Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang-Barang Kecil Aurora
Pagi di rumah Zayn berjalan jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Tidak ada suara tembakan, tidak ada teriakan, dan tidak ada darah yang memenuhi lantai. Namun meski suasana terlihat damai, semua orang tahu satu hal, ancaman belum benar-benar hilang. Retno masih bebas. Dan itu berarti Aurora tetap berada dalam bahaya.
Aurora masih duduk di atas ranjang sambil memegang mangkuk buburnya dengan wajah tidak semangat.
Rakha yang sejak tadi duduk santai di sofa langsung menahan tawa, “Lo makan bubur kayak lagi dipaksa hidup.”
Aurora langsung menatap kesal, “Aku bosen…”
“Baru juga semalem hampir mati” balas Rakha santai.
Aurora langsung diam.
Sedangkan Zayn yang berdiri dekat jendela hanya melirik sekilas sebelum akhirnya berkata dingin, “Habiskan.”
Aurora langsung menghela napas kecil pasrah.
Dokter Hans yang baru selesai membereskan alat medisnya ikut tersenyum kecil melihat suasana kamar itu. Jujur saja, ia cukup terkejut melihat Zayn bisa setenang ini di dekat seseorang.
Biasanya pria itu terlalu dingin untuk peduli sedetail itu pada orang lain.
Setelah memastikan kondisi Aurora stabil, Dokter Hans akhirnya pamit keluar dari kamar.
Rakha ikut berdiri sambil meregangkan tubuhnya pelan, “Gue mandi dulu deh. Badan gue lengket darah semua.”
Aurora langsung mengernyit kecil mendengarnya.
Rakha malah tertawa santai, “Tenang aja. Bukan darah gue semua.”
“Jangan ngomong gitu sambil ketawa…” gumam Aurora pelan.
Rakha kembali tertawa sebelum akhirnya keluar kamar.
Kini tinggal Aurora dan Zayn di dalam ruangan.
Suasana mendadak berubah lebih hening.
Aurora pura-pura fokus mengaduk buburnya sendiri, meski sebenarnya sadar Zayn beberapa kali menatapnya diam-diam.
Dan entah kenapa itu membuat jantungnya tidak nyaman. Bukan takut, tapi gugup.
Zayn akhirnya berjalan mendekat lalu mengambil ponselnya dari meja kecil dekat sofa.
Aurora melirik sekilas.
Pria itu langsung menghubungi seseorang, “Evan.”
“Ya, Bos.”
“Pergi ke rumah Aurora.”
Aurora langsung menoleh cepat.
“Ambilin semua barang yang dia butuhin beberapa hari ke depan.”
Aurora langsung panik kecil, “Pak, nggak usah sebanyak itu-”
Zayn mengabaikannya begitu saja, “Bawa Nelly sama Lynda.”
Aurora sedikit bingung mendengar nama asing itu.
Namun di sisi lain telepon, Evan langsung mengangguk paham, “Siap.”
Telepon terputus.
Aurora langsung menatap Zayn tidak percaya, “Bapak serius?”
“Iya.”
“Tapi itu rumah aku…”
“Dan?”
Aurora langsung frustrasi sendiri.
Zayn benar-benar punya bakat membuat orang kehabisan jawaban.
Sementara itu, di lantai bawah rumah besar itu, Evan sudah bersiap di dekat mobil hitam.
Tak lama kemudian dua wanita berjalan mendekat dari arah berbeda.
Yang pertama adalah Lynda Celestine dengan pakaian serba hitam dan ekspresi dingin seperti biasa.
Sedangkan di sampingnya, seorang wanita lain berjalan sambil membawa tablet kecil di tangannya.
Rambut cokelat gelapnya diikat setengah rapi. Wajahnya lembut dengan aura yang jauh lebih hangat dibanding Lynda.
Ia adalah Nelly Evelyne.
Salah satu orang kepercayaan Zayn juga.
Bedanya, Nelly jauh lebih ramah dan mudah bergaul.
“Jadi kita mau ngambil barang cewek Bos?” tanya Nelly sambil tersenyum kecil.
Evan mengangguk, “Iya.”
Lynda hanya diam sambil masuk ke mobil lebih dulu.
Nelly melirik sekilas ke arah wanita itu sebelum akhirnya ikut masuk.
Mobil langsung melaju meninggalkan rumah Zayn menuju apartemen Aurora.
Sepanjang perjalanan, suasana cukup hening.
Evan fokus menyetir.
Lynda sibuk melihat layar ponselnya.
Sedangkan Nelly beberapa kali mencoba membuka percakapan.
“Si Aurora lucu ya?” gumam Nelly santai.
Lynda tidak menoleh, “Biasa aja.”
Nelly mengangkat alis kecil. Ia bisa merasakan nada dingin dalam jawaban itu.
Namun wanita itu memilih tidak memperpanjang.
Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di rumah Aurora.
Begitu pintu terbuka, Nelly langsung berhenti beberapa detik sambil melihat sekeliling.
Rumah itu jauh lebih hangat dibanding rumah Zayn.
Dominasi warna krem dan putih membuat suasananya terasa nyaman.
Dan yang paling mencolok, rak besar di dekat ruang tamu. Isinya penuh barang-barang lucu.
Boneka kecil, gantungan kunci karakter, squishy warna pastel, pajangan kucing, panda kecil, bahkan ada beberapa boneka beruang dengan ukuran berbeda.
Nelly langsung tersenyum lebar kecil, “Ya ampun, gemes banget.”
Evan melirik sekilas lalu tertawa pelan, “Kamarnya kayak anak kecil.”
“Lucu tau” balas Nelly.
Sedangkan Lynda hanya memperhatikan semuanya dalam diam.
Tatapannya perlahan menyapu rak itu. Lalu ke foto kecil Aurora bersama teman-temannya.
Kemudian ke beberapa sticky note lucu yang tertempel di kulkas.
Tempat itu terasa hidup.
Dan anehnya itu sangat bertolak belakang dengan dunia Zayn.
Nelly berjalan mendekati rak lucu itu sambil mengeluarkan ponselnya.
“Kayaknya Bos nggak bakal ngerti barang mana yang penting buat cewek” gumamnya kecil.
Ia lalu memfoto rak tersebut. Termasuk dua boneka yang paling mencolok.
Boneka panda kecil dengan hoodie hitam. Dan boneka kucing putih gemuk dengan pita biru.
Nelly langsung mengirim foto itu ke Zayn.
Tak lama kemudian balasan masuk, “Yang mana yang sering dia pegang?”
Nelly membaca pesan itu keras-keras tanpa sadar.
Evan langsung menoleh heran, “Bos nanya begitu?”
Nelly mengangguk sambil menatap rak lagi, “Kayaknya yang kucing.”
“Kalau panda?”
“Masih bersih banget. Berarti jarang disentuh.”
Beberapa detik kemudian balasan lain masuk dari Zayn, “Bawa boneka kucingnya.”
Pesan kembali masuk, “Sekalian bonekanya panda.”
Nelly langsung menahan senyum kecil.
Sedangkan Lynda yang berdiri tidak jauh dari sana perlahan mengencangkan rahangnya.
Hanya boneka, tapi Zayn bahkan memikirkan hal sekecil itu untuk Aurora.
Nelly akhirnya mulai membereskan pakaian Aurora ke dalam koper kecil.
Ia memilih pakaian rumahan yang nyaman, skincare, charger, beberapa buku, dan barang-barang penting lain.
Evan membantu membawa koper keluar.
Sementara Lynda berdiri diam memperhatikan rumah itu sekali lagi.
Tatapannya jatuh pada foto kecil Aurora yang terselip di meja.
Aurora terlihat tertawa cerah di foto itu.
Lynda menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berbalik pergi.
Tak lama kemudian mereka kembali ke rumah Zayn.
Di lantai atas, Aurora yang masih duduk di ranjang langsung membelalakkan mata saat melihat koper miliknya dibawa masuk.
“Banyak banget?!” protes Aurora.
Nelly tertawa kecil, “Bosmu nyuruh.”
Aurora langsung menoleh ke arah Zayn tidak percaya.
Sedangkan Zayn tetap tenang sambil duduk di sofa, “Biar kamu nggak ngeluh terus.”
Aurora baru saja ingin membalas.
Namun matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di tangan Nelly.
Boneka kucing putih dan panda miliknya.
Aurora langsung terdiam.
“Nelly bilang kamu sering pegang ini,” ucap Zayn santai.
Aurora langsung malu sendiri, “Itu cuma boneka…”
Rakha yang baru masuk kamar langsung melihat situasi itu lalu tertawa keras, “Anjir, Bos mafia ngambilin boneka kucing.”
“Diem” balas Zayn dingin.
Aurora langsung memeluk boneka itu kecil sambil menghindari tatapan semua orang.
Sedangkan Nelly hanya tersenyum geli melihat reaksinya.
Namun di sisi lain ruangan, Lynda memperhatikan semuanya dalam diam. Tatapannya perlahan berubah dingin.
Karena semakin lama, Aurora bukan cuma mengubah Zayn. Tapi juga mulai masuk terlalu jauh ke dalam hidup mereka semua. Dan itu adalah sesuatu yang tidak disukai Lynda sedikit pun.
Sementara di luar rumah megah itu, seseorang sedang memperhatikan gerbang utama dari dalam mobil hitam.
Retno duduk diam sambil menatap rumah Zayn tanpa ekspresi.
Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat tipis, “Mulai menarik…” gumamnya pelan.
Dan permainan baru itu perlahan dimulai.