NovelToon NovelToon
Aku Tak Sanggup Lagi

Aku Tak Sanggup Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang yang Belum Usai

Pagi hari di kota Jakarta terasa lebih menyesakkan bagi Bu Anne. Ia berdiri di depan gerbang kantor kepolisian dengan wajah yang sudah tidak karuan; make-up mahalnya luntur oleh keringat dan air mata amarah. Semalam adalah mimpi buruk terpanjang dalam hidupnya. Anak kesayangannya, Malik, dan calon menantu yang kini ia benci sekaligus ia butuhkan, Dara, berada di balik jeruji besi atas tuduhan kriminal berat.

Bu Anne tidak bisa menerima kenyataan bahwa posisinya sebagai nyonya besar Wiratama kini benar-benar terancam. Ia merasa dunia telah berbalik melawannya. Saat ia melihat Anjani melangkah keluar dari lobi kantor polisi, ditemani oleh Oliver Jones yang tampak sangat protektif di sampingnya, murka Bu Anne meledak tanpa kendali.

"Anjani! Dasar perempuan kurang ajar!" teriak Bu Anne. Suaranya yang cempreng memecah kesunyian halaman kantor polisi, membuat beberapa petugas menoleh ke arah mereka.

Anjani berhenti melangkah. Ia menatap mertuanya—atau mantan mertuanya—itu dengan tatapan yang tenang, jauh berbeda dengan Anjani yang dulu selalu gemetar ketakutan saat mendengar suara melengking wanita itu.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan mereka sekarang juga!" Bu Anne berlari kecil menghampiri Anjani, mencoba meraih bahu menantunya, namun dengan sigap Oliver Jones melangkah maju dan menghalangi langkah wanita tua itu dengan tubuhnya yang kokoh.

Bu Anne tertegun sejenak menatap dada bidang Oliver yang terbungkus setelan jas tailor-made mahal. Namun, ia tidak mundur. "Kau! Bule sombong! Jangan ikut campur urusan keluarga kami! Ini urusan rumah tangga, dan wanita tidak berguna ini sudah menghancurkan masa depan anakku!"

****

Oliver menatap Bu Anne dengan dingin. Matanya yang biru setajam es. "Nyonya, saya sarankan Anda menjaga tutur kata Anda. Saat ini, putra Anda dan wanita yang bersamanya sedang menjalani proses hukum karena tindak kriminal nyata. Bukan karena 'urusan rumah tangga', melainkan karena penggelapan, penyuapan, dan tindakan kekerasan yang mereka lakukan sendiri."

"Tutup mulutmu!" Bu Anne meludah ke lantai, perilakunya benar-benar jauh dari kesan elegan yang selama ini ia bangun. "Anjani, aku tahu kau yang merencanakan semua ini! Kau memanipulasi anakku, kau menyuap polisi, dan kau membawa orang asing ini untuk mengintimidasi kami! Aku punya koneksi, Anjani. Aku bisa menghancurkan hidupmu dalam hitungan jam jika kau tidak mencabut semua laporan itu!"

Anjani menarik napas panjang. Ia melangkah keluar dari balik punggung Oliver, menatap Bu Anne tepat di matanya. "Koneksi apa yang kau bicarakan, Bu? Koneksi yang dulu kau gunakan untuk menekan keluargaku? Atau koneksi yang kau gunakan untuk menyuap hakim kemarin? Semuanya sudah tamat. Malik dan Dara tidak akan keluar hanya karena ancamanmu."

"Kau!" Bu Anne hendak melayangkan tangan untuk menampar Anjani, namun sekali lagi, Oliver menangkap pergelangan tangan wanita tua itu dengan gerakan yang cepat dan presisi.

"Saya peringatkan sekali lagi," suara Oliver rendah namun menggetarkan, penuh ancaman yang nyata. "Jangan pernah menyentuh Anjani. Jika Anda melakukan tindakan kekerasan sekecil apa pun, saya akan memastikan Anda ikut bergabung di sel yang sama dengan mereka. Anda pikir Anda masih punya kekuasaan? Perusahaan Anda sudah dalam pengawasan audit nasional. Harta Anda sedang dibekukan oleh otoritas keuangan. Anda sudah tidak punya apa-apa lagi, kecuali kesombongan yang sebentar lagi akan memakan Anda sendiri."

****

Wajah Bu Anne memucat seketika mendengar kata-kata Oliver. Keangkuhannya goyah saat ia menyadari bahwa ancamannya tidak lagi mempan terhadap pria yang bahkan tidak takut pada reputasi Wiratama. Ia menatap Anjani, mencari secercah kelemahan, namun ia tidak menemukannya.

"Kau beruntung punya pelindung, Anjani," desis Bu Anne dengan gigi terkatup. "Tapi ingat ini: selagi kau bersenang-senang di luar, Malik dan Dara akan melakukan apa pun di dalam sana untuk keluar. Dan saat mereka keluar, tidak akan ada tempat di bumi ini yang cukup aman untukmu!"

"Sudah cukup," potong Anjani. Ia menoleh ke arah sopir pribadinya yang telah menunggu di depan mobil. "Bu Anne, pulanglah. Urus dirimu sendiri sebelum semuanya terlambat. Aku tidak akan mencabut laporan itu, dan aku tidak akan pernah lagi tunduk pada kata-katamu."

Anjani masuk ke dalam mobil, meninggalkan Bu Anne yang masih berdiri mematung di halaman kantor polisi, berteriak-teriak tidak karuan seperti orang kehilangan akal. Oliver masih berdiri di sana selama beberapa detik, memberikan tatapan tajam terakhir pada Bu Anne, sebelum akhirnya ia berbalik dan masuk ke mobil yang sama dengan Anjani.

Di dalam mobil, suasana hening. Anjani menatap ke luar jendela, melihat jalanan Jakarta yang sibuk. Ia merasa lega, namun ia juga tahu peringatan Bu Anne tadi bukanlah gertakan kosong. Malik dan Dara memang tidak akan menyerah begitu saja.

"Kau baik-baik saja?" tanya Oliver pelan.

Anjani menoleh, menatap pria yang telah begitu banyak membantunya. "Aku baik. Hanya saja... aku lelah dengan kebencian mereka. Kenapa mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa mereka salah?"

Oliver tersenyum tipis. "Karena mereka tidak pernah belajar untuk bertanggung jawab, Anjani. Orang-orang seperti mereka selalu menganggap dunia adalah milik mereka, dan ketika dunia membuktikan sebaliknya, mereka akan merusak apa pun yang ada di sekitar mereka."

Oliver kemudian mengambil sebuah tablet dari tasnya. "Tim hukumku telah menemukan bukti baru. Dara ternyata sempat mencoba menyuap sipir penjara tadi malam untuk mendapatkan akses telepon khusus. Kita akan melaporkan ini agar akses mereka benar-benar dibatasi."

Anjani mengangguk setuju. Ia kini mengerti bahwa dalam perang ini, satu detik kelengahan bisa berakibat fatal. Namun, ia tidak sendiri. Ia memiliki Oliver, ia memiliki hukum yang perlahan mulai bekerja, dan yang paling penting, ia memiliki harga dirinya kembali.

****

Sementara itu, di dalam sel tahanan, Dara Mitha Dahayu sedang menatap dinding beton dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Ia baru saja mendengar dari seorang petugas bahwa Bu Anne gagal menekan Anjani di luar sana.

"Anjani punya pelindung yang kuat, Malik," bisik Dara pada Malik yang duduk di sudut sel dengan putus asa. "Kita tidak bisa menggunakan cara biasa lagi."

Malik tidak menjawab, ia hanya menatap lantai dengan tatapan kosong.

"Dengar," bisik Dara lagi, suaranya kini terdengar seperti desis ular. "Aku punya koneksi di luar yang tidak diketahui siapa pun. Orang-orang yang berutang nyawa padaku. Jika kita tidak bisa keluar secara hukum, maka kita akan keluar dengan cara lain. Kita akan membuat Anjani menyesal karena telah membiarkan kita membusuk di sini."

Dara menyeringai, sebuah senyuman yang jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mulai membayangkan skenario di mana Anjani dipaksa untuk datang berlutut padanya di dalam penjara, memohon untuk menghentikan segala teror yang akan segera ia kirimkan.

Di luar, Anjani tidak tahu bahwa Dara sedang merancang rencana yang akan melibatkan bahaya yang lebih besar lagi. Ia hanya merasa bahwa badai telah mereda, tanpa sadar bahwa badai yang sebenarnya baru saja akan menghantam.

Pertempuran ini telah berpindah dari ruang sidang ke dunia bawah tanah, di mana aturan hukum tidak lagi berlaku, dan hanya mereka yang paling kejam yang akan bertahan hidup. Anjani Direja, wanita yang kini mulai berdiri tegak, harus bersiap menghadapi babak paling kelam dari dendam seorang wanita yang merasa dunianya telah direnggut.

1
Heriyani Lawi
ceritanya ky film India, meskipun ditangkap bbrp kali msh aja lolos. klo aku mungkin dah kutembak mati aja tuh si dara, ngapain diserahkn ke polisi klo ujung2nya lepas lg
Heriyani Lawi
ceritanya agak aneh menurutku thor. sdh tau dara melarikan diri dan bersifat licik, knp ayahnya Anjani tidak dikawal dan dibiarkan sendiri
Dew666
👍
Iffanaya 😽
dara tu gk bisa dimasukin penjara lg, orang mcm dara lbih baik dimusnahkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!