Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direstui Semesta
Suasana hening meliputi keduanya hingga mobil Dave sampai di pintu gerbang TK milik keluarga Tante Puspa.
"Dia pantang menyerah juga," dengus Dave ketika melihat Edwin yamg sudah berdiri menyandar di badan mobilnya. Untung saja kaca mobilnya tidak bisa membuat orang yang berada di luar mobil melihat ke arah dalam.
Rhea masih setia dengan diamnya, tapi helaan nafasnya terdengar berat ketika.menyadari kehadiran Edwin di depannya.
Ngapain dia.ada di sini?
Perasaan Rhea langsung kurang nyaman begitu melihat Edwin. Tatap mata laki laki itu sangat lapar padanya dan terlalu terang terangan mendekatinya.
Dave aja yang cuek bisa sekurang ajar itu padanya. Apalagi laki laki itu. Membayangkannya saja sudah membuat Rhea merasa risih.
"Kalo kamu suka dengan dia, aku ngga akan melarang. Kalian bisa bersama."
Rhea menatap Dave dengan tatapan meremehkan.
Dia gampang sekali nyerahnya,
Mentang mentang baru ditolak, batinnya mengejek.
Laki laki seperti ini ngga akan bisa diajak susah, kecamnya lagi dalam hati.
Effortless. Rhea terus mencela Dave dalam hatinya.
"Tapi ngga tau juga kalo foto foto kita bocor dan dilihat Edwin." Dave melanjutkan ucapannya dengan makna yang tersirat sangat dalam. Ada ancaman ngga langsung di sana.
Rhea tertegun. Dia sampai lupa dengan foto.foto mesranya dengan Dave. Tapi.dia masih yakin kalo Rhea Talisha ngga akan setega itu padanya. Mereka sudah berteman sangat lama. Pasti yang kemarin dia khilaf. Rhea mencoba tetap berprasangka baik.
Melihat wajah Rhea yang sangsi dengan kata katanya membuat Dave jadi semakin ingin mengejeknya.
Teman seperti itu masih saja dipercaya. Kamu terlalu polos.
"Motif temanmu itu apa sampai kasih foto itu ke papa kamu?"
Rhea menghembuskan nafas panjang. Terpaksa mengatakan alsannya pada Dave.
"Dia cemburu."
Dave menyeringai.
"Kamu kegenitan dengan pacarnya?"
Rhea mendelikkan matanya karena merasa terhina mendengar tuduhan sembarangan Dave padanya.
"Enak aja. Dia salah paham, karena laki laki yang dia taksir itu mau ngantar aku pulang. Padahal sudah ku tolak juga," klarifikasi Rhea sengit. Laki laki di depannya harus tau kebenarannya. Sebenarnya wajar Dave berkata begitu, pertemuan pertama mereka memang terkesan dia yang genit. Dia juga terkesan terlalu mudah didapatkan. Rhea benar benar membenci kebodohannya waktu itu.
"Laki laki yang kalian ributkan itu yang kamu lihat kemaren?" respon Dave langsung cepat tanggap. Teringat ekspresi Rhea yang ngga suka ketika tau ada temannya yang dari Surabaya, tiba tiba berada di Jakarta.
"Iya." Rhea memegang gagang pintu, walaupun enggan.
"Kamu mau laki laki di depan sana ngga mengganggu kamu lagi?" tanya Dave seakan tau yang diinginkan Rhea. Tangannya juga memegang gagang pintunya.
"Maunya." Rhea ngga mau menambah masalah baru lagi di Jakarta. Kondisinya sudah cukup ruwet. Kalo Edwin a
"Oke. Jangan bantah apa pun yang aku katakan dan.lakukan nanti." Dave tidak pedulikan tatapan ingin tau Rhea karena saat ini dia sudah membuka pintu mobilnya.
Rhea juga melakukan hal yang sama walaupun dalam benaknya diliputi perasaan was was. Takut Dave kumat lagi seperti waktu di club. Jantungnya mendadak berdebar kencang.
Edwin tersenyum miring melihat Dave yang keluar dari dalam mobil yang cukup.lama berhenti tadi. Tapi senyumnya menyurut ketika melihat sosok yang dia tunggu ternyata ikut keluar dari mobil Dave juga.
Mereka bersama?
Sejak kapan? Batin Edwin bertanya tanya. Curiga dan ngga percaya bercampur jadi satu
"Nunggu siapa?" tanya Dave pura pura bo-doh. Dia menunggu sampai Rhea berada di dekatnya. Kemudian tangannya dengan santai merangkul bahu Rhea dibawah tatap kaget Edwin.
Rhea yang sudah mengira kalo laki laki ini akan bertingkah gila berusaha tetap tenang. Tapi dalam hatinya mengumpati Dave.
Dia memang ngga bisa dikasih hati.
"Kalian .... pacaran?" tanya Edwin dengan lidah kelu. Harapannya mulai layu.
Beberapa pengantar siswa mulai berdatangan. Sementara para pengajar yang ada di sana mulai terpecah perhatian mereka, antara melihat siswa atau mengawasi Rhea. Karena saat ini Rhea seolah sedang direbutkan oleh dua orang laki laki high class. Tongkrongannya juga mobil mewah semua. Mereka juga tau kalo salah satu laki laki tampan itu kerabat dari pemilik TK ini.
"Iya," jawab Dave tenang sambil menatap tajam.Edwin. Rhea ngga membantah, karena memang keinginannya agar Edwin cepat menjauhinya. Walaupun terpaksa menggunakan cara seperti ini.
Edwin menarik nafas dalam dalam. Mencoba memberi oksigen pada organ vitalnya yang hampir berhenti berdetak. Semangat bersaingnya dari Dave yang awalnya menggebu gebu kini sirna sudah. Hanya saja ini terlalu cepat. Dia jadi curiga kalo keduanya sudah lama berhubungan secara diam diam.
"Selamat kalo begitu." Edwin mencoba bersikap.gentleman menerima hubungan keduanya dengan lapang dada.
Dave menyambut uluran tangan kaku Edwin.
"Thank's." Dalam hati Dave mau tertawa karena melihat wajah pucat Edwin.
Edwin tersenyum getir setelah jabat tangan mereka terlepas.
"Kapan nikahnya?" tanya Edwin masih belum rela.
"Secepatnya."
Rhea hampir saja protes, tapi ingat kalo Dave melakukan ini juga atas ijinnya.
Uuuggghh... Dia merasa Dave sudah terlalu jauh. Tapi demi Edwin tidak merasa curiga, Rhea berekspresi tenang.
Jangan sampai gagal, Rhea, batinnya memberi ingat.
"Aku nunggu undangan nikah kalian, ya," ucapnya berusaha sebiasa mungkin.
"Nanti dikabari."
Rhea merasa sandiwara ini sudah saatnya berakhir.
"Aku ke tempat para guru, ya."
Dave mengangguk sambil menjauhkan tangannya dari Rhea.
Belum juga Rhea melangkah pergi sebuah mobil yang sangat Dave kenal memasuki gerbang sekolah. Jantungnya berdebar keras.
"Om Dave.....!" Ketiga keponakan cantiknya berseru kencang. Anaknya Jayden dan anak kembarnya Jennifer, kini berlari riang ke arahnya.
Yang paling menakutkan Dave, ternyata opanya, Opa Hendy juga ikut turun dari mobil dengan wajah sangat cerah sambil terus melihat ke arahnya.
Dave melambaikan tangannya pada ketiga keponakannya dengan wajah segembira mungkin walau perasaannya kini jadi ngga tenang. Dia ngga nyangka ternyata semesta mengabulkan keinginannya secepat ini.
Sementara Rhea masih ingat tentang opanya Dave yang kemarin digosipkan teman teman pengajarnya untuk dia nikahi.
Kenapa kebetulan sekali? keluhnya dalam hati.
salahkan papamu Rhe, coba ide konyol perjodohan itu ga ada pasti ga akan ada perpisahan yg tertunda begini, kesian ibu dan anak terpisah...