rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Udara - Pahitnya Perjalanan
Bandara Halim Perdanakusuma terasa seperti dunia lain bagi Shadiq. Lampu neon putih terang menyilaukan mata, suara pengumuman berulang dalam bahasa Indonesia dan Inggris, aroma kopi mahal dan parfum traveler menguar dari lounge. Shadiq berdiri di depan gate private, tas ransel lusuh di punggung, jaket jeans usang, dan ponsel Kelinci Perak di saku. Ia pertama kali naik pesawat—paling mentok naik mobil pribadi ke kota lain saat jadi petarung arena. Sekarang, pesawat pribadi bisnis Kelinci Perak menunggu di apron, Gulfstream G650ER mengkilap putih dengan logo kecil kelinci perak di ekor.
Pria kelinci perak (rambut gelombang ke belakang, jas hitam) sudah di tangga pesawat, tangan di saku, tersenyum tipis. “Naik, tukang galon. Lo nggak perlu bawa apa-apa. Kami sudah siapkan semuanya.”
Shadiq naik pelan. Interior pesawat seperti hotel bintang lima: kulit krem, meja kayu mahoni, kursi recliner lebar, bar mini di belakang. Lima rekan tim keamanan sudah duduk, laptop terbuka, tablet di tangan. Mereka angguk ke Shadiq tanpa banyak kata.
Pesawat take off pukul 20:15. Shadiq duduk di kursi dekat jendela, tatap lampu Jakarta yang menjauh di bawah. Jantung berdegup kencang—bukan karena takut terbang, tapi karena ini pertama kali ia keluar negeri. Ia ingat Arva dulu bilang: “Suatu hari kita naik pesawat bareng, Nak. Ke luar negeri. Lihat dunia.” Shadiq saat itu cuma ketawa: “Mimpi aja, Va. Tukang galon mana mampu.”
Sekarang ia di pesawat pribadi, tapi bukan liburan. Ia ke Busan untuk sabotase. Ironis.
Pria kelinci perak duduk di seberang, buka tablet. “Pengiriman ke-3: 10 peti. Berangkat dari New York Minggu depan. Kapal BBC Phantom. Kontainer kuning—jalur khusus. Pengawasan ketat. Misi kita: sabotase di Busan. Kontainer dikubur di tumpukan, dikosongkan senjata, diisi barang lain, lalu dikirim ke Surabaya.”
Shadiq angguk pelan. “Gue pantau dari jauh. Gue nggak turun tangan.”
Pria kelinci perak tersenyum. “Bagus. Lo nggak perlu. Tim keamanan gue sudah siap. Lo cuma kasih info kalau ada yang aneh.”
Rekan tim satu (pria kurus, tato leher) tambah: “Kontainer kuning pengawasan ketat. Tapi kita punya orang dalam di Busan. Lo duduk di mobil, pantau CCTV. Kalau ada polisi atau Farhank kirim orang, lo kasih tahu.”
Shadiq pura-pura setuju. Di kepala: *Gue nggak mau ikut sabotase. Gue cuma mau bukti untuk alihkan tuduhan ke Kelinci Perak. Biar Farhank & Agung saling hancur.*
Pesawat mendarat di Busan pukul 06:30 waktu lokal (Kamis pagi). Bandara Internasional Gimhae disambut kabut pagi tipis. Tim Kelinci Perak langsung ke hotel dekat pelabuhan—suite lantai atas, pemandangan laut dan tumpukan kontainer di kejauhan.
Pria kelinci perak buka rapat di ruang meeting suite. Layar proyektor menyala: peta pelabuhan Busan, foto kontainer kuning BBC Phantom.
“Keberangkatan dari New York: Charleston. Transit Panama Canal, lalu Busan. Di Busan, kontainer dikubur di tumpukan. Tim kita kosongkan senjata malam itu. Isi diganti barang lain. Lalu kontainer kuning dikirim ke Surabaya dengan isi palsu. Senjata asli kita simpan di gudang rahasia Busan.”
Shadiq duduk diam, dengar semua. Ia foto peta dan jadwal diam-diam dengan ponsel.
*Gue kirim ini ke Farhank nanti. Biar dia tahu Kelinci Perak yang ambil. Gue alihkan tuduhan.*
Pria kelinci perak tatap Shadiq. “Besok malam eksekusi. Lo pantau dari mobil hitam dekat dermaga. .”
Shadiq angguk pelan. “Gue paham.”
Rapat bubar jam 10:00. Shadiq ke kamar suite sendiri. Ia tatap pemandangan pelabuhan dari jendela. Laut biru, kapal besar bergerak pelan. Ia ingat Arva dulu bilang: “Suatu hari kita ke luar negeri, Nak. Lihat laut yang beda.”
Shadiq batin: *Gue di Korea sekarang. Tapi bukan liburan. Gue di sini untuk sabotase. Untuk selamatkan keluarga gue. Tapi gue makin jauh dari hidup benar.*
Ia ambil ponsel lama, kirim pesan ke Arva:
“Sayang, aku lagi di luar kota. Kerja. Irva gimana? Gue kangen kalian. Aku lagi berusaha pulang.” lalu kirim foto pemandangan sekitar.
Arva balas cepat:
“Irva baik. Tapi gue masih nunggu bukti lo berubah. Lo di mana? Jangan bohong lagi.”
Shadiq tatap pesan itu. Ia balas " merantau , cari pekerjaan benar "
Ia taruh ponsel. Tatap laut di kejauhan.
*Besok malam. Sabotase. Dan gue harus selamat.*