NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:31.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Langit sore itu mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan sesuatu yang akan jatuh entah hujan, atau takdir yang tak bisa dihindari.

Di sudut kafe lantai dua, Nadin duduk dengan tubuh sedikit bersandar. Tangannya berada di atas perutnya yang membesar, mengusapnya perlahan seolah mencoba menenangkan sesuatu atau mungkin dirinya sendiri.

Di hadapannya, secangkir minuman sudah hampir dingin.

Sementara kursi di seberangnya baru saja kosong dan ditinggalkan seseorang. Nadin menatap kursi itu cukup lama. Tatapannya menyimpan sesuatu.

Percakapan yang baru saja terjadi masih terngiang di kepalanya. Kata-kata yang seharusnya tidak ia dengar hari ini. Jemarinya perlahan menggenggam ujung bajunya sendiri.

“Kenapa harus sekarang…” bisiknya hampir tanpa suara. Bayi di dalam kandungannya bergerak kecil. Nadin tersentak pelan, lalu langsung mengusap perutnya dengan lembut.

“Iya … iya … Mama di sini,” gumamnya, berusaha tersenyum. Namun, senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Ia menarik napas panjang lalu meraih ponselnya. Nama yang muncul di layar membuat hatinya sedikit lebih tenang.

Ia menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, panggilan itu terangkat.

[Halo, Kak?] Suara ceria itu terdengar kontras dengan kondisi Nadin saat ini.

“Arsyi…” suara Nadin pelan, sedikit bergetar. “Kamu lagi di mana?”

[Lagi di jalan sih. Kenapa? Kakak kok kayak capek banget?]

Nadin menoleh sekilas ke arah tangga di ujung ruangan, lalu kembali menunduk.

“Bisa jemput Kakak di kafe?”

[Hah? Kakak sendirian?]

“Iya … Harsa tadi cuma antar, sekarang sudah balik kerja.”

Ada jeda singkat, Arsyi seperti menangkap sesuatu dari nada suara kakaknya.

[Kak … kamu kenapa?]

Nadin terdiam, lalu menjawab pelan, “Nggak apa-apa. Cuma … pengen pulang aja.” Nada suaranya terlalu lemah untuk sekadar disebut lelah.

Arsyi langsung berdiri dari tempatnya meski Nadin tak bisa melihat.

[Oke, tunggu di situ ya! Aku ke sana sekarang. Jangan ke mana-mana!]

“Iya … hati-hati di jalan.”

Telepon terputus.

Nadin menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya di meja. Tangannya kembali ke perutnya.

“Sebentar lagi kita pulang…” bisiknya lirih. Namun, pikirannya masih tertinggal pada percakapan tadi. Pada seseorang yang baru saja pergi. Dan pada sesuatu yang kini terasa salah.

“Maaf, Kak. Mau tambah minumannya?” Suara pelayan membuat Nadin tersadar.

Ia menggeleng pelan.

“Tidak, terima kasih. Saya mau bayar saja.”

Setelah semuanya selesai, Nadin berdiri perlahan. Tubuhnya terasa berat, lebih berat dari biasanya. Ia sempat memegang meja untuk menyeimbangkan diri.

“Pelan-pelan…” gumamnya. Ia melangkah menuju arah tangga, langkahnya hati-hati.

Ia berhenti sejenak di ujung tangga lantai dua. Tangannya meraih pegangan di sisi kanan. Matanya sempat menatap ke bawah.

“Santai … pelan-pelan…" langkah pertama aman dan langkah kedua masih stabil. Namun, saat langkah ketiga bayangan percakapan tadi kembali muncul.

Kakinya terpeleset.

“Ah!” Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Tangannya berusaha meraih pegangan, tapi sia-sia.

Tubuh Nadin terguling menuruni tangga. Satu demi satu anak tangga menghantam tubuhnya tanpa ampun. Suara benturan keras membuat seluruh isi kafe terdiam dan lalu panik.

“Ya Tuhan!”

“Ibu hamil jatuh!”

“Tolong! Cepat!”

Tubuh Nadin terhempas di dasar tangga. Tangannya gemetar mencoba menyentuh perutnya.

“Anak … ku…” lirihnya.

Di luar kafe.

Mobil Arsyi berhenti mendadak. Ia bahkan tidak sempat mematikan mesin dengan benar. Sabuk pengaman dilepas asal, pintu dibuka cepat.

Jantungnya berdegup tak normal. Perasaannya tidak enak sejak tadi, begitu masuk ke dalam kerumunan terlihat orang-orang berdesakan.

Suara panik terdengar di mana-mana.

“Permisi! Permisi—”

Arsyi menerobos masuk, mendorong orang-orang dengan panik.

“Ada apa ini? Minggir, tolong—” langkahnya terhenti dan napasnya tercekat.

“K… Kak?” Suara itu pecah begitu saja.

“Kak Nadin!” Arsyi jatuh berlutut di sampingnya. Tangannya gemetar hebat saat memegang wajah pucat itu.

“Kak! Dengar aku! Ini aku … Arsyi!"

Kelopak mata Nadin bergerak pelan, pandangan kaburnya mencoba fokus.

“Ar… syi…”

“Iya! Aku di sini! Kamu harus kuat, Kak!” tangis Arsyi pecah. Tangan Nadin yang dingin mencengkeram lemah lengan adiknya.

“Anak … ku…”

Air mata Arsyi jatuh deras.

“Iya! Kita selamatkan! Kakak dan bayinya harus selamat! Kita ke rumah sakit sekarang!”

Seseorang berteriak, “Pendarahannya parah! Cepat bawa ke rumah sakit!”

Arsyi langsung mengangguk panik.

“Iya! Tolong bantu aku!”

Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Nadin. Namun, setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan.

“Aaah!”

“Maaf, Kak … maaf…” Arsyi tak berhenti menangis.

Di dalam mobil ambulan yang sudah tiba. Tangan Arsyi gemetar di setir.

“Kak … jangan tidur, Kak! Dengar aku!” suaranya pecah.

Nadin hampir tak sadarkan diri, napasnya semakin lemah.

“Mas Har … sa…” lirihnya.

Arsyi langsung meraih ponsel dengan satu tangan.

“Iya! Kita hubungi Kak Harsa sekarang!”

Telepon tersambung.

[Hallo?] suara Harsa terdengar.

Arsyi menangis.

“Kak Harsa … Kak Nadin jatuh … darahnya banyak banget…”

Suaranya langsung panik.

[Apa?! Kalian di mana?!]

“Menuju rumah sakit! Tolong cepat ke sana!”

[Aku ke sana sekarang!]

Telepon terputus.

Arsyi kembali fokus ke arah Nadin, air matanya tak berhenti.

“Kak … kita hampir sampai…”

Suara sirine ambulans memecah langit sore yang mulai gelap. Namun, bagi Arsyi, suara itu terasa seperti dentuman yang menghantam dadanya berkali-kali.

“Cepat … tolong cepat…” lirihnya berulang, hampir seperti doa.

Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, pintu langsung terbuka. Beberapa tenaga medis bergegas menghampiri.

“Pasien hamil, pendarahan hebat!” teriak seorang petugas. Nadin segera dipindahkan ke brankar, tubuhnya lemah.

Arsyi turun dengan langkah sempoyongan, tangannya gemetar hebat.

“Kak … Kak Nadin … jangan tinggalin aku…” tangisnya pecah.

Seorang perawat menahan Arsyi.

“Maaf, Mbak. Kami harus segera menangani pasien.”

“Tidak! Aku ikut! Itu kakak aku!” Arsyi meronta.

“Silakan tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik.”

Pintu ruang gawat darurat tertutup.

Dan di situlah, dunia Arsyi terasa runtuh. Ia berdiri diam beberapa detik lalu tubuhnya melemas, jatuh terduduk di lantai. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan.

Langkah kaki tergesa terdengar dari ujung lorong.

“Arsyu!”

Arsyi menoleh.

Pria itu datang dengan napas terengah, wajahnya pucat, matanya dipenuhi ketakutan yang tak bisa disembunyikan.

“Arsyi! Di mana Nadin?!” suaranya bergetar. Arsyi berdiri, lalu langsung memeluknya sambil menangis, meskipun Harsa tak membalas pelukan itu.

“Kak … Kak Nadin di dalam … darahnya banyak banget … aku takut…” suaranya hancur.

Harsa menegang.

“Dia … jatuh?” tanyanya pelan, seolah takut dengan jawaban yang akan ia dengar.

Arsyi mengangguk cepat.

“Dari tangga … aku lihat sendiri … dia sudah di bawah … penuh darah…”

Harsa menutup matanya sejenak, dunia terasa gelap. Namun, ia memaksa dirinya tetap berdiri.

“Dia kuat…” gumamnya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri. “Nadin pasti kuat…”

Lampu ruang operasi menyala merah.

Harsa duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Kepalanya tertunduk, bahunya naik turun menahan sesuatu yang hampir meledak. Arsyi duduk di sebelahnya, masih terisak.

Beberapa saat kemudian, dua orang datang. Tuan Hendra dan Nyonya Ratih. Disusul oleh seorang wanita paruh baya dengan wajah penuh kecemasan Bu Hana.

“Ibu…” suara Arsyi langsung pecah lagi.

Bu Hana menghampiri dengan langkah gemetar.

“Arsyi … mana kakakmu?”

Arsyi menunjuk ke arah ruang operasi.

“Di dalam, Bu … kondisinya parah…”

Bu Hana menutup mulutnya, air mata langsung mengalir.

“Ya Allah … Nadin…”

Nyonya Ratih mencoba menenangkan.

“Kita doakan yang terbaik…”

Beberapa jam kemudian, seorang dokter keluar dari ruang operasi.

Semua langsung berdiri.

“Dok, bagaimana kondisi istri saya?” tanya Harsa cepat.

Dokter itu menarik napas.

“Pasien mengalami pendarahan hebat akibat trauma. Kami harus melakukan operasi darurat untuk menyelamatkan bayi.”

Harsa menegang.

“Dan istri saya?”

“Kami sedang berusaha semaksimal mungkin. Tapi kondisinya kritis.” Kalimat itu enghancurkan segalanya.

“Tidak…” Harsa menggeleng pelan. “Tidak … dia harus selamat…”

Dokter menatapnya dengan serius.

“Kami butuh persetujuan untuk tindakan lanjutan. Kemungkinan terburuk … kami harus memilih.”

“Memilih?” suara Harsa nyaris tak terdengar.

“Ibu atau bayinya.” Dunia benar-benar berhenti, air mata Arsyi kembali jatuh.

Bu Hana menangis histeris.

“Jangan … jangan ambil anak saya…”

Harsa mundur satu langkah, tangannya gemetar.

“Keduanya…” suaranya serak. “Saya mau keduanya selamat…”

Dokter menggeleng pelan.

“Kami akan berusaha, tapi Anda harus siap dengan segala kemungkinan.”

Harsa menatap pintu operasi, matanya memerah.

“Nadin … kamu harus bertahan…” bisiknya.

Beberapa waktu kemudian, tangisan bayi terdengar, semua orang terdiam. Seorang perawat keluar sambil menggendong bayi kecil.

“Bayinya selamat, perempuan.”

Air mata langsung jatuh, Arsyi mendekat.

“Kak … anaknya Kak Nadin…”

Harsa tidak bergerak. Tatapannya masih terpaku pada pintu ruang operasi.

“Bagaimana … istrinya?” tanyanya dengan suara bergetar.

Perawat itu terdiam, lalu berkata pelan, “Masih kritis.”

Beberapa saat kemudian, Harsa diperbolehkan masuk.

Ruang itu sunyi, hanya suara alat medis yang berbunyi pelan, Nadin terbaring lemah.

“Mas Harsa…” suaranya hampir tak terdengar.

Langkah Harsa mendekat, tangannya langsung menggenggam tangan dingin itu.

“Nadin … aku di sini…” Air mata jatuh.

“Maaf … aku terlambat…”

Nadin menggeleng pelan.

“Tidak … kamu… selalu ada…”

Harsa menahan tangisnya.

“Kamu harus sembuh … kita pulang … sama-sama … sama anak kita…”

Nadin tersenyum tipis, senyum yang menyakitkan.

“Anak kita … selamat?”

“Iya … dia selamat … perempuan…” suara Harsa bergetar.

Air mata Nadin jatuh.

“Alhamdulillah…”

“Nikahi … Arsyi…”

Harsa membeku.

“Apa?”

“Nikahi … adikku…” suara Nadin semakin lemah. “Untuk … anak kita…”

“Tidak.” Harsa langsung menggeleng keras. “Aku tidak mau, aku cuma mau kamu.”

“Mas Harsa…” Nadin menggenggam tangannya sedikit lebih kuat. “Dia … orang yang aku percaya…”

“Tidak! Jangan bicara seperti ini!” suara Harsa mulai pecah. “Kamu tidak akan ke mana-mana!”

Air mata Nadin terus mengalir.

“Janji … padaku…”

“Aku tidak bisa!” Harsa menangis. “Aku tidak bisa gantikan kamu dengan siapa pun!”

“Mas Harsa…” napas Nadin tersengal. “Anak kita … butuh ibu…”

“Aku bisa jaga dia! Aku bisa sendiri!”

Nadin menggeleng lemah.

“Tidak … dia butuh … kasih sayang…”

Harsa menutup matanya, air matanya jatuh tanpa henti.

“Nadin … jangan paksa aku…”

Namun, Nadin tetap menatapnya, tatapan yang memohon, tatapan terakhir.

“Janji…” Suara itu nyaris hilang.

Dan di luar, keluarga yang berdiri di ambang pintu mendengar semuanya. Termasuk Arsyi, tangisnya pecah dan di dalam Harsa terdiam lama.

“Iya…” lirihnya. “Aku janji…”

Senyum tipis terukir di bibir Nadin, seolah semua beban telah dilepaskan.

“Mas Harsa…”

“Iya … aku di sini…”

“Terima kasih…” Dan bunyi alat itu berubah menjadi suara yang panjang.

“Nadin?” suara Harsa bergetar.

“Nadin?” Tangannya digenggam lebih erat.

Namun, tak ada balasan.

“Nadin … bangun…” suaranya pecah. “Aku sudah janji … kamu harus bangun…”

1
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
Endang 💖
haraa siap2 kau di bodohin sama sekertaris mu, atau jgn2 pembatalan bisnis ini juga rencana dari rina
Nanik Arifin
Rina skretaris, tahu & sering berhubungan dg mitra" perusahaan. Rina dibalik pembatalan kerjasama.
caramu sungguh busuk, Ran
Nanik Arifin
Ayuk Harsa, kasih celah sekretarismu yg jatuh hati pdmu sejak dlu celah tuk masuk. biarkan rumah tanggamu, anakku & keluargamu hancur oleh hasutan Rani
Fitra Sari
lanjut Thor doubel up donk
mama
CEO ter oon masuk jebakan🤣..mudah2 jebakan ny berjalan dgn lancar,dan perceraian segera datang harsa..semangat buat rina..gas pool buat CEO goblok masuk perangkap mu..jgn ksih celah buat gagal🤣..baru kali ini baca nopelll CEO nny oon bin goblok🤭..gak punya detektip ato asisten apalagi kaki kan buat hendel masalah2 darurat🤣
neny
klau pun di beri obat perangsang,,smg dia lampiaskan sm istri nya
neny
smg harsa tdk terjebak ya sm ulat keket itu,💪💪😘
Teh Euis Tea
takutnya si harsa di jebak si rina minum obat perangsang
Rarik Srihastuty
fix ini akal2an Rina buat jebak di harsa
Ita rahmawati
fix kamu dikadalin SM buaya betina harsa² 🤦
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂
Ikaaa1605
Yyyaaahhh dasar licik emng si rina
Dewi
si Rina keliatannya aja baik tpi dibelakang ada niat jahat
Aditya hp/ bunda Lia
Kan sudah jelas ini ulah si Rina dan dia mau ngejebak si idiot Harsa dasar CEO oon ntar kamu di kasih minum obat setan ....
Valen Angelina
smua kerjaan Rina ini mah.... liat pak harsa gmn cara atasinya....
axm
jangan jadi orang bodoh harsa,harus harsa jeli gerak gerik rina 🤭
Maryati ramlin
dobel up
Naufal Affiq
kalau kau percaya dengan omongan rina,berarti kau harsa orangbudik
Valen Angelina
pasti arsy yg disalahkan wkwkkw....
Eva Karmita
ini sudah pasti ulahnya si rina sekertaris gatal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!