NovelToon NovelToon
Gadis Hina

Gadis Hina

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:537
Nilai: 5
Nama Author: KheyraPutri

Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menemui

Mereka terbuai dalam mimpi masing-masing sampai tengah malam. Reina terbangun karena merasakan haus. Saat membuka matanya di depan matanya ia di suguhkan dengan pemandangan wajah tampan,hidung mancung, bibir tipis berwarna merah.

Dia terpaku memandang wajah Bramasta yang wajahnya miring ke arah wajah Reina. Mengulas senyum melihat Bramasta yang sepertinya sangat lelah.

" Belum cukup liatin wajahku ? Aku memang mempesona ya kan ?" Tanya Bramasta yang ternyata ia pura-pura tidur.

Mendengar suara Bramasta, Reina gelagapan sendiri,ia buru-buru memejamkan matanya kembali. Bramasta pun tersenyum melihat Reina yang pura-pura tidur lagi.

" Udah,nggak usah pura-pura...tadi bangun mau ngapain, hem?" Tanya Bramasta yang bangun dan memperhatikan Reina.

Reina membuka matanya kembali dan malu saat di tatap Bramasta dengan tersenyum. " aku haus kak." Jawabnya lirih yang berusaha untuk bangun. Bramasta yang melihat Reina susah bangun pun membantunya terlebih dahulu. Setelah itu ia mengambilkan air minum dalam gelas di meja samping ranjang.

" Makasih kak..." Ucap Reina tersenyum.

" Iya sama-sama...mau sesuatu ? Atau laper ?" Tanya Bramasta lembut.

" Mmmm...ada roti-roti gitu nggak kak aku nggak mau makan makanan rumah sakit." Ucap Reina lirih Karena takut Bramasta akan marah.

" Biar aku cari ke kantin ya siapa tau ada. Tapi jangan kabur lagi." Ucap Bramasta tegas.

" Iya kak...Enggak." Ucap Reina menunduk.

" Ya udah aku keluar bentar ya." Pamit Bramasta berdiri lalu mengacak-acak rambut Reina karena gemas. Ia pun keluar ingin melihat ke kantin ada roti atau tidak,kalau tidak terpaksa ia harus mencari minimarket yang buka di dekat rumah sakit.

Setelah Bramasta hilang dari pandangan Reina pun mengulas senyum." Sabar banget...apa bisa aku mendapatkan hatinya,kak Bram terlalu baik ya Allah tidak pantas orang yang hina sepertiku mendapatkan orang sebaik kak Bram." Gumam Reina lirih, wajahnya mulai merebak jika mengingat dirinya.

" Kalau dia tau aku sudah tidak lagi virgin,pasti dia nggak akan bersikap sebaik ini lagi." Ucap Reina yang terus bermonolog sendiri. Setetes air matanya pun meluncur tidak bisa di cegah.

Ia buru-buru mengusapnya karena pintu terbuka dan menampakkan Bramasta yang sudah kembali membawa sekantong plastik.

" Kok cepet banget kak ?" Tanyanya heran.

" Iya lah kan aku ngilang ke sananya." Ucap Bramasta bercanda.

" Nggak mungkin banget...emang om jin bisa ngilang." Ucap Reina sambil tertawa.

" Iya kalau kamu gosok pipi aku pasti akan datang." Ucap Bramasta membuat kekonyolan karena ia suka melihat Reina bisa tertawa lagi.

" Nggak percaya aku..." Ucap Reina yang masih tertawa.

" Udah nanti sakit perutnya...ini tadi aku nggak tau kesukaan kamu yang rasa apa jadi aku beli semua rasa." Bramasta membuka kantong plastik yang ia bawa tadi.

" Ya Allah kak banyak banget kayak mau ngasih orang sekampung aja..." Reina terkejut tidak habis pikir karena Bramasta membeli lebih dari 15 bungkus roti." Aku semua suka kak..." Jawab Reina memberi tau.

" Ya udah kalau gitu habisin,nggak perlu satu kampung " Ucap Bramasta dengan santai.

" Ya nggak gitu juga kak..." Ucap Reina cemberut mengerucutkan bibirnya.

" Udah jangan di monyong-monyongin bibirnya kayak bebek tu." Bramasta tertawa melihat bibir Reina.

" Iihhhh..." Reina lalu memilih membuka 1 bungkus roti dan memakannya." Kakak nggak mau ?" Tanya Reina karena Bramasta tidak ikut makan padahal sangat banyak.

" Nanti aja,kamu kenyangin dulu baru nanti aku bantu ngabisin kalau kamu udah kenyang." Jawab Bramasta menatap Reina dan tersenyum.

Reina mengunyah roti dengan salah tingkah melihat ke kanan dan kiri karena di tatap terus dengan Bramasta.

" Kak... kalau kak Bram nggak makan terus aku di tatap kayak gini aku nggak enak makan kak." Ucap Reina yang tidak tahan di tatap terus.

" Oh...ok ok kalau gitu aku duduk di sofa ya mau selonjoran dulu." Bramasta berdiri dan menuju sofa.

Ia pun merebahkan tubuhnya di sofa dan perlahan matanya pun tertutup dan terdengar suara dengkuran halus karena memang ia masih sangat mengantuk dan kelelahan.

Reina yang masih memakan roti pun melihat Bramasta yang sepertinya sudah tertidur hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia pun menyimpan kembali roti ke dalam plastik dan menggapai air minum yang tidak jauh dari tempatnya duduk.

Berusaha kembali merebahkan tubuhnya setelah mengisi perutnya karena ia juga sudah mulai mengantuk.

***

Setelah 2 hari di rawat intensif keadaan Reina sudah membaik,saat ini ia menuju ke ruangan neneknya. Infusnya sudah di copot kemarin.

Di antar Rita menuju ke kamar neneknya karena Bramasta harus ke kantor ada meeting yang tidak bisa di wakilkan.

" Maafin Reina ya Tante sudah merepotkan Tante terus menerus." Ucap Reina sambil terus berjalan menyusuri lorong.

" Udah nggak usah di pikirin... lagian siapa yang di repoti sama calon mantu." Ucap Rita cekikikan menutup mulutnya.

Reina hanya tersenyum malu karena Rita selalu menganggapnya sebagai calon mantunya. Mereka sampai di depan kamar nenek Sri. Sebelum masuk mereka di haruskan memakan baju khusus agar tetap steril.

Rita dan Reina pun memasuki ruangan tempat neneknya di rawat. Reina mendekati brangkar di mana neneknya terbaring lemah dengan selang infus dan alat-alat lainnya.

" Nek...Reina datang...nenek apa kabar ?" tanya Reina saat sampai di samping nenek Sri. Reina pun meneteskan airmatanya.

" Bangun nek,aku kangen sama nenek...aku merasa kesepian nek." Lirihnya sambil menggenggam tangan nenek Sri.

" Nenek cepat bangun ya,nanti biar Reina saja yang kerja biar nenek tidak kecapekan."

" Tapi nenek bangun ya,jangan buat Reina menunggu lama." Reina terus berbicara sendiri sambil berlinang air mata.

Rita juga tak kuasa menahan sesak di dadanya ia juga beberapa kali harus mengusap air matanya.

" Udah kita keluar ya." Ajak Rita berusaha meredakan tangisan Reina. Tangisan yang sangat menyayat hati.

Reina pun mengusap air matanya dan berdiri.

" Reina keluar ya nek...besok pagi aku datang lagi, sekarang aku mau pulang melihat rumah." Ucap Reina lembut lalu mencium kening neneknya dan berbalik.

" Ayo Tante..." Ajaknya.

Rita langsung menggandeng tangan Reina keluar dari ruangan nenek Sri. Meraka mencopot baju yang tadi mereka kenakan saat sudah di luar ruangan. Sebelum benar-benar pergi Reina melihat dari kaca kecil yang berada di pintu... melihat neneknya dari luar.

" Sudah...semoga nenek cepat sadar dan sembuh seperti sedia kala ya...Tante dan Bramasta akan mencari pengobatan yang terbaik untuk nenek." Ucap Rita sambil mengusap bahu Reina.

" Makasih ya Tante...pasti nanti Reina akan berusaha buat ganti." Ucap Reina." Saya ingin pulang ke rumah saja Tante." Ucap Reina memberi tau karena tadi Rita mengajaknya untuk menginap di rumahnya.

" Tapi nanti siapa yang jagain kamu sayang ?" Tanya Rita khawatir.

--->>>

1
hanawati sumaharjana
bafhs utk mengusi wkt
hanawati sumaharjana
menarik utk trs diikuti smp tamat nih
Dewi KheyraPutri: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!