Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Terlarang
Feiyan duduk sendirian di tepi paviliun batu, memandang halaman dalam yang mulai diselimuti senja. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah lembap dan dedaunan tua. Semuanya tampak biasa—terlalu biasa—namun pikirannya belum benar-benar kembali dari ilusi bulan purnama itu.
Keheningan yang tersisa terasa ganjil. Tidak menekan, tapi juga tidak memberi ketenangan. Seperti ruang kosong yang dibiarkan terbuka.
Ia menurunkan pandangan ke telapak tangannya. Tidak gemetar. Tidak terluka. Qi di tubuhnya stabil. Namun rasa ragu masih mengendap, tipis namun menetap, seperti bayangan yang enggan pergi meski cahaya sudah berubah.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Feiyan menoleh tanpa banyak harap, lalu sedikit terkejut ketika melihat Lin Yue mendekat dari arah koridor samping. Perempuan itu melangkah santai, jubahnya sederhana, rambutnya terikat rapi. Tidak ada aura menekan, tidak ada niat mencolok.
Hanya senyum lembut yang tampak alami.
“Oh,” ucap Lin Yue ringan, seolah benar-benar kebetulan. “Kau di sini.”
Feiyan bangkit setengah berdiri, lalu mengurungkan niatnya. Ia mengangguk kecil. “Senior Lin.”
Lin Yue menghampiri, berhenti pada jarak yang sopan. Ia tidak duduk terlalu dekat, tidak pula berdiri terlalu jauh. Jarak yang nyaman. Jarak yang aman.
“Kau terlihat lelah,” katanya sambil menatap Feiyan dengan perhatian yang tidak berlebihan. “Tapi bukan lelah fisik.”
Feiyan terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Kata-kata itu sederhana, namun entah kenapa terasa tepat sasaran.
“Aku baik-baik saja,” ujarnya akhirnya, lebih sebagai kebiasaan daripada keyakinan.
Lin Yue tidak membantah. Ia hanya tersenyum tipis dan duduk di sisi paviliun, memandang ke arah yang sama dengan Feiyan.
“Aku sering melihat orang berkata begitu,” katanya pelan. “Biasanya mereka adalah orang-orang yang paling keras pada diri sendiri.”
Feiyan menghela napas tanpa sadar.
Senja semakin turun, cahaya oranye lembut memantul di permukaan batu. Keheningan di antara mereka tidak terasa canggung. Justru hangat, seperti jeda yang tidak menuntut apa pun.
“Kau tahu,” lanjut Lin Yue, “aku mendengar tentang tugas terakhirmu. Tidak secara detail, tentu saja.” Ia melirik Feiyan sekilas. “Tapi cukup untuk tahu bahwa itu tidak mudah.”
Feiyan menegang sesaat, lalu mengendur. “Aku hanya… menjalankan perintah.”
“Dan kau selamat,” kata Lin Yue. “Itu sudah lebih dari cukup.”
Kalimat itu sederhana. Tidak memuji berlebihan. Tidak menuntut pembuktian. Namun justru itu yang membuatnya terasa berbeda.
Feiyan menunduk. “Aku tidak yakin.”
Lin Yue memiringkan kepala sedikit. “Tentang apa?”
“Apakah aku benar-benar… pantas berada di sini,” jawab Feiyan lirih. “Aku selalu merasa satu langkah tertinggal. Selalu hampir gagal. Selalu membutuhkan dorongan dari luar.”
Ia berhenti bicara, seolah baru menyadari bahwa ia telah mengatakan lebih dari yang seharusnya.
Namun Lin Yue tidak terlihat terkejut. Ia tidak menyela. Tidak memberi ekspresi kasihan.
Ia hanya mendengarkan.
“Itu bukan kelemahan,” katanya setelah jeda singkat. “Itu tanda bahwa kau masih peduli pada dirimu sendiri.”
Feiyan mengangkat kepala, menatapnya. “Benarkah?”
Lin Yue tersenyum, kali ini sedikit lebih hangat. “Orang yang benar-benar lemah biasanya tidak pernah mempertanyakan apa pun. Mereka berjalan tanpa ragu—dan jatuh tanpa sadar.”
Kata-kata itu mengendap perlahan.
Feiyan merasakan sesuatu di dadanya melonggar, sedikit demi sedikit. Bukan karena jawabannya sempurna, melainkan karena ia merasa… dimengerti.
“Aku melihat caramu berlatih,” lanjut Lin Yue. “Caramu bertahan. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi ketekunanmu itu jarang.”
Feiyan mengerutkan kening. “Tapi hasilnya—”
“Hasil bisa dikejar,” potong Lin Yue lembut. “Niat dan ketulusan tidak selalu bisa.”
Ia menoleh ke arah Feiyan, tatapannya jernih. Tidak menusuk. Tidak menilai.
“Kau terlalu fokus pada apa yang belum kau capai,” katanya. “Sampai lupa bahwa kau sudah berjalan sejauh ini.”
Feiyan menelan ludah.
Ada rasa hangat yang merambat perlahan, bukan seperti api Yan Mei yang menyala dan membakar, bukan pula ketenangan beku seperti ilusi Xi Qinxue. Ini berbeda.
Lebih lembut. Lebih manusiawi.
“Aku…” Feiyan ragu sejenak, lalu menghembuskan napas. “Aku sering takut salah melangkah.”
“Semua orang begitu,” jawab Lin Yue tanpa ragu. “Tapi tidak semua orang berani mengakuinya.”
Ia tersenyum lagi, kali ini hampir seperti kakak yang melihat adiknya tersandung lalu bangkit kembali.
Feiyan tertawa kecil, hambar. “Senior terlalu baik.”
Lin Yue menggeleng pelan. “Aku hanya jujur.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, Feiyan tidak merasa kosong. Ada ruang untuk bernapas.
Tanpa sadar, ia mulai berbicara lagi. Tentang latihan yang tidak pernah terasa cukup. Tentang keputusan yang selalu terasa terlambat. Tentang rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan pada siapa pun.
Kata-kata itu mengalir, satu per satu, tanpa ia sadari batasnya.
Lin Yue mendengarkan dengan sabar. Kadang mengangguk. Kadang menanggapi singkat, tepat pada titik yang diperlukan.
“Wajar jika kau merasa seperti itu,” katanya di satu titik. “Dengan tekanan sebanyak ini, siapa pun bisa retak.”
Retak.
Kata itu membuat Void Crack di dada Feiyan berdenyut sangat samar, nyaris tak terasa. Namun Feiyan tidak menyadarinya. Perhatiannya tertuju pada suara Lin Yue yang tenang.
“Kau tidak harus selalu kuat,” lanjut Lin Yue. “Tidak di hadapanku.”
Kalimat itu jatuh lembut, seperti selimut yang disampirkan perlahan.
Feiyan terdiam lama.
Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak. Ingin berkata bahwa ia tidak butuh sandaran. Namun bagian itu terasa lemah, jauh, terkubur oleh kelelahan yang selama ini ia tahan sendiri.
“Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan semua ini,” ujarnya akhirnya.
Lin Yue tersenyum tipis. “Karena kau butuh didengar.”
Feiyan memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, senja hampir sepenuhnya menghilang, digantikan cahaya malam yang lembut.
Entah sejak kapan, kehadiran Lin Yue terasa… perlu.
Ia tidak menyadari bahwa di balik senyum lembut itu, sesuatu sedang bekerja perlahan, menyelaraskan denyut emosi Feiyan dengan ritme yang bukan lagi sepenuhnya miliknya.
Dan di saat Feiyan menunduk, mencoba menenangkan hatinya sendiri, Lin Yue menatapnya dengan senyum yang sama—hangat di permukaan, namun semakin dalam dari sebelumnya.
Malam turun sepenuhnya tanpa terasa. Lentera-lentera di sepanjang halaman dalam mulai menyala satu per satu, cahayanya lembut dan tidak menyilaukan. Feiyan masih duduk di paviliun batu, tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah kata-kata yang baru saja ia ucapkan meninggalkan beban yang nyata di pundaknya.
Lin Yue berdiri perlahan, gerakannya tenang, tidak tergesa. Ia tidak langsung pergi. Ia hanya berpindah posisi, berdiri di sisi paviliun dengan punggung menghadap cahaya lentera, sehingga wajahnya berada dalam bayangan lembut.
“Kau sudah lama memikul semuanya sendiri,” katanya pelan. “Tidak aneh jika hatimu kelelahan.”
Feiyan mengangkat pandangan. Cahaya lentera membingkai sosok Lin Yue dengan siluet hangat. Ada ketenangan aneh yang menyertainya, seperti seseorang yang selalu tahu harus berdiri di mana agar terlihat paling menenangkan.
“Aku tidak ingin merepotkan siapa pun,” ucap Feiyan. “Semua orang juga punya urusannya sendiri.”
Lin Yue tersenyum kecil. “Itu cara berpikir yang baik… tapi juga kejam pada diri sendiri.”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Bukan langkah yang memaksa. Jarak di antara mereka tetap sopan, namun kehadirannya terasa lebih jelas.
“Kau tahu kenapa orang-orang sepertimu sering kelelahan?” lanjutnya. “Karena kalian selalu berpikir bahwa meminta sandaran berarti lemah.”
Feiyan terdiam. Ada getaran kecil di dadanya, bukan sakit, bukan pula dorongan Qi. Lebih seperti sesuatu yang tersentuh dengan tepat.
“Aku hanya… tidak ingin menjadi beban,” katanya lirih.
Lin Yue menatapnya sejenak, lalu menggeleng perlahan. “Beban itu soal sudut pandang. Jika seseorang mengulurkan tangan, bukan berarti ia dipaksa menahanmu.”
Ia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Kadang,” katanya lagi, “itu berarti ia ingin kau bersandar.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat.
Feiyan menghela napas panjang. Ada rasa lega yang mengalir, seperti simpul yang perlahan terurai. Ia tidak menyadari bahwa napasnya kini selaras dengan ritme Lin Yue, tenang dan teratur.
“Senior Lin,” katanya ragu, “kenapa kau… begitu memperhatikanku?”
Lin Yue tidak langsung menjawab. Ia memalingkan wajah, menatap langit malam yang tenang.
“Mungkin,” katanya akhirnya, “karena aku melihat diriku yang dulu padamu.”
Feiyan terkejut kecil. “Senior?”
“Dulu aku juga seperti itu,” ujar Lin Yue, suaranya tetap lembut. “Terlalu berusaha. Terlalu ingin membuktikan diri. Sampai lupa mendengarkan hatiku sendiri.”
Ia menoleh kembali, tatapannya lembut namun dalam.
“Aku tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama.”
Kata-kata itu terdengar tulus. Terlalu tulus untuk diragukan begitu saja.
Feiyan menunduk, jari-jarinya mengepal pelan di pangkuan. “Aku sering merasa… kosong setelah semua ini. Seolah apa pun yang kulakukan tidak pernah cukup.”
Void Crack di dadanya berdenyut sangat samar, hampir tak terdeteksi. Feiyan mengira itu hanya sisa kelelahan.
Lin Yue memperhatikan perubahan halus itu tanpa menunjukkan apa pun.
“Kekosongan itu,” katanya lembut, “bukan karena kau kurang. Tapi karena kau terlalu banyak memberi.”
Ia mendekat sedikit lagi, lalu berhenti. Jarak mereka kini cukup dekat untuk merasakan kehadiran satu sama lain, namun tidak cukup dekat untuk terasa melanggar batas.
“Jika kau terus seperti ini,” lanjut Lin Yue, “suatu hari kau akan habis. Dan orang-orang yang hanya tahu memerintah tidak akan peduli.”
Feiyan mengangkat kepala dengan cepat. “Tidak… mereka—”
Lin Yue mengangkat tangan sedikit, isyarat halus agar Feiyan tenang. “Aku tidak menyalahkan siapa pun. Aku hanya ingin kau lebih jujur pada dirimu sendiri.”
Keheningan kembali tercipta, namun kali ini terasa lebih berat. Bukan karena tekanan, melainkan karena kebenaran yang sulit dihindari.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Feiyan pelan.
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan di situlah sesuatu bergeser.
Lin Yue tersenyum. Bukan senyum lebar. Bukan senyum puas yang kentara. Hanya lengkungan bibir kecil yang nyaris tak terlihat.
“Kau tidak harus melakukan apa pun sendirian,” jawabnya. “Jika kau ragu… kau bisa datang padaku.”
Feiyan menatapnya, terdiam lama. Ada bagian dalam dirinya yang seharusnya waspada. Namun bagian itu tenggelam di bawah rasa lega yang hangat, rasa diterima tanpa syarat.
“Benarkah?” tanyanya, hampir seperti anak kecil yang mencari kepastian.
Lin Yue mengangguk pelan. “Aku tidak akan menertawakan keraguanmu. Aku tidak akan memaksamu menjadi sesuatu yang bukan dirimu.”
Ia menurunkan suara, hampir berbisik.
“Aku hanya ingin kau merasa aman.”
Kata aman itu menyentuh sesuatu yang dalam.
Feiyan mengangguk tanpa sadar.
Pada saat itu, Borrowed Heart Smile bekerja sepenuhnya—tanpa cahaya, tanpa tanda kasar. Emosi Feiyan yang terbuka, kehangatan yang ia rasakan, semuanya mengalir halus, diserap perlahan. Bukan untuk dihilangkan, melainkan untuk dipantulkan kembali dari satu sumber saja.
Dari Lin Yue.
Feiyan merasa dadanya ringan. Terlalu ringan. Seolah sebagian beban yang selama ini ia pikul telah berpindah, entah ke mana.
“Terima kasih, Senior Lin,” katanya tulus. “Aku… merasa lebih baik.”
Lin Yue menatapnya dengan penuh perhatian. “Itu bagus.”
Ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak kembali. Gerakan itu halus, terukur, seolah memastikan bahwa Feiyan tidak merasa ditinggalkan, namun juga tidak menyadari betapa dekat ia tadi.
“Aku akan pergi dulu,” kata Lin Yue. “Kau butuh istirahat.”
Feiyan berdiri juga. “Aku akan mengingat kata-katamu.”
Lin Yue tersenyum lagi, senyum yang sama seperti sebelumnya. Hangat. Menenangkan.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Saat Lin Yue berbalik dan melangkah pergi, Feiyan memandang punggungnya lebih lama dari yang ia sadari. Ada dorongan kecil di dadanya—keinginan aneh untuk memastikan perempuan itu tetap berada dalam jangkauan pandangnya.
Ia tidak mengerti perasaan itu. Ia hanya tahu bahwa kehadiran Lin Yue kini terasa penting.
Sementara itu, beberapa langkah jauhnya, Lin Yue melambatkan langkahnya. Dalam bayangan koridor, senyumnya tidak berubah, namun matanya menjadi dingin dan jernih.
Ia tahu persis apa yang baru saja terjadi.
Ikatan telah terbentuk. Bukan dengan paksaan. Bukan dengan rasa sakit.
Dengan kenyamanan.
Dengan pengertian.
Dengan senyum yang terasa terlalu aman untuk ditolak.
“Dia akan kembali,” pikir Lin Yue tenang. “Bukan karena aku memanggilnya… tapi karena dia merasa kehilangan saat aku tidak ada.”
Di belakangnya, lentera-lentera bergoyang pelan tertiup angin malam.
Dan Lin Feiyan, tanpa menyadarinya, melangkah pergi dengan hati yang terasa lebih ringan—sementara satu bagian dari dirinya telah berpindah tempat, tersimpan rapi di balik senyum terlarang itu.