NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh

Sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah daun Pohon Memori menciptakan mosaik cahaya yang menari-nari di atas meja kayu Kedai Teh Kedamaian. Aroma uap teh yang baru saja diseduh menguar di udara, membawa kehangatan yang kontras dengan embun dingin yang masih menempel di jendela kaca restoran Chen Long yang berada tepat di seberangnya. Di bawah lantai kedai, Han Bing—sang mantan panglima es—mendengus dalam tidurnya, tanpa sadar melepaskan aura dingin yang stabil untuk menjaga suhu air di tangki pendingin tetap berada pada titik beku yang sempurna. Kehidupan di Desa Jinan telah bergeser menjadi sebuah rutinitas yang aneh namun harmonis, di mana para penguasa dunia kini berkompetisi bukan untuk wilayah, melainkan untuk efisiensi pelayanan.

Ye Hua berdiri di balik konter kayu, mengenakan celemek kain berwarna hijau lumut yang serasi dengan jepit rambut bambu pemberian Lin Xiaoqi. Tangannya yang biasa menggenggam pedang penghancur gunung kini memegang sehelai kain bersih, mengelap permukaan meja dengan gerakan melingkar yang sangat presisi. Setiap kali ada debu yang membandel, ia secara tidak sadar menggunakan sedikit tekanan energi pedangnya untuk melenyapkan noda tersebut hingga ke tingkat molekul.

"Selamat pagi, Tuan Zhou," sapa Ye Hua saat melihat sosok Zhou Ji Ran keluar dari pintu dapur.

Zhou Ji Ran hanya mengangguk malas, matanya masih sedikit sayu karena baru saja bangun tidur. Ia mengenakan baju rami putih yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan aura santai seorang pria yang sama sekali tidak memikirkan tentang invasi dewa atau keruntuhan dimensi. Di tangannya, ia memegang sebuah keranjang kecil berisi kelopak bunga melati yang baru dipetiknya dari Pohon Memori.

"Bagaimana persediaan teh kita, Ye Hua? Aku mencium aroma yang sedikit berbeda dari tangki pendingin. Apakah Han Bing sedang bermimpi buruk lagi?" tanya Zhou Ji Ran sambil berjalan menuju rak penyimpanan.

"Sepertinya begitu, Tuan. Tadi malam ia mengigau tentang 'Badai Es Abadi' dan suhu air sempat turun drastis hingga membeku. Saya harus memukul lantai sedikit dengan sapu lidi untuk membangunkan energinya," jawab Ye Hua dengan wajah datar, seolah-olah memukul mantan panglima Nirvana adalah hal yang biasa ia lakukan sebelum sarapan.

Zhou Ji Ran terkekeh. "Biarkan saja dia. Selama dia tidak membekukan saluran air ke telaga naga, kita masih bisa mentoleransinya. Lu Han, mana laporan pengunjung untuk hari ini?"

Lu Han, si pemuda yang kini telah sepenuhnya menerima takdirnya sebagai asisten administrasi tanpa bantuan layar gaib, muncul dari sudut ruangan dengan tumpukan gulungan kertas di tangannya. Wajahnya tampak jauh lebih segar, kulitnya yang dulu pucat karena terlalu banyak mengandalkan sistem kini tampak lebih sehat karena sering terpapar sinar matahari dan keringat nyata.

"Tuan, berdasarkan catatan saya, pagi ini kita akan kedatangan rombongan dari 'Sekte Pedang Pembalas' yang datang dari wilayah perbatasan. Mereka mendengar tentang Padi Surgawi kita dan berniat untuk melakukan 'pengecekan keamanan'," lapor Lu Han. "Selain itu, ada seorang pengembara misterius yang sudah duduk di meja nomor tujuh sejak satu jam yang lalu. Dia hanya memesan segelas air putih dingin dan tidak bergerak sedikit pun."

Zhou Ji Ran menoleh ke arah meja nomor tujuh. Di sana, seorang pria paruh baya dengan jubah hitam yang sangat sederhana duduk dengan punggung tegak. Ia tidak membawa senjata, namun aura di sekitarnya begitu hampa hingga suara gemericik air sungai di luar kedai seolah-olah terserap saat mendekati mejanya. Pria itu tidak menatap Zhou Ji Ran, ia hanya menatap kosong ke arah dinding kayu.

"Menarik," gumam Zhou Ji Ran. "Lu Han, berikan dia menu teh spesial Teratai Salju. Dan katakan padanya, jika dia hanya ingin duduk diam tanpa memesan sesuatu yang berharga, dia bisa duduk di bawah pohon willow di luar. Di sini adalah tempat bisnis, bukan tempat meditasi bagi mereka yang kehilangan arah hidup."

Lu Han menelan ludah. Ia bisa merasakan bahwa pria di meja tujuh itu bukan orang sembarangan. Namun, di bawah perintah Zhou Ji Ran, ia merasa memiliki keberanian yang aneh. Ia berjalan mendekati pria itu, meletakkan daftar menu di atas meja.

"Tuan, Tuan Zhou menyarankan Anda untuk mencoba Teh Teratai Salju kami. Ini adalah hasil panen pertama dari Telaga Selatan yang baru saja mekar," ucap Lu Han dengan suara yang stabil.

Pria berbaju hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya tidak memiliki pupil, hanya berupa pusaran abu-abu yang seolah-olah berisi ribuan tahun penderitaan. Nama pria itu adalah Mo Xuan, Utusan Jiwa dari kedalaman Lembah Kematian, salah satu entitas purba yang mulai terbangun karena riak energi yang diciptakan oleh kedamaian Desa Jinan.

"Padi Surgawi... Teratai Salju... Pohon Memori..." suara Mo Xuan terdengar seperti bisikan ribuan arwah yang merintih. "Kalian sedang membangun sebuah anomali yang sangat besar di dunia fana ini. Apakah kalian tidak takut akan keseimbangan yang akan menuntut balas?"

Zhou Ji Ran berjalan mendekat, ia menarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan Mo Xuan tanpa rasa takut sedikit pun. Ia menuangkan sisa air putih dari gelas Mo Xuan ke dalam pot bunga di dekat jendela, lalu menggantinya dengan teh panas yang baru saja ia seduh.

"Keseimbangan adalah kata yang sering digunakan oleh mereka yang terlalu malas untuk menanam padi mereka sendiri, Tuan Utusan," ucap Zhou Ji Ran tenang. "Kau datang jauh-jauh dari lembah gelap itu hanya untuk membicarakan teori filsafat? Jika kau haus, minumlah. Jika kau ingin bertarung, pergilah ke bukit utara. Ada banyak ruang kosong di sana untuk dijadikan makam baru, atau mungkin aku bisa menjadikanmu sebagai penyangga tanaman anggur hitam yang baru kutanam."

Mo Xuan tertegun. Ia telah hidup selama jutaan tahun dan tidak ada satu pun makhluk—baik itu dewa maupun iblis—yang berani berbicara padanya dengan nada seolah-olah ia hanyalah seorang tamu yang merepotkan. Ia merasakan adanya sebuah jurang yang sangat dalam di dalam diri Zhou Ji Ran, sebuah kekuatan yang tidak berasal dari energi spiritual, melainkan dari otoritas yang melampaui segala hukum yang ia kenal.

"Kau... kau adalah pemain yang seharusnya sudah dihapus," bisik Mo Xuan. "Kenapa kau masih di sini? Kenapa kau memilih lumpur dan debu daripada tahta keabadian?"

"Karena lumpur dan debu ini memiliki aroma yang jauh lebih enak daripada keabadianmu yang dingin," jawab Zhou Ji Ran. "Dan di sini, aku tidak perlu mendengarkan suara sistem yang memberitahuku berapa banyak nyawa yang harus aku panen hari ini. Di sini, aku hanya memanen padi."

Tiba-tiba, pintu kedai terbuka dengan kasar. Sekelompok kultivator dengan seragam merah darah masuk dengan angkuh. Pemimpin mereka adalah seorang pemuda dengan pedang besar di punggungnya, wajahnya dipenuhi dengan kesombongan seorang jenius sekte besar. Ini adalah murid-murid dari Sekte Pedang Pembalas yang dilaporkan Lu Han tadi.

"Siapa pemilik kedai ini?! Kami dari Sekte Pedang Pembalas datang untuk melakukan inspeksi!" teriak pemuda itu, mengabaikan suasana tenang di dalam kedai. "Kami mendengar ada banyak ahli yang ditawan di sini. Kami datang untuk membebaskan mereka atas nama keadilan!"

Ye Hua mendesah pelan, ia melirik ke arah Zhou Ji Ran. "Tuan, haruskah saya menggunakan sapu lidi lagi?"

Zhou Ji Ran menggelengkan kepalanya. "Jangan. Pakaianmu baru saja dicuci bersih oleh Xin Yan, jangan kotori dengan darah murid-murid ceroboh ini. Long Wei! Kemari!"

Pangeran Long Wei masuk dari pintu samping, ia masih memegang sikat besar yang biasa ia gunakan untuk menyikat naga. Wajahnya tampak sangat kesal karena waktu kerjanya di telaga diganggu. "Tuan, ada apa? Saya baru saja akan memberikan pijatan pada Ao Kun."

"Anak-anak berbaju merah ini ingin membebaskanmu, Long Wei. Katakan pada mereka, apakah kau merasa ditawan?" tanya Zhou Ji Ran sambil tersenyum jenaka.

Long Wei menatap murid-murid Sekte Pedang Pembalas dengan tatapan yang sangat tajam, auranya sebagai pangeran naga seketika meledak, menekan seluruh ruangan hingga kursi-kursi kayu mulai bergetar. "Membebaskan? Kalian bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar! Aku berada di sini karena aku sedang belajar arti hidup yang sesungguhnya! Pergi sekarang sebelum aku menjadikan kalian sebagai mainan baru bagi naga-nagaku di sungai!"

Pemuda pemimpin sekte itu gemetar hebat. Ia mengenali wajah Long Wei dari lukisan di buku sejarah kerajaannya. "Pangeran... Pangeran Long Wei? Anda... Anda benar-benar menjadi pelayan di sini?"

"Aku bukan pelayan! Aku adalah Kepala Irigasi!" teriak Long Wei bangga.

Mo Xuan, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdiri. Kehadirannya seketika melenyapkan aura Long Wei dan membuat suhu di kedai turun hingga ke titik beku. Murid-murid sekte merah itu langsung jatuh pingsan karena tekanan jiwa yang terlalu kuat dari sang Utusan Jiwa.

"Cukup sandiwara ini," ucap Mo Xuan. Ia menatap Zhou Ji Ran dengan tatapan yang sangat dingin. "Zhou Ji Ran, jika kau tidak ingin desa ini menjadi gerbang menuju Lembah Kematian, serahkan esensi Padi Surgawi itu sekarang. Dewa Kuno tidak akan mentoleransi keberadaan energi murni sebesar itu di tangan seorang manusia."

Zhou Ji Ran berdiri perlahan, ia meletakkan cangkir tehnya yang kini sudah kosong. Wajahnya tidak lagi santai; ada sebuah ketegasan yang memancar dari matanya, sebuah kilatan yang pernah membuat multisemesta bergetar.

"Dewa Kuno, ya? Aku ingat pernah mematahkan leher salah satu dari mereka sepuluh ribu tahun yang lalu karena dia mencoba mencuri bekal makanku," ucap Zhou Ji Ran dengan suara yang sangat rendah namun terdengar jelas di seluruh desa. "Mo Xuan, kau telah merusak suasana minum tehku. Dan kau telah menakuti murid-murid bodoh ini hingga mereka pingsan di lantai bersihku. Itu adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan di Kedai Teh Kedamaian."

Zhou Ji Ran mengambil selembar tisu kain dari meja. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengibaskan kain tersebut ke arah Mo Xuan.

Secara kasat mata, itu hanya kibasan kain biasa. Namun bagi Mo Xuan, itu adalah serangan yang memotong seluruh jalur energinya. Ia merasa seolah-olah seluruh lembah kematian yang ia jaga tiba-tiba runtuh menimpanya. Tubuh bayangannya yang tak tersentuh kini menjadi padat dan berat, dan ia terhempas keluar dari kedai melewati pintu yang terbuka, terbang melintasi halaman, dan mendarat dengan keras di dalam kolam lumpur tempat babi-babi hutan Zhou Ji Ran biasa berendam.

"Lumpur itu memiliki esensi bumi yang sangat kuat, Mo Xuan. Gunakan itu untuk mengisi kekosongan jiwamu yang hampa," teriak Zhou Ji Ran dari ambang pintu.

Suasana kembali tenang. Ye Hua segera mengambil kain pel untuk membersihkan lantai yang sempat membeku karena kehadiran Mo Xuan. Pangeran Long Wei menyeret murid-murid sekte merah yang pingsan keluar dari kedai, menumpuk mereka di bawah pohon willow seolah-olah mereka adalah tumpukan kayu bakar.

"Tuan, apakah Utusan Jiwa itu akan kembali?" tanya Su Ruo yang kini sudah berdiri di samping Zhou Ji Ran.

"Dia tidak akan kembali dalam waktu dekat. Lumpur babi itu mengandung segel 'Kehidupan Abadi' yang aku buat. Selama dia masih memiliki niat jahat, lumpur itu akan terus mencengkeramnya. Dia akan belajar bagaimana rasanya menjadi bagian dari tanah sebelum dia diizinkan untuk berdiri lagi," jawab Zhou Ji Ran.

Ia kemudian menoleh ke arah Lu Han. "Lu Han, catat kejadian ini sebagai 'Biaya Pembersihan Gangguan'. Dan tagih Sekte Pedang Pembalas dengan sepuluh ribu batu roh atas biaya pingsan murid-murid mereka di tempat kita. Jika mereka tidak bayar, katakan pada Jenderal Han untuk menjemput Master Sekte mereka untuk menjadi tukang bersih-bersih toilet umum desa yang baru kita bangun."

"Baik, Tuan! Saya akan segera membuat fakturnya!" jawab Lu Han dengan semangat.

Sore harinya, Kedai Teh Kedamaian kembali dipenuhi oleh aroma harum teh melati. Penduduk desa mulai berdatangan untuk menikmati suasana sore, tidak menyadari bahwa beberapa jam yang lalu sebuah pertempuran dimensi baru saja terjadi di tempat mereka duduk. Di pojok kedai, Sembilan Tetua Awan terlihat sedang membantu menyajikan minuman, gerakan mereka yang anggun kini terlihat sangat alami dalam melayani para tamu.

Zhou Ji Ran duduk di teras, memandangi matahari yang mulai terbenam di balik bukit Padi Surgawi. Ia merasa puas. Meskipun tantangan terus datang, ia berhasil menjaga esensi dari kedamaian yang ia inginkan. Setiap musuh yang datang tidak ia hancurkan, melainkan ia integrasikan ke dalam sistem pertaniannya.

"Ji Ran," Gu Lao berjalan mendekat, membawa sebuah papan catur. "Kau baru saja memicu kemarahan Lembah Kematian. Mo Xuan adalah orang kepercayaan Dewa Kuno. Mereka tidak akan diam melihat utusan mereka dijadikan pupuk lumpur babi."

"Biarkan saja mereka marah, Gu Lao. Kemarahan adalah energi yang sangat bagus untuk mempercepat fermentasi pupuk. Jika mereka datang, aku akan memastikan mereka memiliki kontribusi yang berguna bagi kemajuan Desa Jinan," jawab Zhou Ji Ran sambil memindahkan salah satu bidak catur.

Malam mulai turun, lampu-lampu lampion bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi. Dari arah telaga, suara Ao Kun yang sedang bercengkerama dengan air terdengar sangat menenangkan. Zhou Ji Ran memejamkan matanya, merasakan denyut kehidupan yang ia bangun di sekelilingnya.

"Tuan, apakah Anda ingin mencoba camilan baru buatan Chen Long?" tanya Lin Xiaoqi sambil membawa piring kecil berisi kue kacang yang masih hangat.

"Letakkan saja di sini, Xiaoqi. Mari kita nikmati malam ini. Besok, aku dengar ada rombongan dari Kerajaan Langit Selatan yang ingin melamar posisi sebagai tukang kebun. Sepertinya reputasi 'program rehabilitasi' kita sudah mulai mendunia," ucap Zhou Ji Ran sambil tersenyum tipis.

Perjalanan tanpa instruksi sistem ini memang penuh dengan kejutan konyol, namun bagi sang mantan pemilik sistem, setiap detik di sini adalah nyata. Ia tidak lagi mengejar level atau poin; ia hanya mengejar pertumbuhan sebatang sawi dan senyuman orang-orang di sekitarnya. Dan bagi seorang pria yang pernah menaklukkan ribuan dunia, itulah kemenangan yang paling besar dari segalanya.

Di luar batas desa, di dalam kegelapan yang pekat, mata merah Dewa Kuno mulai menatap ke arah cahaya Desa Jinan yang bersinar terang. Sebuah konspirasi besar sedang disusun di dunia yang hampa, namun di bawah perlindungan Zhou Ji Ran dan cangkul tuanya, Desa Jinan tetap menjadi satu-satunya tempat yang paling damai di seluruh penciptaan.

"Selamat malam, dunia yang berisik," bisik Zhou Ji Ran sebelum ia menyesap teh dinginnya untuk terakhir kali malam itu.

Segalanya berjalan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan. Sang legenda terus bertani, dan semesta hanya bisa menyaksikan dengan penuh rasa kagum bagaimana sebuah kedamaian bisa dibangun di atas reruntuhan kekuasaan yang dulu begitu diagungkan. Di Desa Jinan, kehidupan adalah satu-satunya hukum yang abadi.

1
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!