Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏
Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.
Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.
Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?
Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Hidup Mereka Bahagia.
Vania tersentak kaget saat mendengar ucapan Willy. Tidak disangka wanita itu akan membawanya ke rumah keluarga Riko, padahal dia sangat tidak mau sekali bertemu dengan mereka.
"Tidak, aku tidak mau!" ucap Vania sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau bertemu dengan para bajing*an itu, apalagi saat mengetahui jika manusia-manusia laknat itulah yang sudah menjual putranya pada keluarga Adijaya.
"Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan perintah dari tuan Arsen," ujar Willy, mengingatkan bahwa apa yang dia lakukan adalah di bawah perintah Arsen.
Vania menghela napas kasar. Benar juga, Willy hanya menjalankan perintah dari Arsen, jadi seharusnya dia menolak keinginan laki-laki itu secara langsung.
"Kalau gitu tolong hubungi dia, aku ingin bicara," pinta Vania. Dia tidak punya ponsel, jadi tidak bisa menghubungi laki-laki itu.
Willy diam selama beberapa saat ketika mendengar permintaan Vania. Jika dia menelepon Arsen pun, jelas tuannya itu tidak akan mendengar ucapan wanita itu.
"Anda hanya harus melihat mereka dari jauh saja, Nona. Anda tidak perlu bertemu langsung dengan mereka," ucap Willy. "Bukankah itu lebih baik?"
Vania langsung menggelengkan kepalanya. Tidak, dia merasa tidak sudi untuk bertemu dengan manusia-manusia kep*arat itu.
"Apa Anda tidak merasa penasaran melihat kehidupan mereka setelah menjual putra Anda pada keluarga Adijaya?"
Deg.
Vania terhenyak saat mendengar ucapan Willy, dia lalu menatap wanita itu dengan tajam dan dibalas dengan senyuman tipis.
"Anda harus melihatnya, Nona. Anda harus melihat betapa bahagianya mereka di atas kehancuran Anda," sambung Willy yang semakin memanaskan suasana.
Kedua tangan Vania mengepal erat saat mendengar ucapan Willy. Apa yang wanita itu katakan adalah benar, seharusnya dia melihat keadaan para bajing*an itu yang sudah dengan kejamnya menjual Varo pada orang lain.
"Anda benar, Willy. Sudah seharusnya aku melihat mereka dengan kedua mataku sendiri," ucap Vania sembari menggertakkan giginya karena sedang menahan amarah.
Willy tersenyum lega mendengar ucapan Vania. Baguslah jika wanita itu mengerti, jadi dia tidak perlu bersusah payah untuk menghubungi Arsen.
"Sebenarnya kenapa tuan harus bekerja sama dengannya? Padahal tuan hanya perlu menghancurkan mereka tanpa susah payah membantu wanita ini, aku benar-benar tidak mengerti." Willy menghela napas kasar.
Sejujurnya Willy merasa sangat syok saat mengetahui jika Arsen bekerja sama dengan Vania, lebih tepatnya mau membantu wanita itu. Padahal selama ini tuannya tidak pernah bekerja sama dalam hal seperti ini, tetapi entah kenapa sekarang malah melakukannya.
"Aku harus memastikan kalau kejadian di masa lalu tidak akan terulang lagi. Aku tidak akan tinggal diam jika ada yang kembali menyakiti tuan Arsen, termasuk wanita ini." Willy sudah berjanji pada dirinya sendiri jika akan melindungi perasaan Arsen, dia juga akan mengawasi Vania supaya wanita itu tidak bisa melakukan sesuatu pada tuannya.
Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Terlihat sebuah rumah mewah berwarna coklat berdiri kokoh di depan sebuah supermarket, diketahui bahwa rumah itu adalah rumah keluarga Riko.
"Ini rumah mereka?" tanya Vania dengan tidak percaya. Rumah yang dulunya hanya bangunan biasa dengan tiga kamar, kini berubah menjadi bangunan bertingkat yang luas dan besar.
"Benar, Nona," jawab Willy sambil menganggukkan kepalanya. "Rumah itu dibangun sekitar empat tahun yang lalu, mereka juga membeli empat mobil mewah dan mendirikan supermarket. Anak bungsu di keluarga itu juga berhasil kuliah kedokteran dan sekarang sudah membuka klinik sendiri."
Kedua mata Vania berkilat marah dengan kedua tangan mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih saat mendengar penjelasan Willy. Urat-urat yang ada di sekujur tubuhnya tampak menonjol keluar karena menahan amarah yang sangat besar.
"Mereka mendapat banyak uang karena menjual anakku?" tanya Vania dengan gemetar.
Willy kembali menganggukkan kepalanya. "Benar. Mereka mendapat uang sebesar lima milyar dari Adijaya karena sudah menjual putra Anda, lalu setelah itu mereka hidup bahagia seperti ini."
Dada Vania terasa terbakar saat mengetahui jika manusia-manusia bajing*an itu hidup bahagia karena uang yang di dapat dari menjual putranya, sungguh dia ingin sekali membunuh mereka saat ini juga.
"Bajing*an! Mereka benar-benar iblis, mereka iblis!" seru Vania dengan mata memerah penuh murka. Dia segera membuka seltbet dan hendak mendatangi mereka. Namun, dengan cepat tanggannya ditahan oleh Willy membuatnya langsung menoleh ke arah wanita itu. "Lepaskan aku! Aku harus menemui bajing*an-bajing*an itu, aku harus membalas dendam pada mereka." Dia berusaha untuk melepaskan cengkraman Willy, tetapi cengkraman wanita itu sangat kuat.
"Tentu saja Anda harus membalas dendam, Nona. Tapi bukan sekarang dan dengan cara seperti ini," ucap Willy sambil melepaskan cengkramannya. "Anda harus menghancurkan mereka seperti mereka menghancurkan Anda, yaitu dengan perlahan dan juga mematikan."
Vania terdiam mendengar ucapan Willy. Kemarahan dalam dirinya sudah berkobar dahsyat, bagaimana mungkin dia bisa menahan diri lagi?
"Anda tidak boleh tergesa-gesa, karena semua itu hanya membuat kegagalan," sambung Willy sambil tersenyum penuh makna.
Vania langsung meninju dashboard dengan kuat untuk meluapkan kekesalannya. "Aku bersumpah akan membalas mereka, aku akan membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan." Dia bertekad akan menghancurkan hidup mereka. Walau dia harus menjasi iblis sekali pun, dia sama sekali tidak peduli.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Arsen sedang duduk sambil tersenyum senang saat membaca pesan dari Willy. Wanita itu mengatakan jika Vania sangat murka saat melihat keadaan keluarga Riko, tentu saja dia senang karena memang itulah tujuannya.
"Hati yang penuh dengan amarah dan kebencian, pasti akan lebih mudah untuk membalas dendam," gumam Arsen. Dia harus terus memanaskan Vania agar siap tempur untuk membalas semua dendam yang wanita itu miliki.
"Pe-permisi."
Arsen langsung melirik ke arah samping saat mendengar suara seseorang. Senyum yang semula tipis, kini tampak sedikit bertambah saat melihat kedatangan Varo.
"Anda laki-laki yang selalu memperhatikan saya, kan?"
•
•
•
Tbc.
beni jadi bima
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .
lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .