Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.
Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.
Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.
sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 Nafas dan Doa
Gudang kini terasa berbeda. Rak‑rak panjang bertingkat yang bapak sulap berdiri kokoh, menunggu untuk segera diisi.
Aku membawa karung serbuk gergaji, mencampurnya dengan dedak dan air, lalu mengaduk dengan tangan yang masih gemetar.
Bau kayu basah bercampur dengan aroma tanah, memenuhi ruang sempit itu.
Pelan‑pelan aku mulai membentuk media tanam, satu demi satu dan membungkusnya dengan plastik bening.
Tangan ini bergerak ragu, tapi setiap kali plastik terikat, hatiku menjadi sedikit lebih tenang.
Di pintu gudang, bapak berdiri. Tubuhnya tegak, wajahnya datar, hanya menatap tanpa kata.
Sesekali ia menggeser posisi, seakan memastikan rak tidak goyah, tapi tidak pernah terlihat masuk. Diamnya seperti bayangan yang menempel di dinding.
Ibu datang membawa termos air hangat dan sepotong roti. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu menepuk bahuku.
"Masa begitu sih kerjanya? Yang semangat dong, anak ibu." Senyumnya tipis, tapi matanya penuh keyakinan.
Aku mengangguk, lalu kembali bekerja. Baglog demi baglog (media tanam jamur) tersusun di rak, jumlahnya semakin banyak, memenuhi ruang yang dulu kosong.
Bapak masih di pintu, tidak bergerak. Tapi aku bisa merasakan tatapannya mengikuti setiap gerakan tanganku. Tidak ada kata, tidak ada maaf, hanya kehadiran yang diam‑diam memberi ruang.
Ibu duduk di kursi dekat rak, menatapku dengan bangga. "Festival nanti, kita bisa bawa jamur ini, buat nunjukin kalau kita bisa ikut partisipasi buat desa."
Berhari-hari aku sudah mulai merawat jamur-jamur ini, menyalakan lampu kecil di gudang setiap pagi, menyemprotkan air agar kelembapan tetap terjaga, dan memastikan baglog tidak terlalu kering.
Rak-rak panjang yang bapak siapkan kini mulai terisi penuh, plastik bening berderet seperti barisan harapan yang diam-diam tumbuh.
Ada rasa bangga kecil yang menyelinap, meski aku tahu hasilnya nanti tidak akan banyak.
Bapak kadang terlihat di halaman, berdiri sebentar menatap pintu gudang, lalu pergi tanpa kata.
Diamnya tetap menghalangiku, tapi aku mulai belajar membaca gerakannya. Tatapan singkat, langkah yang melambat, seakan ia ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik.
Ibu lebih sering masuk, membawa camilan hangat atau sekadar duduk di kursi, dekat rak. "Bagus, Mir. Lihat, jamurnya mulai keluar." katanya dengan senyum tipis yang membuat dadaku lega.
Hari-hari terus bergulir, dan desa mulai sibuk. Orang-orang menyiapkan hasil panen, memperbaiki gerobak, menata kain hias untuk festival akhir tahun.
Suara anak-anak melatih suara terdengar dari balai desa, bercampur dengan aroma kue yang mulai dipanggang di rumah-rumah.
Aku berdiri di depan gudang, menatap jamur-jamur kecil yang baru muncul dari celah plastik.
Bentuknya sederhana, tapi bagiku mereka seperti bintang yang tumbuh di ruang gelap.
Festival semakin dekat. Aku tahu kalau hasilnya mungkin tidak maksimal, tapi ada harapan di baliknya.
Bukan sekadar untuk dijual, melainkan untuk menunjukkan bahwa aku masih bisa memberi sesuatu.
°°°°°
Sore ini, cahaya matahari menembus celah papan gudang, membuat rak‑rak kayu tampak hangat.
Aku sedang memeriksa baglog yang mulai berwarna putih, tanda jamur siap keluar. Plastik bening berderet, seperti barisan diam yang menunggu saatnya lahir.
Pintu gudang berderit pelan. Raka muncul, membawa botol kaca berisi cairan merah keunguan. Ia tersenyum, matanya berbinar.
"Aku bawa wine, buatmu Mir. Coba lihat." katanya sambil mengangkat botol itu ke arah cahaya.
Aku menoleh, lalu tersenyum ragu. Dari rak, aku mengambil satu baglog yang permukaannya sudah mulai pecah, jamur kecil menyembul di ujungnya.
"Aku juga punya sesuatu" kataku sambil memetik jamur itu itu.
Raka mendekat, menatap jamur kecil yang baru muncul. "Wah, ini sudah hampir siap panen, ya?"
Aku mengangguk. "Sebenarnya udah. Kalau aku rawat terus, mungkin bisa lebih besar."
Aku menatap baglog di tanganku, lalu botol di tangannya. "Semoga orang-orang mau nerima. Meski kecil, aku ingin tetap membawa sesuatu."
Raka berdiri di sampingku, botol wine masih tergenggam di tangannya. Ia menatap rak sejenak, lalu menarik napas panjang.
"Aku jadi teringat sesuatu, Mir. Kau tahu," katanya tiba‑tiba, suaranya agak pelan tapi jelas,
"udara di bumi ini tidak pernah benar‑benar hilang. Ia hanya berputar, tetap sama, dari masa ke masa. Mungkin suatu hari, napas yang kita hembuskan sekarang akan kembali dihirup oleh anak‑anak kita, atau cucu‑cucu kita nanti. Seperti lingkaran yang tidak pernah terputus."
Aku menoleh, sedikit terkejut dengan kata‑katanya. Raka tidak menatapku, matanya justru mengikuti garis rak kayu, seakan berbicara pada ruang itu sendiri.
Aku menggenggam baglog lebih erat, merasakan jamur kecil di dalamnya seolah ikut mendengar. Kata‑kata Raka bergema, menyatu dengan aroma kayu basah dan cahaya sore yang menembus celah papan.
Tidak dapat langsung menjawab. Kagumku hanya diam, membiarkan kalimat itu menetap di udara, seperti napas yang ia bicarakan.
Aku terdiam lama, kata‑kata Raka tentang udara yang berputar itu menempel di benak.
Jika benar napas yang kita hembuskan akan kembali dihirup oleh anak atau cucu kita nanti, maka setiap tarikan napas adalah warisan.
Setiap hembusan adalah jejak yang tidak pernah hilang.
Aku jadi bertanya pada diriku sendiri, apa yang sebenarnya ingin kutinggalkan? Apakah jamur‑jamur kecil ini cukup untuk disebut warisan? Atau sekadar tanda bahwa aku pernah mencoba, meski gagal di kota, meski sering dianggap tidak berguna?
Hidup terasa seperti lingkaran yang tidak pernah putus. Aku lahir dari napas bapak dan ibu, tumbuh dari tanah yang sama, dan kini mencoba menanam sesuatu di ruang sempit yang bapak sulap untukku.
Mungkin suatu hari, hasil kecil ini akan menjadi napas baru bagi orang lain.
Aku sadar, keberadaanku bukan tentang besar atau kecilnya hasil. Itu tanda bahwa aku ada, bahwa aku berusaha, bahwa aku menolak hilang begitu saja.
Seperti Rerindang.
Sekali lagi, tiba-tiba nama itu kembali hadir dalam benakku. Nama itu Rerindang muncul begitu saja, seperti bisikan dari masa lalu.
Aku tidak tahu kenapa ia kembali sekarang, di tengah rak kayu dan baglog yang berderet. Mungkin karena kata‑kata Raka tentang lingkaran napas, tentang sesuatu yang tidak pernah hilang.
Selama ia bersama kami dulu di bukit, ia menjaga dan selalu memberikan kebaikannya dalam bentuk yang terlihat maupun tidak.
Sekarang pun, bayangan Rerindang masih hidup di sekelilingku. Kayunya yang dulu ditebang kini menjadi penyangga gudang ini, menopang rak‑rak panjang tempat aku menata baglog.
Serbuknya bercampur dengan dedak dan air, menjadi pakan bagi keajaibanku, jamur‑jamur kecil yang tumbuh diam‑diam. Seakan melanjutkan napas pohon itu dalam bentuk lain.
Aku menatap rak kayu, meraba permukaannya yang kasar. Ada jejak masa lalu di sana, jejak panen raya ketika Pak Wiryo memimpin orang‑orang desa menebang pohon besar di bukit.
Saat itu aku merasa kehilangan, seakan teduhan kami semua direnggut.
Tapi kini aku sadar, ia hanya menjadi bagian dari ruang sempit ini, memberi kesempatan bagi sesuatu yang baru untuk lahir.
Mereka tumbuh dari sisa Rerindang, dari serbuk yang dulu hanyalah debu. Dan aku, dengan tangan gemetar, mencoba merawatnya, seakan merawat kenangan yang tidak ingin padam.
Aku menarik napas panjang. Mungkin inilah lingkaran yang Raka maksud. Napas, kayu, serbuk, jamur... semuanya berputar, tidak pernah hilang.
Rerindang tetap ada, meski tidak lagi berdiri di bukit. Ia hadir di gudang ini, di rak kayu, di baglog bening, bahkan di harapan kecil yang kutanam untuk festival nanti.
Aku tersenyum tipis, membisikkan kata pada diriku sendiri "Rerindang, kamu hadir lagi. Kini menjadi bahan bakar bagi keajaibanku."