Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Arden menatap layar ponselnya yang sudah sepi, Chat terakhir dari Arsen masih terbaca jelas. Ia hanya menghela nafasnya panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Pengalaman ya bro." gumamnya pelan dan ia tersenyum tipis. Seraya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Namun senyumnya seketika sirna, pikirannya langsung berkecamuk dan kembali pada ke satu hal yang membuatnya tak tenang ia langsung bangun terduduk dan mengacak rambutnya frustasi.
Lola, ya pikirannya saat itu hanyalah tentang Lola yang membuatnya tak tenang, disisi lain ia belum tau akan perasaannya sendiri, tapi disisi lain mendengar Lola akan dijodohkan seketika ia tak terima akan hal itu.
Arden pun Langs menoleh ke arah kamar yang pintunya pun tertutup, dibalik sana gadis itu pasti sedang merasa tak tenang juga begitulah pikirnya saat ini.
"Haish ribet banget sih, kudu kumaha gue Tuhan, ya Alloh ya Robbi, keknya malem ntar gue mesti istikharah ini mah, tapi solat istikharah gimana caranya ya?." Ucapnya tengah berpikir keras memikirkan solusi perihal masa depannya dengan Lola.
Didalam kamar, Lola duduk memeluk lututnya diatas kasur saat itu namun tatapannya begitu kosong seolah ada yang ia pikirkan sambil menatap lantai bermotif berwarna ala catur tersebut.
Ucapan bapaknya tadi masih terus terngiang di telinganya, "ingat ya bapak tidak main main kamu akan bapak jodohin sama anaknya pak RW karena dia sudah bilang sedari lama sama bapak Lola."
"Si bapak aneh banget sih, tega banget sama anaknya sendiri, apa enggak ada gitu solusi lain selain menikah, Lola kan masih pengen kejar cita cita Lola, lah kalo Lola nikah masa Lola harus endingnya di dapur, OMG madesu banget gue kalo gitu mah Oh NOoo!, mimpi buruk kalo gitu mah."
Kembali dadanya sesak meski bukan penyakit turunan, airmatanya juga jadi jatuh luruh bagai sungai amazon yang mengalir begitu deras meskipun suaranya tidak terdengar hanya sedikit suara ngik ngik dari suara isakannya itu.
Tak lama suara ketukan pintu pun berbunyi, Lola langsung tersentak, ia langsung pura pura tidur. Tapi tak lama Arden langsung membuka dengan cepat dan hanya muncul separuh tubuh saja.
"Tok,..tok,..tok,..La,..buka pintunya dong." tak menunggu jawaban Arden langsung membukanya begitu saja. "Iya, mas ada apa?."
"Hayoo barusan mau pura pura tidur ya, untung langsung terciduk haha."
"itu kenapa mata bengkak gitu, abis nangis ya kamu la?." tanya Arden yakin. Lola menggeleng pelan, hanya menjawab "tadi sempat kelilipan doang."
"ah elah Lo mah la, mau bohongin gue kagak bisa la, muka elo sama Aluna tuh muka jujur."
"Keliatan ya mas kalo lola bohong hehe."
"Iya la, kenapa?, kepikiran tentang bapak?."
"sorry ya la, karena gue elo jadi kena masalah baru, jadi malah nambah masalah." ucap Arden menunduk merasa bersalah. "enggak kok mas, justru Lola berterima kasih banget karena mas Arden mau repot repot sampe hadepin bapak buat selesaikan masalahnya bapak itu Lola kaget tau, tapi Lola kebantu banget, makasi ya."
"sama sama, enggak ngrepotin kok, kan itu gue yang mau."
"nih minum dulu, gue bawain air putih." ucap Arden sambil menyodorkan air putih pada Lola.
"makasih ya mas." sahut Lola sambil tak lama meneguk air minumnya hingga sisa setengah.
Arden duduk dilantai dan bersandar disisi ranjang, jarak mereka yang dekat tapi tetap ada batas.tak ada tema pembicaraan hanya diam tanpa kata.
"sumpah la, gue enggak tenang sekarang bingung buat ambil keputusan soal masalah tadi." ucap Arden tak lama Lola turun dari tempat tidurnya dan keduanya kini sama sama duduk diatas lantai itu secara berhadapan dengan Arden.
"iya mas, Lola juga kaget, jadi enggak enak juga ke mas Arsen, maafin bapak ya, tapi mas Arden enggak usah seriusin ucapan bapak tadi."
"hmm la, kalo gue seriusin ucapan bapak Lo gimana?."
"degh!."
"La, kok diem?."
"Elo ngrasa kejebak enggak soal kejadian sekarang ini?." ucap Arden membuat Lola terdiam seketika, namun tak lama "enggak mas, Lola enggak ngrasa kejebak klo itu sama mas Arden."
Arden terdiam, dan langsung menatap lekat kedua netra Lola, keduanya saling menatap lekat dalam diam dan semakin dekan hingga nafas mereka beradu, saking dekatnya.
Saat Lola tersadar dikarenakan posisi mereka yang begitu dekat dan tak ingin keduanya khilaf pada akhirnya, Lola langsung menjaga jarak dan batas diantara mereka. Arsen tertawa gemas melihat Lola yang jadi gugup dan malu.
Lola menjadi salah tingkah dibuatnya " eh enggak kok, maksud Lola ehm."
"hahaha, la kamu gemesin juga ternyata ya haha."
"La Lo tuh ya, haish, btw la kalo,..hmm,..ini kalo ya, kalo misalnya nih ya, gue serius dan nikahin elo beneran gimana?, elonya mau enggak sama gue?." celetuk Arden tanpa direncanakan keluar begitu saja.
baru saja suasana tegang jadi mencair eh sekarang malah kembali tegang.jantung Lola pun menjadi berlompatan tak karuan. Disisi lain ia takut, bingung juga malah endingnya berharap beneran.
"gimana?,..mau enggak?."
Degh!."
"Gue,..." ucap Lola sambil kedua tangannya meremas ujung bajunya dan wajahnya menunduk tak tau harus menjawab apa, jantungnya pun jedag jedug tak karuan.
"gue jadi laper mas, makan yuk."
"Hilih mau ngalih pembicaraan ya?." protes Arden.
"yaudah klo belum bisa jawab gue tunggu Lima detik dari sekarang."
"Hah! Lima detik!."