"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Air Mata yang tak Tertahankan
Tugas akhir di tahun keempat ini terasa seperti medan perang yang nyata. Baskara seolah menaruh dendam pribadi yang tak kunjung padam pada Aruna. Setiap tugas yang diberikan kepada Aruna selalu memiliki tingkat kesulitan dua kali lipat dibanding mahasiswa lainnya. Aruna bahkan dilarang meninggalkan auditorium saat jam istirahat hanya untuk menyelesaikan draf analisis kasus yang sangat rumit.
Baskara berdiri di ambang pintu, menatap Aruna yang masih berkutat dengan tumpukan buku referensi di mejanya. "Selesaikan itu sebelum jam makan siang berakhir, Aruna. Jika ada satu referensi yang salah, saya anggap kamu gagal dalam mata kuliah ini," ucapnya dingin sebelum melenggang pergi.
Devan dan Theo yang baru saja kembali dari kantin segera menghampiri Aruna dengan wajah penuh kekhawatiran. Mereka melihat tangan Aruna sedikit bergetar saat memegang pulpen.
"Aruna, berhenti dulu. Kamu sudah tiga jam tidak beranjak dari kursi ini," tegur Devan sambil meletakkan sebotol air mineral di meja.
"Wajahmu pucat sekali, Aruna. Jangan dipaksakan," tambah Theo.
Tiba-tiba, Aruna merasa dadanya seolah dihantam benda tumpul. Napasnya memburu, dan ia segera merogoh saku jaketnya dengan tergesa-gesa. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil tanpa label dan menelan sebutir pil putih dengan cepat, lalu meminum air yang diberikan Devan hingga tandas.
"Itu obat apa, Aruna? Kamu sakit?" tanya Theo, matanya menyipit melihat botol tanpa label tersebut.
Aruna menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang tadi sempat tak beraturan. Ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk menenangkan kedua sahabatnya. "Bukan apa-apa. Ini hanya vitamin dosis tinggi dari dokter yang kutemui kemarin. Akhir-akhir ini aku sering merasa lelah, jadi butuh asupan tambahan."
Devan menghela napas lega. "Syukurlah. Aku pikir kamu sakit parah. Pak Baskara benar-benar keterlaluan, dia seperti ingin membunuhmu pelan-pelan dengan tugas-tugas ini."
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Kalian kembali saja ke perpustakaan, aku akan menyusul setelah ini selesai," ujar Aruna meyakinkan.
Setelah Devan dan Theo pergi, Aruna menyandarkan punggungnya di kursi. Ia memejamkan mata, merasakan pil jantung itu mulai bekerja menjinakkan badai di dalam dadanya. Ia tahu, botol tanpa label itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya masih bisa berdiri tegak di ruangan ini.
Tak ada satu pun orang di kampus ini yang tahu bahwa setiap detak jantung yang Aruna miliki sekarang adalah hasil perjuangan medis yang mahal. Bahkan Baskara, yang baru saja kembali masuk ke ruangan dan mendapati Aruna sedang terpejam, hanya berpikir bahwa gadis itu sedang bermalas-malasan.
"Jangan tidur di kelas saya, Aruna Prawijaya!" bentak Baskara, suaranya menggelegar di auditorium yang sepi. "Lanjutkan pekerjaanmu atau keluar sekarang juga!"
Aruna membuka mata. Tidak ada rasa takut, hanya kelelahan yang sangat dalam yang ia sembunyikan di balik tatapan tajamnya. Ia kembali memegang pulpennya, mengabaikan denyut halus di dadanya, dan mulai menulis kembali. Ia sudah bertahan sejauh ini, dan ia tidak akan membiarkan jantungnya berhenti sebelum ia berhasil menuntaskan urusannya dengan pria di depannya ini.
Suasana kelas semakin tidak terkendali. Baskara seolah telah kehilangan batas antara ketegasan akademik dan kebencian personal. Di depan kelas, ia membanting draf skripsi Aruna yang setebal dua ratus halaman itu ke lantai hingga kertas-kertasnya berhamburan.
"Begini caramu menulis? Kamu sudah empat tahun di sini dan tulisanmu masih seperti sampah," suara Baskara menggelegar, penuh penghinaan. "Atau memang kapasitas otak orang desa itu terbatas? Tidak peduli seberapa keras kamu berusaha, kerikil akan tetap menjadi kerikil di bawah kaki saya."
Seluruh kelas pecah dalam tawa. Michelle dan pengikutnya tertawa paling keras, bahkan mulai melontarkan kata-kata kasar yang merendahkan asal-usul Aruna yang selama ini mereka anggap miskin.
Aruna terdiam, menatap tumpukan hasil jerih payahnya yang kini diinjak oleh ujung sepatu pantofel mahal Baskara. Pertahanannya yang ia bangun selama empat tahun runtuh seketika. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia menangis tanpa suara, bahunya bergetar hebat karena sesak yang luar biasa di dadanya.
"Oh, lihat! Si pahlawan petani kita menangis," ejek Baskara dengan seringai kejam. "Jangan berakting manja di sini. Menangis tidak akan mengubah nilai E yang akan saya berikan kalau kamu tidak becus. Kamu itu cengeng dan tidak berguna, benar-benar memuakkan."
Melihat itu, Devan dan Theo mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku mereka memutih. Amarah mereka sudah sampai di ubun-ubun. Devan bahkan sudah setengah berdiri, ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah dosen arogan itu, namun Theo menahan lengannya dengan kuat.
"Jangan sekarang, Dev... sedikit lagi. Kalau kamu pukul dia, kita semua tidak akan lulus," bisik Theo dengan suara yang bergetar karena menahan emosi. Theo sendiri sudah berkaca-kaca melihat sahabat terbaiknya dihina sedemikian rupa di depan umum.
Baskara menyadari kemarahan kedua sahabat Aruna. Ia menatap mereka dengan tatapan menantang. "Kenapa? Kalian mau jadi pahlawan juga untuk gadis cengeng ini? Silakan saja, jika kalian mau mengulang empat tahun ini dari awal."
Aruna menarik napas panjang yang terasa sangat berat. Setiap isakannya membuat jantungnya berdenyut nyeri, seolah ada tangan yang meremas organ di dalam dadanya itu. Ia segera menghapus air matanya dengan kasar, mencoba bangkit dan berlutut untuk memunguti kertas-kertasnya yang berserakan di bawah kaki Baskara.
"Saya tidak berakting, Pak," ucap Aruna dengan suara parau yang tersendat. "Saya menangis karena saya kasihan pada Bapak. Bapak punya segalanya, tapi Bapak tidak punya nurani."
Baskara tertegun sejenak, wajahnya mengeras. "Berani kamu bicara begitu?"
"Lanjutkan saja hinaan Bapak. Saya tidak akan pergi sebelum saya menyelesaikan studi saya," lanjut Aruna sambil terus memunguti kertasnya, meski keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Devan dan Theo langsung turun dari bangku mereka, mengabaikan tatapan tajam Baskara. Mereka membantu Aruna memunguti lembar demi lembar kertas itu dengan penuh rasa hormat. Di mata mereka, Aruna bukan lagi gadis lemah, melainkan petarung yang sedang luka. Mereka tetap diam, namun di dalam hati, mereka sudah bersumpah: setelah kelulusan ini tiba, mereka akan menjadi orang pertama yang akan berdiri di samping Aruna untuk membalaskan setiap tetes air mata yang jatuh hari ini.