'Apa dia bilang? Dia ingin aku jadi Sugar Baby?.' Gumam Sheilla Allenna Arexa
"Maaf?!." Sheilla mengernyitkan dahinya, bingung sekaligus tak mengerti. "Mengapa aku harus menjadi Sugar Baby mu?." Tanyanya dengan nada bicaranya yang sedikit keras.
Sean memijat rahang tegasnya sembari tetap menatap ke arah Sheilla dengan seringain kecil di bibir pria itu.
"Bagaimana menurutmu?." Tanya Sean pada Sheilla. "Apa kamu tidak tau apa kegunaan Sugar Baby dalam konteks ini? Sudah ku jelaskan dan bukankah kamu sudah dewasa?."
Kemarahan melonjak dalam diri Sheilla dan wajahnya memerah karena begitu marah.
"Sudah ku bilang, AKU BUKAN P--"
**
Sheilla Allenna Arexa adalah gadis biasa yang mendapati jika dirinya tiba-tiba terjerat dengan seorang bos mafia yang kejam karena hutang dari sepupunya sebesar 5 juta Dollar. Untuk menyelamatkan keluarganya dan juga membalas budi mereka karena telah merawatnya, Sheilla terpaksa menyetujui kontrak menjadi budak dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Sheilla merasa lebih baik setelah mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya, Nina. Setelah memutuskan untuk meminta maaf kepada Sean, ia merasa lebih baik dan suasana hatinya pun membaik.
"Jadi, adakah pria tampan yang bisa kamu kenalkan padaku?." Tanya Nina, terlihat penuh semangat.
Sejak mendengar bahwa Sheilla telah dibawa paksa oleh anak buah Mafia, Nina justru ingin sekali mengunjungi Sheilla di markas mafia dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari pangeran menawannya sendiri di kandang mafia.
Nina sangat menginginkan pacar dari anggota Mafia sehingga hanya itu yang dapat dipikirkannya selama beberapa hari terakhir. Sekarang karena Sheilla ada di rumahnya, dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk meminta sahabatnya itu untuk menjodohkannya dengan seseorang dari anggota Mafia
Sheilla memutar matanya dengan malas. "Mereka berbahaya, Nina. Apa kamu yakin itu tipe pacar yang kamu inginkan?"
"Ya. Tipeku memang cowok nakal." Nina mencicit. "Apa Sean tidak punya teman atau tangan kanannya?"
Sheilla mendesah dengan putus asa. Nina terlalu ngotot, tidak mungkin Nina akan membiarkannya tidur jika dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ya. Sean punya tangan kanan sekaligus sahabat namanya Diego."
Nina melompat ke tempat tidur dengan gembira. "Ceritakan lebih banyak tentang dia. Apakah dia tampan? Tinggi??"
"Yah... dia cukup tampan." Jawab Sheilla dengan enggan. 'Tapi tidak setampan Sean.' Batinnya kemudian.
Matanya terbelalak saat memikirkan hal itu. Mengapa dirinya terus saja memikirkan penampilan Sean?
"Yaay...! Aku menginginkan orang kepercayaan Sean itu. Selama dia tampan dan tinggi, aku tidak peduli dengan yang lain. Berikan aku nomor teleponnya." Nina menjerit, matanya berbinar karena kegembiraan.
Sementara Sheilla mengerutkan keningnya. "Ck, tidak Nina."
Sean dan Diego punya dua nomor telepon demi kerahasian mereka. Dan Sheilla sudah diberi tahu untuk tidak memberitahukan nomor-nomor itu kepada siapa pun.
"Kumohon... kumohon sekali ini saja." Nina memasang tatapan mata memelasnya dan menggenggam tangan Sheilla. "Kumohon... aku tidak akan memberikannya kepada orang lain, aku janji."
Melihat sahabatnya memohon dengan tulus, Sheilla pun mengalah.
"Baiklah... tapi katakan saja kamu mencurinya dari ponselku." Sheilla melayangkan tatapan tajamnya ke arah Nina dengan nada main-main.
"Terima kasih, sayang!" kata Nina seraya memeluk Sheilla. Sekarang dia bisa merayu pria Mafia yang bakal menjadi miliknya itu sendiri.
***
Keesokan harinya, Sheilla meminjam pakaian Nina dan pergi ke klub untuk menemui Sean agar ia bisa meminta maaf atas perilakunya kemarin malam.
Ketika Sheilla masuk ke dalam klub, jantungnya berdebar kencang tak terkendali. Ia takut Sean akan marah tentang tamparan yang ia berikan padanya dan bahwa pria tampan itu akan menghukumnya atas hal itu.
'Dia tidak akan menyimpan dendam padaku, kan?.' Gumam Sheilla dalam hati.
Para pekerja di klub itu mengizinkan Sheilla masuk tanpa menghentikannya. Sean tidak memberi mereka instruksi khusus apa pun, jadi mereka pikir mereka harus tetap memperlakukannya seperti sebelumnya.
Sheilla pun berjalan menaiki tangga dengan perasaan yang gelisah. Saat tiba di kantor Sean, ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Yakin bahwa dirinya sudah siap, Sheilla membuka pintu, tetapi kemudian hanya bisa berhenti dan terdiam membeku tepat di pintu masuk.
Rasa sakit yang tajam dan yang tak dapat dijelaskan menjalar ke seluruh tubuhnya saat melihat apa yang dilihatnya.
Sean sedang duduk di kursi kantornya, sementara seorang wanita seksi sedang duduk di pangkuan Sean sembari menikmati Juno Sean yang besar, tubuh wanita itu memantul di atas pangkuan Sean dengan penuh semangat sambil mengerang keras.
Sheilla merasa seluruh dunianya runtuh. Rasa cemburu mulai tumbuh di hatinya, ditambah dengan rasa sakit saat melihat Sean bersama wanita lain.
Sheilla menatap pasangan yang berzina itu dengan amarah yang membara di matanya, tetapi tepat saat itu Sean tiba-tiba mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Sheilla.
Ekspresinya tidak berubah. Malah, dia mencengkeram pinggul wanita itu dan membantu pinggul wanita itu untuk melompat ke atas pangkuannya.
Rasa perih yang tajam menusuk dada Sheilla. Namun, ia masih berdiri di pintu masuk, seakan tubuh membeku dan tak bisa bergerak. Dengan keras kepala menolak untuk pergi. Sheilla ingin melihat apakah Sean bisa terus melakukan apa yang sedang dia lakukan di sana.
Apakah pria itu tidak berperasaan? Sheilla merasakan jantungnya berdegup kencang. Seperti ada yang mencengkeramnya, meremasnya seperti kain pel.
Sasha yang menyadari tatapan tajam Sean, menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan melihat ke belakang. Lipatan di antara alisnya mengencang saat dia melihat gadis mungil itu berdiri di dekat pintu.
'Inikah gadis yang selama ini Sean jaga di sisinya?' Rasa cemburunya ikut muncul seraya kemarahan membuncah dalam dirinya.
Karena gadis inilah Sean tidak lagi sering meneleponnya.
"Apa yang kamu lakukan di pintu? Kamu ingin melihat pertunjukan langsung?" Sasha membentak Sheilla. Ia pikir Sheilla hanya pengganggu. Seorang lintah yang menempel pada Sean dan tidak bisa pergi.
"Apa kamu sebodoh itu untuk tetap tinggal dan menonton bosmu dan aku bercinta, pelacur kecil? Apa kamu punya fetish?." Ejek Sasha lagi saat Sheilla masih tetap berdiri di sana, tidak mengatakan apa pun.
Hati Sheilla bergetar. Ia menunggu Sean mengatakan sesuatu, tetapi pria itu tidak melakukannya dan hanya diam saja. Wajahnya dingin dan justru terlihat acuh tak acuh. Sheilla tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Sean.
"Pergilah gadis kecil. Aku ingin terus memuaskan bosku."
Sheilla merasakan geli di matanya saat air matanya mengancam akan menetes di wajahnya. Kemarahan dan kebencian muncul dalam dirinya. Dia keluar dari pintu dan pergi dengan marah tanpa menoleh ke belakang. Pikirannya selama ini benar. Sean bukanlah orang baik.
Sementara itu, Sean merasa frustrasi ketika melihat Sheilla pergi. Ia tidak bisa melupakan Sheilla, tidak peduli seberapa keras ia berusaha untuk melupakan gadis itu.
Sheilla orang yang mudah tersinggung sampai-sampai semua orang menjauhinya di klub karena tidak ingin menanggung amukan Sean.
Hanya Diego yang cukup berani untuk mendekatinya.
~Flashback On
"Panggil saja dia untuk kembali ke sini, jika kamu tidak bisa meninggalkannya." Kata Diego
Sean menatap Diego dengan dingin. "Apa kau bodoh? Aku tidak bisa. Tidak setelah apa yang terjadi kemarin. Dia hanya bisa menganggu pikiran ku saja!Gara-gara dia, aku membuat kesalahan dengan melepaskan seorang pecandu narkoba. Siapa tahu kejahatan apa lagi yang telah dia lakukan?"
Diego mengangkat sebelah alisnya. "Kau bilang dia pengganggu? Akui saja kalau kau peduli."
Sean mencemooh dan menjawab, "Berhentilah berkhayal."
"Tidak, aku tidak peduli. Kau peduli padanya. Itulah mengapa kau kacau setelah dia pergi. Dapatkan dia kembali dan selamatkan dirimu dari kesengsaraan."
"Tidak... biarkan saja dia. Panggil Sasha saat kau keluar." Kata Sean dan kembali menatap dokumen-dokumen di mejanya. Dia hanya bisa berusaha sebaik mungkin untuk melupakan Sheilla
Diego menghela napas beratnya dan menggelengkan kepalanya. "Sean.... kau tidak bisa-"
"Keluar dan panggil Sasha untukku. Jangan beri tahu aku apa yang harus kulakukan." Perintah Sean singkat sembari mengangkat tangannya tanda menyerah, Diego kemudian meninggalkan ruangan dan pergi memanggil Sasha.
Sementara Sean menyugarkan rambutnya dengan tangannya. Dadanya terasa berat seperti ada batu besar yang menekannya. Dia ingin melampiaskannya dan melupakannya. Untuk mengeluarkan Sheilla dari dunia dan pikirannya!
Pintu terbuka dan Sasha melangkah masuk dengan raut wajah gembiranya. Ia melihat Sean yang sedang tidak dalam suasana hati yang baik, jadi ia mulai menggunakan keahliannya untuk menggoda Sean. Ia telah mengenal Sean cukup lama, jadi ia tahu apa yang berhasil dirinya lakukan di hadapan Sean.
Pada saat yang sama, ketika Sasha duduk di pangkuan Sean, Sean ingin mendorongnya menjauh. Namun, karena berpikir mungkin ini dapat membantunya untuk melupakan Sheilla, Sean pun membiarkan apa yang Sasha lakukan.
Namun Sasha tidak bisa lagi membuatnya merasa puas. Jadi, Sean memikirkan Sheilla dan memikirkan ketika bagaimana rasanya mencium bibir gadis polos itu. Betapa lembut tubuh Sheilla yang terasa dalam pelukannya dan moneternya yang berdiri tegak setiap kali ada didekat gadis itu. Monster itu akan sekeras batu hanya dengan memikirkan tentang Sheilla saja.
Melihat hal itu, Sasha mengira hal itu terjadi karena dirinya dan ia pun menjadi senang. 'Mungkin Sean mulai memiliki perasaan yang sebenarnya padaku.' Pikirnya dalam hati.
Sean hanya ingin melupakan Sheilla, tetapi ini jelas tidak berhasil.
Sasha berusaha sekuat tenaga untuk menggesek dan memantul dirinya di atas pangkuan Sean, tetapi pria itu terlihat tidak merasakan kenikmatan.
Rasanya hambar. Lebih seperti Sasha hanya menikmatinya sendiri untuk sebuah pelepasan.
Sean hendak menyuruh Sasha pergi, namun pintu tiba-tiba terbuka dan secara mengejutkan Sheilla mematung berdiri di sana, memperhatikan mereka dengan mata terbelalak.
Meskipun wajah Sean tanpa ekspresi, diam-diam dia merasa panik. Sean ingat bahwa mereka tidak berasal dari dunia yang sama, jadi dia terpaksa tetap diam ketika Sasha mengejek Sheilla didepannya dan bahkan tidak berhenti ketika Sasha memompa moneternya.
Dadanya terasa sesak saat melihat rasa sakit yang terpancar di mata Sheilla. Namun, ia harus melakukan apa yang harus dilakukannya untuk menjauhkan Sheilla dari dunianya yang penuh bahaya. Gadis polos itu tidak pantas berada di dunia Mafia. Itu akan menghancurkannya.
Saat Sheilla berlari keluar dari kantor nya, Sean lantas mendorong Sasha agar menjauh darinya.
"Enyahlah!."
Sasha terkejut dan terjatuh dengan posisi tersungkur. Ia meringis kesakitan dan menatap Sean dengan cemas. Ia takut kehilangan Sean. Setelah melihat reaksinya terhadap kedatangan Sheilla, ia kini tahu bahwa gadis itu berarti bagi Sean.
Sasha tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Sean... kamu tidak suka apa yang kulakukan? Kita bisa mencoba hal lain-"
"Pergi!." Perintah Sean sambil menggertakkan giginya. Urat-urat hijau hampir menyembul dari dahinya.
Sasha berlari keluar kantornya, karena tahu dia tidak bisa menekan amarah Sean.
Sedangkan berdiri setelah merapikan celananya dan memukul mejanya. Matanya merah dan dia merasa ingin membunuh seseorang.
Pria tampan itu tersenyum pahit dan mengejek dirinya sendiri mengingat ekspresi sedih Sheilla.
"Kerja bagus, Damian. Kau berhasil menyingkirkannya untuk selamanya."