Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
GAVELA.... Gavin Elfa...!
Deg......
Aditya membeku....
Sementara di mobil lain, sepanjang perjalanan tiga orang manusia sedang menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan mereka.
"Bu...aku mau tidur, nanti bangunkan aku ya" Elfa hanya mengangguk.
"Aku masih betah di kampung sebenarnya, pengennya sih tinggal beberapa hari lagi. Tapi karena si Hendra kasih kabarnya kaget kayak gini. Jadi balik ke kota juga dadakan harusnya kan sore "
"Ha..ha..ha... Lagian ngapain juga kamu kabur kayak gini sayang ? Dia mau ketemu kamu, ketemu Gavin juga.ya udah biarin aja, lagian untuk apa dia ngotot cari kamu kayak gitu sih ? Tidak ada yang bakal berubah "
"Aku cuma....pengen dia ngerasain gimana rasanya mencari, aku yakin orang orang di kampung bakal kaget banget saat melihat ada seorang pria kelas atas yang masuk kampung kita dengan kemewahan yang bertolak belakang dengan hidup kita di kampung, kehidupan yang sederhana" Kata Elfa.
Steven tersenyum " dan akhirnya dia tahu siapa kamu, gimana kehidupan kamu dan tentang Gavin. Kamu kan bilang, Selama ini, dia tidak tahu apapun tentang Gavin "
"Ya...tapi biarin ajalah, mungkin udah waktunya dia tahu, kalau sekarang Stev sayang, biarkan dia sport jantung dulu.."
"Kamu ini ya, bisa bisanya kayak gitu, keliatan biasa biasa saja tapi bisa bikin orang merangkak mencari sampai kayak gini "
Elfa tersenyum, hening....ada guratan kesedihan di wajahnya.
"Mungkin dia mencari ku karena sesuatu, Stev.."
Steven terdiam, pandangannya lurus menatap jalan.
"Aku tidak percaya dia nekat mencari kamu sampai di kampung sayang, luar biasa "
"Kenyataannya memang seperti itu Stev, kata Hendra dia seperti orang yang tidak waras. Mungkin ingin meluruskan hal yang sudah berkarat " Kata Elfa pelan, setelah mendapatkan pesan dari Hendra, Elfa, Steven dan Gavin yang rencananya pulang sore akhirnya harus kembali ke kota.
"Setelah ini, aku akan biarkan semua nampak perlahan lahan Stev...aku ingin semua terlihat "
"Aku selalu mendukung kamu, Sayang, Kursi di sebelah mu hanya untuk ku. ada aku, kamu tidak sendiri "
"Makasih Stev...." ucap Elfa, Tatapannya kosong. Ingatan kembali pada saat ia melihat wajah Gavin pertama kalinya.
Setitik asa sempat hadir saat ia melahirkan Gavin, Elfa masih berharap dia akan melihat Aditya. Namun beberapa tahun kemudian, dia mendengar Aditya menikahi gadis yang menjadi salah satu alasan Aditya meninggalkan dirinya.
Waktu berjalan, tahun demi tahun berganti. Elfa mati rasa, perlahan lahan. Rasa cinta itu memudar menjadi sebuah kebencian. dan kini dia menyaksikan sendiri bagaimana Aditya seperti orang yang kehilangan akal sehat mencari dirinya.
"Ibu .. Kan ayah udah bilang, panggilannya di ganti. Panggil sayang" suara Gavin menyadarkan Elfa dari lamunannya.
Steven tersenyum tulus pada Elfa" katanya tidur nak ?"
"Aku tidak bisa tidur ayah.."
"Ya udah ayo bangun...."
____
Dari ketinggian, kota yang menjadi tempat tinggal mereka sekarang sudah terlihat
"Kita makan dulu ya, aku lapar Stev... " Ucap Elfa
"Aku udah kangen makan bakso mas Sugeng.." Sambung Gavin.
"Gimana kalau kita mampir di warung bakso mas Sugeng sayang.?"
"Boleh...."
"Yeess... "
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang, memasuki kawasan rumah makan yang tersusun rapi. Tujuan mereka ke warung bakso langganan Gavin sejak ia pindah ke kota.
"Wah lumayan ramai juga tapi aku tidak suka kalau banyak orang " Kata Gavin
"Di dalam kan ada tempat duduk yang di siapkan untuk pembeli yang suka privasi nak "
"Iya Bu, ke sana aja ya "
Elfa mengangguk
"Aku pesen dulu ya sayang..."
"Aku ikut yah, aku mau pesan selera aku ". Di tengah pengunjung warung bakso yang tidak terlalu ramai Gavin mendengar seseorang memanggil namanya.
"Alvaro...."
"Ryan..." Gavin melambaikan tangan pada teman kelasnya, dan saat itu juga Tasya memanggil namanya.
"Gavin......"
Steven menatap dua orang yang memanggil Gavin dengan nama yang berbeda.
"Gavin, kamu di sini juga. Sama siapa ?"
"Iya Tasya, aku sama ibu dan Ayah " Jawab Gavin, tersenyum. Wanita di sebelah Tasya diam terpaku menatap Gavin, ia tidak mengedipkan matanya sama sekali. Wajah Gavin membuat ia tidak bisa melihat ke arah lain.
"Ayah, pak Steven ini ayah kamu ya, Vin.....?" Tanya Tasya terkejut.
"Ya...."
"Tas...tasya, in...ini teman kamu ?"
"iya Mi... Gavin teman sekolahku.." Tasya ingin memperkenalkan Gavin pada ibu nya..tapi....
"Tasya...aku ke sana dulu ya..Ryan udah dulu ya. Aku kelaparan, sampai ketemu besok "
"Ehh.. Iy...ya..Ok..." Jawab Tasya yang melihat perubahan sikap Gavin, selalu menghindar dan Gavin berlalu dari hadapan Tasya
"Jagoan, kenapa temen kamu yang satunya panggil kamu Alvaro?" Tanya Steven
"Di kelas Gavin yang baru, mereka kenal aku dengan nama Gavin..tapi kayaknya itu udah tidak penting lagi "
Steven menatap Gavin " Kenapa?"
"Karena aku suka nama Gavin...." Jawab Gavin cuek, Steven hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Emang ibu sama anak sama aja ya " Steven dan Gavin menuju di mana Elfa berada tanpa mereka sadari sepasang mata terus memperhatikan mereka
Ibu Tasya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, di depannya berdiri Aditya dengan versi muda nya. Dengan gerakan terburu buru ia mengambil ponsel, ingin menghubungkan Chelsea. Namun tatapan ibu Tasya terpaku pada pesan yang pernah ia kirimkan pada Chelsea. Di sana masih ada gambar Aditya berdiri dengan tegap di depan sekolah Tasya.
"Sayang, kamu pernah di jemput sama paman di sekolah?" Tanya ibu Tasya.
"Tidak Mi.... mungkin paman tidak tahu sekolah Tasya di mana, kenapa Mi ?" Jawaban polos anaknya membuatnya semakin penasaran.
"Lalu kenapa Aditya berdiri di sekolah itu, dia seperti sedang menunggu sesuatu" Batin ibu Tasya.
"Ohh tidak sayang, Mami pikir kamu pernah di jemput sama paman Aditya" Dengan rasa penasaran, ibu Tasya tidak menghubungi Chelsea. Ia ingin mencari tahu, ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu tapi takut salah langkah.
"Mbak...Es jeruknya 3 ya, sama tambah pentolan nya dong mbak " Suara Gavin membuat ibu Tasya menoleh seketika. Dengan anggukan kepala Gavin tersenyum menatap ibu Tasya.
"Tidak.... tidak, dia bukan hanya mirip tapi dia adalah Aditya saat masih remaja. Ya Tuhan....apa....?"
"Mi.... Mami kenapa bengong terus dari tadi, tu baksonya baru dikit mami makan "
"Eh..iy..iya sayang, Mami tiba tiba ke inget sesuatu"
Gavin kembali ke tempat Elfa dan Steven, sebuah senyuman yang terlihat seperti sebuah seringai di sudut bibir Gavin.
"Bu, aku nambah pentol lagi. Hari ini aku pengen makan banyak. Udah kangen sama bakso mas Sugeng. Terlebih sama pentolannya. Enak banget "
"Kamu nambah lagi, nak ?" Elfa terkejut..
"Dit.... Kamu bisa habisin pentolan sebanyak ini ? "
"Hahaha ini masih kurang sayang, Pentolan di sini tu enak banget. Biasanya aku ke sini cuman makan pentolan ini "
Elfa menatap Gavin yang sedang menikmati pentolan yang baru di pesan lagi.
"Sayang.... Kenapa liatin Gavin kayak gitu ?" Elfa terkejut, ia menggeleng cepat.
"Apa apaan ini, kenapa semakin kesini Gavin mirip laki laki itu " Batin Elfa.
Steven tersenyum " Tidak usah kaget kayak gitu sayang, ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Ucap Steven sedikit berbisik di telinga Elfa.
Elfa tidak terkejut lagi, Steven selalu tahu apa yang di dalam kepala Elfa.
"Ayo makan sayang, jangan bengong kayak gitu, Alvaro ayo makan banyak" kata Steven---lagi
"Ayah apaan sih, Alvaro itu nama samaran aja ya "
"Hahaha... lagian ngapain pake nama samaran gitu. Tadi temen kamu kayak kaget nama kamu jadi Gavin"
"Tidak ayah, Mereka tahu namanya aku Gavin kok..."
Ibu Tasya berdiri di pembatasan ruang makan Elfa, ia terus menatap Gavin yang sedang makan, Gavin duduk tepat di hadapan Steven dan Elfa.
Gavin mengangkatnya kepalanya, ia melihat ibu Tasya, dan sekali lagi Gavin tersenyum.
"Ayah ibu, sepertinya seseorang sedang melihat kita " Elfa menatap Gavin dengan kening berkerut.
"Apa maksud kamu nak ?"
"Tidak bu, Gavin bercanda kok..."
Steven melihat kebelakang, seorang wanita terus menatap ke arah Gavin..
Steven berbalik dan melihat Gavin.." Sepertinya dia penasaran sama kamu jagoan "
"Kalian ini kenapaa sih....?"
.
.
.
Next.....
Akhir nyaaaaa, bisa update lagi...😂
Selamat membaca readers kesayangan aku 🥰..
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.