Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35: Papan Catur sang Penguasa Malam
Sore hari menyapa kota dengan semburat warna jingga yang perlahan meredup, tertelan oleh bayang-bayang malam yang mulai berkuasa. Di dalam sebuah ruangan kerja luas yang terletak di lantai teratas gedung pencakar langit pusat kota, suasananya berbanding terbalik dengan keindahan langit di luar. Ruangan itu didominasi oleh interior kayu mahoni gelap, dinding berlapis beludru hitam, dan pencahayaan yang sengaja dibuat minim—hanya menyisakan pendar lampu meja yang menerangi sebagian permukaan meja kerja berbahan marmer hitam.
Di balik meja tersebut, sosok pria misterius itu sedang duduk menyandarkan punggungnya pada kursi kulit tinggi. Wajahnya sebagian besar tersembunyi di balik kegelapan ruang, namun aura intimidasi dan otoritas mutlak yang memancar dari tubuhnya sudah cukup untuk membuat siapa pun yang melangkah masuk ke ruangan itu menahan napas.
Pintu kayu ganda ruangan itu diketuk dua kali dengan ritme yang teratur.
"Masuk," perintah pria misterius itu. Suaranya terdengar sangat rendah, bariton yang dingin, namun bergema tegas memenuhi keheningan ruangan.
Bram melangkah masuk dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara. Pria berpakaian serba hitam itu membawa sebuah tablet digital berukuran besar di tangan kirinya. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan meja kerja, lalu membungkukkan kepalanya dengan rasa hormat yang mendalam.
"Laporan berkala untuk hari ini sudah siap, Tuan," ucap Bram, suaranya terdengar datar dan profesional.
Pria misterius di balik meja hanya memberikan isyarat pelan dengan lambaian jemarinya yang mengenakan cincin perak bermotif kuno. "Tunjukkan padaku. Bagaimana pergerakan gadis kecilku hari ini?"
Bram segera melangkah maju, meletakkan tablet digital itu di atas permukaan meja marmer, lalu menggeser layarnya agar menghadap ke arah sang atasan. "Sesuai dengan perkiraan Anda, setelah insiden teror di Thalassa Coffee kemarin siang, Nyonya memutuskan untuk meliburkan kedainya hari ini. Beliau memilih untuk menghindar demi menenangkan diri. Sejak pagi, tim pengintai kita sudah melekat padanya tanpa memicu kecurigaan."
Layar tablet menampilkan rangkaian foto digital bersolusi tinggi dengan sudut bidikan yang sangat bersih. Foto pertama memperlihatkan Savya yang sedang berjalan lambat di dalam galeri seni yang sepi, menatap sebuah lukisan abstrak dengan raut wajah yang lelah namun damai.
Pria misterius itu memandangi foto Savya di galeri seni dengan tatapan yang sulit diartikan. Jemarinya bergerak perlahan, mengusap permukaan layar tablet tepat di atas gambar wajah Savya. Ada kelembutan yang sangat tipis dan tersembunyi di balik tatapan matanya, seolah ia sedang memandangi sebuah permata paling berharga yang merupakan milik mutlaknya.
"Dia selalu menyukai tempat-tempat sunyi seperti ini saat kepalanya sedang penuh," gumam pria misterius itu lirih, lebih kepada dirinya sendiri.
Bram tidak menanggapi monolog atasannya. Ia segera menggeser layar ke baris foto berikutnya. "Ini adalah foto yang diambil satu jam setelahnya, Tuan. Di taman kota."
Foto berikutnya menampilkan Savya yang sedang duduk meringkuk di atas bangku besi taman di bawah pohon mahoni yang rindang. Namun, foto yang paling menarik perhatian adalah foto ketiga—sebuah bidikan yang menangkap momen saat sosok Valerius datang dan mendudukkan diri di samping Savya. Di dalam foto itu, keduanya tampak sedang terlibat dalam percakapan yang sangat intens. Savya terlihat canggung dan salah tingkah, sementara Valerius menatapnya dengan pandangan protektif yang teramat dalam.
Pria misterius itu menatap foto kedekatan Savya dan sosok Valerius dengan lekat. Sepasang matanya mengamati setiap jengkal interaksi dua orang di dalam foto tersebut tanpa ekspresi yang bisa ditebak.
Sebelum pria misterius itu sempat bersuara, Bram menyentuh sudut kiri bawah foto tersebut, memperbesar (zoom-in) sebuah area gelap di latar belakang gambar, tepat di balik rimbunnya batang pohon mahoni lain yang berjarak sekitar dua puluh meter dari posisi bangku Savya.
"Tuan, ada detail lain yang berhasil ditangkap oleh lensa kamera jarak jauh milik tim kita," ujar Bram, nadanya mendadak berubah menjadi sangat serius. "Perhatikan siluet di balik pohon ini. Ini adalah mata-mata kiriman Katya. Tampaknya wanita itu masih belum menyerah dan mencoba menguntit Nyonya secara diam-diam sejak dari galeri seni."
Mendengar laporan itu, sepasang netra gelap milik sang penguasa malam langsung menajam seketika. Kilat amarah yang sangat dingin dan berbahaya memancar dari tatapannya, membuat suhu di dalam ruangan mewah itu seolah merosot drastis. Rahangnya mengeras kuat, dan jemarinya yang berada di atas meja mencengkeram tepi marmer hingga buku-buku jarinya memutih. Mengetahui ada tikus suruhan Katya yang berani membayangi miliknya, kemarahannya nyaris tersulut.
Namun, dengan kontrol diri yang luar biasa mutlak, ia menarik napas dalam-dalam, menekan emosi membakar itu hingga raut wajahnya kembali terlihat tenang, dingin, dan terkendali.
"Katya benar-benar tidak punya kapoknya," gumamnya, suaranya kini terdengar seperti desis ular yang mematikan. Ia kembali menatap sosok pengintai suruhan Katya di layar tablet. "Dia pikir dia bisa terus bermain-main di wilayah kekuasaanku."
Pria misterius itu menegakkan posisi duduknya, menatap Bram dengan pandangan yang menusuk. "Bram, berikan perintah mutlak pada tim bayangan sekarang juga."
"Siap, Tuan. Apa instruksi Anda?"
"Awasi mata-mata Katya itu. Jangan biarkan dia melangkah terlalu dekat atau menyentuh Gadis ku seujung kuku pun," perintah pria itu dengan nada dingin tanpa kompromi. "Dan ingat, lakukan ini dalam senyap. Jangan sampai pergerakan kalian memicu keributan yang bisa disadari oleh Katya... atau mengganggu ketenangan Gadis ku."
"Dimengerti, Tuan. Perintah akan segera dilaksanakan," jawab Bram dengan kepatuhan penuh. Ia menghentikan penjelasannya di sana, membiarkan keheningan kembali menguasai ruangan kerja tersebut sementara sang atasan terus memandangi layar tablet.
Pria misterius itu kembali mengamati foto di mana Valerius sedang menggenggam erat tangan Savya yang bergetar di atas bangku taman. Sebuah senyuman tipis yang sangat samar dan sarat akan misteri terukir di sudut bibirnya. Di mata bawahnya, senyuman itu akan terlihat seperti kepuasan seorang dalang besar yang melihat rencana terselubungnya berjalan mulus.
"Semua ini bergerak tepat di waktu yang seharusnya," ucap pria misterius itu, suaranya terdengar sangat tenang namun dipenuhi teka-teki yang mendalam. "Kehadiran Valerius di sana akan menjadi benteng yang sempurna bagi gadis kecilku. Pria itu tidak akan membiarkan bahaya apa pun mendekat."
Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi kulit, membiarkan kegelapan malam menelan sebagian besar siluet tubuhnya. "Biarkan Katya terus menekan dengan caranya yang bodoh. Semakin dia mencoba meneror, maka semakin rapat pula takdir akan membawa gadis kecilku untuk mencari perlindungan pada Valerius. Kita hanya perlu mengawasi dari tempat ini, memastikan tidak ada satu pun gangguan luar yang merusak ritme yang sedang berjalan."
Pria misterius itu kembali menatap posisi duduk berdampingan di atas meja marmer. Tatapannya begitu dalam, menyimpan berjuta makna tersembunyi yang terkunci rapat. "Gadis kecilku mengira bahwa seluruh rentetan peristiwa ini murni sebuah kebetulan yang tidak disengaja. Dia tidak akan pernah tahu, bahwa setiap langkah yang terjadi di bawah teduh taman itu, semuanya adalah bagian dari instruksi yang bergerak di bawah kendaliku."
Ia melambaikan tangan, memberi isyarat pendek. "Pergilah, Bram. Amankan area di sekitar mereka."
"Baik, Tuan. Saya permisi melaksanakan tugas," jawab Bram tegas. Ia membungkuk hormat untuk terakhir kalinya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan kerja, meninggalkan sang penguasa malam sendirian.
Pria misterius itu mengambil tablet digital tersebut, mematikan layarnya hingga ruangan itu kembali dilingkupi kegelapan yang pekat. Di tengah keheningan malam yang mulai mencengkeram kota, ia bergumam lirih dengan nada yang teramat dingin namun sarat akan kemenangan mutlak.
"Permainan ini berjalan sempurna, gadis kecilku... Dan kamu tidak akan pernah bisa lepas dari genggaman pelindung yang sudah disiapkan untukmu."