NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Triiinggg! Triiinggg!

Suara lengkingan dering telepon mendadak membelah keheningan suasana pagi, memaksa Repan yang saat itu sedang tertidur lelap untuk mengerang pelan.

Sambil memejamkan kedua kelopak matanya, ia menggerutu jengkel, "Sialan... siapa sih yang nekat menelepon sepagi ini?"

Dengan gerakan malas, tangannya meraba-raba permukaan meja di samping tempat tidur. Tanpa sudi melihat siapa nama kontak yang tertera di layar, ia langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.

"BOCAH SIALAN! Ke mana saja kau semalam, hah?! Kenapa kamu sampai bolos dan nggak masuk kerja?! Kamu pikir tempat usaha saya ini taman kanak-kanak yang bisa seenaknya kamu tinggal?! Bulan depan gajimu resmi saya potong!"

Vokal melengking keras dari seorang pria paruh baya langsung membanjiri lubang telinganya. Hantaman suara itu sukses membuat Repan langsung membuka sepasang matanya dengan raut kesal.

Suara cempreng bernada tinggi itu terasa sangat familier—itu adalah suara bos lamanya, Pak Burhan, seorang pemilik toko grosir tempatnya bekerja paruh waktu yang terkenal sangat galak sekaligus pelit.

Dengan nada suara malas sekaligus geram, Repan langsung menyahut, "Anda sudah mengganggu waktu tidur saya, dasar tua bangka! Mulai detik ini juga, saya resmi berhenti kerja di tempat Anda! Simpan saja sisa gaji saya itu buat modal membeli obat tekanan darah tinggi Anda!"

Tanpa memberikan celah bagi lawan bicaranya untuk merespons, Repan langsung memutuskan sambungan telepon dengan kasar. Sepasang netranya melirik ke arah jam dinding yang terpajang di kamar. Jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.

"Humm... sebaiknya aku memang harus bangun," gumamnya pelan.

Namun, tepat di saat ia menegakkan tubuhnya untuk bangkit berdiri, ada sesuatu yang terasa sangat janggal pada fisiknya.

Pakaian tidur yang semalam ia kenakan kini terlihat... menyusut parah.

"Lho? Apa-apaan nih? Kenapa pakaian ku mendadak jadi sempit begini?" ujarnya heran sambil menarik-narik ujung kaos oblongnya yang kini tampak ketat mirip seperti baju anak SMP. Bahkan celana pendek yang dipakainya pun terasa sangat menjepit di area paha.

Didorong rasa penasaran, Repan langsung berlari cepat menuju ke arah cermin besar yang berdiri di pojok kamar tidurnya. Begitu pandangannya menangkap pantulan bayangan fisik di dalam kaca, sepasang kelopak matanya langsung membelalak lebar.

"A-APA INI BENARAN AKU?!"

Sosok pria yang terpantul di dalam cermin itu benar-benar bukan penampakan wajah Repan yang biasa. Kini, permukaan kulit wajahnya tampak berkali-kali lipat lebih halus, dengan struktur tulang wajah yang terkesan jauh lebih tajam dan simetris sempurna. Bagian alisnya tampak tegas membingkai sorot mata yang menawan, disertai pancaran aura maskulin yang sangat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Bahkan postur tubuh biologisnya kini bertransformasi menjadi jauh lebih tinggi, berada di kisaran angka 177 sentimeter dengan proporsi bahu yang bidang, bidang dada yang mulai berbentuk padat berotot, serta lingkar pinggang yang ramping. Sangat proporsional.

"LUAR BIASA!" teriak Repan seolah nggak percaya dengan realitas yang ada, sembari meraba permukaan pipi dan garis dagunya sendiri.

"Ternyata penampilanku beneran berubah jadi jauh lebih tampan! Gila, sistem misterius ini bener-bener beroperasi tanpa tipu-tipu! Cuma butuh waktu satu malam saja, dan sekarang penampilanku sudah kelihatan mirip seperti aktor drama Korea!"

Ia sama sekali nggak bisa mengalihkan pandangannya dari cermin. Setiap sudut guratan di wajahnya kini terlihat sangat sempurna laksana hasil sentuhan edit foto profesional.

'Kira-kira apa yang bakal terjadi kalau ke depannya aku mendongkrak indeks atribut ketampanan ini lagi ya... apa mungkin penampilanku bisa menyamai level model internasional?!' gumamnya antusias, dengan semangat yang menggebu-gebu.

Tok! Tok!

"Kak Repan! Ayo bangun! Menu sarapan paginya sudah siap di meja nih!" Sebuah vokal manis milik adiknya, Arinda, terdengar mengetuk dari balik pintu kamar.

Repan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gejolak hatinya, lalu menyahut, "Iya, Rin! Kakak keluar sebentar lagi!"

Begitu ia membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke area ruang makan, Arinda yang saat itu sedang duduk santai sambil menonton tayangan TV langsung menolehkan kepalanya.

Seketika itu juga, sepasang mata gadis remaja itu langsung melebar sempurna karena syok.

"Lho, Kak?! Kok penampilan Kakak... agak berbeda ya hari ini?! Aku merasa postur Kakak kelihatan lebih tinggi dan... wajah Kakak jadi ganteng banget? Serius deh, beda drastis kalau dibandingkan sama penampilan Kakak yang kemarin!"

Repan hanya melempar senyuman santai menanggapi kepanikan adiknya.

"Adik bodoh... kakakmu yang satu ini kan memang sudah punya gen ketampanan sejak lahir, kamunya saja yang baru sadar hari ini."

"Nggak mungkin!" sergah Arinda cepat sambil mengerutkan kedua alisnya heran.

"Aku kan orang yang paling tahu bagaimana bentuk muka Kakak setiap hari! Nggak masuk akal bisa berubah drastis begini cuma dalam waktu semalam saja!"

Repan terkekeh kecil melihat ekspresi keras kepala adiknya. "Sudahlah, nggak usah dipikirkan terlalu dalam. Ayo kita segera sarapan. Kakak sudah lapar banget nih melihat menu nasi goreng buatanmu."

Meskipun raut wajah Arinda masih menyiratkan secercah keraguan, gadis itu akhirnya memilih untuk menyunggingkan senyuman dan mulai menyendokkan nasi ke atas piring.

'Ada sesuatu yang aneh yang sedang terjadi sama Kak Repan... tapi sebenarnya apa ya?' batinnya menebak-nebak. Namun, ia memilih untuk nggak memperpanjang perdebatan tersebut.

Repan pun mulai menyantap makanan paginya dengan sangat lahap. Harumnya aroma menu nasi goreng kesukaannya itu instan menghangatkan rongga perut sekaligus suasana hatinya. Harus diakui, adik perempuannya itu memang memiliki bakat yang sangat pandai dalam urusan memasak.

"Kak, omong-omong... Kak Sasa sudah dikasih tahu belum kalau sekarang kita sudah punya rumah mewah baru?" tanya Arinda di sela-sela kunyahan pelannya.

Repan menggelengkan kepalanya tenang.

"Belum."

Arinda langsung memamerkan senyuman lebar yang ceria. "Aku yakin banget Kak Sasa pasti bakal senang sekali mendengarnya, Kak! Dijamin dia bakal makin sayang dan lengket sama Kak Repan!"

Mendengar nama perempuan itu disebut, Repan langsung menghentikan aktivitas makannya sejenak dan menatap lekat-lekat ke arah adiknya.

"Mulai sekarang, berhenti membahas nama perempuan itu lagi. Hubungan kami berdua sudah resmi berakhir."

Arinda seketika langsung bungkam mematung.

"A-apa?! Putus?! Tapi atas dasar apa, Kak?!"

Guratan rasa kekecewaan yang mendalam langsung tergambar jelas di wajah Arinda. Selama ini, hubungan emosional antara Arinda dan Sasa memang sudah terjalin sangat dekat, bahkan Arinda sudah menganggap Sasa laksana kakak kandungnya sendiri.

"Dia lebih memilih untuk berpaling kepada pria lain yang punya harta," jawab Repan datar, walau tak bisa dimungkiri terselip sedikit nada getir di balik penuturannya.

"Hah! Nggak mungkin, Kak! Kak Sasa itu setahuku tipe gadis yang punya hati baik!" sahut Arinda dengan nada nggak percaya.

"Tapi realitasnya memang seperti itu," jawab Repan berusaha tetap tenang.

Arinda langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan raut sedih. "Padahal aku mengira... Kak Sasa adalah tipe perempuan yang setia..."

Repan memilih untuk nggak merespons kalimat tersebut. Ia kembali melanjutkan kunyahan nasi gorengnya, sembari melemparkan pandangan kosong ke arah permukaan piring.

Di balik transformasi ketampanan barunya yang memukau, lubuk hatinya yang terdalam memang belum sepenuhnya pulih total dari luka pengkhianatan masa lalu.

Setelah menyelesaikan santapan nasi goreng buatan adiknya hingga tandas, Repan bangkit berdiri dari kursi makannya lalu melangkah menuju ke dalam kamar selama beberapa saat.

Tidak butuh waktu lama, ia kembali ke ruang makan dengan membawa dua buah kotak perhiasan berukuran kecil berlapis kain beludru berwarna biru elegan, lengkap dengan hiasan pita emas di bagian atasnya.

"Arinda... perhiasan ini sengaja Kakak beli khusus untukmu," ucap Repan sembari menyodorkan kedua kotak mewah tersebut ke hadapan sang adik.

Tangan kanannya bergerak lembut mengacak-acak pucuk rambut adiknya dengan penuh limpahan kasih sayang.

"Maaf ya, Kakak baru sempat membelikanmu hadiah yang layak sekarang."

Arinda menatap sepasang kotak elegan di hadapannya dengan netra yang berbinar-binar penuh ketakutan.

"Kak... ini beneran dibeli buat aku?" tanyanya dengan nada suara yang bergetar hebat antara syok sekaligus terharu.

Repan melempar senyuman hangat. "Kakak harap kamu menyukai isinya."

"Pasti suka banget, Kak! Terima kasih banyak!" seru Arinda penuh semangat.

Gadis itu dengan cepat membuka segel kotak pertama, lalu dilanjutkan dengan kotak yang kedua. Seketika itu juga, sepasang kelopak matanya langsung membelalak lebar karena takjub.

Di dalam kotak tersebut tampak tersaji sepasang unit perhiasan yang sangat cantik: sebuah cincin yang dihiasi butiran berlian mini yang memantulkan kilau lembut, serta sebuah gelang emas putih elegan dengan detail ukiran halus bermotif bunga.

"Ya ampun, Kak! Perhiasan ini... indah banget!" seru Arinda seolah nggak percaya dengan penglihatannya. "Aku suka sekali dengan modelnya, Kak! Terima kasih banyak ya!" ucapnya yang langsung menghambur memeluk tubuh Repan erat-erat.

Repan membalas dekapan hangat tersebut sembari mengelus lembut rambut adiknya. "Syukurlah kalau kamu menyukai hadiahnya."

Tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi, Arinda langsung mencoba mengenakan unit cincin dan gelang mewah tersebut di jemarinya. Ia mengamati punggung tangannya sendiri dengan ulasan senyuman yang sangat cerah, masih diselimuti rasa nggak percaya kalau koleksi perhiasan seindah itu kini telah resmi menjadi hak miliknya.

Namun, tepat di saat jemarinya tidak sengaja menarik selembar kertas nota kecil yang terselip di dalam sudut kotak, ekspresi wajah Arinda mendadak berubah drastis menjadi sangat panik.

"Eh... nominal angka apa ini...?!" batinnya dirundung kepanikan.

Sepasang matanya menatap deretan angka harga yang tertera di kertas nota tersebut dengan raut syok berat.

"Kak! Ini... ini nominal harga aslinya?!" tanya Arinda dengan nada suara yang nyaris bergetar hebat.

Repan hanya menganggukkan kepalanya dengan santai.

"Kalau aku nggak salah ingat, total nominal untuk kedua item itu berada di kisaran angka dua setengah miliar rupiah. Memangnya kenapa?"

Arinda langsung mematung kaku laksana patung. Detik berikutnya dengan pergerakan yang tergesa-gesa, ia langsung buru-buru melepaskan kaitan cincin dan gelang mewah tersebut dari tubuhnya, lalu buru-buru memasukkannya kembali ke dalam kotak beludru.

"Nggak... nggak mau! Aku nggak akan berani memakai perhiasan ini ke luar rumah, Kak! Bagaimana kalau nanti di jalan aku malah jadi sasaran perampokan?! Atau bagaimana kalau perhiasannya nggak sengaja jatuh lalu hilang?! Ini harganya terlampau mahal banget!"

Arinda terlihat diserang rasa cemas yang luar biasa, seolah-olah sedang memegangi sebuah bom waktu yang siap meledak di tangannya.

Repan sempat terdiam selama beberapa saat menyaksikan kepanikan adiknya. Ekspresi wajahnya perlahan berubah menjadi sangat serius.

'Benar juga ya... kalau dipikir-pikir, meskipun saat ini kapasitas fisikku sudah berubah jadi sangat kuat berkat sistem, tapi aku nggak mungkin bisa terus-menerus stand-by selama 24 jam untuk menjaga keselamatan Arinda. Bagaimana kalau suatu saat nanti ada kelompok kriminal yang berniat menyakitinya hanya karena mereka tahu kalau adikku memegang aset barang-barang berharga mahal?' batin Repan menganalisis situasi. Naluri protektif sebagai seorang kakak langsung menyala aktif di dalam dadanya.

'Aku harus segera memutar otak untuk mencari orang kepercayaan yang bisa ditugaskan khusus untuk menjaga keselamatannya... sesosok petarung yang punya kemampuan kuat, namun memiliki perawakan yang tak mencolok. Figur yang sanggup melindungi Arinda dari jarak jauh tanpa perlu menarik perhatian massa,' tekad Repan di dalam lubuk hatinya.

Namun, untuk mengantisipasi situasi saat ini, ia hanya bisa berusaha menenangkan kepanikan adiknya terlebih dahulu.

"Ya sudah, minimal kamu pakai cincinnya saja dulu. Modelnya kelihatan sangat cocok melingkar di jemarimu," bujuk Repan sambil menyunggingkan senyuman tipis.

"Dan kalau sampai ada berandalan yang punya nyali besar buat berniat menyakitimu... Kakak berjanji bakal menghajar mereka sampai cacat seperti komplotan berandalan yang Kakak beresin kemarin."

Arinda masih tampak menunjukkan gestur ragu. "Tapi Kak... bagaimana kalau cincin mahal ini nggak sengaja hilang di sekolah? Kakak bakal marah besar nggak sama aku?"

Repan menatap lekat-lekat ke dalam manik mata adiknya dengan sorot penuh kelembutan.

"Adik bodoh... kapan sih kakakmu ini pernah tega marah besar sama kamu? Nggak pernah sama sekali, kan? Kalau memang apesnya sampai hilang, ya sudah, tinggal kita beli lagi unit yang baru."

Arinda akhirnya meledak dalam tawa kecil yang geli. "Baiklah kalau begitu... aku pakai cincinnya saja ya," ucapnya patuh sembari kembali menyematkan cincin berlian mewah itu di jari manisnya.

Gadis itu terus-menerus memandangi jemarinya dengan raut wajah penuh kebanggaan. "Cantik banget bentuknya..."

Setelah sempat terdiam selama beberapa saat menikmati suasana, Arinda mendadak menatap lurus ke arah Repan dengan pancaran sorot mata yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang teramat besar.

"Ngomong-ngomong ya, Kak... Kakak sebenarnya bisa mendapatkan modal uang sebanyak itu dari mana sih?"

Repan sempat menahan deru napasnya selama satu ketukan karena terkejut. 'Sial... aku harus menyusun skenario jawaban apa nih? Nggak mungkin juga kan kalau aku jujur bilang kalau seluruh kekayaan fantastis ini kudapatkan secara gaib dari sebuah sistem misterius di dalam kepala. Dia pasti bakal menganggapku sudah gila dan nggak akan percaya...'

Roda pikirannya langsung berputar cepat mencari celah, berusaha merangkai satu opsi jawaban masuk akal yang sekiranya sanggup diterima oleh logika berpikir Arinda. 'Ah benar, aku kan sering menonton konten edukasi keuangan.'

"Sebenarnya sekitar tiga tahun yang lalu, Kakak diam-diam sempat menyisihkan uang untuk mencoba berinvestasi di dunia aset crypto, Rin. Dan nggak disangka-sangka, belakangan ini grafik harganya mendadak meledak tinggi di pasar global. Makanya Kakak bisa mendulang keuntungan modal dalam jumlah yang sangat fantastis," jelas Repan merangkai alibi.

Satu-satunya opsi alasan yang dirasanya paling logis untuk menjelaskan kekayaan mendadaknya adalah lewat investasi Crypto.

Mendengar penjelasan tersebut, Arinda langsung bersorak kegirangan penuh rasa takjub.

"Wah! Kakakku ini beneran sosok pria yang jenius! Sejak dulu aku memang sudah tahu kalau Kak Repan itu punya otak yang sangat pintar! Aku bener-bener bangga bisa punya kakak sehebat Kak Repan!"

Repan hanya menanggapi sorakan itu dengan tawa kecil. Namun di balik tawa santainya, ada kehangatan emosional yang teramat pekat yang nggak sanggup ia sembunyikan di dalam dadanya.

Menyaksikan ulasan senyuman bahagia yang terpancar dari wajah adik perempuannya sukses membuat lubuk hatinya terasa begitu damai dan utuh.

Ia sangat tahu... untuk lembaran hari ini, pencapaian tersebut sudah lebih dari cukup.

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!