NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Maya menelan ludah. Menjadi asisten pribadi? Itu artinya ia harus siap menjadi "bayangan" pria kaku di depannya ini. Terbayang wajah Arlan yang pasti akan meledak jika tahu istrinya membawakan tas pria lain, tapi tawaran gajinya benar-benar menggoda iman kemandirian Maya.

" Bagaimana...tertarik..?" Ucapan Devan membuyarkan Maya.

"Sebagai asisten pribadiku. Tugasmu. menyiapkan kopi yang suhunya tepat 80°C, memastikan jadwal rapatku tidak meleset sedetik pun, dan yang paling penting... siap siaga 24 jam untuk segala keperluan pribadiku." Devan menyeringai tipis. "Gajinya cukup untuk membeli sepuluh tas kuning yang kamu incar kemarin setiap bulannya."

"Sepuluh?!" Maya langsung menghitung dengan jarinya. "Oke! Deal! Mas... eh, Pak Bos Kaku! Kapan saya mulai?" Jawab Maya tanpa berfikir dua kali lagi, besarnya gaji membuatnya begitu bersemangat.

"Sekarang. Ambilkan saya kopi hitam tanpa gula. Dan ingat, suhunya harus 80°C."

Tanpa menunggu perintah dua kali ,Maya bergegas keluar dari ruangan tanpa mendengar penjelasan Devan lebih dulu mengenai letak pantry.

" Dasar ceroboh..."

Baru saja duduk di kursinya , Devan di kagetkan dengan dentuman suara pintu dan terlihat sosok yang baru saja meninggal kan ruangannya itu. Dengan senyum malu-malu Maya melangkah masuk.

" Maaf ..pak bos, ruangan pantry nya dimana ..?"

Devan memijit pangkal hidungnya. Ia menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan antara jengkel, gemas, dan rasa heran bagaimana wanita seceroboh ini bisa menjadi istri dari rival bisnis terkuatnya.

"Keluar dari ruanganku, belok kanan, lewati lorong kaca, lalu pintu ketiga di sebelah kiri," ucap Devan dingin, meski sudut bibirnya sedikit berkedut. "Dan jangan kembali kalau kopinya tidak sesuai suhu."

"Siap, Bos !" Maya memberikan hormat ala tentara lalu berlari kecil keluar.

Sepanjang jalan menuju pantry, Maya bersenandung riang. Sepuluh tas kuning! Bi Mina bakal kaget kalau tahu aku bisa beliin dia tas seharga motor! Ia merasa seperti pahlawan yang baru saja menemukan tambang emas.

Sepuluh menit kemudian, Maya sudah berkutat dengan mesin kopi otomatis yang terlihat lebih rumit daripada sistem keamanan nuklir. Ia memegang termometer dapur di tangan kiri dan cangkir keramik di tangan kanan.

Suhu 75... 78... 79... 80!

"Dapat!" seru Maya girang. Ia segera mengambil nampan dan berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju ruangan Devan, langkahnya diatur selambat mungkin agar tidak tumpah.

Kring! Kring!

Tiba-tiba ponsel di sakunya berbunyi. Nama ' Suamiku sayang' terpampang di layar. Maya panik, nampannya bergoyang.

"Halo, Mas Arlan? Lagi apa?" tanya Maya sambil berusaha tetap menyeimbangkan kopi di tangannya.

Maya sampai di depan ruangan Devan dengan napas terengah-engah. Ia menendang pintu ruangan dengan ujung sepatunya karena tangannya sibuk memegang nampan.

" Pak bos! Ini kopinya! Tepat delapan puluh derajat, tidak kurang, tidak lebih!"

Pintu terbuka lebar. Maya melangkah masuk dengan bangga, namun langkahnya terhenti.

Di sana, bukan hanya Devan yang duduk di mejanya. Di depannya berdiri seorang gadis remaja dengan setelan .

Di sana, bukan hanya Devan yang duduk di mejanya. Di depannya berdiri seorang gadis remaja dengan setelan high-fashion yang tampak sangat mahal seorang remaja dengan tatapan mata yang tajam, sangat mirip dengan Devan, namun jauh lebih angkuh.

Maya mematung. Gadis itu adalah adik perempuan Devan yang hari ulang tahunnya kemarin sempat tertunda karena insiden "pelayan toko".

"Jadi... ini?" Gadis remaja itu, Clara, menatap Maya dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan sinis. "Kak Devan, apa dia yang akan menjadi asisten ku ...?"

Maya hampir saja menjatuhkan nampan kopinya untuk kedua kalinya. "Asisten... kamu?"

Clara memutar bola matanya dengan elegan, lalu berjalan mengitari Maya seolah sedang menginspeksi barang dagangan di pasar loak. "Ya. Kak Devan bilang dia butuh seseorang yang punya 'daya tahan tinggi' untuk menjadi pengawal pribadiku selama aku di Jakarta. Awalnya aku membayangkan pria berotot.

Devan menyandarkan tubuhnya di kursi, melipat tangan di depan dada dengan ekspresi yang sangat menikmati kekacauan ini. "Dia asisten pribadiku, Clara. Tapi karena kamu terus mengeluh soal tidak ada yang bisa mengimbangi kecepatan belanjamu, aku memutuskan untuk meminjamkannya padamu selama seminggu."

"Tunggu dulu!" Maya memprotes, hampir meletakkan kopinya di meja Devan dengan kasar. "Aku kan di sini mau kerja kantoran, bukan mau jadi pengasuh anak remaja yang angkuh ini!"

Clara berhenti tepat di depan wajah Maya. "Gaji asisten pribadi kakakku itu berapa? Aku akan menggandakannya jika kamu bisa membawakan semua tas belanjaanku dan tidak mengeluh saat aku memintamu mencoba sepuluh sepatu sekaligus."

 " Aku bukan pelayanmu...dan satu lagi aku bahkan bisa membeli toko sepatu itu jika aku mau." Ujar Maya dingin,kali ini ia merasa harga dirinya .

Maya menegakkan punggungnya. Tatapan matanya yang tadi jenaka kini berubah tajam, memancarkan aura nyonya besar yang selama ini terkubur di balik amnesia dan tingkah bar-barnya. Ia meletakkan nampan kopi itu dengan sangat tenang bukan dengan dentuman, tapi dengan presisi yang membuat Devan sedikit terkejut.

"Aku bekerja di sini karena aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri, bukan untuk menjadi pesuruh manja yang bahkan tidak tahu cara menghargai orang lain," ucap Maya dingin. Ia menatap Clara lurus-lurus, lalu beralih ke Devan dengan tatapan penuh tantangan.

"Tuan Devan, jika Anda ingin saya melayani adik Anda sebagai bagian dari tugas saya, saya akan melakukannya dengan profesional. Tapi, jangan pernah berpikir Anda bisa membeli harga diri saya dengan gaji ganda atau tawaran 'hiburan'. Saya punya nama, dan saya punya suami yang tidak akan membiarkan istrinya direndahkan oleh seorang remaja yang bahkan belum punya kartu tanda penduduk."

Suasana ruangan mendadak hening. Devan yang tadinya bersandar santai kini duduk tegak, matanya menyipit, menatap Maya seolah baru pertama kali melihat wanita di depannya. Ada kilatan kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di balik tatapan datarnya.

Clara, yang biasanya terbiasa membuat orang lain gemetar, justru tertegun. Ia tak menyangka "wanita aneh" yang kemarin salah mengenali kakaknya sebagai pelayan toko itu bisa memiliki aura sedingin dan sekuat ini.

"Kau..." Clara terbata, "Kau pikir kau siapa?"

"Saya Maya Dirgantara. Dan jika Anda tidak bisa berbicara dengan sopan, maka saya akan mengundurkan diri detik ini juga. Anda bisa mencari pengawal pribadi lain yang mungkin bersedia dibayar untuk dihina," jawab Maya tegas. Ia melepas celemek asistennya dan meletakkannya di meja Devan.

Devan bangkit dari kursinya. "Clara, minta maaf."

Clara membelalak. "Apa? Kak, dia cuma..."

"Minta maaf," potong Devan dengan suara rendah yang mutlak. "Atau kamu tidak akan mendapatkan uang saku tambahan untuk belanja bulan ini."

Clara menggigit bibirnya, menatap Maya dengan kesal namun akhirnya menunduk. "Fine. Maaf."

Maya tersenyum tipis, senyum kemenangan yang sangat mematikan. "Diterima. Dan Tuan Devan, kopi Anda sudah dingin karena perdebatan ini. Saya akan membuatkan yang baru, tapi setelah ini, saya akan melakukan pekerjaan saya dengan syarat ,saling menghormati."

Maya berbalik dan melangkah keluar dengan anggun, meninggalkan Clara yang masih cemberut dan Devan yang masih terpaku menatap punggung Maya.

"Kak... dia tadi terlihat sangat... menyeramkan," bisik Clara pelan.

Devan hanya menyeringai tipis, tangannya menyentuh cangkir kopi yang baru saja diletakkan Maya. "Dia bukan hanya menyeramkan, Clara. Dia adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa... kalah telak."

Di luar pintu, Maya yang baru saja keluar langsung menyandarkan tubuhnya di tembok, jantungnya berdegup kencang.Gila, tadi itu apa?! Aku keren banget! Mas Arlan pasti bangga kalau tahu aku barusan melakukan itu!

Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Arlan di wallpaper. "Mas, aku nggak cuma jago nguras kartu kredit, aku juga jago jaga martabat keluarga kita!" bisiknya penuh semangat, meski dalam hati ia berdoa agar Arlan tidak tahu bahwa tadi ia hampir saja membuat skandal di Alister Group.

1
cinta semu
MC ny Cemen ...lagian Dion bukan anak kandung ...yg paling berhak itu Sarah ....payah....😂😂
cinta semu
tak kasih semangat Maya ..buat Arlan menyesal ....
putmelyana
maya lebih cocok dengan devan
Thewie
maya bodoh
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!