NovelToon NovelToon
Pergi Untuk Melupa

Pergi Untuk Melupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Persahabatan
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Been

Ada duka ada cinta begitulah, yang dirasakan pria bernama Raihan Bachtiar. Berkali-kali dia dipatahkan oleh seorang wanita, yang selama ini dia sebut cinta. Ada cita-cita serta cinta dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah pria yang optimis hanya saja sedikit skeptis. Dia meninggalkan segala karirnya, hanya untuk wanita yang pada akhirnya menyia-nyiakan cintanya. Patah hati membuatnya berubah menjadi seorang pria yang dingin dan menutup hatinya rapat-rapat. Akankah dia menemukan wanita yang mampu mengembalikan perasaannya yang telah lama hilang? Ayo, simak ceritanya ... dan selamat melupakan.

follow ig: @rohidbee07

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Been, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ada yang Tersisa

Kenapa hatiku terasa kosong saat memilih untuk melupakanmu. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku seperti ini, alasan kenapa aku murung, kenapa aku tertawa dan kembali murung lagi seperti orang bodoh. Apa aku sudah hilang kesadaran diri atau karena aku sudah lupa bagaimana caranya bersyukur serta lupa bagaimana hidup bahagia. Apakah luka yang menancap dalam relung hatiku membekas terlalu dalam, hingga aku kehilangan alasan untuk menikmati hidup, hingga aku merasa tidak berharga dan tidak siap untuk menaruh hati dengan siapa pun. Bahkan aku pun tak habis pikir dengan kehidupanku sendiri. Setelah hari itu, aku terus merasa kehidupan tak pernah berpihak lagi kepadaku. Entah itu, pekerjaan apalagi perihal kisah asmara dan kehidupanku setelahnya.

Sesudahnya pergimu aku seringkali memakan makanan favoritmu. Lalu meniru hal-hal yang pernah kamu lakukan, mengenang sedikit segala yang bisa kuingat dan pernah kita lalui bersama. Menyambangi tempat-tempat yang sering kita singgahi dan menjadi penenang saat amarah memuncak. Sungguh dengan begitu saja, aku mulai berdamai dengan suasana hati, meski pada kenyataannya kita tak pernah sejalan lagi. Terima kasih juga karena telah membuatku merasa hidup. Walaupun, pada kenyataannya aku memang 'merasa' saja Andira.

Semoga saja jatuh cintamu dengan sahabatku berumur panjang Andira. Sepanjang kamu berusaha meniadakanku dan akan tua dalam ingatan kepalaku serta akan menjadi kenangan di kota ini. Aku merasa duniaku terhenti saat ini, aku merasa seakan-akan patah hati lebih menyeramkan dari sebuah peperangan. Aku merasa seperti prajurit yang dungu, yang nekat maju di medan perang, tanpa ada sepucuk senjata dengan pelurunya. Kamu dengan teganya mem—blokade perasaanku, aku merasa terjebak di dalam kawasan perasaanmu yang penuh ranjau di dalamnya. Aku merasa telah kalah denganmu, strategimu yang taktis membuatku hancur lebur tak tersisa.

***

"Abang Raihan ....," ucap Rina membuka obrolan di teras rumah.

"I—iya ada apa, Rin?"

"Abang 'kok akhir-akhir ini murung, melamun dan suka ngurung di kamar ada apa?"

"E—enggak kok, Rin. Abang enggak kenapa-kenapa, cuma pengen di kamar aja."

"Abang jangan bohong sama, Rina! Abang abis putuskan sama Kak Andira?"

"I—iya, Rin. Ka—kamu tahu dari mana?"

"Dari mata, Bang. Abang sedang menyimpan kesedihan, aku lihat Bang juga ngebakar barang-barang pemberian dari Kak Andira waktu lalu."

"Mau gimana lagi, Rin. Buat apa juga Abang menyimpan barang itu, justru itu bikin Bang makin sulit ngelupain dia."

"Iya, Bang. Rina tahu kok, lagian aku juga kesel masak Abang kesayanganku disakitin sih. Tega banget Kak Andira, kalau boleh tahu siapa cowok selingkuhan dia, Bang?"

"A—anu, Rin. Si itu ...."

"Siapa, Bang? Rina jadi penasaran."

"Hmmm ... nanti juga kamu tahu, Rin. Lagian kamu masih kecil, Rin."

"Ish, Abang. Masak sama Rina main rahasia-rahasian. Lagian Rina udah SMP kelas 3, jadi mau enggak mau sudah ngerti soal percintaan."

"Oke ba—baiklah, Abang kasih tahu! Cowoknya itu, iya kawanku sejak kecil namanya Raka."

"Iya ampun, 'kok mereka tega banget sama, Abang. Berarti yang aku liat selama ini benar dan kecurigaanku bener adanya, Bang."

"Memang kamu liat apa selama ini? Kenapa enggak cerita sama Abang?"

"I—iya maaf, Bang. Sebenarnya, setiap kali Rina pulang ekstrakurikuler setiap hari minggu. Rina tuh sering enggak sengaja liat mereka jalan bareng, cuma Rina enggak tahu mereka mau ke mana dan yang jelas mereka mesra boncengan motornya. Cuma Rina enggak berani bilang ke Abang, takut jadi salah paham dan persahabatan Bang rusak hanya karena cewek."

"Oh begitu, Rin. Iya sudah enggak apa-apa, jangan dibahas lagi! Lagian memang mereka cocok kok, sebagai penghianat mereka memang cocok ditakdirkan bersama, Rin. Abang juga sadar diri, lagian Raka orang tajir dan keren."

"Abang jangan bilang begitu! Enggak baik, Bang merendahkan diri sendiri dan membawa dendam ke seseorang. Justru Abang makin susah melupakan Kak Andira."

"I—iya maafin, Abang. Abang tersulut emosi dengar ceritamu, intinya kamu jangan pernah nyakitin cowok, ya! Ingat enggak baik mempermainkan hati seseorang, cukup Abang saja yang merasakan."

"Enggak apa-apa, Bang. Rina tahu perasaan Abang yang begitu tulus kepada mereka, tetapi balasan mereka begini. Sini peluk Rina! Rina sayang Abang," ucap Rina memelukku dengan erat.

"Iya, Rin. Kamu sudah makan belum.?"

"Abang nyuruh Rina makan! Tapi, Abang sendiri belum makan."

"Abang sudah kok, Rin."

"Bohong Abang bohong. Rina ngambek enggak mau makan!"

"Dih ... kok gitu, Rin? Iya sudah a—ayo makan bareng, nanti Abang belikan nasi Padang."

"Iya abis, Abang enggak jaga kesehatan! Abang kebiasaan terlalu memikirkan dan mempedulikan seseorang, tetapi sama diri sendiri lupa. Benaran nih mau beliin nasi Padang, Bang?"

"Maaf, Rin. Sekarang kamu jadi bawel banget dan tunggu di sini! Abang mau beli nasi Padang dulu di depan."

"Biarin lagian aku khawatir sama, Abang. O—oke Rina tunggu di rumah dan hati-hati bawa motor!"

"Siap, Rin."

***

Tidak ada lagi sebenarnya yang tersisa dari semua perpisahan, sebab yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan Andira. Barangkali, tidak ada cinta yang murni di dunia ini selain cinta pandangan pertama. Setiap orang memiliki masa lalu dan kini kamu tertulis sebagai masa laluku Andira. Semakin lama aku menjalani hubungan denganmu, maka semakin banyak kenangan di dalam ingatanku. Aku mencoba untuk memahami itu, mengapa dulu aku begitu sangat percaya kepadamu. Tentu ini akan menjadi stigma yang buruk bagimu dan aku pun akan sulit percaya dengan orang baru. Terkadang sendirian seringkali, menjadi pilihan terbaikku yang tak pernah bisa mempercayakan perasaanku pada orang lain.

Aku belum siap dengan kenyataan ini, tetapi inilah risiko mencintaimu. Aku menyesal telah meminjamkan hidupku dan kamu menghianati itu dengan menggadaikan perasaan serta kepercayaanku berulang-ulang. Entah apa yang ada di pikiran kalian, bagaimana bisa kamu menghianati orang terdekatmu begitu semangatnya. Sebenarnya, aku tidak berhak menyalahkanmu dan aku tidak bisa mengatur perasaanmu. Aku belajar untuk ikhlas dan tidak menjadi pendendam, walau itu sangatlah sulit untuk kulakukan saat ini. Andira suatu saat kamu mengerti, aku tidak akan pernah bisa melupakanmu jika aku tidak segera mengubur kenangan itu dengan orang baru.

Sekarang mari kita belajar bersama-sama. Kita ini manusia biasa, jatuh cinta bisa berkali-kali dialami setiap manusia. Aku mencoba untuk tidak membencimu walau itu sangat mustahil untuk sekarang ini. Bagiku kamu orang yang plin-plan perihal perasaan. Seharusnya di umurmu yang sekarang ini, seharusnya bisa berpikir lebih dewasa. Kita bukan dua insan yang mencari pasangan sempurna. Karena, kita sendiri pun penuh dengan kekurangan. Lihatlah, aku sama sekali tidak ada niat mencari yang lebih darimu. Sebab, aku sudah menemukanmu lalu apa lagi yang aku cari, aku sudah percaya awalnya denganmu. Tapi, setelah kejadian itu terjadi, aku merasa seperti manusia terbodoh di semesta ini—bagaimana bisa aku terlalu percaya dengan kamu dan juga sahabatku.

Entahlah, Andira sebenarnya salah apa aku kepadamu. Aku mencintaimu sudah sehabis-habisnya, hingga sahabatku menganggap aku telah kehilangan jati diri. Bahkan, kebersamaan kita selama dua tahun lebih itu tidak ada artinya bagimu. Aku tahu kamu jenuh dan bosan denganku, tetapi jika kamu sudah tidak ada lagi rasa seharusnya bicara saja. Bagiku, ini sebuah kekesalan yang tidak pernah tuntas dalam dariku. Setiap melihat kamu mesra dengan pria lain dan konyolnya itu adalah sahabatku sendiri. Aku terkadang tak habis pikir denganmu, bagaimana bisa kamu sejahat itu kepadaku. Aku mencoba untuk berpikir jernih atas kejadian ini, kenapa harus dengan sahabatku. Mungkin, jika dengan orang lain aku pasti akan memaklumimu. Karena, sejak awal kamu sudah menghianatiku dan itu sangat menggerus sabar dalam hatiku.

Seharusnya kamu sadar Andira. Kamu itu dicintai seseorang, bukan berarti kamu bertindak semena-mena. Seandainya, kalau kamu di posisiku—apakah kamu siap menerima kenyataan ini dengan perasaan lega. Jelas kamu pasti marah, kecewa, benci dan nahasnya bisa timbul dendam. Sungguh, Andira kamu yang melakukan kebohongan ini, aku yang terasa ngeri jika apa yang kamu lakukan kepadaku suatu waktu kamu akan mengalaminya juga. Kamu sangat lihai bersandiwara dan suka sekali memakai topeng dan berpura-pura sehat untuk menyelamatkan hidupku yang sebenarnya telah lama sakit. Andira jangan pernah sekali lagi memberikan harapan seseorang setinggi langit, jika kenyataannya hanya sampai ke dasar bumi.

Aku telah lama menghancurkan mimpiku demi membangun kebahagiaan untukmu yang aku kasihi, mungkinkah ini gunanya aku menjadi dewasa. Barangkali, dengan adanya aku di dunia ini, sebenarnya kamu justru menjadi orang yang berharga Andira. Tidak ada namanya kehidupan tanpa penderitaan, rasa sakit serta beban berat yang harus ku—pikul sendirian. Jika aku mendapatkan bagian paling lengkap dari semua itu, kemungkinan aku sedang menjadi manusia yang akan memahami rasa sakit pada orang lain. Tentunya, membuatmu mengulurkan hatimu secara utuh, meskipun kamu tidak pernah melakukan itu kepadaku. Lucu sekali memang ketidakseimbangan ini terjadi padaku, aku terasa sedang mengemis cinta kepadamu. Tapi, jika suatu saat kamu merindukan kebersamaan kita. Kamu jangan sampai bersedih, simpan saja kesedihanmu untuk seseorang yang jauh lebih berarti dan pastinya untuk seseorang yang pantas mendapatkan air mata darimu.

 

"Cinta itu sebenarnya murni dalam segala bentuknya. Orang-oranglah yang mencemarkan artinya."

-Rohid Bachtiar

 

 

 

1
Cita Anastasya
Impian anak ingin membahagiakan ortunya thorrr
Cita Anastasya
raihan bucin parah sama alinda wkwkwk 😁
Penulis Buku
Semangat updatenya ceritanya bagus;(
Penulis Buku
👍👍👍
Penulis Buku
semangat berimijansi!!!!!!!
Penulis Buku
Rekomendasi buat yang diksi puitis😅
Penulis Buku
lega jika di utarakan ⚡🔨
Penulis Buku
mantap ceritanya😀
Penulis Buku
nicee
Penulis Buku
sendu
Penulis Buku
Keren thor
Penulis Buku
keren diksinya, thorr
Cita Anastasya
quotesnya bgs!
Cita Anastasya
semangat Thor ceritanya kerennnn!
Cita Anastasya: Sama-sama
total 2 replies
Cita Anastasya
Yuhu bahagaia ending.
Cita Anastasya: hehe iya kk
total 2 replies
Bintun Arief
benaaaar, alangkah mengerikannya menjadi dewasa. Andaaaiiii waktu bisa berhenti saat aku masih bersama ayah dan kakak laki2ku thor, alahai jadi curhat 🤣
hm, dibagian ini ada satu pertanyaan apa aku melewatkan sesuatu thor? rehan kuliah jurusan apa? apa tidak ada hubungannya sama sekali dengan "penulis" ?
Rohid Bee: ada sdkit Kak hhe
total 1 replies
Cita Anastasya
😉😉😉
Rohid Bee: /Smile/
total 1 replies
Cita Anastasya
😔😔
Rohid Bee: /Chuckle/
total 1 replies
Cita Anastasya
✍😂
Rohid Bee: /Applaud/
total 1 replies
Cita Anastasya
next ⚡🔨
Rohid Bee: 👌ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!