"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TOPENG SEMPURNA DAN SANGKAR EMAS
Gemerlap lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan kemewahan yang menyilaukan mata. Ratusan tamu undangan dari kalangan konglomerat, pejabat tinggi, hingga rekan bisnis internasional memadati ruangan, memberikan ucapan selamat atas pernikahan paling fenomenal tahun ini. Pernikahan antara Arga Dirgantara dan Keysha Amalia.
Di bawah sorotan lampu sorot, Arga Dirgantara berdiri dengan tegak. Di usianya yang menginjak 30 tahun, ia adalah definisi nyata dari kesempurnaan seorang pria. Sebagai CEO utama dari Dirgantara Group, sebuah imperium bisnis yang bergerak di bidang properti dan teknologi, Arga memiliki wibawa yang sanggup mengintimidasi siapa saja hanya dengan satu tatapan mata. Postur tubuhnya tinggi tegap, proporsional layaknya seorang model papan atas dengan perut sixpack yang terbentuk sempurna, tersembunyi rapi di balik setelan tuksedo rancangan desainer ternama Italia yang melekat pas di tubuh bidangnya. Tak hanya sukses di dunia korporasi, kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata juga membawanya mengabdi sebagai seorang dosen di universitas swasta paling ternama di ibu kota.
Namun, di balik semua kemewahan, ketampanan, dan kekuasaan yang dipuja-puja semua orang, tidak ada yang tahu bahwa Arga seumpama bidak catur yang tak berdaya di tangan keluarganya sendiri.
Pernikahan megah malam itu sama sekali tidak dilandasi oleh setitik pun rasa cinta. Ini adalah murni transaksi bisnis. Demi mengamankan merger raksasa dan menguatkan cengkeraman saham Dirgantara Group di pasar Asia, Arga dipaksa menerima perjodohan mutlak dari kedua orang tuanya. Ia harus menikahi Keysha, putri dari mitra bisnis terbesar ayahnya. Arga telah mencoba menolak, namun kewajiban sebagai putra mahkota keluarga Dirgantara mengikat lehernya terlalu kencang. Ia mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kejayaan dinasti keluarganya.
Di sudut ballroom, seorang gadis muda dengan gaun satin berwarna marun menatap panggung pelaminan dengan tatapan yang dipenuhi rasa cemas sekaligus iba. Dia adalah Alya Dirgantara, adik kandung Arga. Berbeda dengan para tamu yang tersenyum lebar, Alya adalah satu-satunya orang yang tahu betapa dinginnya telapak tangan sang kakak saat menjabat tangan para tamu. Alya menyaksikan seluruh prosesi itu dengan dada yang sesak. Ia tahu betul bahwa kakaknya sedang mengorbankan diri masuk ke dalam sangkar emas yang mematikan.
Ketika jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua dini hari, pesta mewah itu akhirnya usai. Arga dan Keysha melangkah masuk ke dalam kamar presidential suite yang telah didekorasi dengan taburan kelopak bunga mawar merah dan keharuman aromaterapi yang menenangkan. Malam pertama yang seharusnya menjadi lembaran baru yang penuh kehangatan bagi sepasang pengantin baru, justru menjadi awal dari kehancuran hidup Arga.
Arga keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur satin hitam, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Di atas ranjang berukuran king size, Keysha sudah menunggu dengan gaun malam yang minim. Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk menerima takdir ini dan memperlakukan Keysha dengan baik sebagai istrinya yang sah.
Namun, lembaran malam itu robek dengan cara yang paling menyakitkan.
Ketika penyatuan itu terjadi, naluri dan akal sehat Arga sebagai seorang pria dewasa tersentak hebat. Tidak ada rintangan yang seharusnya ada pada malam pertama seorang gadis, tidak ada ketegangan yang alami, dan bercak merah yang menjadi simbol kesucian di atas seprei putih itu sama sekali absen. Keysha telah menyerahkan tubuhnya pada Arga dengan begitu lancar, seolah ranjang ini bukanlah tempat baru baginya. Di atas ranjang pengantin itu, Arga mendapati kenyataan pahit yang menghantam harga dirinya telak: istrinya sudah tidak perawan.
Arga bangkit, menjauhkan tubuhnya dengan napas yang memburu. Matanya menatap tajam ke arah Keysha yang langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Kecewa, terhina, dan amarah bercampur menjadi satu, menghantam dada Arga hingga ia merasa sesak. Ego lakilakinya yang selama ini dijaga tinggi-tinggi, runtuh seketika di malam pertamanya sendiri.
Keysha mulai terisak, air matanya menetes membasahi bantal. "Mas Arga... maafkan aku... aku bisa jelaskan..."
Arga memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Sebagai pria yang memegang teguh tanggung jawab dan sangat menghormati komitmen pernikahan, Arga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menelan seluruh kepahitan itu sendirian. Demi nama baik Dirgantara Group, demi kehormatan orang tuanya yang telah mempertaruhkan segalanya untuk perjodohan ini, Arga memilih mengubur egonya dalam-dalam.
"Tidur," ucap Arga dingin, suaranya sedatar es. "Aku memaafkanmu kali ini. Jangan pernah bahas malam ini lagi."
Arga berbalik, berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar dan menghabiskan sisa malamnya di sana dengan hati yang mulai mendingin. Ia mengira pengorbanannya malam itu adalah puncak dari kelapangan hatinya. Namun, ia keliru. Badai yang sesungguhnya baru saja bersiap menghantam satu minggu kemudian.
Tepat tujuh hari setelah malam yang hancur itu, Arga baru saja pulang dari kantornya saat ia mendapati Keysha terduduk di lantai kamar mandi, menangis gemetar sambil memegangi sebuah benda kecil di tangannya.
Arga melangkah mendekat, matanya tertuju pada benda putih dengan dua garis merah yang sangat jelas di tangan istrinya. Jantung Arga seakan berhenti berdetak sesaat.
"Kamu... hamil?" suara Arga bergetar hebat. Ada nada ketidakpercayaan yang mendalam di sana. Satu minggu. Mereka baru menikah satu minggu, dan alat itu menunjukkan hasil positif yang sangat kuat. Secara medis, itu adalah hal yang mustahil jika benih itu berasal darinya.
Keysha langsung merangkak, bersimpuh di kaki Arga, menangis histeris sambil memegangi ujung celana kain suaminya. "Maafkan aku, Mas... Maaf... ini anak... ini anak pacarku. Hubungan kami tidak direstui oleh orang tuaku, makanya mereka memaksaku menerima perjodohan ini... Maafkan aku, Mas Arga!"
Blar!
Dunia Arga serasa runtuh seketika. Langit-langit kamar mewah itu seolah runtuh menimpa kepalanya. Satu minggu pernikahan yang dipaksakan, dan kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa rahim wanita yang berstatus sebagai istrinya telah diisi oleh benih pria lain. Rasa muak, benci, jijik, dan hancur bergolak menjadi satu di dalam dadanya. Jiwanya serasa tercabik-cabik tanpa sisa.
"Lepas!" bentak Arga, menghempaskan kaki hingga pegangan Keysha terlepas. "Kau menjadikanku tameng untuk menyembunyikan aibmu?!"
Arga ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia ingin menyeret wanita manipulatif ini keluar dari rumahnya dan melemparkan surat cerai ke wajahnya detik itu juga. Pernikahan sandiwara ini harus berakhir. Ia tidak sudi menjadi ayah dari anak pria lain yang telah merusak istrinya.
Namun, Keysha bukanlah wanita amatir yang mudah menyerah. Mendengar keributan di lantai atas, kedua orang tua Arga yang kebetulan sedang berkunjung segera berlari masuk ke dalam kamar. Dan di sinilah sandiwara menjijikkan itu dimulai.
Keysha dengan cepat mengubah gestur tubuhnya. Di depan mertuanya, ia menangis tersedu-sedu, bersujud di lantai seolah dirinya adalah korban paling menderita yang tertindas. Ia memoles wajahnya dengan akting yang begitu luar biasa, merangkai cerita bohong bahwa ia dijebak dan diperkosa oleh mantan pacarnya sebelum pernikahan terjadi, dan ia terlalu takut untuk jujur pada Arga.
Orang tua Arga, yang terbuai oleh sifat manipulatif dan air mata buaya sang menantu, langsung termakan sandiwara tersebut. Bagi mereka, yang paling utama bukanlah perasaan Arga, melainkan saham, bisnis, dan nama baik keluarga Dirgantara yang dipertaruhkan di lantai bursa.
"Arga, cukup!" bentak sang ayah, menatap putranya dengan pandangan sedingin es. "Maafkan Keysha. Apa kamu tidak memikirkan dampak jangka panjangnya jika berita ini tersebar? Saham kita akan anjlok, investasi ratusan triliun akan gagal! Demi nama baik keluarga dan kelangsungan bisnis kita, pertahankan pernikahan ini dan akui anak itu sebagai anakmu!"
Arga menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Ayah... dia mengandung anak pria lain! Di mana harga diriku sebagai seorang suami?!"
"Harga dirimu ada pada kejayaan Dirgantara Group, Arga!" balas ayahnya tanpa belas kasihan.
Di sudut ruangan dekat pintu kamar yang sedikit terbuka, Alya menyaksikan seluruh kekacauan itu dengan air mata yang mengalir di pipinya. Jantungnya berdenyut sakit melihat bagaimana kakak laki-lakinya yang selalu ia banggakan, kini ditekan dan dihancurkan dari segala arah. Alya melihat bagaimana Keysha sempat melirik ke arah Arga dengan tatapan kemenangan di sela-sela tangis palsunya. Alya mengepalkan tangannya erat-erat; ia sangat muak melihat kelakuan kakak iparnya yang berhati iblis itu.
Arga berdiri mematung di tengah kamar. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan kukunya hampir menembus kulit telapak tangannya sendiri. Menolak berarti menghancurkan imperium yang dibangun ayahnya, menerima berarti membunuh jiwanya sendiri.
Malam harinya, di dalam kamar yang sunyi, Arga duduk di kegelapan. Keysha baru saja kembali dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya. Wanita itu memegang ponselnya, tersenyum tipis, dan dengan jari-jarinya yang lentik, ia sibuk bertukar pesan mesra dengan pacarnya di balik selimut. Keysha mengira Arga sudah tidur, namun sepasang mata elang Arga mengawasi setiap gerak-gerik menjijikkan itu dari kegelapan. Hanya beberapa jam setelah memohon ampun dengan bersujud di kaki Arga, wanita itu sudah kembali bermain belakang tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Arga memejamkan mata, menghela napas panjang yang terasa begitu berat di dadanya. Demi kewajiban moral yang dipaksakan, demi ambisi buta orang tuanya, Arga memaafkan untuk kedua kalinya. Ia memilih diam dan membiarkan sandiwara ini berlanjut. Namun, malam itu, di dalam kesunyian kamar yang dingin, hati Arga Dirgantara telah mati seutuhnya. Rasa percaya, kehangatan, dan cinta telah menguap dari dalam dirinya, digantikan oleh kekosongan yang membeku.
Sejak hari yang terkutuk itu, Arga berubah total. Topeng kesempurnaan yang ia kenakan sehari-hari kini dilapisi oleh dinding es yang tak tertembus oleh siapa pun. Ia mengunci rapat-rapat hatinya dari dunia luar. Pria yang dulunya masih bisa melemparkan senyum tipis kini bertransformasi menjadi sosok yang dingin, cuek, dan sama sekali tak tersentuh. Pengkhianatan beruntung yang dilakukan oleh istrinya sejak awal pernikahan telah merubah genetik emosinya menjadi monster yang mati rasa.
Perubahan drastis itu paling terasa di lingkungan universitas tempatnya mengajar. Di koridor kampus, nama Arga Dirgantara berubah menjadi momok yang paling ditakuti. Ia dikenal luas sebagai 'Dosen Killer'.
Setiap kali langkah kaki panjang Arga yang dibalut sepatu pantofel mewah terdengar menggema di lorong gedung fakultas ekonomi, para mahasiswa yang sedang mengobrol akan langsung terdiam seketika. Aura dingin dan mencekam yang menguar dari tubuh tegapnya sanggup membuat nyali siapa pun menciut. Di dalam kelas, Arga tidak pernah mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Tatapan matanya yang setajam silet, ditambah suara baritonnya yang datar namun menusuk, siap menguliti mental mahasiswa yang tidak siap mengikuti kuisnya.
Bagi Arga, ruang kelas dan ruang kerja CEO-nya adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa memegang kendali penuh atas hidupnya, sebuah kompensasi dari kehidupan rumah tangganya yang hancur berantakan dan dikendalikan oleh orang lain. Aura dingin yang menakutkan itu sebenarnya hanyalah sebuah perisai kokoh. Sebuah topeng yang ia gunakan untuk melindungi hatinya yang telah hancur berkeping-keping di balik kemeja mahalnya. Pria tampan berusia 30 tahun itu telah bersumpah, tidak akan pernah ada satu wanita pun di dunia ini yang diizinkan untuk mendekat atau menyentuh hatinya lagi.
Namun, Arga tidak pernah menduga bahwa takdir memiliki caranya sendiri untuk mempermainkan manusia. Di balik ketatnya perisai es yang ia bangun, sebuah badai baru yang jauh lebih liar, berisik, dan tak terduga sedang bersiap untuk menerjang hidupnya yang sepi. Badai dalam wujud seorang gadis belia berusia 20 tahun yang siap menghancurkan seluruh kewarasannya.