Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
" Oh iya nek saya kakak kelasnya Reina,nenek lagi jualan hari ini ?" Tanya Ryan yang melihat etalase ada bahan gado-gado.
" Iya nak,mau mencoba ?" Tanya nenek Sri.
" Boleh nek,tapi jangan pedes-pedes ya." Ucap Ryan sambil memperhatikan nenek Sri mengulek bumbunya.
" Iya nak,duduk dulu ya nak biar nenek buatkan." Suruh nenek Sri mempersilahkan duduk.
Ryan pun duduk di bangku dan meja yang tersedia di halaman. Ya yang datang ke rumah Reina adalah Ryan,dia ingin melihat keadaan Reina karena khawatir kemarin habis bertemu dengan orang kasar entah siapa namanya.
Gado-gado nya pun jadi,nenek Sri pun menyajikannya di atas meja di depan Ryan.
" Mau minum apa nak ?" Tanya nenek Sri saat ingin mengambilkan air.
" Air putih aja nek." Jawab Ryan yang lalu sedetik kemudian menyendok gado-gado dihadapannya.
Nenek Sri berlalu dan mengambil segelas air putih dan kembali lagi membawanya dan menaruhnya di depan Ryan.
" Gimana nak ?" Tanya nenek Sri.
" Enak nek, sebenarnya saya belum pernah makan makanan seperti ini nek...selalu di larang sama mama." Jawab Ryan sambil bercerita.
" Ya kamu anak orang kaya nak,memang bukan levelnya makan seperti ini...nanti gimana kalau sampai perut kamu sakit nak ?" Nenek Sri pun menjadi takut dan khawatir.
" Nggak papa nek,masak iya makanan bisa bikin sakit perut. Ini makanan enak nek,saya jadi pingin nambah lagi." Ucap Ryan sambil tertawa.
" Bisa aja nak,kalau mau lagi nenek buatkan . Oh iya dari tadi belum kenalan siapa namamu nak ?" Tanya nenek Sri lembut sambil mengulurkan tangannya setelah mengelapnya.
" Saya Ryan nek kakak kelasnya Reina" Jawab Ryan dengan sopan.
Tidak lama Reina datang. Saat memasuki halaman dia melihat ada motor yang sepertinya dia kenal. Reina pun memasukan motornya di teras rumah dan turun dari sepeda. Benar saja di sana sudah ada Ryan yang sedang mengobrol dengan neneknya.
" Kak Ryan" Ucap Reina terkejut.
" Hai Re " Sapa Ryan melambaikan tangannya.
" Ha- hai juga kak." Jawab Reina agak gugup. Ada apa Ryan datang ke sini, jangan-jangan dia ngomong sesuatu ke neneknya soal hubungannya dengan dia.
" Duduk Re,aku abis makan gado-gado nenek kamu ternyata enak Lo." Ucap Ryan tersenyum dan berbicara dengan antusias.
" Nanti kakak di marahin sama mamanya kak Ryan kalau makan jajanan pinggir jalan." Reina takut akan di marahi mamanya kalau sampai Ryan sakit.
" Nggak Re,masak makanan seenak ini bikin sakit...kok kamu nggak pernah cerita kalau nenek kamu jualan gado-gado ?" Tanya Ryan sambil melirik nenek Sri dan tersenyum.
Nenek Sri yang di lirik pun merasa tidak enak ikut nimbrung bicara dengan anak muda. Dia pun beranjak dari duduknya.
" Nenek ke dalam dulu ya,nanti kalau ada pembeli panggil nenek ya." Pamit nenek Sri berlalu masuk ke dalam rumah.
" Oh iya nek." Ucap Reina dan melihat kepergian neneknya masuk ke dalam rumah. Setelah neneknya pergi Reina menatap Ryan.
" Cuma dagang sampingan kak,nenek nggak bisa terlalu capek. Nggak tiap hari jualan." jelas Reina. " Kakak ada perlu apa ke sini ?" Tanyanya penasaran karena tidak pernah Ryan ke rumahnya,mungkin hanya bertemu di depan gang.
" Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja kan ?" Tanya Ryan dengan raut wajah yang begitu khawatir.
" Aku baik-baik aja kok kak." Jawab Reina dengan tersenyum agar Ryan percaya.
Namun atensi Ryan berhenti di pergelangan tangan Reina yang memar seperti bekas tangan
" Tangan kamu,pasti dia yang bikin kayak gini." Ucap Ryan begitu geram sambil melihat pergelangan tangan Reina
" Nggak papa kak nanti juga hilang sendiri kok." Ucap Reina melepaskan genggaman tangan Ryan karena takut neneknya melihatnya.
" Ah maaf." Ucap Ryan yang melepas genggaman tangannya.
" Iya kak nggak papa kok" Ucap Reina kikuk.
Sepersekian detik mereka pun sama-sama diam bingung harus mengobrol apa.
" Kalau gitu aku balik dulu ya." Pamit Ryan berdiri dari duduknya. Ryan pun mengambil dompet di saku celananya dan mengambil uang 2 lembar 100 ribuan. " Ini tadi bayar gado-gado nya" Ucap Ryan menyodorkan uang itu.
" Kebanyakan kak,cuma 10 ribu." Ucap Reina yang menolak uang itu.
" Haaa 10 ribu ?" Tanya Ryan tidak percaya.
" Iya kak,jangan samain makanan di restoran kak." Ucap Reina tersenyum.
" Hehe..." Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. " Nggak papa di terima aja buat tambah-tambah jualan lagi nanti." Ryan terus memaksa menyodorkan uangnya.
" Udah nggak usah di bayar nak,gratis buat langganan." Tiba-tiba nenek Sri keluar dari dalam rumah dan menghampiri Ryan.
" Tapi nek,nggak bisa gitu... mending ini buat nenek ya,bisa buat modal lagi nanti...anggap aja ini rejekinya nenek." Ucap Ryan terus memaksa menaruh uangnya di tangan nenek Sri.
" Makasih banyak nak." nenek Sri akhirnya menerima uang itu dan tersenyum.
" Sama-sama nek,kalau gitu saya pamit dulu ya nek." Ryan menyalami tangan nenek Sri.
" Iya nak hati-hati di jalan." Ucap nenek Sri sambil mengantarkan Ryan sampai di dekat motornya.
" Iya nek" Ryan pun menaiki motornya dan memakai helm lalu meninggalkan pelataran rumah Reina.
Nenek Sri melambaikan tangannya ke Ryan. Setelah kepergian Ryan nenek Sri kembali lagi ke teras dan menghampiri Reina yang duduk di bangku.
" Cucu nenek sudah besar ya,banyak cowok yang datang ke sini." Ucap nenek Sri setelah mendudukkan bokongnya di bangku sebelah Reina.
" Apaan sih nek,Aku masih kecil tau." Ucap Reina yang wajahnya sudah memerah karena malu.
" Nggak papa nduk berteman asal bisa jaga batasan." nenek Sri menasehati sambil menepuk paha Reina.
" Iya nek,itu hanya teman Reina satu sekolah kok nek" Jelas Reina dengan menunduk karena sudah membohongi neneknya terus menerus.
***
Malam pun datang, sekitar pukul 6:30 Reina dan nenek Sri pun bersiap-siap untuk pergi menghadiri undangan mamanya Bramasta.
" Gimana nduk apa nenek sudah rapi ?" Tanya nenek Sri saat di ruang tamu menunggu Bramasta datang menjemput.
" Sudah kok nek,cantik." Puji Reina tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
" Kamu ini ada-ada saja nduk. Nenek sudah tua masak iya masih cantik." Ucap nenek Sri tertawa dan menepuk tangan Reina karena gemas.
" Nenek masih cantik kok,beneran." Ucap Reina yang ikut tertawa.
Candaan mereka pun terhenti saat mendengar suara deru mobil di halaman.
" Kayaknya itu kak Bramasta nek...biar aku lihat ya." Ucap Reina sambil berjalan keluar.
Bramasta pun turun dari mobil dan menghampiri Reina yang sudah berada di teras.
" Assalamualaikum." Ucap Bramasta saat sampai di teras rumah.
" Wa Alaikum salam kak." Jawab Reina dengan tersenyum. " Masuk dulu kak." Suruh Reina mempersilahkan Bramasta untuk masuk ke dalam rumah.
" Nggak usah,udah di tungguin mama...ayo langsung berangkat aja." Ajak Bramasta menolak.
" Bentar kak aku panggil nenek dulu kalau gitu " Ucap Reina lalu masuk ke dalam rumah memanggil neneknya dan barang bawaannya.
Tidak lama dia pun keluar menggandeng neneknya dan membawa parcel berisi buah-buahan.
--->>>