Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : SENYUMAN DI BALIK AIR MATA
Api unggun itu terlalu besar untuk sekadar memasak.
Bai Mei yang menyuruh mereka membuat api sebesar itu, dengan alasan bahwa asap yang cukup tinggi akan membantu rombongan lain menemukan lokasi mereka. Tentu alasan itu masuk akal. Tapi menurut Zhao Feng yang sudah cukup lama mengenal perempuan itu untuk tahu bahwa alasan pertama yang keluar dari mulutnya jarang sekali menjadi alasan yang sebenarnya.
Naas nasib dua ekor rusa yang tergantung di atas api dari rangka kayu yang disusun terburu-buru itu, lemaknya menetes dan mendesis di bara bawahnya. Sisa-sisa lambung kapal yang terdampar di pantai menjadi kayu bakarnya, papan-papan tebal yang masih cukup kokoh untuk dipatahkan dengan qi sebelum dimasukkan ke dalam tumpukan.
Bai Mei duduk di batu dengan lutut dirapatkan, hidungnya mengerutkan diri sendiri ketika tangannya mengangkat ujung lengan bajunya untuk dicium. Ekspresi yang muncul sesudahnya adalah ekspresi orang yang baru menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
“Huh, aku harus mandi,” katanya.
“Lautnya di sana, Nona Cantik,” kata Sun Li, menunjuk ke arah yang sangat jelas dengan jari yang sama jelasnya. “Gratis pula.”
“Kau pikir aku bodoh? Aku tidak mandi di laut asin.”
“Preferensi yang bagus untuk seseorang yang terdampar.”
Lantas Zhao Feng tertawa, dan Ma Chao, setia pada kebiasaannya, tertawa setengah detik setelah Zhao Feng.
Bai Mei pun menatap keduanya, mempertimbangkan apakah ada gunanya membuang energi untuk marah atau lebih efisien membuat lawan bicara merasa tidak nyaman dengan cara lain. Hasilnya adalah keheningan yang turun ke pantai itu dengan sangat cepat, dan tawa Zhao Feng mati di tengah jalan.
Zhao Feng menggeser posisi duduknya menghadap ke arah hutan. “Kita harus bicara soal cara untuk pulang.”
Tidak ada yang menyanggah kalimat pembuka itu, karena topiknya memang sudah mengambang di antara mereka sejak pagi, hanya tidak ada yang mau jadi yang pertama mengucapkannya.
“Tanpa kapal kita tidak ke mana-mana,” kata Ma Chao.
“Kita bisa buat sendiri, bukan?” Sun Li mengambil tulang dari daging rusa yang sudah mulai matang di sisi terluar. “Kayunya ada di pantai.”
“Empat orang bikin kapal dari sisa-sisa lambung yang sudah setengah terbakar,” kata Zhao Feng, “untuk menyeberangi lautan yang hukum langitnya sedang kacau. Benar-benar usulan yang sangat masuk akal.”
Sun Li tidak melanjutkan usulannya.
“Tanpa si bocah lemah itu,” kata Ma Chao setelah jeda yang cukup panjang, “kita tidak punya navigator. Kompas Dao-nya mungkin satu-satunya alat yang berguna di armada itu.”
Bai Mei mengangkat matanya dari bara api. “Kalian merindukan bocah itu?”
Zhao Feng tertawa pendek. “Merindukannya? Aku tidak punya sentimen itu terhadap siapa pun dari Long Yuan. Kekaisaran itu tidak pernah melakukan sesuatu untukku yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
“Setuju,” timpal Sun Li.
Sedangkan Ma Chao tidak berkata apa-apa, tapi posisi kepalanya cukup untuk dihitung sebagai persetujuan.
Lantas Bai Mei tersenyum miring. Bukan senyuman yang menyenangkan untuk dilihat dari dekat. “Aku sangat yakin bocah itu selamat.”
“Dasar perkiraanmu apa?”
“Kakaknya.” Bai Mei menyandarkan dagu ke telapak tangannya. “Panglima Wei Qinghan tidak akan membiarkan satu-satunya adik laki-lakinya tenggelam. Wanita es serut itu mungkin satu-satunya orang dalam armada ini yang benar-benar tidak bisa mati.”
Ketiga pria itu langsung kicep dengan cara yang berbeda-beda. Zhao Feng mengeraskan rahangnya. Sun Li tiba-tiba sangat tertarik pada daging rusa di hadapannya. Sementara Ma Chao menatap pasir.
Bai Mei melihat semua itu dan tidak menyembunyikan rasa tidak sukanya. “Kalian takut pada satu wanita?”
“Wanita tingkat delapan,” koreksi Zhao Feng. “Ada perbedaan yang sangat signifikan.”
“Bukan itu yang ingin kubicarakan.” Bai Mei berdiri, merapikan bajunya dengan gerakan yang sangat tidak sesuai dengan situasi terdampar di pulau asing. “Yang ingin kubicarakan adalah sesuatu yang selalu ada di punggung bocah itu. Setiap hari, setiap saat.”
Zhao Feng menatapnya. Kemudian pemahamannya sampai, dan dia berdiri juga, menudingkan jarinya ke arah Bai Mei. “Kau sedang berbicara soal mencuri Pedang Samudera?”
Bai Mei tidak menjawab ya atau tidak. Yang dia lakukan adalah mengangkat satu alis dengan ekspresi yang terasa lebih menjawab dari kata-kata mana pun.
“Kalau pedang itu dijual ke Feng Hua...” katanya, seperti seseorang yang sedang membicarakan harga pasar bahan pangan, alih-alih pengkhianatan kekaisaran, “kalian pikir harga jualnya akan berapa? Pusaka terkuat di Shenzhou. Satu-satunya bilah yang pernah membelah formasi pendekar terbaik Feng Hua sekaligus. Pembeli yang tepat akan membayar lebih dari yang bisa kalian bayangkan dalam satu hari.”
Zhao Feng pun menurunkan jarinya. Sun Li dan Ma Chao saling menatap.
“Kita tidak perlu bekerja,” lanjut Bai Mei, “sampai akhir hidup kita.”
Kalimat itu mendarat di antara api dan rusa yang setengah matang dengan berat yang cukup untuk membuat semua orang membisu untuk mempertimbangkan, dan akhirnya sampai pada kesimpulan yang sama dari arah yang sedikit berbeda.
Zhao Feng duduk kembali. “Kita perlu menemukan bocah itu dulu.”
“Tepat sekali,” kata Bai Mei.
Rombongan Haifeng menemukan sumber asap itu lebih cepat dari yang mereka perkirakan.
Qinghan yang memimpin di depan, langkahnya tidak pernah tergesa-gesa tapi selalu sampai lebih cepat dari siapa pun di belakangnya. Tianbao berjalan di sisi Haifeng, berbicara dengan suara yang ditekan setengah karena Qinghan sudah tiga kali meliriknya tanpa berkata apa-apa, dan tiga kali itu rupanya cukup untuk mengajarkan pelajaran tentang kebisingan di hutan yang tidak dikenal.
Sementara Hua Ling berjalan di dekat kakeknya, sesekali mengambil daun atau akar kecil yang menarik perhatiannya dan menyimpannya di kantong bajunya tanpa menghentikan langkah.
Sampai mereka mencium bau daging terbakar sebelum melihat apinya, dan Bai Mei adalah yang pertama melihat kedatangan mereka.
Apa yang terjadi sesudahnya adalah pertunjukan yang sangat terencana meski terlihat sangat spontan. Bai Mei berlari ke arah Haifeng dengan langkah yang tidak terlalu cepat tapi cukup meyakinkan sebagai ekspresi lega, dan sebelum Haifeng sempat memproses apa yang sedang terjadi, wanita cantik itu sudah memeluknya dengan tangan yang mencengkeram punggungnya sambil mengeluarkan suara yang terdengar sangat menyerupai isak tangis.
Haifeng berdiri dengan kedua tangan terangkat setengah jalan, tidak tahu harus diletakkan di mana, dengan ekspresi orang yang baru dihadang oleh sesuatu yang tidak ada di dalam perencanaan mana pun hari ini.
Tianbao sampai menatap pemandangan itu dengan mulut yang terbuka setengahnya.
Sementara itu, ketiga pria itu berlutut di hadapan Qinghan dengan gerakan yang terkoordinasi lebih baik dari yang seharusnya mungkin untuk tiga orang yang katanya baru saja selamat dari bencana laut.
“Langit sungguh penuh belas kasih,” kata Zhao Feng, telapaknya rata di tanah, nadanya bergetar dengan sangat tepat. “Tuan Muda Haifeng selamat. Panglima Qinghan selamat. Kami yang hina ini sudah putus asa, sudah mengira tidak akan bisa menatap wajah mulia kalian lagi.”
“Benar sekali,” sambung Sun Li dengan mata yang berkaca-kaca. “Kami bahkan sudah bersiap menghadap leluhur. Tapi ternyata langit masih memberi kesempatan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak berguna ini untuk melihat—“
Qinghan mengangkat satu tangan. Bukan untuk menyela dengan kata-kata. Hanya telapak tangannya, menghadap ke atas, dengan gerakan yang sangat kecil tapi sangat jelas maknanya.
Ketiga pria itu pun berhenti berbicara seketika.
Jari Qinghan bergerak sedikit ke arah kanan, ke arah yang jauh dari Haifeng, dan matanya melirik ke Bai Mei yang masih menempel di lengan adiknya.
Bai Mei segera melepaskan pelukannya. Melangkah mundur dua langkah, mengusap matanya dengan ujung bajunya, wajahnya masih mempertahankan ekspresi yang sudah diatur sebelumnya.
“Apakah ada yang lain?” tanya Qinghan.
Ketiga pria itu saling melirik. Bai Mei memainkan rambutnya.
“Kami belum menemukan siapa pun yang selamat,” kata Zhao Feng. “Kondisi laut waktu itu...” Dia menggeleng dengan ekspresi yang sangat diperhitungkan. “Sulit sekali.”
“Chen Mo,” kata Qinghan. Nama itu keluar datar tapi sesuatu di belakang matanya berubah. “Dia ada bersamamu sebelum terpisah?”
Zhao Feng tidak menjawab langsung. Sun Li menatap pasir. Ma Chao mengeluarkan suara kecil di belakang tenggorokannya.
“Kami sudah mencobanya tapi,” kata Zhao Feng.
Qinghan menatap ketiga pria itu selama beberapa detik dengan cara yang membuat mereka tidak bisa menemukan tempat nyaman untuk meletakkan pandangan mereka sendiri.
“Aku akan mencarinya,” katanya. “Sebelum matahari turun.”
Bai Mei mengangkat tangannya, ramah, terlalu ramah. “Biarkan aku yang menuntun jalannya. Aku tahu ke mana dia terakhir kali terlihat. Tidak akan jauh dari sini.”
Senyumannya tulus dan hangat dan sangat meyakinkan.
Qinghan pun menatapnya sebentar, lalu menoleh kembali ke hutan di belakangnya.
Haifeng tidak melihat apa pun dari semua ini. Matanya sedang mengikuti garis cakrawala di atas laut, memikirkan navigasi dan jarak dan berapa hari lagi yang dibutuhkan jika mereka bisa mendapatkan kapal.
Sedangkan Bai Mei memandangi punggung Haifeng. Lebih tepatnya, sesuatu yang tergantung di punggungnya. Bilah biru gelap di dalam sarung hitam dengan ukiran ombak perak di gagang.
Sudut bibirnya pun naik sedikit, sangat sedikit, dengan cara yang tidak terlihat oleh siapa pun yang sedang menghadap arah lain.