Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
"Kedua pria itu sudah kabur!" teriakan teman-teman nya yang bersemangat dengan nafas yang masih tersengal-sengal, membuat Zaki menghentikan pembicaraannya sesaat dengan Asyifa.
Zaki pun menyuruh teman-temannya untuk kembali kerumah mereka masing-masing dan membiarkan Randa dan Wahyu kabur begitu saja.
Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Asyifa, menyangkut kedua pria itu.
"Kakak, ceritakan saja semuanya padaku. Apa sebenarnya masalah hidup yang telah menimpa kakak. Barangkali saja, aku bisa bantu." Ujar Zaki membujuk Asyifa untuk berterus terang.
"Maafkan kakak Zaki, kakak tidak bisa menceritakan semuanya padamu. Ini masalah pribadi kakak, menyangkut hal rumah tangga kakak. Kelak, kalau kamu sudah cukup dewasa, kakak akan menceritakannya padamu." Kata Asyifa tersenyum hambar.
Asyifa sadar, Zaki masih terlalu muda untuk memahami masalah rumah tangga yang saat ini tengah dia hadapi.
Zaki mengerti maksud Asyifa, dia pun tak bisa memaksa Asyifa untuk bercerita. Sepanjang jalan, mereka berdua cuma diam tanpa bicara apa-apa lagi.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata tajam milik Wahyu, mengiringi langkah mereka dari suatu tempat tersembunyi. Sebuah senyuman seringai, terukir di bibir Wahyu saat mengetahui tempat tinggal Asyifa dan Zaki.
"Disana rupanya kamu tinggal Asyifa." gumam Wahyu senang setelah mengetahui tempat persembunyian Asyifa bersama anaknya Safina.
Setumpuk rencana jahat, telah berkumpul dibenaknya. Dia pun segera pergi setelah melihat Zaki dan Asyifa menghilang masuk kedalam sebuah perumahan yang sederhana dan kurang terawat milik nenek Zaki.
Di rumah kediaman Arif Budiman.
Kenzie Maulana yang akrab dipanggil 'Ken terlihat gelisah saat ayahnya mengajak ngobrol bersama sepasang suami istri yang merupakan kenalan ayahnya diruang tamu.
Pembicaraan mereka yang menyangkut masalah perjodohan Ken dengan putri mereka, membuat Ken kaget bercampur marah. Kepulangan nya yang baru beberapa hari dirumah itu, malah disambut ayahnya dengan perjodohan yang pastinya bertentangan dengan keinginannya.
"Maaf yah, Ken menolak perjodohan ini!" tutur Ken sambil berdiri dari duduknya dan memberi penghormatan pada sepasang suami istri yang duduk dihadapan dirinya dan ayahnya.
Penuturan Kenzie yang blak-blakan menolak perjodohan itu, membuat wajah sepasang suami istri itu memerah menahan malu. Begitu juga dengan ayahnya, Arif Budiman yang sangat antusias dengan perjodohan anaknya.
Beliau tak mampu menahan emosi. Tanpa memandang siapapun yang ada diruangan itu, tangan kekarnya melayang cepat menampar putra semata wayangnya hingga meninggalkan bekas merah di pipi Ken.
Plak!
"Lancang kau! Ayah tidak suka kau selalu membangkang keinginan Ayah!" bentak Arif Budiman gusar dan marah.
Kenzie tampak diam, menundukkan wajahnya. Kedua tangannya terkepal menahan rasa sakit hati, merasa dipermalukan dihadapan orang lain oleh ayahnya sendiri.
"Pernikahanmu dengan Chintia akan tetap dilangsungkan! Suka atau tidak, ayah tidak peduli!" tegas Arif Budiman menunjukan keegoisannya sebagai orang tua.
"Terserah ayah, aku takkan hadir di pesta pernikahan itu! Aku takkan menikah dengan orang yang tidak kucintai!" ucap Kenzie tetap membantah keinginan ayahnya.
"Dengan siapa kau mau menikah heh? Perempuan mana yang kau cintai? Jangan buat ayah jadi naik darah!" bentak Arif Budiman berapi-api.
Bayangan seorang perempuan muda sedang menggendong seorang bayi melintas dibenak Arif Budiman. Darahnya kian mendidih, terbayang anaknya Ken bersanding dengan perempuan itu.
"Jangan menjatuhkan derajat keluarga ini dengan menikahi perempuan seperti itu! Seumur hidup, ayah takkan merestui mu Kenzie. Ingat itu!" tekan Arif Budiman dengan nada penuh emosi.
Ken mereguk air ludahnya dengan kasar. Dia sadar, perkataan ayahnya barusan tidak main-main. Namun, sebagai anak yang mewarisi darah kental ayahnya yang berwatak keras, tidak membuat nyali Ken ciut begitu mudah.
"Aku akan menikah dengan pilihanku sendiri Yah, terserah, ayah suka atau tidak. Yang jelas, ayah tak perlu repot-repot mencarikan jodohku." ucap Ken tak kalah tegas dengan ayahnya.
Arif Budiman sempat terdiam sejenak mendengar ucapan Kenzie. Dia ingin membalas perkataan putranya itu.
Namun, Kenzie telah lebih dahulu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan ruang tamu itu tanpa permisi, mengabaikan sepasang suami istri yang cuma duduk diam sambil berpandangan satu sama lain.
Suasana rumah Arif Budiman yang sesaat sempat ricuh, sempat terdengar oleh Nyonya Ningsih yang baru keluar dari ruangan dapur. Beliau pun mengejar putra semata wayangnya yang melintasi dirinya tanpa bicara dan segera masuk ke dalam kamar dengan raut wajah kusut.
"Ken, ada apa? Apa lagi yang kau ributkan dengan ayahmu?" tanya Ningsih penasaran melihat sikap Ken yang tampak gusar seraya meremas rambutnya kuat.
"Kenapa sih bun, ayah selalu memaksakan keinginannya semaunya saja." Keluh Ken dengan nada teramat kesal.
"Tenang nak, jangan emosi dulu. Ayahmu pasti ingin yang terbaik untukmu Ken." Bujuk Nyonya Ningsih mencoba menenangkan Kenzie.
"Iya bun, Ken tahu, tapi ini masalah kehidupan Ken, masa depan Ken, aku yang akan menjalaninya kelak, bukan ayah!" sanggah Ken tidak terima ibunya lebih memihak ayahnya.
"Iya nak, bunda mengerti apa yang kamu inginkan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik dengan ayahmu. Nanti, setelah tamu-tamu nya itu pulang. Bunda akan bantu kamu bicara dengan ayahmu." Bujuk Ningsih lagi.
Ken menghembuskan nafas berat dan menghempaskan pantatnya diatas ranjang yang ada di kamarnya.
"Percuma saja bun, Ken yakin, ayah tidak akan mengikuti keinginan Ken. ayah tidak mengerti isi hati Ken. Untuk saat ini, Ken belum mau menikah dengan siapapun!" tutur Kenzie dengan raut wajah makin gundah gulana.
"Siapa bilang, ayah tidak mengerti isi hatimu hah!?" mendadak suara lantang dan keras milik Arif Budiman terdengar diambang pintu kamar Kenzie.
Ningsih dan Kenzie anaknya, spontan kaget melihat kehadiran sosok pria berwibawa dan berwajah sangar itu telah berdiri menatap mereka berdua dengan tajam.
Bibir mereka berdua seketika terkunci rapat, tatkala langkah kaki Arif Budiman berjalan tegap memasuki kamar.
Tarikan nafas berat terdengar sejenak dari bibir beliau, saat langkahnya terhenti dihadapan putranya yang tengah duduk di pinggir pembaringan dengan wajah setengah menunduk membuang muka ke samping.
"Ayah tahu, kau tergila-gila dengan perempuan yang bernama Asyifa! Perempuan beranak satu yang hingga saat ini masih berstatus istri orang! Satu-satunya solusi agar kau bisa melupakannya, hanyalah menikah. Kau harus segera menikah dengan seorang perempuan yang pantas untukmu. Chintia adalah pilihan yang tepat!" Kata Arif Budiman dengan nada penuh tekanan menahan emosi didepan istrinya.
Sekali lagi, kalimat yang diucapkan ayahnya membuat hati Kenzie remuk redam. Aturan demi aturan hidup yang selalu ditekankan ayahnya sedari kecil, membuat Kenzie muak. Dia ingin bebas dari tekanan itu.
Kenzie ingin hidup lepas, bebas tanpa aturan-aturan yang terlalu banyak mengekang kehidupannya. Mulai dari kebiasaan bangun tidur, makan, berpakaian, belajar, bergaul, hingga masa depan pun, semua diatur oleh orang tuanya. Kenzie sudah jenuh dan bosan.
"Aku tidak akan menikah dengan Chintia, atau siapapun yang ayah jodohkan denganku! Kalau ayah terus memaksa, aku akan pergi dari rumah ini!" ucap Kenzie dengan nada serak.
Berat rasa hatinya mengatakan kalimat itu, namun apa daya, Kenzie merasa tak punya cara lain untuk membantah keinginan ayahnya yang punya pendirian kuat.
"Baiklah, jika itu yang kau mau. Mulai sekarang, silahkan pergi dari rumah ini, dan jangan pernah menginjakkan kakimu dirumah ini lagi!" teriak Arif Budiman kembali naik pitam.
Ningsih yang mendengar perkataan anak dan suaminya, seketika menjerit histeris. Tak terima dengan keputusan mereka berdua yang sama-sama keras kepala dan teguh pendirian.
.
.
.BERSAMBUNG