NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Di Bawah Langit yang Sama

Musim angin telah tiba di Karimun. Awan kelabu berarak rendah menutupi ufuk, ombak bergulung lebih tinggi dari biasanya, dan suara gemuruh laut terdengar sampai ke halaman rumah kayu Laras. Namun di dalam rumah itu, suasana tetap hangat dan penuh tawa. Bayu kini berusia empat tahun, lincah dan penuh rasa ingin tahu, sering kali mengikuti Dika ke kebun atau Raka saat pergi memeriksa jaring nelayan.

Sore itu, hujan turun rintik-rintik membasahi daun-daun kelapa. Laras sedang duduk di ruang tengah merajut selimut baru, sementara Bibi Sari dan Paman Hadi sibuk menyiapkan jamu hangat serta camilan pisang rebus. Dika baru saja masuk dengan baju sedikit basah, disusul Raka yang tampak serius.

“Ada kabar kurang baik dari seberang pulau,” kata Raka sambil mengelap keringat di dahi. “Badai besar melanda wilayah pesisir utara kemarin sore. Banyak rumah warga hancur, perahu-perahu nelayan hanyut, dan persediaan makanan habis terbawa arus. Mereka kekurangan bantuan, dan bantuan dari kerajaan belum sampai juga.”

Laras meletakkan rajutannya perlahan. Matanya menatap jendela yang berkabut air hujan. Bayangan masa lalu melintas sekilas—saat ia melihat banyak orang menderita tanpa ada yang peduli, saat ia merasa sendirian di tengah dunia yang kejam. Namun kini ia tidak sendirian.

“Kita tidak bisa diam saja,” ucapnya mantap. “Mereka adalah saudara kita juga. Apa yang kita punya, harus kita bagi.”

Malam itu juga mereka mengumpulkan seluruh warga desa di balai desa. Tanpa banyak bicara, Laras menceritakan keadaan saudara mereka yang sedang tertimpa musibah. Tanpa perlu disuruh, warga langsung bergerak. Ibu-ibu mengumpulkan beras, garam, gula, dan pakaian layak pakai. Bapak-bapak merakit rakit dan perahu cadangan, serta mengumpulkan kayu bakar dan obat-obatan sederhana.

“Kita bawa apa yang kita bisa,” kata Dika memimpin persiapan. “Kita tidak pergi untuk memerintah, tapi untuk membantu.”

Keesokan paginya, meski ombak masih cukup besar, rombongan berangkat. Laras ikut bersama mereka, didampingi Dika, Raka, Arga, dan beberapa orang terkuat desa. Bayu dititipkan pada Bibi Sari dan Paman Hadi dengan janji akan segera pulang membawa cerita indah.

Perjalanan menempuh waktu hampir seharian. Saat akhirnya mendarat di pesisir utara, pemandangan yang menyambut mereka sungguh memilukan. Rumah-rumah beratap rumbia roboh, tanah berlumpur, dan warga duduk terpaku dengan wajah lesu, anak-anak menangis kelaparan. Namun saat melihat perahu-perahu dari Karimun mendekat membawa bantuan, sorak sorai kecil terdengar perlahan dari bibir mereka yang gemetar.

Laras melangkah turun ke darat, kakinya terbenam dalam lumpur. Ia tidak berpakaian mewah, tidak membawa senjata, hanya membawa niat tulus dan kasih sayang. Ia langsung membantu mengangkat karung beras, membagikan air bersih, dan memeriksa kondisi orang-orang yang terluka.

Namun di tengah kesibukan itu, muncul sekelompok orang yang menatapnya curiga. Mereka adalah sisa-sisa pengikut lama yang dulu pernah mendengar nama Laras sebagai Ratu Pembunuh yang mengerikan. Mereka mengira kedatangannya adalah untuk menguasai wilayah yang sedang lemah itu.

“Kenapa dia ada di sini?” bisik salah satu dari mereka cukup keras. “Dikatakan dia pernah membunuh puluhan orang. Apa dia ingin memanfaatkan kesusahan kita?”

Kata-kata itu terdengar jelas oleh Laras. Dika dan Raka hendak menjelaskan, namun Laras memberi isyarat agar tenang. Ia menghampiri kelompok itu perlahan, tanpa rasa tersinggung atau marah.

“Aku tidak menyalahkan kalian jika takut,” ucap Laras dengan suara lembut namun tegas. “Dulu memang benar aku pernah hidup dalam kegelapan. Aku pernah menyakiti orang, aku pernah memegang pedang dengan niat buruk. Tapi lihatlah tangan ini sekarang—yang dulu memegang senjata tajam, kini hanya memegang bekal makanan untuk kalian. Lihatlah mataku—yang dulu penuh amarah, kini hanya penuh rasa iba melihat kalian menderita.”

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah mereka. “Kebenaran tidak perlu dibela dengan teriakan. Biarkanlah tindakanku yang berbicara. Jika aku ingin berkuasa, aku tidak akan datang ke sini kotor terkena lumpur dan basah kuyup oleh hujan.”

Mata mereka perlahan melembut. Melihat bagaimana Laras bekerja tanpa kenal lelah, merawat luka orang yang bahkan tidak ia kenal, berbagi makanan meski bekalnya sendiri terbatas, perlahan hilanglah prasangka yang menumpuk selama bertahun-tahun.

Selama tiga hari mereka tinggal di sana. Mereka membantu membangun kembali atap rumah, membersihkan jalan yang tertutup lumpur, dan membagikan harapan yang sempat hilang. Warga setempat yang awalnya curiga, kini menyambut mereka sebagai keluarga sendiri.

Saat hari perpisahan tiba, kepala desa setempat datang membawa sebuah bungkusan kain. “Kami tidak memiliki banyak harta untuk membalas kebaikan kalian. Tapi terimalah ini—sebuah keris tua yang dulu milik leluhur kami, bukan untuk perang, melainkan sebagai simbol pelindung yang setia.”

Laras menerima bungkusan itu dengan hormat. “Terima kasih. Tapi ketahuilah, perlindungan sejati tidak ada pada besi yang tajam, melainkan pada hati yang saling menjaga.”

Perjalanan pulang terasa ringan meski tubuh lelah. Di perahu, Laras duduk bersandar pada bahu Dika. Angin laut menerpa wajahnya yang kini terasa lebih tenang dari sebelumnya.

“Kau tahu,” bisiknya pelan. “Dulu aku berpikir menjadi kuat berarti tak boleh rapuh, tak boleh menangis, dan tak boleh berbagi. Ternyata justru sebaliknya. Kekuatan terbesarku muncul saat aku berani mengakui kesalahanku, berani berbagi apa yang kupunya, dan berani membiarkan orang lain melihat sisi lemahku.”

Sesampainya di Karimun, kedatangan mereka disambut riuh warga dan Bayu yang berlari menyambut ibunya dengan senyum lebar. Malam itu, di bawah cahaya pelita yang temaram, mereka berkumpul makan bersama sambil berbagi cerita. Tidak ada kemenangan yang dibanggakan, tidak ada musuh yang dikalahkan—hanya rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk berbuat baik.

Kisah Laras sebagai Mantan Ratu Pembunuh memang sudah lama usai. Namun kisahnya sebagai manusia biasa, sebagai ibu, istri, saudari, dan pelindung yang tulus baru saja dimulai dengan lebih indah. Dan di bawah langit Karimun yang kadang mendung namun selalu kembali cerah, ia sadar satu hal: takdir tidak pernah menentukan siapa kita selamanya. Kitalah yang menentukan siapa yang ingin kita jadikan diri kita—bahkan saat dunia pernah memaksa kita menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!