"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Relakanlah orang yang menyakiti pergi jauh dari dirimu. Jika kamu masih mengharapkannya, sama saja mengharapkan luka yang lain mengiris hati-Maryam-
***
Faiz masih setia menunggui Kanaya di kamar perawatan Rumah Sakit ditemani Laila dan Fani itupun Fani melakukannya dengan terpaksa karena ia masih punga hati nurani sebagai manusia.
Faiz menatap sendu keadaan Kanaya, istrinya itu menangisi keadaannya yang hampir saja kehilangan sang jabang bayi.
Malam dimana saat kedatangan Langit ke rumah Gufron, Faiz dan Kanaya kembali bertengkar mempermasalahkan dimana Faiz selama dua hari kemarin memghabiskan waktunya. Faiz berkata sejujurnya jika ia menginap di hotel tapi Kanaya menuding jika Faiz menghabiskan waktunya dengan perempuan lain.
Kanaya memukul-mukul dada Faiz tiada henti dengan melontarkan kata-kata tidak pantas. Faiz kesal dengan tuduhan Kanaya, ia lepas kontrol dan mendorong tubuh Kanaya hingga tersungkur jatuh ke lantai. Kanaya berteriak histeris merasakan perutnya yang sakit dan ia juga merasakan ada cairan yang keluar dari balik gaun tidurnya dan itu adalah darah segar.
Dengan panik Faiz menolong Kanaya, memgangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ke dalam mobil. Faiz juga berteriak meminta tolong pada orang di rumahnya. Suasana malam itu benar-benar menegangkan.
Sampai di rumah sakit, Kanaya langsung ditangani tim dokter.
"Kalau sampai ada apa-apa dengan calon cucuku, kamu yang harus bertanggung jawab!" Gufron menunjuk hidung Faiz dengan tatapan kejam. Faiz menerima semua perlakuan Gufron karena ini murni kesalahannya.
Untunglah kandungan Kanaya hanya mengalami pendarahan kecil dan tidak mengakibatkan ia kehilanganan janinnya. Untuk itu Kanaya diharuskan untuk bedrest dan tidak diperkenankan mengalami stress.
***
Suasana resort di Puncak pada malam minggu ini tampak meriah. Panitia menyiapkan serentetan acara dari siang sampai malam ini cukup menghibur para karyawan. Acara malam tepat pukul 7 malam di buka dengan sepatah kata dari pihak perusahaan yaitu Langit sendiri sebagai pimpinan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua karyawannya.
Dalam pidato singkatnya Langit mengucapkan banyak rasa terima kasihnya karena tanpa dedikasi karyawannya, maka perusahaan tidak akan bisa berkembang pesat seperti sekarang.
Semua karyawan tidak mendengarkan dengan jelas karena fokus mereka hanya pada wajah tampan Langit semata.
"Sungguh indah ciptaan-Mu." Agnes berucap gemas seolah Langit berada di hadapannya sambil senyum-senyum sendiri.
"Bu Agnes udah kumat tuh, lihat deh dia udah komat-kamit gak jelas natap Pak Damar segitunya," bisik Anindya dengan mata tak lepas mengamati Agnes.
Maryam hanya menanggapinya dengan tawanya yang santai. Memang ia akui jika pesona Langit sungguh kuat hingga bisa menghipnotis para kaum hawa. Apalah daya dirinya, ia bisa menahan dirinya untuk tidak bersikap sama konyolnya dengan yang lain.
Pada pukul 8 malam acara dilanjut dengan hiburan yang diisi artis ibu kota. Semua bersorak gembira menyatu dalam kebersamaan.
Sementara Maryam memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia merasa tidak enak badan dan kepalanya pusing. Beruntung kamarnya tidak terlalu jauh, ia merasa aneh tak kala menyadari jika kamarnya berbeda dengan kamar teman-temannya. Letaknya juga berjauhan, ia mengendap ke luar kamar mendengar dua orang pria sedang bercakap-cakap.
"Itu Pak Damar, ko dia ada di kamar sebelah." ucap Maryam pada dirinya sendiri.
Ia mendekatkan dirinya untuk bisa mendengar lebih pembicaraan kedua orang pria itu.
"Zoya? Siapa Zoya?"
Maryam tidak menyadari jika Langit ternyata sudah berada di sebelahnya. Mengamati perempuan itu masih dengan posisinya semula. Wangi maskulin mulai tercium oleh hidungnya. Wangi yang pernah ia rasakan saat tubuhnya merapat dengan Langit kala itu. Tak salah lagi.
"Pak Damar. Anda ko ada di sini?" tanya Maryam dengan bibir gemetar.
"Harusnya gue yang nanya sama lo. Lo sedang apa di balik tembok? Nyuri pembicaraan gue?" sosok mata tak senang dari Langit.
"Saya tidak sengaja Pak, lagian saya juga tidak tahu apa yang Bapak bicarakan dengan Pak Willy," ungkap Maryam.
Langit melihat ke arah Willy. Asisten setianya itu sedang menahan tawanya sambil menunduk. Baginya Langit sangat lucu jika berhadapan dengan Maryam.
Tanpa menjawab Langit melengos pergi dari hadapan Maryam.
Kenapa dia seolah menghindar? Apa dia benar-benar menghindariku? Masa bodoh kenapa aku harus memikirkannya.
Jarum jam bergerak seolah cepat, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Maryam gusar, ia mendapatkan pesan kalau Faiz sedang berada di luar resort ingin menemuinya.
"Jangan temui Mar, itu hanya akan membuat kamu bimbang. Jika hatimu sudah mantap kamu harus tega sekalian," saran Anindya pada sahabatnya itu.
"Tapi Nin, aku bukannya bimbang. Mau Mas Faiz berbuat apapun aku tidak peduli tapi dia mengancam akan membuat keributan di sini jika aku tidak menemuinya. Aku tidak mau ada masalah, malu sama Pak Damar." ungkap Maryam, ia menunjukan bukti pesan WA yang dikirim Faiz pada Anindya.
"Ih aku heran deh, setahuku Faiz kan orangnya kalem ya. Ko sekarang dia berubah kaya gitu,"
"Namanya juga manusia Nin, seiring waktu pasti berubah."
Ponsel Maryam berdering berulang kali. Ia melihat panggilan masuk dari Faiz terus-menerus.
"Ya sudah aku temui dulu Mas Faiz ya, aku mau tahu apa maunya,"
"Iya hati-hati. Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya."
Maryam berjalan menyusuri jalan lain menuju arah depan resort. Karena jika ia lewat jalan utama teman-teamnya akan tahu jika Faiz ada di depan. Langit mengikuti kemana Maryam pergi dengan sangat hati-hati takut menimbulkan kecurigaan orang lain.
Di depan parkiran tampak Faiz sedang bersandar pada mobilnya, matanya tertuju pada Maryam yang akhirnya datang menemuinya.
"Maryam," sapanya pada Maryam, kedatangannya tak lain untuk melepaskan rindu yang membuncah di hati. Ia bahkan rela meninggalkan Kanaya sejenak di Rumah Sakit. Kepergiannya yang diam-diam tidak diketahui siapa-siapa.
"Mas, kenapa Mas datang? Tahu dari mana aku di sini Mas?"
Tak lekas menjawab, Faiz langsung membawa Maryam ke dalam pelukannya.
Maryam berontak ingin lepas dari pelukan Faiz.
"Jangan menolak, tolong untuk sebentar saja." suara nafas Faiz memburu begitu hangat di ceruk leher Maryam.
Maryam mendorong perlahan dada Faiz agar menjauh dari darinya. Ia tidak nyaman dengan perlakuan Faiz seperti ini.
"Kenapa Maryam? Bukankah kamu mau aku seperti ini? Memberikanmu pelukan dan kehangatan yang hampir hilang?" suara Faiz parau menahan gejolak karena penolakan Maryam secara halus.
Maryam mengambil nafasnya sejenak sebelum ia menjawab.
"Sudah terlambat Mas, kenapa baru menyadari di saat semuanya sudah seperti ini. Hatiku sudah terlanjur sakit hingga tak bisa lagi untuk di obati. Hanya perpisahanlah jalan terbaik." ucap Maryam sendu. Penyesalan memang selalu menyisakan pilu.
Dengan jelas Langit mendengar ucapan Maryam pada pria yang masih berstatus suaminya itu. Ia lantas tersenyum dan berbalik meninggalkan mereka berdua.
***
Bersambung..
...Kalian dukung siapa? Langit atau Faiz?...
...Berikan dukungan kalian dengan like, komen dan votenya ya....
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu