NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandal Jepit dan Mafia yang Terhina

Interior mobil Rolls-Royce Phantom milik Leon Vancort biasanya berbau seperti kulit mahal, kayu ebony yang dipoles, dan aroma wiski tua yang prestisius. Namun, malam ini, aroma itu terusir secara brutal oleh bau keringat, debu asbes, dan sisa-sisa bau minyak goreng dari plastik kerupuk yang tadi dipegang Ailen.

​Leon duduk di kursi belakang dengan kaki bersilang, mencoba mempertahankan postur penguasa dunianya. Namun, di sampingnya, Ailen tidak bisa diam. Gadis itu terus bergerak, menyentuh setiap inci interior mobil dengan rasa penasaran yang berlebihan.

​"Wih, Mas Van Houten, ini joknya empuk bener! Pake kulit naga ya? Atau kulit buaya darat?" tanya Ailen sambil menekan-nekan permukaan kulit kursi yang sangat mahal itu. "Eh, ada kulkas mini juga! Isinya apa, Mas? Es mambo ada nggak? Haus nih, tenggorokan rasanya kayak abis nelen gurun Sahara gara-gara debu atap tadi."

​Leon memejamkan mata, tangannya memijat pangkal hidungnya yang mancung. "Diam, atau aku akan menjahit mulutmu."

​"Dih, galak amat. Padahal saya cuma nanya. Mas ini pasti kurang serat ya? Makanya bawaannya emosi terus," sahut Ailen santai. Ia kemudian menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang antipeluru. "Eh, Mas, serius deh. Itu sandal saya gimana? Kalau kucing tadi lari ke arah dermaga, bisa-bisa sandal saya hanyut sampai ke Australia. Nanti kalau ada bule nemu sandal jepit ijo sebelah kanan, mereka pikir itu artefak kuno dari kerajaan Majapahit lagi."

​Leon membuka matanya, menatap tajam ke arah Ailen. "Kau berada di dalam mobil salah satu pria paling berbahaya di benua ini, diculik dalam keadaan tangan kosong, dan kekhawatiran utamamu adalah sepotong karet murah bermerek Swallow?"

​Ailen menegakkan punggungnya, wajahnya mendadak serius. "Heh, denger ya Mas Cokelat. Itu bukan sekadar karet murah. Itu adalah simbol perjuangan! Sandal itu saksi bisu saat saya dikejar-kejar warga gara-gara dikira maling jemuran, padahal saya cuma mau ambil layangan nyangkut. Sandal itu punya nilai sejarah tinggi! Mas mana paham, Mas kan kalau jalan kakinya nggak pernah nyentuh tanah becek, pasti naik mobil mengkilap begini terus."

​Leon terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam logika bengkok Ailen yang membuatnya merasa... terhina sekaligus bingung. Bagaimana mungkin ada manusia yang begitu tidak memiliki rasa takut di hadapannya? Selama bertahun-tahun, Leon telah membangun reputasi sebagai pria yang hanya dengan tatapan mata saja bisa membuat lawannya terkena serangan jantung. Tapi gadis di sampingnya ini malah sibuk meratapi sandal jepit.

​"Marco," panggil Leon pada sopir pribadinya yang sedang fokus menyetir.

​"Ya, Tuan?" jawab Marco, seorang pria kekar dengan bekas luka melintang di pipi yang biasanya juga sangat menyeramkan, namun kini ia tampak menahan tawa lewat spion tengah.

​"Cari toko sandal termahal di kota ini. Beli semua stoknya," perintah Leon dingin.

​Ailen langsung bertepuk tangan kegirangan. "Wah! Mas mau beliin saya sandal baru? Yang ada lampunya nggak? Yang kalau diinjek bunyi cit-cit gitu? Biar kalau saya jalan malem-malem, orang tahu kalau Ratu Semprul lagi lewat!"

​"Tidak ada lampu, tidak ada bunyi," potong Leon cepat. "Aku membelinya agar kau berhenti bicara tentang benda sampah itu."

​"Tapi Mas, nggak ada yang bisa gantiin si Ijo yang hilang," ucap Ailen tiba-tiba dengan nada sedih yang dibuat-buat, bibirnya mencebik. "Dia itu jodoh kaki kanan saya. Sekarang kaki kiri saya jomblo, Mas. Mas tahu nggak rasanya jadi jomblo di tengah dunia yang penuh pasangan ini? Sakit, Mas. Sakitnya tuh di sini!" Ailen menepuk dadanya dengan dramatis.

​Leon mengabaikannya. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba memeriksa laporan kerugian di gudang tadi. Namun, Ailen kembali beraksi. Ia melihat ponsel Leon yang sangat canggih dan tanpa izin langsung menyambar tangan Leon untuk melihat layarnya.

​"Wih, HP-nya keren! Mas, bisa main Candy Crush nggak di sini? Atau jangan-jangan isinya cuma daftar orang yang mau dibunuh ya? Duh, Mas, hidup jangan serius-serius amat kenapa. Mending kita selfie dulu, nih. Biar saya punya bukti kalau saya pernah diculik sama model majalah dewasa yang nyasar jadi mafia."

​"Lepaskan tanganku, Gadis Semprul!" Leon menarik tangannya kembali seolah-olah baru saja tersengat listrik. Ia belum pernah disentuh oleh sembarang orang tanpa izin, apalagi oleh gadis yang tangan dan wajahnya masih penuh debu konstruksi.

​Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung megah yang merupakan salah satu markas tersembunyi keluarga Vancort. Itu bukan sekadar rumah, tapi benteng mewah dengan sistem keamanan tingkat dewa. Puluhan pria bersenjata lengkap berdiri tegak di sepanjang gerbang utama.

​Saat pintu mobil dibuka oleh pengawal, Ailen melompat keluar dengan satu kaki yang hanya memakai kaus kaki bolong di bagian jempol.

​"Wah! Ini rumah Mas? Gede bener! Ini kalau nyapu dari depan sampai belakang, mungkin pas selesai udah ganti tahun ya?" seru Ailen sambil melompat-lompat dengan satu kaki menuju pintu utama.

​Para penjaga yang melihat pemandangan itu melongo. Mereka melihat bos mereka, Leon Vancort yang agung, berjalan di belakang seorang gadis yang melompat-lompat dengan kaki pincang sebelah dan berpenampilan seperti gembel premium.

​"Tuan... siapa dia?" tanya salah satu kepala keamanan dengan bingung.

​"Tahanan," jawab Leon singkat, meski dalam hatinya ia tidak yakin siapa yang sebenarnya menjadi tahanan di sini.

​"Tahanan apaan! Saya tamu kehormatan, tahu!" timpal Ailen sambil menunjuk-nunjuk kepala keamanan itu. "Mas, jangan bengong aja. Itu kumisnya miring sebelah, tadi abis dicukur pake silet tumpul ya?"

​Pria itu langsung memegang kumisnya dengan panik, sementara Leon hanya bisa memejamkan mata sambil menghembuskan napas berat.

​Mereka masuk ke dalam aula utama. Lantai marmernya mengkilap seperti cermin. Ailen melihat bayangan dirinya di lantai dan mulai bergaya. "Waduh, cantik juga ya saya kalau dilihat dari bawah. Eh, Mas Leon, ini lantainya licin banget. Kalau saya kepeleset terus amnesia gimana? Nanti saya lupa kalau Mas punya utang sandal ke saya."

​"Duduk," perintah Leon sambil menunjuk sebuah kursi antik dari kayu jati yang sangat mahal.

​Ailen duduk, tapi bukannya duduk dengan anggun, ia malah mengangkat kakinya ke atas kursi dan mulai memijat jempol kakinya yang bolong. "Ah, mantap. Mas, nggak ada kopi apa? Atau teh manis anget gitu. Haus nih, dari tadi teriak-teriak mulu."

​Leon berdiri di depan perapian, menatap Ailen dengan intens. Ia mencoba membedah karakter gadis ini. Secara fisik, Ailen sangat cantik—jika saja ia mandi dan menyisir rambutnya. Tulang pipinya tegas, matanya besar dan ekspresif, dan tubuhnya atletis. Namun, perilakunya benar-benar menghancurkan segala estetika kecantikan itu.

​"Siapa sebenarnya kau, Ailen? Gerakanmu di gudang tadi bukan gerakan amatir. Kau menjatuhkan tiga orangku yang paling terlatih hanya dalam hitungan detik," Leon memulai interogasi dengan nada rendah yang mengintimidasi.

​Ailen berhenti memijat kakinya. Ia menatap Leon dengan mata yang tiba-tiba terlihat sangat jernih. "Tadi kan saya sudah bilang, Mas. Itu hasil latihan rebutan remot sama Emak. Emak saya itu mantan jawara silat di kampung, Mas. Kalau saya nggak gesit, kepala saya bisa kena lemparan ulekan sambal yang akurasinya melebihi sniper Amerika."

​Leon tidak percaya sepatah kata pun. "Jangan berbohong padaku. Apa kau dikirim oleh klan Moretti? Atau mungkin sindikat dari Timur?"

​"Moretti? Itu merek biskuit ya? Enak tuh kalau dicelup teh," Ailen malah tertawa kecil. "Dengar ya, Mas Ganteng tapi Sensi. Nama saya Ailen Gavril. Saya cuma rakyat jelata yang kerja serabutan. Kadang jadi kuli panggul, kadang jadi guru bela diri buat anak-anak panti asuhan, dan malam ini... saya jadi korban keganasan atap gedung Mas yang rapuh itu."

​Leon mendekat, tangannya mencengkeram lengan kursi tempat Ailen duduk, mengurung gadis itu di antara tubuhnya. "Jika aku tahu kau berbohong, aku tidak akan segan-segan membuangmu ke kandang singa koleksiku."

​Bukannya gemetar, Ailen malah memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Mas punya singa? Wah, keren! Namanya siapa? Boleh saya kasih makan kerupuk nggak? Terus, kalau saya bohong, Mas mau apa? Mau cium saya?"

​Leon tersentak. Jarak yang begitu dekat membuatnya bisa mencium aroma samar vanila dari rambut Ailen yang berdebu. Untuk sesaat, suasana menjadi sangat tegang, namun bukan karena ancaman kematian, melainkan karena percikan aneh yang menyengat saraf Leon.

​"Kau... benar-benar tidak tahu malu," desis Leon, mencoba menutupi kegugupannya yang langka.

​"Malu itu kalau kita belum bayar hutang, Mas. Kalau jujur mah buat apa malu," Ailen mengerlingkan matanya dengan jenaka.

​Tiba-tiba, seorang pelayan masuk membawa sebuah kotak besar. "Tuan, ini sandal yang Anda pesan."

​Leon menjauh dari Ailen, memberikan ruang untuk pelayan itu meletakkan kotak tersebut. Ailen dengan semangat 45 langsung membuka kotak itu. Matanya membelalak. Di dalamnya terdapat sebuah sandal bermerek desainer terkenal yang harganya mungkin bisa untuk membeli satu truk sandal jepit. Warnanya emas berkilau dengan hiasan kristal di atasnya.

​"Waduh! Ini mah sandal buat kondangan, Mas! Kalau saya pake ini buat ngejar kucing, yang ada kucingnya malah minta tanda tangan," seru Ailen. Ia mencoba memakai sandal itu. "Eh, tapi kok agak sempit ya? Atau jempol saya yang emang kegedean?"

​Ailen mencoba memasukkan kakinya secara paksa, dan dalam prosesnya, ia kehilangan keseimbangan. "E-eh! Mas! Tolong!"

​Ailen jatuh ke depan, dan secara refleks, ia menarik jas Leon. Keduanya jatuh ke atas lantai marmer yang licin. Posisi mereka sangat canggung; Ailen berada di bawah, dan Leon berada tepat di atasnya, dengan wajah yang terkubur di leher Ailen.

​Hening kembali melanda ruangan itu. Para penjaga di pintu masuk serempak memalingkan muka, pura-pura melihat cicak di dinding.

​Leon bisa merasakan detak jantung Ailen yang cepat, tapi gadis itu justru melepaskan tawa renyah. "Tuh kan, Mas! Apa saya bilang, lantainya licin bener! Mas sengaja ya mau nyari kesempatan dalam kesempitan? Ngaku deh, Mas pasti naksir sama gaya jatuh saya yang estetik tadi?"

​Leon segera bangkit dengan wajah yang memerah padam karena amarah dan malu. "KELUAR! Bawa dia ke kamar tahanan di menara barat!" teriak Leon.

​"Lho, sandal saya gimana, Mas? Masa saya pake sandal emas cuma sebelah?" teriak Ailen saat dua pengawal menariknya pergi. "Mas Leon! Nanti malem saya minta martabak ya! Jangan lupa pake kacang sama cokelat yang banyak! Mas kan Bos Cokelat!"

​Leon berdiri mematung di tengah aula. Ia merapikan jasnya yang kusut dengan tangan gemetar. Ia melihat satu sandal emas yang tertinggal di lantai.

​"Tuan... apakah kami harus mengambil kembali sandal itu?" tanya pelayan dengan takut-takut.

​Leon menatap sandal mewah itu, lalu teringat ucapan Ailen tentang sandal jepit hijaunya. Sang raja mafia, pria yang paling ditakuti di dunia bawah, baru saja merasa kalah telak oleh seorang gadis yang bahkan tidak punya alas kaki lengkap.

​"Biarkan saja di situ," perintah Leon pelan. Ia berjalan menuju ruang kerjanya dengan pikiran yang benar-benar kacau. "Dan Marco... belikan martabak manis. Kacang cokelat. Sekarang."

​"Baik, Tuan," jawab Marco, kali ini benar-benar tidak bisa menahan senyumnya lagi.

​Malam itu, di kediaman Vancort yang biasanya sunyi dan dingin, terdengar suara nyanyian sumbang dari menara barat. Ailen sedang menyanyikan lagu "Kucing Garong" dengan sangat keras, membuat para penjaga yang tadinya sangar mulai mempertimbangkan untuk pindah profesi menjadi tukang parkir saja daripada harus mendengarkan konser dadakan sang tahanan semprul.

​Leon duduk di kursinya, memegang satu keping kerupuk remuk yang tersisa di sakunya. Ia memperhatikannya seolah-olah itu adalah berlian paling berharga, sebelum akhirnya memasukkannya ke mulut.

​"Sial," gumam Leon sambil mengunyah kerupuk itu. "Ternyata benar-benar gurih."

​Harga diri Leon Vancort sebagai mafia kejam mungkin baru saja hancur berkeping-keping malam ini, tapi entah kenapa, ia merasa hidupnya yang membosankan baru saja mendapatkan ledakan warna yang paling berisik dan menyebalkan.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!