NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 22

Seminggu kemudian, Amelia dan Emi masih berada di rumah Keluarga Harrison. Mulanya, Amelia ingin pulang di Senin siang, tapi Anna memintanya menginap satu malam lagi dengan alasan ingin lebih lama bersama Emi. Amelia menuruti permintaan itu, lalu satu malam berubah menjadi satu minggu.

Jujur saja, Amelia cukup betah tinggal di rumah Keluarga Harrison. Kediaman satu lantai itu menurut Amelia sangat luas. Ada banyak ruangan di dalamnya, 3 kamar utama dan 2 kamar tamu serta 3 kamar ART, juga ada ruang kerja, perpustakaan, ruang bermain yang mulanya adalah ruang duduk, tapi setelah ada Emi disulap jadi ruang bermain, dan beberapa ruang lainnya.

Ada taman yang cukup luas diisi berbagai tanaman bunga. Di bagian belakang terdapat gudang untuk menyimpan perkakas. Ditambah halaman depan yang terhubung dengan garasi.

Rumah itu jauh lebih luas dari rumah Amelia, tapi terasa nyaman dan hangat. Terutama karena orang-orang di dalamnya menyambut Amelia dan Emi dengan hangat.

Anna mengusulkan untuk dilakukan pesta pertunangan. Namun, Caelan menolak (karena permintaan Amelia) dan mengusulkan agar langsung diadakan pesta pernikahan. Meskipun awalnya Anna kurang setuju, tapi Caelan berhasil membujuk Anna. Hasilnya, upacara pernikahan akan diadakan tiga bulan lagi. Tepatnya, pada bulan Desember satu bulan setelah ulang tahun Emi.

Upacara pernikahan rencananya akan dilakukan di rumah pada pagi hari minggu pertama Desember, dan resepsi dilaksanakan setelahnya dengan konsep intimate wedding.

Amelia yang menginginkan pernikahan tanpa banyak tamu dengan konsep sederhana dan Caelan menyetujuinya. Anna mulanya memprotes, ingin acara resepsi dilakukan di ballroom hotel. Anna merencanakan setidaknya mengundang 500 tamu. Namun, pada akhirnya Anna setuju hanya mengundang sekitar 100 tamu saja.

Amelia tidak punya banyak orang untuk diundang ke pernikahannya. Setelah memikirkan beberapa hari, Amelia hanya mendaftar 20 orang untuk diundang. Beberapa adalah tetangga terdekat, dua teman kuliahnya, dan seorang paman yang merupakan saudara tiri ayahnya.

“Kau bisa mengundang lebih banyak orang,” ujar Caelan setelah melihat daftar tamu Amelia.

“Aku tidak punya banyak teman, keluarga juga hampir tidak ada,” jawab Amelia. “Hanya orang-orang ini yang terpikirkan.”

“Kalau kau ingin menambahnya, katakan saja,” kata Caelan sambil menyimpan daftar tamu Amelia. “Dan satu hal lagi, sekarang kau punya keluarga. Ada aku dan orangtuaku, kami adalah keluargamu.”

Amelia langsung memeluk erat Caelan. “Terima kasih sudah hadir dalam hidupku.”

Karena mempersiapkan pernikahan, Amelia tinggal di rumah Keluarga Harrison, dan Caelan juga sama. Pria itu jadi sering menginap agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Amelia dan Emi.

 

Sebulan sebelum pernikahan, tepatnya di hari ulang tahun Emi, Caelan membawa Amelia dan Emi mengunjungi sebuah rumah yang tidak jauh dari rumah orangtua Caelan. Sebuah rumah mungil dengan tiga kamar dan halaman samping dan belakang yang cukup luas. Rumah itu dikelilingi pagar setinggi 2 meter, terlindungi dari dunia luar, tapi terasa hangat dan nyaman.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Caelan setelah mengajak Amelia berkeliling.

“Rumah yang indah, dari depan kelihatan mungil tapi ternyata dalamnya cukup luas dan terasa hangat. Halamannya luas bisa menanam berbagai tanaman, memasang ayunan, bahkan bisa dipakai sebagai tempat piknik.” Amelia mengemukakan pendapat tentang rumah itu. “Ini rumah siapa?”

“Kalau kau suka, ini rumah kita,” jawab Caelan.

Mata Amelia membulat tidak percaya. “Benarkah? Kita akan tinggal di sini?”

“Jika kau suka,” jawab Caelan. “Kau tidak masalah kan jika harus pindah ke Amber?” tanya Caelan hati-hati.

“Kita sudah membicarakannya, kan? Aku sudah bilang akan tinggal bersamamu di tempat yang kau pilih,” jawab Amelia.

“Dan aku bilang, hanya akan tinggal di tempat yang membuatmu nyaman.”

Kata-kata Caelan membuat Amelia langsung mencium pipi Caelan. Ia ingin memeluk Caelan, tapi pria itu sedang menggendong Emi.

“Lihat, Emi, rumah baru kita,” ujar Amelia pada Emi.

“Kalau kau suka, aku akan langsung menghubungi agen untuk mengurus surat-surat pembelian,” ujar Caelan ragu-ragu.

Amelia menatap Caelan. “Kenapa? Ada masalah?” tanyanya.

“Sebenarnya, ada dua rumah lain yang ditawarkan agen properti. Kau ingin melihatnya dulu sebelum memutuskan?” Caelan menawarkan.

Amelia berpikir sebentar sebelum menjawab. “Aku memang sangat suka rumah ini, tapi tidak ada salahnya melihat dua rumah lainnya.”

Setelah melihat dua rumah lainnya, Amelia tetap memilih rumah yang pertama. Karena rumah pertama paling mewakilkan rumah impian Amelia.

 

Setelah pertemuan dengan Caelan, Amelia terasa seperti berada di alam mimpi. Kehidupan Amelia yang sebelumnya berada di ujung tanduk dengan berbagai permasalahan yang datang silih berganti, saling menumpuk, sampai membuat Amelia sempat berpikir mengakhiri hidup, berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kehidupan yang diimpikan banyak wanita.

Tidak hanya mendapatkan pendamping yang begitu pengertian dan supportif, tampan, kaya, dan punya karier bagus. Amelia juga mendapatkan mertua yang sangat baik. Amelia mendapatkan keluarga baru yang sangat menyayanginya.

Jika di awal tahun, Amelia sangat khawatir pada masa depan Emi. Sekarang hal itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. Karena Emi bukan hanya memiliki Amelia sebagai pengganti ibu, tapi juga ada Caelan yang siap menjadi ayah Emi. Lalu ada kakek dan nenek yang sangat menyayangi Emi.

Lalu masalah hutang Amelia juga sudah banyak berkurang. Amelia bisa mencicil hutang dari uang hasil kerjanya. Meskipun Caelan menawarkan untuk melunasi semua hutang itu, tapi Amelia menolaknya. Amelia merasa sudah banyak tanggung jawab yang diambil Caelan darinya. Jadi, untuk masalah hutang, Amelia ingin melunasinya sendiri, meskipun masih perlu waktu 2 sampai 3 tahun lagi.

 

Hari ini, seminggu sebelum pernikahan, Amelia kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang yang ingin dibawa ke rumah baru. Kardus-kardus sudah terisi, tidak banyak, hanya sekitar sepuluh kardus yang Amelia siapkan, karena memang tidak banyak barang yang ingin dibawa.

Amelia tidak memerlukan banyak barang, karena Caelan sudah menyediakan hampir semua kebutuhannya dan Emi. Pakaian-pakaian lama tidak akan dibawa Amelia, tapi akan disimpan dalam kardus untuk disumbangkan karena masih layak pakai. Caelan sudah memenuhi lemari pakaian di rumah baru dengan baju-baju baru untuk Amelia dan Emi.

Perabotan di rumah baru juga sudah diisi dengan produk baru yang dikirim dari toko-toko yang Amelia kunjungi bersama Caelan di sela-sela sibuknya persiapan pernikahan mereka. Jadi, perabotan lawas di rumah Amelia akan tetap ada di sana.

Amelia sudah mengemas dua kardus pakaian lama dan dua kardus berisi benda-benda yang ingin dibawa ke rumah baru, saat tumpukan surat yang diambil dari kotak surat dan paket yang ada di depan rumah menarik perhatiannya.

Amelia hendak memilah surat-surat itu, tapi ponselnya berbunyi. Telepon masuk dari Caelan. Amelia menjawab panggilan telepon itu.

“Kapan kau pulang?” tanya Caelan yang mengganti panggilan suara menjadi panggilan video.

“Aku sudah selesai berkemas, tinggal memasukkan kardus-kardus ke mobil,” jawab Amelia sambil memasukkan semua surat ke dalam sebuah tote bag. Amelia berencana memilah surat-surat itu saat perjalanan kembali.

“Berapa kardus? Kalau banyak, hubungi jasa angkutan saja.”

Amelia mengarahkan kamera ke dua kardus yang hendak dibawanya. “Hanya dua kardus, bisa dimasukkan di bagasi.”

Caelan mengernyit. “Kardusnya besar.”

“Tenang saja, kardusnya ringan hanya berisi album foto, beberapa figura, dan lukisan juga beberapa hiasan dinding. Kardus satunya berisi surat penting, ijazah, dan beberapa buku.”

“Kedengarannya berat.” Wajah Caelan masih tidak terlihat tenang.

“Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya,” jawab Amelia. “Sudah dulu ya, masih banyak yang perlu kukerjakan. Satu jam lagi sopir pengganti akan datang untuk mengantarku ke Amber. Aku harus menyelesaikan packing dan bersih-bersih sebelum dia datang.”

“Baiklah, kabari aku saat kau berangkat. Hati-hati di jalan, kami di sini menunggumu.”

Amelia melambai dan mengucapkan salam perpisahan, lalu mematikan telepon, dan kembali menyelesaikan kesibukannya.

Satu jam kemudian, Amelia sudah berada di perjalanan menuju Amber. Di pangkuannya ada tote bag berisi surat yang rencananya ingin Amelia pilah, tapi karena lelah dan mengantuk, Amelia memilih untuk tidur sepanjang perjalanan. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!