NovelToon NovelToon
Pembalasan Sempurna Kirana

Pembalasan Sempurna Kirana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dikhianati hingga mati, Kirana terbangun di masa lalu dengan satu tujuan: membalas dendam pada adik tiri dan mantan tunangannya. Demi merebut kembali warisannya, ia nekat mengikat pernikahan kontrak dengan Adyatma Surya—CEO kejam berdarah naga yang dikutuk. Menawarkan diri sebagai penawar nyawa pria itu, Kirana tak menyadari bahwa kontrak berdarah tersebut justru menjebaknya dalam obsesi gelap sang predator yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Konfrontasi di Atas Awan Mahameru

​Langkah demi langkah di atas kemiringan enam puluh derajat menuju Puncak Mahameru terasa seperti mendaki dinding neraka yang membeku. Pasir dan kerikil vulkanik terus merosot ke bawah setiap kali Kirana dan Adyatma berpijak, membuat kemajuan mereka sangat lambat. Angin malam yang membawa suhu di bawah titik beku tidak mampu mendinginkan paru-paru mereka yang terbakar oleh tipisnya oksigen dan pekatnya aroma belerang.

​Namun, bukan hanya rintangan alam yang harus mereka hadapi. Di lereng pasir yang dikenal sebagai "Pasir Berbisik" ini, bisikan itu bukanlah sekadar gesekan angin. Itu adalah transmisi frekuensi rendah berulang-ulang yang dirancang untuk memecah belah kewarasan manusia.

​"Kau mendengarnya?" geram Adyatma, memegangi sisi kepalanya. Matanya yang tadinya berpendar perak kini berkedip-kedip kembali menjadi biru liar. "Suara ini... ini mencoba memanggil insting primitif naga di dalam diriku. Ia menyuruhku untuk melepaskan semuanya. Membakar semuanya."

​Kirana berhenti, menancapkan tongkat pendakiannya ke dalam pasir. Ia meraih wajah Adyatma dengan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan taktis. "Tatap mataku, Adyatma! Jangan dengarkan suara itu. Itu adalah algoritma malware spiritual yang ditanam kakekku di dalam bebatuan ini. Fokus pada detak jantungku."

​Melalui perangkat komunikasi di telinganya, suara statis Reno terdengar terputus-putus, nyaris tenggelam oleh badai elektromagnetik. "Nyo... Nyonya... sinyal dari... Jakarta... hampir terputus total. Anomali magnetik di kawah... menyedot seluruh bandwidth satelit... Kami tidak bisa..."

​"Reno! Alihkan seluruh sisa daya komputasi ke dalam ekosistem lokal di perangkatku!" teriak Kirana melawan deru angin. "Putuskan koneksi dari server Jakarta! Biarkan aku yang menjadi peladen utama malam ini!"

​Sambungan terputus seketika, meninggalkan desisan kosong di telinga Kirana. Mulai detik ini, mereka benar-benar sendirian. Tidak ada tim taktis, tidak ada peretas dari kejauhan. Hanya Kirana, Sang Ratu Cendana, dan Adyatma, Sang Naga, melawan dewa palsu di singgasananya.

​Kirana memejamkan mata dan mengaktifkan Sastra Cyber secara manual tanpa bantuan cloud. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai hard drive dan nadinya sebagai serat optik. Aroma cendana meledak keluar, menciptakan kubah energi perak kecil yang melindungi mereka dari "bisikan" pasir vulkanik.

​"Ayo," ucap Kirana, napasnya memburu. "Kawah Jonggring Saloko sudah dekat. Aku bisa merasakan detak mesinnya."

​Jantung Jonggring Saloko

​Setelah perjuangan yang terasa seperti keabadian, mereka akhirnya menginjakkan kaki di bibir kawah Jonggring Saloko—titik tertinggi di Pulau Jawa. Pemandangan di hadapan mereka membuat darah di nadi Kirana seolah membeku, bukan karena suhu udara, melainkan karena skala teror yang terbentang di depan matanya.

​Kawah itu tidak lagi berupa lahar berbatu biasa. Seluruh permukaan kawah telah diubah menjadi sebuah instalasi teknologi raksasa. Menara-menara logam hitam menancap langsung ke dalam urat magma, menyerap panas bumi dan mengubahnya menjadi energi murni. Kabel-kabel setebal lengan manusia menjalar seperti urat nadi raksasa, berpusat pada sebuah cincin melayang yang memancarkan cahaya ungu dan merah yang menyilaukan. Inilah "Mesin Mahameru".

​Di tengah-tengah instalasi tersebut, di atas sebuah platform observasi yang terbuat dari kaca dan baja tahan panas, berdirilah Sang Arsitek Agung. Kakek Kirana.

​Pria tua itu mengenakan jubah putih yang berkibar tertiup angin vulkanik. Ia tidak tampak seperti kakek tua yang lemah; tubuhnya tegak, dan wajahnya, meskipun dipenuhi keriput, memancarkan dominasi yang absolut. Di sekelilingnya, berdiri dua belas "Ksatria Kalajengking" elit—cyborg manusia yang telah dihilangkan rasa sakit dan emosinya, sepenuhnya dipersenjatai dengan tombak berfrekuensi gelap.

​"Kau terlambat dua puluh menit dari perhitunganku, Kirana," suara Sang Arsitek bergema tanpa perlu menggunakan pengeras suara, suaranya dikuatkan oleh manipulasi akustik dari mesin di bawahnya. "Tapi aku memaafkanmu. Bagaimanapun juga, darah dagingku akhirnya pulang ke rumah."

​Kirana melangkah maju, membiarkan energi peraknya memancar terang melawan kegelapan kawah. "Rumah ini sudah kotor, Kakek. Kau mengubah pusat spiritual Nusantara menjadi pabrik kehancuran."

​Sang Arsitek tertawa, tawa yang kering dan merendahkan. "Kehancuran? Kau terlalu naif, persis seperti ibumu. Apa yang kau lihat di bawah sana bukan alat penghancur. Itu adalah tombol Reset. Dunia ini sudah terlalu kacau, Kirana. Ekonomi dikendalikan oleh keserakahan, alam dirusak oleh kebodohan. Dengan memicu anomali geomagnetik dari Mahameru, aku akan menghapus seluruh data digital, seluruh sejarah, dan seluruh sistem hutang di bumi. Kita akan memulai dari awal. Dari Tabula Rasa."

​"Dan membunuh jutaan nyawa tak berdosa yang bergantung pada sistem itu?!" balas Kirana dengan amarah yang membara. "Pasien di rumah sakit, pesawat di udara, distribusi makanan—kau akan menjadi pembunuh massal terbesar dalam sejarah kemanusiaan!"

​"Evolusi selalu menuntut pengorbanan," jawab pria tua itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Kau tahu, Kirana? Dewan Tetua Langit awalnya dibangun untuk melindungi pengetahuan ini. Namun, mereka semua menjadi lemah. Mereka sibuk mengumpulkan kekayaan seperti yang dilakukan faksi Zurich. Hanya aku yang tetap pada visi awal. Dan kau... kau memiliki frekuensi Cendana yang sempurna untuk menjadi inti dari mesin ini. Menyatulah dengan mesin ini, dan kau akan hidup abadi sebagai dewi di dunia yang baru."

​Benturan Dua Ideologi

​Adyatma melangkah ke depan Kirana, menghalangi pandangan pria tua itu dari istrinya. "Satu-satunya hal yang akan menyatu malam ini adalah bilah pedangku dengan lehermu, Pak Tua."

​Sang Arsitek menyipitkan mata. "Ah, Sang Naga. Percobaan genetik masa lalu yang paling berhasil, namun paling merepotkan. Kau pikir resonansi perak dengan cucuku membuatmu tak terkalahkan? Ksatria Kalajengkingku diciptakan khusus untuk merobek perisai perak itu."

​Dengan satu isyarat tangan dari Sang Arsitek, dua belas Ksatria Kalajengking itu melesat maju secara serentak. Kecepatan mereka melampaui batas manusia, bergerak seperti bayangan yang terpecah.

​Pertempuran epik pun meletus di bibir kawah yang mematikan itu. Adyatma menyambut serangan mereka dengan ledakan energi yang dahsyat. Pedang peraknya beradu dengan tombak-tombak ungu, menciptakan gelombang kejut yang membuat batu-batu kawah berjatuhan ke dalam magma. Adyatma tidak lagi bertarung dengan amarah buta; ia bertarung dengan presisi seorang komandan. Setiap serangannya diperhitungkan, setiap elakannya sempurna.

​Namun, musuhnya tidak merasakan lelah maupun sakit. Ketika Adyatma memotong lengan mekanik salah satu ksatria, ksatria itu terus menyerang menggunakan sisa tubuhnya yang lain. Mereka adalah mesin pembunuh tanpa jiwa.

​"Adyatma!" Kirana menyadari bahwa suaminya perlahan akan kehabisan tenaga jika harus menghadapi mesin-mesin abadi itu sendirian.

​"Fokus pada mesin utama, Kirana! Biar aku yang mengurus sampah-sampah ini!" teriak Adyatma sambil mementalkan dua ksatria sekaligus dengan tendangan yang memancarkan aura naga raksasa.

​Kirana tahu Adyatma benar. Mengalahkan para ksatria itu tidak akan menghentikan "Reset Global" yang sedang dihitung mundur. Ia harus mematikan Mesin Mahameru dari akarnya.

​Meretas Jantung Mahameru

​Kirana berlari menyusuri pinggiran kawah, menghindari lemparan energi nyasar dan panas lahar yang menyengat wajahnya. Ia menuju ke salah satu terminal kontrol utama yang terhubung ke kabel raksasa penarik magma. Terminal itu terbuat dari batu obsidian yang dipadukan dengan layar sentuh holografik.

​Begitu ia menempelkan tangannya di atas layar, sebuah kejutan listrik yang sangat besar menghantam tubuhnya, membuatnya terpental ke belakang.

​"Sistem ini tidak dirancang untuk diakses dari luar, Anakku!" Sang Arsitek mengejek dari atas platformnya. "Inti mesin ini menggunakan bahasa pemrograman kuno yang tidak ada di cloud atau Drive mana pun yang kau kenal. Ini adalah sihir elemen murni yang digabungkan dengan komputasi kuantum!"

​Kirana bangkit berdiri, menyeka darah yang menetes dari hidungnya. Ia tidak menyerah. Ibunya pasti meninggalkan celah. Ibunya tahu ayahnya gila, dan tidak mungkin ia membiarkan mesin ini tanpa cacat keamanan (backdoor).

​"Sihir elemen murni hanyalah sains yang belum bisa dijelaskan," gumam Kirana pada dirinya sendiri. Ia teringat pada pesan terakhir ibunya: "Jantung Mahameru adalah cerminan dari hatimu sendiri."

​Apa maksudnya? Kirana memejamkan mata. Jika mesin ini adalah cerminan hatinya, maka bahasa pemrogramannya bukanlah angka biner satu dan nol. Bahasa pemrogramannya adalah emosi, memori, dan resonansi spiritual.

​Kirana melepaskan sarung tangannya. Ia kembali mendekati terminal obsidian itu, namun kali ini ia tidak mencoba meretasnya secara digital. Ia menempelkan telapak tangannya yang polos ke atas permukaan batu panas tersebut dan melepaskan seluruh rasa sakit yang pernah ia rasakan: pengkhianatan Bagas, kejahatan Riana, kesepiannya saat mati, dan rasa cintanya yang luar biasa besar kepada Adyatma dan ibunya.

​Ia membanjiri sirkuit kuantum mesin itu dengan data emosional murni dari "Darah Cendana".

​Ini adalah Google Workspace - Mahameru Edition versiku, batin Kirana. Aku tidak akan menghapus kodenya. Aku akan meng-overwrite (menimpa) niat buruknya dengan frekuensi perlindungan.

​Anomali Perak

​Layar holografik yang tadinya memancarkan warna merah darah mulai berkedip-kedip tak menentu. Cahaya keemasan dan perak mulai merambat melalui kabel-kabel raksasa, melawan arus energi ungu yang diciptakan oleh kakeknya.

​"Apa yang kau lakukan?!" Sang Arsitek berteriak panik saat melihat instrumen di sekelilingnya mulai menampilkan pesan eror (System Override in Progress). "Kau merusak sinkronisasi magmanya! Kau bisa membuat gunung ini meletus!"

​"Jika gunung ini harus meletus untuk mengubur dosamu, biarlah begitu!" balas Kirana, menahan rasa sakit luar biasa di tangannya yang mulai melepuh karena panasnya terminal obsidian.

​Di tengah pertempuran, Adyatma menyadari perubahan energi tersebut. Ia melihat Kirana sedang menyalurkan seluruh sisa nyawanya ke dalam mesin. "Kirana! Batas energimu sudah maksimal! Kau akan terbakar!"

​Adyatma menancapkan pedangnya ke tanah, melepaskan sisa kekuatan Ksatria Kalajengking di dekatnya. Ia berlari menerjang ke arah Kirana, mengabaikan dua tombak mekanik yang berhasil menggores punggung dan bahunya. Darah Adyatma menetes, namun ia tidak peduli.

​Ia tiba di belakang Kirana, memeluk pinggang istrinya dari belakang, dan meletakkan tangannya di atas tangan Kirana yang menempel di terminal.

​"Kita lakukan ini bersama, Kirana. Naga dan Cendana. Hidup atau mati, kita selesaikan di sini," bisik Adyatma, napasnya memburu di telinga Kirana.

​Energi Adyatma mengalir masuk, memberikan suplai tenaga tak terbatas bagi Kirana. Resonansi perak meledak dengan intensitas yang membutakan. Pilar cahaya yang luar biasa terang menembak lurus dari kawah Jonggring Saloko ke langit, membelah awan badai dan menyebarkan gelombang elektromagnetik ke seluruh penjuru Jawa.

​Namun, alih-alih merusak peralatan elektronik seperti rencana Sang Arsitek, gelombang itu bertindak sebagai pembersih. Virus-virus yang ditanam Dewan Tetua di berbagai server dunia terbakar habis. Frekuensi perak itu menghapus kebencian dan manipulasi, meninggalkan sistem yang bersih dan murni.

​Kejatuhan Sang Dewa Palsu

​Sang Arsitek menatap pilar cahaya itu dengan ketidakpercayaan. Seluruh proyek seumur hidupnya, impian gila tentang "Reset Global", dihancurkan hanya oleh sepasang suami istri yang menolak untuk menyerah pada kegelapan.

​Mesin Mahameru mulai kelebihan beban. Cincin melayang di tengah kawah itu retak, dan potongan-potongan logam mulai jatuh ke dalam lahar yang bergejolak.

​"Tidak! Ini adalah mahakaryaku!" Sang Arsitek berteriak histeris. Alih-alih melarikan diri, pria tua yang dibutakan oleh ambisinya itu melompat ke arah cincin energi yang mulai runtuh, mencoba menyambungkan kembali kabel-kabel yang terputus dengan tangan kosongnya.

​"Kakek, jangan!" Kirana berteriak, insting manusianya tetap tidak tega melihat keluarganya sendiri hancur, meskipun ia adalah monster.

​Namun terlambat. Cincin energi itu meledak. Ledakan plasma panas menyapu platform observasi. Sang Arsitek tertelan oleh cahaya terang yang menyilaukan, dan dalam hitungan detik, tubuhnya menguap tanpa sisa, dilebur oleh mesin ciptaannya sendiri. Sisa-sisa Ksatria Kalajengking yang terhubung dengan sinyal otak Sang Arsitek langsung mati total, berjatuhan ke tanah layaknya boneka putus tali.

​Sunyi di Puncak Dunia

​Getaran bumi perlahan berhenti. Pilar cahaya perak memudar, digantikan oleh cahaya fajar pertama yang menembus awan tebal di ufuk timur. Gunung Semeru kembali tenang. Lahar di dalam kawah perlahan menyusut, kembali ke siklus alamiahnya setelah terbebas dari mesin parasit tersebut.

​Kirana jatuh berlutut di tanah berpasir, napasnya tersengal-sengal. Tangannya melepuh, dan seluruh energinya habis tak bersisa. Ia merasa pandangannya mulai gelap.

​Adyatma memeluknya erat, menempelkan keningnya pada kening Kirana. Ia sendiri dipenuhi luka goresan yang mengeluarkan darah. Namun, saat Adyatma mencoba memeriksa luka Kirana, sebuah keajaiban terjadi. Aroma cendana yang tersisa bercampur dengan udara murni Mahameru, dan perlahan-lahan, luka bakar di tangan Kirana mulai menutup dengan sendirinya, menyisakan kulit yang tanpa cacat. Begitu pula dengan luka-luka di tubuh Adyatma; darahnya berhenti mengalir, dan energi di dalam nadinya terasa begitu damai.

​Kutukan Darah Naga telah sepenuhnya musnah. Ia telah dibakar habis oleh panasnya pengorbanan dan disucikan oleh Cendana di titik magis tertinggi Nusantara. Adyatma kini adalah manusia dengan kekuatan luar biasa, namun tanpa bayang-bayang kegilaan yang menghantuinya.

​"Kita berhasil," bisik Adyatma, suaranya serak karena haru. Ia menatap wajah Kirana dengan pemujaan yang tak terhingga. "Kau memenangkan perang ini, Ratuku."

​Kirana membuka matanya perlahan, melihat cahaya matahari pagi yang menerangi wajah suaminya. Ia membalas pelukan Adyatma, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Kirana menangis. Bukan tangisan penderitaan, melainkan tangisan kelegaan yang luar biasa. Beban dendam, rahasia keluarga, dan ancaman global itu akhirnya terangkat dari pundaknya.

​Di kejauhan, dari balik gemuruh angin, terdengar suara baling-baling helikopter penyelamat Surya Corp yang mendekat. Reno akhirnya bisa menembus masuk setelah badai elektromagnetik itu hancur.

​Pembalasan dendam Kirana Larasati Surya telah usai di puncak Mahameru. Sang Ratu Cendana dan Sang Naga kini bebas untuk turun dari gunung, kembali ke dunia, dan membangun masa depan peradaban dengan tangan mereka sendiri.

​*** [Bersambung ke Bab 24...]

1
Aisyah Suyuti
.menarik
Luzi
kerenn
Mifta Nurjanah
eps brpa pas dia udh jebol??😭😭
Emi Widyawati
baca awal, sudah jatuh cinta. bagus banget Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!