NovelToon NovelToon
KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

KONTRAK YANG TIDAK MASUK AKAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Yatim Piatu / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mars JuPiter🪐

Argantara, 27 tahun, supir setia keluarga Harsono yang hidupnya sederhana dibawa Pak Harsono dari panti asuhan tempat dia dibesarkan.
Dua belas tahun lalu, dia menyelamatkan nyawa Pak Harsono dari kecelakaan, dan sejak itu Pak Harsono menganggapnya seperti anak sendiri.

Kini Pak Harsono divonis kanker paru stadium tiga dan hanya punya waktu satu tahun.
Dia punya satu permintaan terakhir: "menikahkan Argantara dengan putri semata wayangnya, Kirana Prameswari"
Tujuannya bukan cinta, tapi agar Kirana yang keras kepala tidak merasa sendirian saat dia pergi...

Kirana Prameswari, pewaris perusahaan HARSONO yang dingin dan perfeksionis, awalnya menolak keras. Bagi dia, Argantara hanya supir dekil yang bau garasi.
Tapi demi sang ayah, dia terpaksa menerima pernikahan itu.
Tapi dibalik setujunya Kirana Ada kontrak yg hanya Kirana dan Arga yang tau.

Pernikahan yang dimulai dari kebohongan dan paksaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars JuPiter🪐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : BEKAL MAKAN SIANG YANG DINGIN

Siang di PT Harsono Group seperti biasanya Karyawan berlalu-lalang, ada yang keluar area gedung ada yg berjalan menuju kantin kantor.Karena memang saat ini tengah jam istirahat. Mereka saling sapa, tertawa kecil melepas penat sebelum kembali bekerja.

Tapi hari ini Kirana tidak peduli dengan semua keramaian itu.Hatinya tenang. Bahkan sedikit berbunga-bunga.

Hari ini dia turun dari taksi dengan satu kotak bekal di tangan. Nasi ayam kecap dengan telur dadar dan timun. Buatan sendiri. Dia bangun jam enam pagi hanya untuk masak ini.

“Hari ini, aku mau kasih dia bekal makan siang buatan ku. Tapi kenapa aku gugup sekali," Batin kirana seraya memegang dadanya. Jantung nya terasa berdebar tak karuan.

"Ini pertama kalinya aku masak buat orang lain. Aku gak tau makanan favorit nya. Anggap saja ini permintaan maaf ku karena kemarin gak cerita tentang Rayhan.” pikirnya sambil tersenyum kecil.

Kirana berjalan masuk Lift. Dia menekan Angka 8 bergerak naik ke lantai delapan. Kirana merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia ingin Arga kaget. Senang. TING, lift berhenti di lantai delapan, Kirana berjalan keluar lift arah nya menuju ruang kerja Arga. Tapi, saat sampai dan mengetuk pintu dia tak mendengar sautan Arga di dalam. Ruang kerja Arga kosong. Arga tak ada diruangannya.

“Pak Arga baru turun ke kantin, Bu.” kata salah satu staf.

Kirana mengangguk. Dia memutuskan ke kantin lantai 5. Siapa tahu bisa makan siang bareng.

Di kantin lantai 5, Arga berdiri di antrean minuman. Dia lupa bawa tumbler biru yang biasa selalu bawa. Tapi hari ini melupakannya.

“Kopi hitam dingin satu.” katanya pelan ke kasir.

Sementara di pojok kantin, Nina sedang duduk sendirian. Di depannya ada nasi kotak dan beberapa lembar dokumen logistik yang masih dia cek. Dia baru pindah seminggu, jadi waktu istirahatnya sering dia pakai untuk kerja.

Tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok familiar. Jas hitam. Langkah tenang. Wajah tegas yang sudah lima belas tahun masih dia ingat.

“Kak Arga?” Suara Nina pelan. hampir seperti bisikan.

Arga menoleh. Dia kaget saat namanya di panggil.“Nina? Kamu makan di sini?”

Nina langsung berdiri, sedikit canggung. “Iya Kak. Kantinnya lumayan dekat sama ruang logistik.” Jawab Nina masuk akal. Lalu “Kak Arga mau duduk sini?” Dia menunjuk ke kursi di depannya.

Arga melirik sekeliling. Kantin ramai. Tapi kursi di meja Nina memang ada yang kosong.

“Boleh. Daripada berdiri.” Arga akhirnya duduk di seberang Nina.

Suasana jadi sedikit canggung di awal. Tapi lama-lama obrolan mengalir dengan sendirinya.

Bukan obrolan kerja. Tapi obrolan masa lalu.

“Kak Arga... setelah Kak Arga dibawa Pak Harsono, aku jarang ke panti lagi.” Nina memulai. Dia mengaduk es tehnya pelan. “Aku dibawa tanteku ke Surabaya. Aku sekolah dan Kuliah di sana. Terus kerja di cabang Surabaya dua tahun in.”

Jelas Nina. Arga mengangguk. Dia menyesap kopinya. “Jadi kamu baru pindah ke sini seminggu lalu?”

“Iya Kak. Aku kangen suasana Jakarta. Juga... kangen panti.” Nina tersenyum kecil. “Dua bulan lalu aku sempat mampir. Panti sekarang sudah bagus. Kamarnya sudah dicat ulang. Ada banyak donatur baru. Adik-adiknya juga lebih banyak.”

Arga tertawa kecil. Sangat kecil. Tapi cukup untuk membuat mata Nina berbinar.

“Iya bagus. Aku juga baru mampir bulan lalu. Ada anak baru namanya Riko. Nakal. Tapi pintar.”

Nina ikut tertawa. “Sama seperti Kak Arga dulu ya? Nakal tapi pinter nyari duit buat beli roti buat kita semua.”

Arga menatap Nina sebentar. “Kamu masih ingat itu?”

Nina mengangguk. “Nggak bisa lupa Kak. Juga malam gerimis saat itu. Kak Arga gendong aku ke puskesmas pakai jaket lusuh. Punggung Kak Arga basah kuyup. Tapi Kak Arga nggak pernah lepasin aku.” Suaranya pelan. Hampir berbisik.

Arga diam. Dia tidak tahu harus jawab apa. Karena memang itu yang terjadi. Dia memang selalu jadi kakak untuk semua adik-adik di panti. Tanpa pilih kasih. Tanpa berharap apa-apa.

“Kak Arga masih sama.” Nina menunduk. “Masih baik. Masih bikin semua orang merasa aman.”

Arga hanya mengangguk. “Kerja yang baik ya, Nina. Jangan sampai telat lagi bawa dokumennya.” Dia bercanda kecil. Nina ikut tertawa. “Siap Kak.”

Obrolan mereka hangat. Natural. Seperti kakak dan adik yang lama tidak bertemu. Tidak ada tatapan berlebihan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata-kata yang bermakna ganda. Hanya dua orang yang berbagi kenangan.

Di pintu kantin,

Kirana berhenti.Kotak bekal di tangannya tiba-tiba terasa berat.

Dia naik ke lantai 5 dengan hati senang. Mau mengejutkan Arga. Mau makan siang bareng.

Tapi yang dia lihat... adalah Arga yang sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan.

Perempuan itu tersenyum. Arga juga tersenyum kecil.Mereka tertawa. Pelan. Tapi nyata.

Kirana mengenal perempuan itu. Nina.

Adik panti yang tadi pagi Arga ceritakan saat mereka ngobrol di telfon tadi pagi. Ya, Arga menceritakan pertemuannya dengan Nina kepada Kirana. Arga gak mau ada salah paham kedepannya. Karena Arga tak menceritakan asal usul Nina, kenapa bisa kenal Nina. Arga menceritakan

semuanya. Kirana tak begitu mempermasalahkan semua itu. Dia percaya Arga.

“Hari ini aku gak sengaja bertabrakan dengan perempuan di lobby. Ternyata perempuan itu Nina. Adik pantiku.”

“Dia baik Kirana. Dulu waktu aku masih di panti, dia yang paling rajin bantu Bu Hana.”

"Dia sudah kuanggap seperti adik sendiri, bukan cuma dia tapi yang lainnya juga kok. "

Kirana ingat semua itu. Tapi melihatnya langsung... rasanya berbeda. Nina cantik. Natural. Tanpa riasan. Rambutnya dikuncir kuda rendah. Ada bekas luka kecil di dagunya yang justru membuatnya terlihat manis.

Kirana berdiri di pintu selama sepuluh detik. Tidak bergerak. Tidak bersuara.Dia melihat Nina tertawa saat Arga bercerita tentang Riko yang nakal.Dia melihat Arga yang biasanya dingin... sekarang tersenyum kecil.

DALAM HATI KIRANA: “Ternyata... Arga punya masa lalu yang aku nggak tahu. Ternyata... Arga pernah punya orang yang dia jaga seperti itu.”

Dadanya terasa sesak. Bukan marah. Bukan cemburu yang meledak-ledak.Tapi... tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dada.

Kirana mundur pelan. Tanpa bersuara.

Dia turun lagi ke lantai 1 dengan kotak bekal yang masih utuh. Nasi ayamnya sudah tidak hangat lagi.

Di meja pojok kantin, Arga berdiri.

“Udah siang. Nina kamu juga harus balik kerja .” katanya pelan.

Nina mengangguk. “Siap Kak. Makasih ya sudah mau ngobrol.”

Arga hanya mengangguk dan berjalan pergi.

Dia tidak tahu kalau lima menit yang lalu, Kirana baru saja melihat semuanya dari pintu kantin.

Bagi Arga, ini hanya obrolan biasa. Obrolan dengan adik panti. Bagi Arga, tidak ada yang perlu disembunyikan.Karena memang tidak ada apa-apa.

Tapi Arga tidak tahu...

Bahwa untuk Kirana, ini bukan hanya obrolan biasa. Ini adalah pertama kalinya Kirana melihat Arga tertawa dengan orang lain selain dirinya.

Malam hari. Di dalam mobil.

Kirana duduk di kursi depan, disebelah Arga. Kotak bekal masih ada di pangkuannya. Arga menyetir dengan tenang seperti biasa. Radio diputar pelan.

Suasana hening. Terlalu hening.Kirana menatap kotak bekal di pangkuannya. Nasi ayamnya masih utuh. Tidak tersentuh.

Arga melirik. “Kamu nggak makan, Kirana?”

Kirana menggeleng. “Nggak lapar.” Suaranya datar.

Arga mengernyit. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sepanjang jalan pulang, Kirana diam. Tidak seperti biasanya yang suka bercerita tentang meeting atau kerjasama dengan perusahaan lain.

Akhirnya Kirana memberanikan diri.

“Arga... perempuan yang tadi di kantin itu... Nina kan?”

Arga kaget. Dia tidak menyangka Kirana tahu.

“Iya. Nina. Adik panti yang aku ceritain tadi pagi di telfon.” jawabnya jujur.

Kirana menggigit bibirnya pelan. “Kalian... ngobrol apa?”

Arga menghela napas. “Cuma cerita tentang panti. Tentang adik-adik. Nggak ada yang lain.”

Kirana diam. Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik. Lalu pelan-pelan dia bilang, “Aku... aku hanya nggak nyaman lihat kalian ngobrol akrab.”Suaranya hampir berbisik.

Arga mengerem mobil pelan di lampu merah. Dia menoleh ke Kirana.

“Kirana... aku nggak ada apa-apa sama dia. Dia cuma adik panti. Anak yang dulu pernah aku jaga.”

Kirana menatap Arga. Matanya berkaca-kaca.

“Aku tahu. Aku tahu Mas Arga memang baik ke semua orang.”

“Tapi... aku nggak suka.” Kirana akhirnya mengakui.

“Aku nggak suka lihat Mas Arga tertawa sama orang lain.”

Arga terdiam. " Mas Arga "

Pipi arga terasa panas.. entah kenapa

panggilan itu selalu membuat hatinya terasa hangat.

Lampu merah berubah hijau. Tapi mobil belum bergerak.Arga tidak marah. Dia hanya... kaget. Hatinya seolah bersorak.

"Kirana cemburu."

Pikiran itu muncul di kepala Arga. Dan anehnya, dia tidak merasa terganggu.Justru... ada rasa hangat yang menyebar di dadanya. Senyumnya sedikit terangkat.

“Maaf.” Arga akhirnya bilang. “Aku nggak sadar kalau kamu bakal lihat. Besok aku nggak akan ngobrol lama sama dia.”

Kirana menggeleng. “Nggak usah.Kamu nggak salah.”

“Tapi... kalau bisa, jangan sering-sering.” Kirana menambahkan pelan. Seperti anak kecil yang takut mainannya diambil orang.

Arga mengangguk. Dia menginjak gas pelan.

“Baiklah, Aku janji.”

Kirana menatap keluar jendela. Malam Jakarta berlalu di luar kaca. Dia tidak tahu kenapa hatinya terasa lebih lega setelah bilang itu. Mungkin karena dia akhirnya berani mengakui perasaannya.Mungkin karena dia akhirnya sadar... dia tidak ingin kehilangan Arga.

Di dalam rumah, Kirana meletakkan kotak bekal di meja makan. Dia tidak jadi makan malam. Tapi hatinya terasa lebih ringan.

Arga berdiri di belakangnya. “Kamu marah?” tanyanya pelan.

Kirana menggeleng. “Nggak marah. Cuma... merasa nggak nyaman saja.” Dia jujur.

Arga tersenyum kecil. “ Aku senang kamu marah. Itu tandanya kamu peduli, Kirana.”

Kirana menoleh. Menatap Arga lekat-lekat.

“Peduli?”

Arga mengangguk. “Iya. Peduli.”

Kirana tidak menjawab. Dia hanya menunduk sambil memeluk dirinya sendiri.

DALAM HATI:“Aku peduli, Arga. Aku peduli banget. Sampai aku nggak bisa Fokus kalau mikirin kamu ngobrol sama wanita lain.”

Arga tidak tahu isi hati Kirana. Tapi dia bisa merasakan perubahan kecil itu.

Kirana yang dulu dingin dan menjaga jarak... sekarang berani bilang kalau dia peduli padanya.

[BERSAMBUNG.. ]

1
Tamirah
Kirana mulai mulai membuka hati untuk Arga yg tadinya menjaga jarak mulai resfek.
Tamirah
Merasa Anak orang kaya ,merasa cantik kalau nikah dgn sopir dekil apa lagi Anak panti wah gak level banget.Itu ciri makhluk Tuhan yg gak bersyukur.Apa pun yg ada di planet ini atas izin nya.kalau sudah kehendak-Nya apa pun bisa terjadi
jadi orang kaya gak perlu sombong.
💫Mars JuPiter🪐
Kalau suka cerita ini, jangan lupa kasih like nya 😊 biar Arga & Kirana bisa terus update🙏🏻
partini
maaf Thor bacanya langsung loncat,udah baca sinopsisnya
rumah tangga macam ini paling gampang di bikin huru" orang ketiga kalian berdua sama" suka diem"
💫Mars JuPiter🪐: makasih masukan nya kak😊
total 1 replies
Ella Ella
alur cerita yg menarik
💫Mars JuPiter🪐: thanks kak.. tunggu terus update nya 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!