NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilas Balik Ibu

​Sisa-sisa kehangatan ciuman di balkon semalam mendadak menguap saat Briella terlelap dalam tidur yang gelisah. Di bawah selimut sutra yang dingin, napasnya mulai tersengal, membawa jiwanya kembali ke masa lalu yang paling ingin ia lupakan. Bayangan sebuah ruangan sempit yang lembap dan berbau obat-obatan murahan mendadak muncul begitu nyata.

​Dalam mimpinya, Briella melihat sosok ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang kayu yang reot. Wajah wanita itu pucat pasi, matanya cekung, dan tangannya yang kurus kering mencoba menggapai tangan Briella kecil. Suara batuk yang menyesakkan dada terdengar beradu dengan suara hujan yang menghantam atap seng bocor.

​"Briella, maafkan Ibu yang tidak bisa memberimu kehidupan layak," bisik sosok ibunya dalam mimpi itu dengan suara yang nyaris hilang.

​"Jangan bicara begitu, Bu. Aku akan mencari bantuan, aku akan membelikan obat yang mahal untukmu," jawab Briella kecil sambil terisak, memeluk tubuh ibunya yang terasa sedingin es.

​Bayangan itu mendadak berubah menjadi kilatan lampu rumah sakit yang menyilaukan dan wajah-wajah dingin para perawat di distrik bawah yang mengabaikan mereka. Briella berteriak tanpa suara saat melihat tubuh ibunya ditutupi kain putih tanpa sempat mendapatkan perawatan yang semestinya. Kematian ibunya adalah luka yang menjadi fondasi kebenciannya pada kaum Upper-Chrome.

​Briella tersentak bangun dengan peluh yang membanjiri dahi dan lehernya. Ia terduduk di tengah kegelapan kamar, mencoba meraba dadanya yang berdegup kencang karena sisa ketakutan dari mimpi buruk tersebut. Air mata jatuh tanpa bisa ia bendung, membasahi bantal yang masih menyisakan aroma parfum cendana milik Geovani.

​"Ibu... maafkan aku," lirih Briella sambil memeluk lututnya, merasa berdosa karena sempat menikmati momen manis bersama pria yang menjadi bagian dari kelas sosial yang menindas ibunya.

​Pintu kamar terbuka pelan, memperlihatkan siluet Geovani yang tampaknya baru saja kembali dari ruang kerjanya. Pria itu menyadari napas Briella yang tidak beraturan dan segera menghampirinya tanpa menyalakan lampu utama. Ia hanya menyalakan lampu temaram di sudut ruangan, memberikan suasana remang yang tenang.

​"Kau bermimpi buruk lagi? Suaramu terdengar sampai ke lorong," ujar Geovani sambil duduk di tepi ranjang, memperhatikan mata Briella yang sembab.

​Briella menghapus air matanya dengan kasar, berusaha mengembalikan topeng ketegarannya yang sempat retak. "Hanya mimpi tentang masa lalu. Bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan, Dokter. Bukankah kau hanya peduli pada janin ini?"

​Geovani terdiam sejenak, ia mengamati jemari Briella yang masih gemetar karena trauma yang baru saja muncul kembali. "Mimpi yang membuatmu memanggil namamu sendiri dalam tangisan biasanya bukan sekadar bunga tidur. Kau menyebut tentang Ibu semalam."

​"Jangan lancang mencampuri urusan pribadiku di luar kontrak penelitian ini, Geovani!" sentak Briella, meskipun suaranya terdengar rapuh dan pecah.

​Geovani tidak membalas sentakan itu dengan kemarahan, ia justru menunjukkan ketertarikan yang tidak biasa pada raut wajah Briella. "Riwayat medis ibumu menarik perhatianku sejak awal. Aku melihat ada pola yang tidak biasa dalam catatan kematiannya yang sempat dihapus dari arsip publik distrik bawah."

​"Apa yang kau lakukan? Kau berani menggeledah sejarah keluargaku?" Briella menatap Geovani dengan sorot mata penuh kecurigaan dan kemarahan yang membara.

​"Aku adalah ilmuwan, Briella. Untuk menjaga kelangsungan hidup anak kita, aku harus tahu setiap risiko genetik yang mungkin turun darimu," sahut Geovani sambil berdiri dan berjalan menuju meja nakas untuk mengambil tablet digitalnya.

​Geovani menyalakan layar tablet tersebut dan memperlihatkan beberapa grafik medis kuno yang tampak seperti data laboratorium yang sangat rahasia. "Ibumu tidak mati karena penyakit biasa. Dia adalah bagian dari eksperimen medis gagal di distrik bawah dua puluh tahun lalu."

​"Kau bohong! Dia sakit karena kelelahan dan kurang gizi karena sistem yang kalian bangun!" teriak Briella, ia mencoba merebut tablet itu namun Geovani menjauhkannya dengan mudah.

​"Kenyataan memang pahit, Little One. Ibumu menderita degenerasi saraf yang dipicu oleh zat kimia tertentu. Itulah alasan mengapa aku melakukan investigasi medis secara mendalam terhadap riwayat kesehatannya semalaman ini," Geovani menatap layar tabletnya dengan dahi berkerut.

​Briella tertegun, kakinya terasa lemas hingga ia jatuh terduduk kembali di atas kasur. Fakta yang baru saja diungkapkan Geovani merobek luka lamanya dengan cara yang berbeda. Jika ibunya adalah korban eksperimen, maka kebenciannya pada dunia medis kelas atas memiliki dasar yang jauh lebih gelap.

​"Kenapa kau memberitahuku sekarang? Untuk membuatku semakin menderita?" tanya Briella dengan suara yang rendah dan penuh keputusasaan.

​Geovani menaruh kembali tabletnya dan kembali duduk di samping Briella, kali ini ia memberanikan diri menyentuh bahu gadis itu. "Aku memberitahumu karena aku perlu memantau reaksi sel-sel dalam rahimmu. Jika ada jejak kimia itu dalam darahmu, anak ini bisa dalam bahaya."

​"Kau selalu tentang anak ini. Selalu tentang penelitianmu!" Briella menepis tangan Geovani, meski hatinya kini mulai dihantui rasa takut akan keselamatan janinnya.

​"Suka atau tidak, masa lalu ibumu adalah bagian dari dirimu sekarang. Aku akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas eksperimen itu, walau aku harus membongkar kuburan para petinggi medis di Etheria," Geovani berkata dengan nada yang sangat serius.

​Briella menatap mata Geovani, mencari tanda-tanda kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah obsesi yang bercampur dengan sesuatu yang menyerupai perlindungan. Ia merasa semakin terjebak dalam pusaran rahasia yang dibawa oleh Geovani, sebuah labirin yang melibatkan nyawa ibunya dan masa depan bayinya.

​"Investigasi medis ini... apakah ini alasan kau menjadikanku objek penelitianmu yang utama?" tanya Briella dengan nada yang lebih tenang namun penuh selidik.

​Geovani bangkit dari ranjang, membelakangi Briella sambil menatap ke luar jendela yang masih menampakkan sisa salju semalam. "Awalnya memang begitu. Kau adalah kunci dari misteri yang sudah terkubur lama. Tapi sekarang, segalanya menjadi lebih rumit karena aku tidak menyukai variabel perasaan yang mulai muncul."

​"Kau mulai merasa bersalah, Geovani? Iblis sepertimu tidak mungkin punya perasaan itu," sindir Briella, mencoba memprovokasi pria yang telah mengurungnya tersebut.

​Geovani berbalik dengan cepat, wajahnya kembali dingin dan kaku seperti semula. "Bersalah bukanlah istilah yang tepat. Aku hanya tidak suka jika penelitianku terganggu oleh emosi yang tidak stabil. Sekarang tidurlah, aku akan melanjutkan pekerjaanku di laboratorium."

​Geovani melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Briella dalam kesendirian yang lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Briella kembali meringkuk, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk tentang ibunya. Ia menyadari bahwa ia tidak tahu apa pun tentang wanita yang telah melahirkannya, selain kemiskinan dan penderitaannya.

​"Ibu, apa yang sebenarnya terjadi padamu di tangan orang-orang seperti dia?" bisik Briella pada kegelapan malam yang dingin.

​Di lantai bawah, Geovani memasuki ruang bedah pribadinya yang diterangi lampu fluoresens yang tajam. Ia membuka beberapa dokumen fisik tua yang ia dapatkan dari pasar gelap informasi. Matanya menelusuri nama-nama dokter yang terlibat dalam eksperimen dua dekade lalu, dan satu nama membuatnya terdiam cukup lama.

​"Permainan ini ternyata lebih dekat dari yang aku duga," gumam Geovani sambil meremas kertas di tangannya hingga hancur.

​Ia menyadari bahwa melindungi Briella bukan lagi sekadar menjaga "objek penelitian", melainkan melindungi bukti dari kejahatan besar yang melibatkan lingkaran dalamnya sendiri. Ketegangan baru mulai merayap di mansion itu, bukan lagi sekadar antara penculik dan tawanan, melainkan antara rahasia masa lalu dan ancaman masa depan.

​Briella di atas sana tidak tahu bahwa mimpinya semalam telah memicu badai yang lebih besar di kepala Geovani. Sang dokter kini bukan hanya terobsesi pada raga Briella, melainkan terobsesi untuk membalaskan dendam dari sebuah masa lalu yang tidak pernah Briella ketahui keberadaannya.

​Malam kembali sunyi, namun di balik keheningan itu, denting alat medis dan suara ketikan komputer Geovani terus bergema. Investigasi medis ini telah membawa sang iblis ke ambang pintu kebenaran yang bisa menghancurkan tatanan sosial Upper-Chrome yang ia pijak saat ini. Dan Briella, ia hanyalah pusat dari pusaran badai yang baru saja dimulai.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!