Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kisah kelam di balik cermin terkutuk
Malam itu, setelah selesai makan malam dan kembali ke apartemennya, suasana di dalam ruangan terasa sunyi dan berat. Lampu utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu meja kecil yang berkelip redup, menciptakan bayangan panjang di dinding.
Xinyao duduk bersila di tengah ruangan, tepat di atas lantai yang telah ia persiapkan sebelumnya. Dengan teliti dan rapi, sebuah lingkaran segel berwarna merah pucat terlukis di lantai, dipenuhi simbol-simbol Tao kuno yang berpendar samar, seolah bernapas pelan mengikuti denyut malam.
Ia menghela napas perlahan, kedua telapak tangannya bertumpu di atas lutut, tubuhnya tegak namun santai—sebuah sikap tenang dari seseorang yang sudah terbiasa berhadapan dengan hal-hal di luar nalar manusia.
“Waktunya mengurus cermin ini,” gumam Xinyao pelan, suaranya rendah namun mantap, seolah berbicara pada dirinya sendiri sekaligus pada sesuatu yang tidak kasatmata.
Dengan gerakan hati-hati, ia mengeluarkan sebuah cermin tua dari dalam kotaknya. Bingkai cermin itu tampak kusam, retak halus menjalar di sudut-sudutnya, dan permukaannya memantulkan bayangan yang terasa… tidak wajar. Xinyao meletakkannya tepat di tengah lingkaran segel, memastikan posisinya tidak melenceng sedikit pun.
“Hei, keluar cepat,” ujarnya datar namun tegas.
“Waktuku nggak banyak. Aku harus tidur lebih cepat malam ini.”
Hening.
Lalu—
WUUUUSSSSS—
Hawa dingin mendadak menyembur keluar dari dalam cermin, menusuk tajam hingga ke tulang, membuat bulu kuduk berdiri. Cahaya lampu bergetar, tirai jendela bergoyang pelan tanpa sebab.
Perlahan… sebuah bayangan mulai muncul dari permukaan cermin.
Seorang wanita bergaun pengantin merah darah keluar dengan gerakan lambat, rambut panjangnya terurai, wajahnya pucat dengan mata gelap berkilau. Gaun itu menjuntai berat, seakan masih menyimpan darah dan dendam dari kehidupan sebelumnya.
WUUUSSSSS—
Angin berhembus lembut, namun dinginnya begitu menusuk, membuat ruangan terasa seperti berubah menjadi makam sunyi.
“Hai~”
Hantu wanita itu tersenyum tipis, suaranya melayang dan bergema.
“Gadis kecil… kuat juga ilmumu.”
Xinyao mengangkat dagu sedikit, tatapannya tajam dan penuh percaya diri.
“Tentu saja,” jawabnya santai.
“Aku ini Taois terhebat. Kalau cuma kau, kecil.”
Ia menjentikkan ibu jari dan jari manisnya, menghasilkan bunyi kecil yang memecah keheningan.
“Hmph,”
Hantu wanita itu terkekeh, tubuhnya melayang-layang di udara.
“Boleh juga kesombonganmu.”
“Jangan jauh-jauh.”
Nada Xinyao tiba-tiba menurun, mengandung peringatan.
“Kamu belum bisa terbang terlalu jauh. Aku belum melepas seluruh ikatanmu dengan cermin itu.”
“Hah?”
Hantu wanita itu mendadak berhenti di udara. Wajahnya menegang.
“HuAAAA—!”
Ia merintih dramatis.
“Artinya aku harus balik ke dalam cermin lagi?”
Wajahnya memelas, suaranya lesu.
“ENGGAK!”
Ia berteriak lirih, hampir menangis.
“Aku nggak mau balik ke dalam cermin!”
“Aku tahu,”
Xinyao mendecak kesal.
“Makanya duduk yang tenang. Belum apa-apa sudah panik duluan.”
“Hehehe…”
Hantu wanita itu tersenyum kikuk, garuk-garuk kepala meski tangannya tembus udara.
“Sekarang,”
Xinyao menegakkan tubuhnya.
“Duduk dan ceritakan. Kenapa kamu bisa berakhir terperangkap di dalam cermin ini.”
“Hemmm…”
Hantu wanita itu malah membaringkan tubuhnya di udara, tangan menopang kepala.
“Ceritanya panjang. Sampai pagi juga nggak bakal selesai.”
PLETAK!
Xinyao menjentikkan kening hantu itu tanpa ragu.
“Aduh!”
Hantu wanita itu terkejut, tangannya langsung mengusap keningnya.
“Kok bisa sakit? Aku kan hantu…”
Wajahnya penuh kebingungan.
“Aku ini Taois,”
Xinyao mendesis kesal.
“Bodoh. Aku suruh kamu cerita, bukan ceramah.”
“Iya, tapi ceritanya memang panjang…”
Hantu wanita itu memiringkan tubuhnya, menatap Xinyao dengan wajah polos.
“Dipendekkan.”
Xinyao mengacak-acak rambutnya sendiri, frustrasi.
“Aaaa!”
Ia berteriak kesal.
“Dipendekkan! Sudah jadi hantu ribuan tahun masih saja bodoh!”
“O-oh…”
Hantu wanita itu tersentak.
“Bilang dari tadi dong…”
PLAK!
Xinyao menepuk jidatnya sendiri.
“Sudah,”
katanya sambil menarik napas panjang.
“Ceritakan kenapa kamu berakhir di cermin ini. Biar aku bisa membebaskanmu.”
“Serius?”
Hantu wanita itu menatapnya penuh harap.
Xinyao mengangkat cermin itu sedikit.
“Aku buang ini.”
“EH—JANGAN!”
Hantu wanita itu panik.
“Iya! Iya! Aku cerita!”
Ia melayang-layang gelisah, berpikir keras.
Xinyao melangkah ke jendela, membukanya lebar, angin malam menerpa rambutnya.
“Lama.”
“Eh! Bahaya! Jangan dibuang!”
Hantu wanita itu langsung menarik Xinyao kembali, memaksanya duduk di dalam lingkaran segel.
Dengan suara bergetar, akhirnya ia mulai bicara—
“Namaku… Liu Meiren…”
•FLASHBACK
Liu Meiren terdiam sejenak. Tubuhnya yang melayang perlahan turun, gaun pengantin merahnya berkibar pelan seolah terseret kenangan lama. Senyumnya menghilang, digantikan tatapan kosong yang dalam dan kelam.
“Kalau begitu…”
suaranya merendah, serak,
“aku akan mulai dari hari aku jatuh cinta.”
✦ Cinta
Dulu, Liu Meiren bukan arwah, bukan dendam, bukan kutukan.
Ia hanyalah seorang gadis desa, dengan senyum lembut dan mata yang percaya pada dunia.
Hari itu hujan turun rintik-rintik. Meiren berdiri di bawah atap bambu, gaunnya basah di ujung, rambutnya menempel di pipi. Saat itulah seorang pria muncul, membawa payung hitam, wajahnya bersih, tutur katanya halus.
“Namanya Zhou Wen,“
ujar Meiren lirih.
“Pria yang kupikir adalah takdirku.”
Ia menawarinya payung.
Jari mereka bersentuhan—
hanya sebentar, namun cukup membuat jantung Meiren bergetar.
Sejak hari itu, Zhou Wen sering datang.
Membawakan obat saat Meiren sakit.
Menyelipkan bunga liar di ambang jendela.
Berjanji—
“Aku akan menikahimu.”
Dan Meiren percaya.
Ia menjahit sendiri gaun pengantinnya yang merah, warna keberuntungan menurut adat lama.
Setiap jahitan dipenuhi harapan.
Setiap malam dipenuhi doa.
“Aku bahagia,”
gumamnya pahit.
“Sangat bahagia… sampai aku dibunuh oleh kebahagiaan itu sendiri.”
✦ Pengkhianatan
Hari pernikahan tiba.
Liln menyala. Musik tradisional menggema.
Meiren duduk di depan cermin perunggu tua—
cermin warisan keluarga Zhou.
Ia menunggu.
Satu jam.
Dua jam.
Pintu terbuka bukan oleh mempelai pria—
melainkan seorang Taois tua dengan wajah dingin, diikuti Zhou Wen yang menunduk, bahkan tak berani menatapnya.
“Kenapa…?”
Suara Meiren bergetar.
“Kenapa kau tidak memakai pakaian pengantin?”
Zhou Wen tidak menjawab.
Taois itu melangkah maju, meletakkan jimat-jimat di lantai, membentuk pola aneh.
“Maafkan aku, Meiren,”
akhirnya Zhou Wen bersuara.
“Aku tidak pernah mencintaimu.”
Meiren bangkit dengan tubuh gemetar.
“Apa maksudmu…?”
“Keluargaku butuh ini.”
Zhou Wen menutup mata.
“Hatimu cocok. Jiwamu bersih. Kau… wadah yang sempurna.”
Saat itu—
Meiren mengerti.
Cinta itu palsu.
Janji itu umpan.
Pernikahan itu—
pengorbanan.
✦ Ritual Cermin
Malam itu, Meiren diikat di depan cermin perunggu.
Gaun pengantinnya kini basah oleh darah.
Tangannya diikat erat.
Kakinya gemetar.
Mulutnya disumpal kain ritual.
Mantra-mantra kuno dilantunkan.
Darah menetes ke permukaan cermin, mengalir seperti ular merah.
Cermin itu bergetar.
Meiren menatap bayangannya—
wajah pucat, mata penuh air mata,
seorang pengantin yang akan mati tanpa pernah dicintai.
Zhou Wen berdiri di belakangnya.
“Aku minta maaf,”
bisiknya.
Meiren menangis.
Bukan karena takut mati—
tapi karena ia masih mencintai pria itu.
Taois mengangkat belati.
SRET—
Darah mengalir.
Jantung Meiren berhenti.
Namun jiwanya—
tidak pergi.
Ia ditarik.
Dihisap.
Diseret ke dalam cermin.
Jeritannya terperangkap di balik kaca.
✦ FLASH OFF
“Sejak hari itu,”
suara Liu Meiren bergetar,
“aku terperangkap di dalam cermin.”
Ia tertawa pelan, pahit.
“Setiap orang yang menatap cermin itu dengan keserakahan…”
“akan kuberikan keberuntungan palsu.”
“Dan sebagai gantinya—”
matanya menggelap,
“aku mengambil hati mereka.”
Ia menatap Xinyao.
“Karena…”
air mata darah jatuh,
“tak ada yang lebih kejam dari cinta yang mengkhianati.”
Ruangan hening.
Udara terasa berat.
Lingkaran segel berpendar redup.
Xinyao menatap Liu Meiren lama—
bukan dengan takut,
melainkan dengan kemarahan dingin.
“Zhou Wen…”
gumam Xinyao.
“Sudah mati, kan?”
Liu Meiren tersenyum.
“Kalau saja dia mati…”
bisiknya pelan.
“Aku tak akan jadi seperti ini.”
• Liu meiren
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...