Arianna Safi mengalami penganiayaan yang membuatnya meninggal. Tidak disangka dia justru masuk ke dalam tubuh figuran antagonis di novel yang dia baca sebelum meninggal.
Figuran antagonis itu bernama Arianna Serafine Wezen yang merupakan kembaran dari antagonis cerita yaitu Catalina Hermione Wezen.
Arianna yang diberi kesempatan untuk hidup pun bertekad untuk merubah takdir agar tidak sesuai dengan alur cerita dimana dia, Catalina dan keluarganya mengalami kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pipit_vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25: Pantas Bahagia
...-<{ SELAMAT MEMBACA }>-...
Pagi hari yang cerah dan burung-burung yang berkicau ria seperti tak berefek untuk membangunkan dua orang yang masih tertidur. Hingga sebuah ketukan pintu pun terdengar dan membangunkan salah satunya.
Tok tok tok
"Tuan Eze? Apakah Anda sudah bangun?"
Suara Ash yang bertanya dari luar semakin menyadarkan Eze yang tadinya masih setengah sadar.
Eze menyisir rambutnya ke belakang dengan jarinya kemudian memandang seorang wanita yang masih tertidur pulas. Wanita itu tidak lain adalah Arianna.
Tok tok tok
"Tuan? Jika Anda sudah bangun, tolong segeralah ke ruang kerja Anda. Ada hal penting yang harus saya sampaikan."
Terdengar suara langkah Ash yang menjauh dari kamar Eze. Suara Ash tadi hanya menjadi angin lalu bagi Eze karena tatapannya yang masih tertuju pada Arianna.
"Anna ..." Tangan Eze terulur untuk membelai wajah Arianna.
'Aku beruntung mendapatkan mu, tetapi sebaliknya, justru kau lah yang tidak beruntung karena mendapatkan ku.'
Eze menarik tangannya yang dia gunakan untuk membelai wajah Arianna lalu dipandangnya tangan itu.
"Seharusnya kau lari dari pembunuh ini saat ada kesempatan, Anna ... Tapi kenapa kau tidak lari?"
Ezekiel tertawa kecil karena merasa seperti orang bodoh yang berbicara sendirian. Dia pun memutuskan untuk bersiap-siap menemui Ash di ruang kerjanya.
Tidak lama kemudian, Eze sudah rapi dengan pakaian rumahan ala dirinya yang hanya memakai kemeja putih yang dia masukkan ke dalam celana panjangnya. Lalu rambut hitam panjangnya dia biarkan terurai.
"Ezekiel? Kenapa kau berada di kamarku?"
Eze yang tadinya sibuk melipat lengan kemejanya menoleh pada Arianna yang baru saja bangun.
Melihat rambut singa Arianna, hampir saja Eze menyemburkan tawanya. Beruntung dia mampu mengendalikan tawanya itu.
"Ini kamarku, Anna." Eze mendatangi Arianna yang masih tampak seperti orang linglung.
"Hah? Kamarmu?" Arianna lantas menatap sekelilingnya, "Memang agak berbeda, lalu ..." Tatapan Arianna jatuh pada sosok Ezekiel yang sudah berdiri di depannya dengan penampilan yang membuat matanya melotot lebar.
'Astaga-astaga! Baru bangun udah cuci mata aja gue, ya ampun!!!!' heboh Arianna dalam hatinya.
Bagaimana tidak heboh jika penampilan Eze sekarang begitu keren di mata Arianna. Kemeja yang tidak sepenuhnya menutupi dada bidang Eze membuat Arianna benar-benar salah fokus.
Plak
Arianna pun memukul kepalanya sendiri agar sadar. Dia lantas menatap Eze yang turut menatapnya bingung karena tingkahnya sendiri.
"Kenapa aku bisa ada di kamarmu?" Arianna sungguh lupa, kenapa dia bisa berada di kamar Ezekiel. Setahunya, dia tidak memiliki penyakit berjalan saat tengah tidur.
Dahi Eze mengerut karena merasa aneh, tapi tidak lama kerutannya menghilang berganti seringaian ciri khasnya, "Apa kau lupa dengan yang kita lakukan semalam? Sayang sekali kau melupakan malam panas kita berdua."
"HAH?! MALAM PANAS APA?!" Arianna menatap was-was pada Eze seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku jadi sedih karena kau melupakannya, Anna ..."
"Tidak mungkin! Jangan mengada-ada, Eze!" sanggah Arianna dengan nada marah saat Eze memasang wajah kecewa yang dibuat-buat.
"Mana mungkin aku bercanda, Anna?"
Arianna masih tidak percaya dengan orang licik yang suka menggodanya ini, "Ezekiel! Berhentilah bercanda! Kita tidak melakukan apa-apa kan? Aku benar-benar lupa kenapa aku bisa berada disini." Mata Arianna mulai berkaca-kaca.
'Meskipun gue suka duluan, nggak mungkin gue dengan suka rela serahin diri gue begitu aja kan?' Arianna bukan wanita yang seperti itu. Dia adalah wanita pemegang teguh sex after marriage.
Menyadari bahwa bercandaannya melewati batas hingga membuat Arianna ingin menangis, Eze pun menghentikannya.
"Aku bercanda, Anna. Jangan terlalu dipikirkan karena aku tidak melakukan hal itu tanpa persetujuan mu." ucap Eze.
Arianna merasa lega mendengar pengakuan Eze. Arianna pikir dirinya benar-benar akan kehilangan hal yang dia jaga selama ini.
"Tapi apa benar kau tidak mengingat kenapa kau ada di kamarku?" tanya Eze serius.
Arianna mengangguk, "Yang aku ingat semalam kau pingsan di kamarku. Setelah itu ..." Arianna mencoba mengingat-ingat, akan tetapi dia justru merasa sakit kepala dan tidak bisa mengingat apa-apa.
"Ada yang aneh." gumam Eze yang masih bisa di dengar Arianna. Eze memperhatikan Arianna hingga tatapannya tertuju pada warna mata Arianna yang sebelah menjadi berwarna hitam. Tidak lama warna mata Arianna kembali normal lagi menjadi ungu.
'Mungkinkah itu efek dari perpindahan jiwa? Terlebih lagi, Anna adalah seorang perasuk.'
"Apa yang aneh?" beo Arianna.
Ezekiel menggeleng pelan, "Bukan apa-apa. Sebaiknya kau segera mandi karena aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengan para monster milikku."
...🤍🖤🤍...
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku, Ash?"
Eze baru saja memasuki ruang kerjanya dan langsung disuguhi raut wajah khawatir Ash.
Ash mendekati Tuannya dengan cepat, "Tuan! Kenapa Tuan turut serta menghabisi Pangeran Alexis?! Bukankah hal ini jadi membuat Tuan kerepotan?"
Eze menjauh dari Ash, lalu menuangkan teko berisi teh yang sudah disediakan oleh Ash sebelumnya. Eze memberikan secangkir teh itu pada Ash.
"Aku hanya melakukan syarat yang diberikan calon mertuaku, Ash. Lalu, seharusnya bukan hanya Alexis saja yang ku bunuh, tetapi Maxime juga."
Ash menerima secangkir teh itu lalu meminumnya dengan sekali teguk. Ash memberikan cangkir kosongnya pada Eze dengan wajah kesal.
"Bukankah itu hal yang berbahaya, Tuan? Target yang seharusnya tertuju pada mereka justru berbalik pada Tuan."
Kerajaan Helio yang dikabarkan sudah tunduk lalu tiba-tiba saja Putra Mahkota mereka mati sebagai pemberontak, tentu saja hal itu bisa saja memicu perang.
Diantara semua Kerajaan yang ada di Atlanta hanya Kerajaan Helio yang tidak tunduk pada Kekaisaran Linchia. Hal itu sudah bertahan sejak Kaisar pertama hingga sekarang. Kerajaan Helio berhasil ditundukkan oleh Pangeran Gavriel yang mendapatkan perintah dari Kaisar melalui Raja Whitney.
Kemudian sebagai tanda damai dan sudah tunduk, Raja dari Helio menyerahkan putrinya Isabelle sebagai tawanan. Akan tetapi sekarang Putra Mahkota mereka yaitu Pangeran Alexis terbunuh sebagai bagian dari para pemberontak Kekaisaran.
Meskipun Kerajaan Helio adalah negara kecil, akan tetapi kemampuan militer mereka cukup mumpuni ditambah dengan bergabungnya bangsa Elf yang diketahui Eze, tentu saja kekuatan mereka sekarang tidak bisa diremehkan.
"Helio tidak akan berani menyerang ku begitu saja. Sebaliknya mereka justru akan dibantai oleh Kekaisaran karena terbukti terlibat dalam pemberontakan pada Kekaisaran." ucap Eze dengan tenang.
Eze menuangkan kembali teko berisi teh pada cangkir yang berbeda dengan Ash kemudian meminumnya, "Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahannya?"
"Saya mendapat pesan dari Duke Wezen." Ash mengeluarkan bola sihirnya. Dalam sekejap bola sihir itu mengeluarkan cahaya merah terang.
"Jika kau masih menginginkan pernikahan dengan putriku, maka cepatlah bawa putriku kembali. Meskipun kau hidup tak tahu aturan, tetap saja kau menikah dengan putriku yang mengikuti aturan."
"Aku akan menunggu kembalinya putriku secepatnya. Dan juga ... Aku tidak akan meminta sesuatu yang memberatkan mu lagi, aku hanya meminta untuk lekas bertemu dengan putriku yang sudah kau bawa selama berhari-hari."
Cahaya merah terang dari bola sihir itu memudar karena pesan yang disampaikan Duke Wezen sudah selesai.
"Kau dengar, Ash? Duke memberikan pesan tersirat, jadi siapkan emas dan berlian dua peti masing-masing."
Ash menelan ludah mendengar jumlah yang akan diberikan pada Duke sebagai maskawin, "B-baik, Tuan."
Eze kemudian berjalan menuju almari dimana dia menyimpan semua ramuan ciptaannya. Eze mengambil salah satu botol kecil berwarna putih lalu dia lemparkan pada Ash.
Beruntung Ash bisa menangkap botol itu, "Apa ini, Tuan?"
"Penawar ibukota." jawab Eze, "Teteskan saja tiga kali ke air sungai."
Ash menatap botol kecil yang ada di tangannya dengan pandangan berbinar. Sejak dulu Ash selalu kagum dengan kejeniusan Eze yang berhasil menciptakan ramuan sekaligus dengan penawarnya.
"Ash." panggil Eze.
"Ya, Tuan?" Ash menatap Tuannya bingung karena Tuannya memasang ekspresi yang sulit untuk dia artikan.
"Jika setelah menikah aku belum kembali ke kastil ini, kau lah pemilik kastil ini."
Jantung Ash berdebar kencang karena takut dengan ucapan Tuannya yang seperti sebuah wasiat.
"Kenapa Tuan tiba-tiba bicara seperti itu?"
Eze tersenyum tipis, "Aku merasa kalau aku belum bisa kembali ke kastil ini dalam waktu lama."
Wajah Ash menjadi lesu, "Daripada kastil ini, saya senang bila selamanya bisa melayani Tuan. Saya ingin ikut kemanapun Anda pergi, Tuan."
"Jangan terlalu bergantung pada seseorang, Ash. Aku mengatakan ini karena aku mempercayakan kastil ini padamu. Jika kau cukup kesulitan, masih ada Fraz dan Cail yang akan membantumu."
Ash menghela nafas berat, "Saya akan menjaga kastil ini sampai Anda kembali lagi. Saya tidak akan menganggap kastil ini milik saya karena selamanya kastil ini adalah milik Tuan. Kastil ini adalah hasil jerih payah Tuan."
"Kau memang orang yang bisa diandalkan, Ash." ucap Eze seraya menepuk pundak Ash, "Aku pergi dulu untuk mengajak Anna bertemu dengan para monster."
Cklek
Di tempatnya Ash diam membisu. Tubuhnya seketika lemas karena tidak bisa berbuat apa-apa. Tuannya memang seperti itu, selalu ingin berdiri sendiri padahal Ash tahu betul bahwa Tuannya membutuhkan bantuan.
'Jika aku ikut campur, aku takut Tuan Eze akan membenciku.'
Ash lantas duduk di kursi panjang yang ada di ruang kerja. Lalu tidak lama Ash tersenyum tipis, "Saya percaya pada Tuan Eze. Semoga Tuan Eze menemukan kebahagiaan setelah menikah karena Tuan pantas untuk bahagia juga."
Doa Ash yang selalu dia panjatkan pada Eze yang sudah menyelamatkan hidupnya. Ash benar-benar berharap Dewa Shiraz nendengar semua doanya untuk Tuannya.
Bersambung ...
Halooo teman-teman😊
Aku ada kabar kurang mengenakkan mengenai tempat aku kerja. Aku kerja di Demak, dan sekarang kota Demak sedang mengalami bencana banjir yang cukup bisa dikatakan parah.
Teman-teman aku minta bantuan doa dari kalian yaa, semoga banjirnya segera surut dan semua orang bisa kembali beraktivitas. Aku sekarang lagi diliburkan karena dampak banjirnya juga sampai ke pabrik aku kerja☹️ Doa kalian berharga untuk kami.