Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rapuh Davian
Malam makin larut tapi Davian bersikeras terus berada di ruang rawat kakek Edgar.
Pria itu terus menatap wajah tua sang kakek.
Hanya ada dia seorang sementara Zuri telah kembali ke penthouses diantar oleh Gama tentu atas permintaan Davian.
Terdengar leguhan kecil dari bibir Edgar.
"Kakek sudah sadar? Kakek mau apa? Minum? sebentar, aku panggil dokter dulu"
Davian berlari keluar untuk memanggil dokter.
Usai diperiksa, dan dipastikan Edgar telah melewati masa kritisnya.
"Pulanglah... Kakek sudah tidak apa-apa.. kasihan Zuri tinggal sendirian..." ujar Edgar lemah.
"Dia bukan anak kecil yang takut sendirian... kakek lebih penting saat ini..."
"Kau ini... "
"Apa kau masih membencinya?" tiba-tiba Edgar bertanya hingga membuat Davian menatap wajah pucat itu.
Davian tak menyahut.
Edgar meraih tangan cucu kesayangannya. "Jangan terlalu membenci Zuri... Dia sudah terlalu banyak melewati hal-hal sulit seorang diri... Dia hanya terlihat kuat diluar saja namun rapuh didalamnya... Kakek lebih takut jika dia tertawa dibanding dia menangis"
Davian terus menyimak kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Edgar tanpa sedikitpun menyelanya.
"Kadang jika seseorang itu tertawa lebih keras dibanding yang lain, itu artinya rasa sakit yang dipendamnya jauh lebih besar..." sambung Edgar.
"Tapi karena dia, Nia meninggal" sela Davian.
Edgar menyunggingkan senyum. "Apa kau yakin jika Nia benar-benar meninggal?" ujarnya hingga membuat Davian membeliak.
"Bahkan hingga saat ini jasadnya tidak ditemukan dimanapun sementara tim penyelamat telah menyusuri setiap sudut tepi danau..."
Kening Davian mengernyit.
"Kau harus menggunakan logikamu Davian... Itu hanya danau yang bahkan luasnya tidak lebih besar dibanding SAG dengan kedalaman hanya berkisar 4 meter saja, jadi mana mungkin jasadnya tidak ditemukan" lanjut Edgar terus berbicara.
Edgar menarik nafas dalam. " Kakek harap kalian bisa rukun hingga maut memisahkan dan memiliki keturunan yang banyak" ujarnya.
Tak lama, Rodeo sampai dengan beberapa barang bawaannya terutama pakaian ganti untuk Edgar.
"Pulanglah dan beristirahatlah... Kau pasti lelah setelah perjalanan mu... Jangan khawatir, disini sudah ada Rodeo yang akan menjaga kakek" ujar Edgar menyuruh Davian untuk pulang.
Davian menurut. Jujur, ia juga sedikit lelah.
Davian memutuskan untuk kembali ke penthouses dan menitip pesan agar Rodeo menjaga sang kakek dan memberitahu setiap perkembangan kesehatan Edgar.
Entah Davian yang lelah atau konsentrasinya masih terbagi, ia tak sengaja menabrak seseorang di koridor rumah sakit.
"Maaf... saya tidak sengaja" ujar Davian membantu mengumpulkan barang-barang perempuan yang tak sengaja ia tabrak.
"Hmmm... tidak apa-apa. Aku yang salah karena buru-buru" sahut si perempuan.
Davian mematung seketika. Matanya memandang perempuan yang sibuk dengan barang-barangnya itu.
"Terima kasih sudah membantu... Aku permisi" ujar si perempuan pamit.
Davian masih membeku ditempatnya dan baru menyadari jika perempuan itu telah menghilang dari pandangannya.
Dengan langkah lebar, Davian terus mengejar dan mencari si perempuan tadi.
"Nia... itu persis suara Nia... Kau kah itu sayang... Benarkah kau Nia..." Davian terus mengedarkan pandangan kesegala arah mencari sosok perempuan tadi. Namun mau berapa kalipun ia berkeliling tetap Davian tak menemukannya.
Dengan rasa putus asa, dia memutuskan pulang setelah tidak berhasil menemukan perempuan yang ia cari.
"Belum saatnya Davian... Kau harus bersabar..." bisik si perempuan yang tak lain adalah Nia alias Mona yang bersembunyi di balik pilar menuju toilet rumah sakit.
Ia memang sedang ada keperluan dirumah sakit karena mendapat kabar jika sang mama tengah dirawat akibat kecelakaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zuri terus menatap layar ponselnya.
Entah berapa kali ia menghela nafas setiap kali mengecek ponselnya dan bergantian menoleh ke arah pintu.
"Apa yang kau pikirkan Zuri?Dia tidak mungkin menghubungi mu karena memang kau bukan orang yang penting baginya..." Zuri mengutuk hatinya yang rapuh.
Karena lelah menunggu, Zuri akhirnya tertidur di sofa ruang tamu.
Davian yang baru saja memarkirkan mobilnya di area basement masih duduk termenung di balik kemudi.
Jari-jarinya memijit pelan keningnya.
"Aku yakin itu suara Nia...Dan mata itu bahkan sama persis dengan mata yang dimiliki oleh Nia... Tidak salah lagi meski ini sudah bertahun-tahun lamanya... Tapi kenapa wajahnya berubah? lalu kenapa dia tidak mengenaliku?" Davian terus bermonolog sendiri.
"Aku harus mencari tahu..." gumamnya bertekad.
Dengan langkah lelah, Davian bergerak menuju lantai paling atas gedung Davinci.
Zuri yang baru saja tertidur sayup-sayup mendengar password pintu ditekan.
Zuri buru-buru bangkit bermaksud menyambut Davian.
"Kau pulang?Bagaimana kondisi kakek?" tanya Zuri saat melihat sosok Davian muncul dari ambang pintu.
"Kakek sudah bangun... kau tidak perlu khawatir.... Istirahatlah, kau pasti lelah" ujar Davian yang terus berlalu kearah kamar mereka.
Hati Zuri merasa tercubit akan sikap acuh Davian.
Zuri tersenyum kecut. "Apa yang harapkan Zuri?" bisiknya lirih.
Zuri memutuskan kembali ke kamar dan mengambil posisi tidur di sofa seperti sebelumnya.
Sedangkan Davian sepertinya masih berada di kamar mandi.
Hampir 30 menit dia berada didalam kamar mandi dan keluar dengan wajah yang jauh lebih fresh dibanding tadi.
Matanya tertumbuk pada sosok Zuri yang bergelung diatas sofa.
Perlahan, Davian melangkah mendekati Zuri.
Dengan gerakan selembut mungkin, ia membelai kepala Zuri.
"Maafkan aku Zuri..." bisiknya.
Tak disangka, Zuri membuka matanya hingga pandangan mereka bertemu.
"Kau terbangun?" ringis Davian merasa bersalah karena membangunkan perempuan itu.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Zuri dengan suara seraknya.
Davian menggeleng lemah.
Zuri bangkit dari baringnya dan duduk menghadap Davian. Tak disangka ia merentangkan kedua tangannya seolah berkata, peluk aku jika kau butuh sandaran.
Davian dengan penuh kesadaran masuk kedalam pelukan Zuri.
Keduanya saling memeluk tanpa sepatah kata terucap hanya deru nafas yang mendadak memburu.
Davian makin membenamkan kepalanya didada Zuri seolah itu adalah tempat ternyaman baginya.
Dibalas Zuri dengan membelai lembut kepala Davian dan juga mengelus punggung lebarnya.
Tak ada kata penghiburan yang terucap dari bibir Zuri karena ia tahu, kalimat apapun tidak akan berhasil membuat kegelisahan Davian membaik. Ini bukan tentang tak bersimpati hanya saja, terkadang dengan memeluk seseorang yang sedang dilanda musibah jauh lebih efektif dibanding dengan kalimat-kalimat basa-basi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menyapa...
Zuri telah sibuk didapur sejak satu jam lalu.
"Kau akan kekantor?" tanyanya kepada Davian yang muncul dengan pakaian rapi seperti biasanya.
"Ada meeting dengan klien luar negeri siang ini" sahut Davian.
Zuri mengangguk kecil.
"Nanti aku mau jenguk kakek Edgar ya..."
"Apa perlu aku minta supir kakek untuk mengantar mu karena kemungkinan, aku akan pulang larut malam" usul Davian.
"Tidak... jangan...! aku bisa naik taksi..."
"Apa kau bisa menyetir?" tanya Davian
"Bisa... hanya saja, aku masih ragu jika menyetir di jalanan Jakarta... Sudahlah... aku bisa naik taksi online..."
Davian tak lagi memaksa Zuri karena itu akan sia-sia karena perempuan ini terlalu keras kepala pikirnya.
Usai sarapan, Davian bergegas pamit hendak ke kantor karena Gama telah menunggu di lobi. Pagi ini, Davian tidak ingin membawa mobil sendiri.
Sesuai ucapan Zuri tadi pagi, kini ia telah tiba di rumah sakit dimana kakek Edgar dirawat.
"Zuri..." sebuah suara mengejutkannya. Kakinya reflek mundur selangkah ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.
"Maaf membuatmu takut... Aku hanya ingin menyapamu.. Apa kabar Zuri?"
bersambung....