"kau membutuhkan uang dan aku membutuhkan seorang istri, bukannya kita akan saling menguntungkan.." kata Vico dengan menatap lekat Antin.
Antin bingung harus bagaimana lagi sekarang,, dia membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ayahnya yang memerlukan banyak uang.
Sedangkan uang yang ia kumpulkan selama ini hanya mencukupi biaya perawatan ayahnya saat ini.
Darimana lagi ia harus mendapatkan uang untuk biaya operasi ayahnya....
IG kenz kcp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikmahkhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Jangan mengeluh tentang kemarin, jadikan esok lebih baik dengan memanfaatkan Hari ini sebaik-baiknya.
Pagi-pagi sekali Vico sudah dalam perjalanan menuju rumah utamanya, ia merindukan mamanya beserta adiknya.
Disetiap ia ada masalah pribadi maupun di kantor, ia selalu mengunjungi mamanya.
Melihat senyum serta suara mamanya akan membuatnya lebih bersemangat untuk melewati hari-harinya.
Jarak yang ditempuh memang sedikit jauh untuk sampai dirumah utama, namun Itu bukan rintangan bukan.
Ia sudah menyampaikan pesan kepada Pak Kim jika nanti siang dia baru datang kekantor.
Pak Kim jelas Tau alasan Vico.
30 menit kemudian, Vico sudah sampai dirumah utamanya,memasuki gerbang yang sudah dibuka oleh satpam rumahnya dan memasuki halaman rumahnya.
Memarkir mobilnya di halaman rumahnya, dan keluar dari mobilnya. Siapa sangka ia akan disambut oleh wanita paruh baya yang langsung memeluknya dengan erat.
Ia memeluk balik wanita dihadapannya ini dengan sama eratnya.
Saling melepas kerinduan yang terpendam masing-masing.
Vico merenggangkan pelukannya dan perlahan melepaskan pelukannya kepada mamanya.
Memandang dengan intens wajah tanpa riasan make up yang menempel pada mamanya.
Terlihat beberapa kerutan dibawah mata dan samping bibirnya saat mamanya tersenyum.
Tanpa sadar Vico juga membuat lengkungan indah diwajah tampannya.
"kau ini tambah tampan ya.." kata Shifa Andini mengelus pipi anaknya dengan lembut.
Vico hanya tersenyum bangga yang bisa diartikan oleh mamanya bahwa ia anaknya pasti akan tampan.
Shifa terkikik geli melihat anaknya yang masih manja meskipun sudah sebesar ini.
Vico memang akan manja jika kepada mamanya. Jika dengan yang lain, sudah pasti sedingin kulkas.
Dasar pria antartika.
"kau mau masuk untuk sarapan..?" kata Mamanya sambil menarik tangan anaknya untuk masuk kedalam.
"mama masak..?"tanya Vico dengan selidik.
"kebetulan mama enggak masak tuh..
bibi yang masak..." Shifa terkekeh.
Sejak mamanya terkena serangan jantung ia melarang mamanya melakukan hal-hal berat yang bisa membuatnya kelelahan.
Vico memasuki rumah yang dulunya ia tinggali dengan bahagia bersama keluarga utuhnya.
Keluarga yang sebenarnya sebelum adanya penghancur datang dan merubah semuanya.
"wahh..wahh lihatlah siapa yang datang..
mau minta sarapan ya.." kata seorang wanita yang memakai seragam SMA menatap Vico dengan menyelidik.
Vico melirik wanita yang umurnya masih belasan namun mempunyai postur tubuh tinggi yang bahkan hampir sama dengannya.
"kau mau kemana...?" tanya Vico meledek.
"aku..." Fredalef menunjuk dirinya sendiri
"kau tidak tahu ya.. sekarang banyak pelajar ikut berpartisipasi untuk demo.." kata Freda adik Vico sambil duduk dimeja makan.
"ohh.. kau mau iku demo ya..."
"Sudah Tau pakai seragam masih nanya.." kata Freda saat Vico hendak melepas jasnya.
Ia bergidik ngeri jika harus mendapat hukuman dari kakaknya.
"awas kau macam-macam ya.." kata Vico mengancam.
"satu macam saja sudah cukup..." gerutu Freda.
Shifa hanya menggeleng kepala melihat kedua anaknya yang setiap bertemu selalu bertengkar.
"Vico.. mau sarapan pake apa..?" tanya shifa saat Vico mendudukkan dirinya di kursi.
"kasih ban mobil aja mahh" kata Freda meminum susunya.
"kau yang makan jerujinya ya..." jawab Vico melirik adiknya yang bahkan sekarang menjulurkan lidahnya mengejek kearahnya.
Vico mendengus kesal menatap adiknya yang sungguh menyebalkan Itu.
"nasi goreng ma.." kata Vico kepada mamanya.
Dengan sigap Shifa langsung mengambilkan nasi goreng untuk Vico.
Dan memberikan kepada Vico.
"tumben kamu kesini pagi-pagi banget.." tanya Mamanya ikut sarapan.
"emang gak boleh.."kata Vico menikmati sarapannya.
Shifa tersenyum mendengarnya.
"pasti mau ada yang diomongin.."tebak Shifa.
"ehh.. kak Vico mau nikahh.." samber Freda.
"apa sih.. ngawur.." kata Vico Tak terima.
"lagian umur udah tua kagak nikah-nikah.." kata Freda.
"tau apa kau soal nikah.. kecil aja kok" kata Vico.
Freda Tak menjawab hanya sibuk mengunyah makanannya.
"beneran mau nikah.." kata Shifa menggoda anaknya.
"mama ih..." kata Vico sambil merajuk.
Shifa tertawa melihat raut cemberut muka Vico.
"kenapa sih kak.. kalau mau langsung nikah juga gak papa kok..
masak sihh enggak ada yang mau sama anak mama yang tampan ini.." kata Shifa.
Freda tertawa mendengar apa yang dikatakan mamanya.
Vico langsung melirik adiknya yang tengah tertawa mengejeknya.
"kau menertawakanku ya..." Antin melempar irisan timun kepada adiknya dan tepat mengenai pipinya.
Freda berhenti tertawa dan melempar kembali timun kepada Vico, namun Vico berhasil menangkapnya dengan tangannya.
"Mama... kak Vico Itu enggak nikah-nikah karna....
enggak doyan ama perempuan....." kata Freda yang langsung tertawa dengan keras.
Shifa yang mendengarnya membelalak sedangkan Vico langsung melemparkan kembali irisan timun kepada adiknya yang minus akhlak ini.
"kalau ngomong dijaga ya..." Vico terus menghujami adiknya dengan irisan timun.
"udahh kak.. makanan jangan dibuang-buang.." Shifa melerai kedua anaknya yang saling mengejek ini.
Freda bahkan belum berhenti menertawakan kakaknya.
Vico berhenti melempari adiknya dengan timunnya saat Freda berhenti tertawa.
"beneran kann.." kata Freda melipat bibirnya untuk menahan tawanya yang hampir pecah.
"wahhh harus diberi pelajaran nih anak.." kata Vico.
"ehh aku berangkaaattt duluuuu..
udahh sianggg...." kata Freda langsung berlari saat Vico sudah berdiri dan menghampirinya dengan wajah sangarnya.
"dahhh mama....
dadahhh kakak vico...." teriak Freda.
"hati-hati Freda...." kata Shifa.
Vico menggeleng melihat tingkah adiknya yang suka sekali mengejeknya.
"udahh.. kotor semua kan.." kata Shifa melihat keadaan meja makannya yang sudah dipenuhi oleh irisan timun.
Vico menyengir menatap mamanya,
Shifa menggeleng perlahan dan berjalan kedapur.
Vico segera menghabiskan makanannya yang sempat tertunda karna adiknya Itu.