Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Merayu suami
Tina berdiri di depan cermin, mata penuh perhatian mengamati gaun tipis yang dulu diberikan Dinar saat mereka menikah. Ia menghela napas panjang, bibirnya sedikit mengerut dalam kekaguman dan kebingungan sekaligus.
"Kenapa aku malah mikirin baju ini ya?" gumamnya pelan, suara nyaris tak terdengar di kamar yang sepi. Wajahnya mencerminkan rasa ragu, namun ada semburat tekad yang muncul—malam ini harus berbeda dari biasanya.
Romeo sudah pulang kerja, tapi bukannya bersandar di ranjang bersama dia, ia malah meninggalkan Tina sendirian di kamar dan kembali tenggelam dalam tumpukan pekerjaan di ruang kerja. Mereka baru saja makan malam bersama dengan obrolan yang sebatas itu saja.
Tina merasa kesal dan sedikit kecewa, pandangannya melesat ke tempat tidur yang kosong di sebelahnya. Kehadiran Romeo tadi malam terasa begitu singkat, sebelum dia kembali menyibukkan diri dengan tugas-tugas yang tak kunjung selesai.
Ia mengulurkan jari, memainkan ujung rambutnya yang terjatuh di pundak sambil menatap bayangannya di cermin, lalu mengangkat pandangan ke jam dinding yang menunjukkan pukul 22.00. Pikiran berlarut-larut dalam benaknya—apakah Romeo benar-benar masih merasa cemburu seperti yang mereka bahas beberapa waktu lalu, atau dia hanya benar-benar terjebak dalam kesibukan pekerjaan yang membuatnya terlupakan akan keberadaannya? Pikiran itu membuat hatinya semakin tidak tenang dan penuh rasa penasaran.
Tina menatap diri sendiri di cermin lagi, hati mulai membentuk sebuah keputusan. Mungkin dengan cara ini, ia bisa membuat Romeo memperhatikannya lagi—biar dia bisa sedikit melepaskan pekerjaannya dan kembali ke kamar seperti dulu, ketika mereka sering menghabiskan malam dengan berbicara panjang atau hanya saling merangkul. Ia ingin mengembalikan kehangatan yang dulu selalu menghangatkan kamar mereka, terutama setelah kejadian sore tadi yang membuat suasana antara mereka jadi sedikit canggung dan renggang.
Dengan hati-hati, Tina mulai mengenakan gaun itu, jari-jarinya meluncur lembut di atas kain tipis yang menyentuh kulitnya. Rasanya ada semburat keberanian yang mengalir dalam dirinya—entah dari mana datangnya, mungkin karena keinginannya yang begitu kuat untuk membuat segalanya kembali seperti semula. Setelah merasa pas dan nyaman, ia mengambil ponsel dari atas meja rias, menyesuaikan sudut agar bisa menangkap wajah dan gaunnya dengan jelas, lalu mengirimkannya ke Romeo dengan harapan aksi kecil ini bisa menarik perhatian suaminya yang sedang sibuk.
Di ruang kerja, Romeo sedang fokus menatap layar laptopnya ketika suara notifikasi ponsel terdengar dengan jelas. Ia mengangkat tangan dengan tidak sengaja, membuka pesan dan langsung melihat foto Tina yang baru saja dikirim.
Alisnya langsung terangkat ke atas, mata sedikit melebar dalam kejutan. Ia terdiam sejenak, tidak menyangka istri yang biasanya lebih suka gaya sederhana akan melakukan hal seperti ini. Segera setelahnya, pikiran tentang pekerjaan yang selama ini memenuhi kepalanya lenyap begitu saja, digantikan oleh rasa penasaran yang dalam dan ketertarikan yang mendadak muncul dalam hatinya.
...****************...
Agus (online)
Agus
21:19
Reoooo
21:19
Masih sibuk gak?
21:19
Jangan marah
21:19
Dia kan cuma temen gue
21:19
Kan Lo juga tau, kamu juga temenan kan sama dia
Romeo
21:19
Iya tau
Agus
21:19
Trus jangan marah dong
Romeo
21:20
Gak ada marah
Agus
21:20
Trus kenapa?
Romeo
21:20
Gak apa-apa
Agus
21:20
Kenapa gitu sih
21:20
Temenin tidur
...****************...
Agus (online)
Agus
21:20
Kenapa gitu sih
21:20
Temenin tidur
Romeo
21:20
Gak mau, masih sibuk
Agus
21:20
😢😢😢😢
21:20
Reoooo ayo bobo
Romeo
21:22
Gak bisa Tina
21:22
Ini masih banyak
21:22
Sabar
Agus
21:22
Gak bisa sabar
21:23
Aku daah cantik wangi dah mandi juga 😘😘😘
[Lampiran foto]
...****************...
Agus (online)
Romeo
21:24
Agus...
Agus
21:29
Kamu jangan kerja terus masa istri di anggurin gini sih 😘😘😘
21:29
Aku pengen peluk cium kamu 😘😘
21:30
Habisnya kamu lembur terus sih
21:35
Kita harus ngobrolin lagi, biar jelas
21:35
Jovan kan temen aku
Romeo
21:35
Iya yaaaaa
Agus
21:35
Trus kenapa? Kamu kok gitu sama aku 😭
21:35
Biasanya gak gitu 🥺
Romeo
21:35
Karena Jovan
Agus
21:36
Yaudah kita omongin lagi biar jelas
...****************...
Agus (online)
Romeo
21:41
Ada
Agus
21:42
Adanya warna pink
[Lampiran foto: Agus sedang selfie di depan cermin, mengenakan baju warna pink]
Romeo
21:42
Oke
...****************...
Cw/kiss
Romeo membuka pintu kamar dengan perlahan, tak ingin membuat suara berisik. Melihat Tina sudah berbaring di bawah selimut, dia tersenyum tipis. Dia tahu Tina sengaja bersembunyi, tapi tidak bermaksud untuk memarahi. Dengan perlahan, Romeo duduk di tepi tempat tidur, lalu berbisik, "Gue tahu lo belum tidur."
Tina tetap diam, berpura-pura terlelap. Romeo menghela napas pelan, lalu mencondongkan tubuhnya dengan lembut membelai rambut Tina. "Gue nggak cemburu, kok. Lo nggak perlu khawatir," katanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah telinga Tina. "Tapi kalau lo terus kabur begini, ya gue bisa berubah pikiran," lanjutnya dengan nada menggoda.
Tina yang mendengar godaan Romeo berusaha keras menahan senyumnya, namun wajahnya masih disembunyikan di balik selimut.
Romeo yang sudah berada di samping Tina, menarik selimutnya perlahan dan melihat Tina mengenakan baju yang sama sekali berbeda dari yang ada di foto. Sadar ia kena tipu, Romeo tertawa kecil meski merasa sedikit kecewa. Ia naik ke tempat tidur, memeluk Tina erat dari belakang sambil berbisik, "Lo bohongin gue ya."
Tina tertawa kecil mendengar itu, merasa bersalah tapi juga senang bisa menggoda suaminya. "Maaf ya, gue berubah pikiran," jawabnya sambil mencoba menahan tawa.
Romeo menghela napas, tapi masih dengan nada main-main, ia berkata, "Gue jadi kecewa nih, tapi lo harus tanggung jawab."
Tina menoleh sedikit, menatap Romeo yang masih memeluknya erat, dan sebelum dia bisa berkata apa-apa, Romeo melanjutkan, "Gue minta kiss sekarang. Itu hukuman lo karena bohongin gue."
Setelah ciuman itu, Tina membalas pelukan Romeo dengan lebih erat. "Gue nggak mau kabur, kok," katanya pelan, suaranya bergetar sedikit, antara malu dan lega. Romeo tersenyum kecil, menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Gue tau kok, tapi lo tetap suka bikin gue penasaran," jawab Romeo, sambil mengusap rambut Tina dengan lembut. Malam itu, mereka akhirnya merasa lebih dekat satu sama lain, tak lagi ada canggung seperti sebelumnya.
Romeo menarik Tina lebih dekat, dan dengan lembut mencium keningnya. "Gue nggak bakal biarin lo bikin gue penasaran terus," gumamnya sambil tersenyum tipis. Tina yang merasa jantungnya berdetak lebih cepat, hanya bisa menatapnya dengan sedikit malu-malu.
...****************...
Romeo, tanpa ragu, menatap wajah Tina dengan intens, lalu dengan perlahan ia mengecup bibir istrinya. Ciuman itu lembut, namun cukup untuk membuat Tina merasakan getaran hangat yang menjalar di tubuhnya. Tina balas mencium, meski malu-malu, ia tak bisa menutupi perasaannya yang mulai tumbuh lebih dalam.
"Jangan bohongin gue lagi, ya," bisik Romeo sambil tersenyum usai ciuman itu. Tina hanya tersipu dan mengangguk kecil, merasa jantungnya berdebar-debar lebih kencang.
Tina berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu kencang setelah mimpi aneh itu. Saat melihat Romeo sudah berdiri di samping tempat tidur dengan senyum hangat, ia tahu harus segera merespons normal meski pikirannya masih sedikit kacau.
"Lo kayaknya tidur nyenyak banget, ya?" kata Romeo dengan nada bercanda sambil merapikan kemeja kerjanya.
Tina mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa malunya. "Iya, tadi gue mimpi aneh banget, tapi nyenyak kok." Ia tersenyum tipis, berharap Romeo tidak akan bertanya lebih jauh tentang mimpinya.
Romeo mengangkat alis, penasaran. "Mimpi apa tuh sampai lo kaget itu bangunnya?"
Tina cepat-cepat menggeleng. "Ah, nggak penting, cuma mimpi biasa aja," jawabnya sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.
Romeo hanya tertawa kecil, lalu berjalan ke arah meja rias. "Well, gue harus cabut kerja duluan, tapi kayaknya lo butuh istirahat lebih," katanya sambil memandang Tina dengan pandangan penuh kasih.
Tina mengangguk, masih merasakan detak jantungnya yang perlahan-lahan mulai normal. Romeo bersiap untuk pergi ke kantor dan seperti biasa ia memasangkan dasi untuk suaminya setelah selesai merasa lega bahwa itu semua hanya mimpi, meskipun perasaan yang tersisa masih terasa begitu nyata.
Tina melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajah, tetapi begitu ia bercermin, matanya langsung tertuju pada tanda merah yang mencolok di lehernya. Ia terkejut, menatap tanda itu dengan mulut sedikit terbuka. "Apa-apaan ini?" pikirnya, segera menyadari bahwa itu pasti ulah Romeo.
Dengan kesal, Tina segera berjalan keluar kamar mandi dan langsung mencari Romeo yang sedang memakai kemejanya. "Reo! Ini ulah lo, ya?" tanyanya dengan nada protes, sambil menunjuk lehernya yang masih terlihat merah.
smngt kakak....