Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan penting Alvaro dan Jason
Suasana di ruang tamu yang mewah itu terasa sangat kontras. Monica, dengan senyum manis yang tampak dibuat-buat, melangkah anggun mendekati Bu Anita.
"Apa kabar, Ibu? Saya Monica. Mas Johan sering bercerita betapa hebatnya Ibu," ucap Monica lembut sambil mencium tangan Bu Anita.
Bu Anita mengangguk bangga. "Cantik sekali kau, Monica. Jauh lebih segar dipandang mata daripada yang sebelumnya."
Monica kemudian beralih kepada Aliya dan Adiba, mengulurkan tangannya yang lentur. Namun, kedua gadis itu tetap terpaku, tangan mereka bersedekap di dada dengan tatapan sedingin es.
"Kak," bisik Adiba pelan namun tajam, "apakah gara-gara wanita ini Ayah jarang pulang? Aku tidak percaya Bunda selingkuh. Ini pasti hanya akal-akalan Ayah agar bisa mengusir Bunda dan membawa pelakor ini ke rumah!"
Aliya yang mendengar itu merasakan darahnya mendidih. Ia menatap Monica tepat di matanya, lalu berkata dengan lantang,
"Ya, sepertinya memang begitu, Adiba! Kita jangan sampai membiarkan seorang pelakor menggantikan posisi Bunda di rumah ini!"
Suasana seketika membeku. Senyum Monica memudar, berganti dengan raut wajah yang seolah terzalimi. Johan yang mendengar itu langsung bangkit, wajahnya merah padam.
"Aliya! Jaga bicaramu! Siapa yang mengajarimu tidak sopan seperti itu?!" bentak Johan keras.
"Bunda yang mengajariku kejujuran, Yah! Dan kejujurannya adalah wanita ini tidak pantas ada di sini!" balas Aliya berani.
"Cukup! Masuk ke kamar kalian! Ayah tidak mau melihat wajah kalian di meja makan jika hanya untuk menghina tamu Ayah!" raung Johan.
Aliya menarik tangan Adiba dengan kasar. "Ayo Adiba, kita pergi. Berada di sini hanya membuatku mual melihat drama menjijikkan ini!"
Keduanya berlari ke lantai atas, meninggalkan Johan yang masih emosi. Namun, bukannya merasa bersalah pada anaknya, Johan justru berbalik menenangkan Monica.
"Maafkan mereka, Sayang. Mereka hanya belum mengerti."
Acara makan malam tetap berlangsung tanpa Aliya dan Adiba. Di tengah denting sendok dan garpu, Johan berdehem kecil. "Bu, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Monica sedang mengandung anakku. Usianya sudah dua bulan."
Bu Anita terperangah, lalu tertawa renyah. "Benarkah? Ini berita luar biasa! Johan, kau harus segera menikahinya. Jangan tunggu sidang cerai itu selesai. Menikah siri dulu tidak apa-apa, yang penting cucuku punya status!"
Monica tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Johan. "Aku setuju, Mas. Apapun yang terbaik untuk calon bayi kita."
*
*
Di sudut lain Jakarta, di dalam ruang kerjanya yang megah, Alvaro Sanjaya sedang menatap layar monitor yang menampilkan profil Pengacara Jason. Asisten Adam masuk dengan membawa berkas perjanjian.
"Tuan, Pengacara Jason saat ini masih di luar kota dan baru kembali lusa. Saya sudah mengunci jadwal pertemuan dengannya tepat saat dia mendarat," lapor Adam.
Alvaro menyandarkan tubuhnya, memutar pena mahalnya. "Bagus, Aku harus membereskannya sebelum Hanum dan Papah kembali ke tanah air. Aku ingin jalan mereka bersih dari kerikil tajam."
"Rupanya, Tuan Jason sudah lama mengincar kerjasama di sektor pariwisata kita, Tuan. Dia ingin menanamkan modal di beberapa resort strategis milik Sanjaya Group," tambah Adam.
Alvaro tersenyum licik. "Sektor pariwisata kita adalah incaran dunia. Sanjaya Group adalah raksasa yang tidak tertandingi. Jika Jason menginginkan keuntungan itu, dia harus menyerahkan kepala Johan padaku. Perusahaan Go Green milik Johan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan satu anak cabang Sanjaya Group."
Alvaro tahu, bagi pria seperti Jason, logika bisnis selalu menang di atas pertemanan. Ia akan menggunakan pengaruh raksasa Sanjaya Group untuk menekan Jason agar berbalik mengkhianati Johan.
Sementara itu, di Singapura, Hanum terus mendampingi Tuan Sanjaya yang kondisinya kian pulih. Semangatnya untuk kembali ke Indonesia semakin membara. Kali ini, ia tidak akan pulang sebagai wanita yang lemah. Ia akan pulang sebagai putri mahkota Sanjaya Group yang siap meruntuhkan setiap kebohongan yang telah dibangun suaminya.
'Tunggu aku, Johan. Kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya, persis seperti yang kau lakukan padaku.'batin Hanum tajam.
*
*
Restoran itu terletak di lantai tertinggi salah satu gedung pencakar langit di Jakarta, menyajikan pemandangan kota yang seolah berada di bawah telapak kaki mereka. Di dalam ruangan VVIP yang kedap suara dan beraroma kayu gaharu yang mahal, Pengacara Jason duduk dengan gelisah. Berkali-kali ia merapikan jasnya dan melirik jam tangannya.
Sebagai pengacara kondang, Jason biasa menghadapi klien besar, namun diundang secara pribadi oleh pimpinan Sanjaya Group adalah level yang berbeda. Sanjaya Group adalah raksasa yang menguasai ekosistem bisnis negeri ini. Bagi Jason, pertemuan ini bukan sekedar bisnis, melainkan sebuah pengakuan atas eksistensinya.
"Suatu kehormatan besar... Benar-benar di luar dugaan," gumam Jason pelan, mencoba menenangkan debar jantungnya.
Tak lama kemudian, pintu jati besar ruangan itu terbuka.
Alvaro Sanjaya melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi. Langkah kakinya tegas, dagunya terangkat dengan wibawa yang lahir dari kekuasaan besar. Di sampingnya, Asisten Adam berjalan tegap sembari mendekap tas dokumen kulit yang tampak sangat penting.
Jason segera berdiri dari kursinya, memberikan gestur hormat yang paling sopan.
"Tuan Alvaro Sanjaya," sapa Jason dengan senyum lebar yang penuh rasa hormat. "Sebuah kehormatan luar biasa bagi saya bisa bertemu langsung dengan Anda. Saya sudah lama menantikan momen ini."
Alvaro menunjukkan senyum ramahnya, sebuah senyum yang bagi orang awam terlihat tulus, namun bagi Adam, itu adalah senyum sang predator yang baru saja menyapa mangsanya. Alvaro mengulurkan tangan dan menjabat tangan Jason dengan mantap.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Jason," ujar Alvaro dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa. "Maaf membuat Anda menunggu. Jadwal penerbangan saya dari Singapura sedikit padat belakangan ini."
"Oh, sama sekali tidak masalah, Tuan Alvaro. Saya baru saja tiba satu jam yang lalu," jawab Jason cepat. "Silakan duduk. Saya sudah memesankan menu terbaik di restoran ini."
Alvaro duduk di kursi utama, sementara Adam berdiri dengan sigap di belakangnya. "Terima kasih, Saya dengar Anda adalah pengacara yang sangat sibuk dan memiliki reputasi yang cemerlang di negeri ini. Itulah alasan mengapa saya bersedia meluangkan waktu secara khusus untuk Anda."
Mendengar pujian itu, Jason merasa di atas angin. Ia merasa usahanya selama ini untuk mendekati jaringan Sanjaya Group mulai membuahkan hasil, terutama soal minatnya pada sektor pariwisata yang dikelola Alvaro.
"Anda terlalu memuji, Tuan Alvaro. Saya hanya menjalankan profesi saya dengan maksimal," ucap Jason rendah hati, meski hatinya bersorak.
Alvaro menyandarkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah Jason. "Saya tipe pria yang tidak suka berbasa-basi terlalu lama, Tuan Jason. Kita memiliki banyak hal untuk dibicarakan, mulai dari potensi investasi Anda di resort kami, hingga... beberapa masalah hukum yang melibatkan kerabat dekat Anda."
Senyum Jason sedikit membeku saat mendengar kalimat terakhir itu. Namun, Alvaro tetap mempertahankan ekspresi ramahnya, membiarkan keheningan sesaat di antara mereka menjadi tekanan yang tak kasat mata.
"Mari kita nikmati hidangannya dulu, baru kita bicara tentang masa depan... dan masa lalu," tambah Alvaro sembari memberikan isyarat pada Adam untuk mulai menyiapkan berkas.
Jason menelan ludah, mulai menyadari bahwa undangan ini mungkin bukan sekedar makan malam biasa untuk membahas investasi, melainkan sebuah jebakan yang jauh lebih besar.
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔