobi.”

”Tidak apa-apa, kebetulan ada yang ingin aku sampaikan padanya.”

Baskara mendahului Rio masuk ke dalam ruangannya. Pemandangan yang terlihat membuat Baskara menautkan kedua alis.

“Sedang apa kamu di situ ?”

Fokus seperti mencari sesuatu di meja kerja Baskara, Savira sampai terlonjak dan kelihatan kaget melihat si pemilik ruangan berjalan mendekatinya.

“Apa kabar sayang ?” Wajah Savira pun berubah. Bukan hanya tidak kelihatan bersalah tapi ia beranjak mendekati Baskara.

“Apa yang kamu cari ?”

“Aku sangat merindukanmu.”

Savira yang berusaha mencium bibir Baskara kembali dibuat kaget saat pria itu bukan sekedar menolak tapi melepaskan kedua tangan Savira yang memegang kedua lengan kekarnya.

“Kamu tidak kangen sama aku Bas ? Kenapa kamu jarang membalas pesanku dan tidak mau mengangkat telepon ?”

Wajah Savira yang kelihatan sedih tidak digubris Baskara.

“Aku tidak mau membahasnya sekarang. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku akan minta Rio menghubungimu begitu jadwalku senggang.”

“Kenapa harus Rio ?” Mendadak suara Savira meninggi. “Kita ini sepasang kekasih dan bukan anak kecil lagi. Apa masih perlu Rio yang menjadi jubirmu untuk menyampaikan sesuatu padaku ?”

“Aku ingin break.”

“Ada apa sebetulnya Baskara ?”

“Aku ingin kita sama-sama memastikan apakah pernikahan yang kamu minta adalah sesuatu yang kita inginkan atau sekedar status saja supaya tidak berdosa.”

“Aku tidak mau kita break !”

“Aku membutuhkan waktu sendiri.”

“Apa tante Deswita menceritakan hal buruk tentangku soal kejadian itu ?”

“Tidak ada .” Baskara menggeleng.

“Berarti perempuan kampung itu yang mengadu dan menghasut pikiranmu !” sinis Savira.

“Tidak juga.”

“Jangan hanya mendengar cerita dari satu pihak ! Dengarkan dari sisiku. Dia yang mendorongku sampai jatuh hanya karena aku ingin melihat siapa yang meneleponnya.”

Baskara menghela nafas. “Aku benar-benar tidak ingin membahasnya sekarang. Tolong tinggalkan tempat ini.”

“Ada apa denganmu Bas ? Jangan bilang tante Deswita berhasil membuatmu menikahi perempuan pilihannya. Bukankah kamu sendiri yang bilang padaku kalau kamu tidak akan membiarkan kesalahan yang sama sampai berulang kali.”

“Sudah….”

“Kenapa kamu begitu lemah Bas ?”

“Lemah ?” Baskara mengerutkan dahi.

“Kamu bukan anak kecil lagi Bas ! Sampai kapan kamu hidup di bawah ketiak tante Deswita ? Sudah saatnya kamu berani melawan selama bisa dipertanggungjawabkam.

Baskara bergeming, kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun, membuat Savira malah semakin naik darah

“Jangan bilang tante Deswita berniat menjodohkanmu dengan perempuan kampung itu,” ejek Savira dengan senyuman sinis.

“Kamu sudah berpengalaman Bas, jangan sampai wajah sok imutnya menipumu ! Dia pintar bersandiwara dan aku percaya tujuannya ingin mendapatkanmu.”

“Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Paham ? Tolong tinggalkan ruamganku sekarang.”

“Tapi Bas…”

Baskara malah memgangkat gagang telepon yang ada di atas mejanya dan terdengar suara tombol dipencet.

”Tolong antarkan Savira turun.”

“Kamu mengusirku Bas ? Tidak bolehkah aku di sini menemanimu. Aku janji…”

Pintu diketuk tiga kali lalu dibuka dan muncullah Rio.

“Aku akan memberitahumu kapan kita bisa ngobrol empat mata.”

“Lalu soal break itu…..”

Baskara memberi isyarat pada Rio yang menjawabnya dengan anggukkan pelan.

“Silakan nona…”

“Tidak usah !” ketus Savira sambil menatap Baskara. “Aku masih bisa pergi sendiri.”

Savira sempat melotot pada Rio dan membanting pintu saat keluar.

“Kosongan semua jadwal sampai jam 12 siang dan aku tidak mau menerima telepon dari siapapun juga.”

“Baik Pak.” Rio pun ikut keluar untuk mengatur ulang jadwal Baskara yang sudah disusunnya.

Baskara pun duduk di kursi kerjanya yang sempat ditempati Savira. Tangannya menarik laci yang tidak tertutup rapat dan dokumen yang tersimpan di dalamnya tidak rapi lagi.

Entah apa yang dicari perempuan itu, yang pasti apa yang dilakukan Savira pagi ini membuat Baskara bukan sekedar tidak nyaman tapi dalam hatinya mulai timbul rasa curiga dan waspada pada Savira.

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!