NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang-Benang Pengkhianatan

Suasana di dalam peraduan Sekar berubah menjadi medan pertempuran medis yang menegangkan. Bau anyir racun bercampur dengan aroma tajam herbal yang dibakar oleh para tabib. Di luar dinding istana, keadilan mulai bergerak mencari kepalanya, sementara di tempat yang jauh, kejahatan sedang merayakan kemenangan yang belum pasti.

Tabib kepala, dengan dahi yang dibanjiri keringat, memberikan instruksi dengan suara yang bergetar. “Cepat! Berikan sari akar Wulung untuk memancing muntah! Racun ini sudah mulai mengental di aliran darahnya!”

Arya masih memegang tangan Sekar yang mulai kaku. Ia menyaksikan dengan hati hancur saat para tabib menekan dada Sekar dan memasukkan cairan penawar secara paksa ke dalam mulutnya. Sekar sempat tersedak, tubuhnya melengkung sesaat sebelum akhirnya terkulai kembali.

“Napasnya semakin lemah, Gusti Prabu,” bisik tabib muda dengan wajah pucat. Arya hanya bisa memejamkan mata, membisikkan doa yang paling tulus, memohon agar maut sudi bernegosiasi kali ini saja.

Di pesanggrahan Lawu, udara semakin menusuk tulang. Ibu Suri duduk di kursi kebesarannya yang dibawa dari istana, menatap api di tungku perapian yang menari-nari memantulkan bayangan monster di dinding. Di sampingnya, Nastiti tidak bisa tenang. Ia berjalan mondar-mandir, suara langkah kakinya beradu dengan lantai kayu yang berderit.

“Kenapa burung merpati pengirim pesan itu belum datang?” Tanya Nastiti dengan suara yang meninggi karena cemas. “Apakah Ningsih tertangkap? Ataukah dosisnya kurang?”

Ibu Suri menyesap tehnya, wajahnya tetap dingin seperti patung batu. “Ningsih adalah pion yang penakut, dia tidak akan berani berkhianat pada kita. Dan racun itu… aku sendiri yang mengawasinya. Satu tetes saja sanggup melumpuhkan jantung seekor banteng, apalagi hanya gadis pemetik bunga yang rapuh itu.”

Nastiti berhenti melangkah, matanya berkilat penuh dendam. “Sabar, Nastiti. Saat fajar menyingsing dan lonceng kematian bertalu di istana, itulah saat kita kembali ke sana sebagai penyelamat tradisi yang terkoyak. Arya akan terlalu lemah karena duka untuk melawan kita lagi.”

Kontras dengan keheningan Lawu, ruang bawah tanah keraton dipenuhi dengan hawa kegelapan yang menyesakan. Obor-obor di dinding berderak, mengeluarkan asap hitam yang menyengat. Seno berdiri di depan Ningsih, bayangannya tampak raksasa menyelimuti wanita tua yang malang itu.

“Siapa yang memberimu racun itu, Ningsih? Katakan!” Bentak Seno. Suaranya menggelegar, memantul di dinding-dinding batu yang lembap.

“Aku sudah melayani keraton ini selama puluhan tahun, Ningsih,” suara Ki Ageng rendah namun menggetarkan ruangan. “Aku tahu kau bukan orang jahat. Katakan padaku, siapa yang mengancammu? Atau siapa yang menjanjikanmu gunung emas hingga kau tega meracuni calon Permaisuri?”

Ningsih hanya bisa terisak, tubuhnya yang terantai gemetar hebat hingga rantai besi itu berdenting keras. “Hamba… hamba tidak punya pilihan, Gusti Seno… mereka mengancam keluarga hamba…”

Ki Ageng Suro melangkah maju dari bayang-bayang. Ia tidak menggunakan kekerasan, namun tatapannya seolah menembus sukma Ningsih. “Ningsih, dengarkan aku. Nimas Sekar sedang bertaruh nyawa di atas sana sekarang. Jika kau bicara sekarang, mungkin dosamu bisa diringankan. Siapa yang menemuimu di gerbang belakang?”

Ningsih mendongak, matanya yang sembap menatap Ki Ageng dengan putus asa. “Seorang telik sandi bernama Kalingga, Gusti. Dia orang kepercayaan Adipati Cakraningrat. Dia membawa pesan dari Raden Ajeng Nastiti… dan botol pualam itu berasal langsung dari tangan Ibu Suri di Lawu.”

Seno mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. “Jadi benar… mereka tidak pernah bertobat. Mereka menggunakan tanganmu untuk membunuh calon ratumu sendiri!”

“Hamba dipaksa!” Jerit Ningsih. “Mereka bilang racun itu tidak berbau dan tidak berasa. Mereka bilang itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kehormatan trah kerajaan dari rakyat jelata. Ampun, Gusti… hamba hanya orang kecil yang terjepit di antara para penguasa!”

Ki Ageng Suro mengambil botol pualam yang sudah kosong dari tangan seorang pengawal. Ia membukanya dan mencium sisa-sisa aromanya. “Upas Warangan yang dicampur kecubung gunung… hanya Ibu Suri yang memiliki akses ke ramuan kuno yang mematikan ini.”

Seno berpaling ke arah tangga keluar. “Hamba tidak bisa menunggu lagi, Ki Ageng. Bukti sudah cukup. Hamba akan melaporkan ini pada Gusti Prabu. Biarkan beliau yang memutuskan apakah darah keluarga masih lebih berharga dari pada nyawa Nimas Sekar.”

“Pergilah, Seno,” ujar Ki Ageng dengan nada yang sangat berat. “Tapi ingat, kabarkan dengan sangat hati-hati. Murka seorang Raja yang sedang berduka bisa membakar seluruh negeri ini.”

Seno berlari meninggalkan ruang bawah tanah, meninggalkan Ningsih yang masih meratap di tengah kegelapan. Di atas sana, di peraduan yang megah, napas Sekar kian tersengal, menjadi saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah cinta yang tulus di tengah pusaran dendam para bangsawan yang terluka.

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!