NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Mantan Suamiku

Menikahi Bos Mantan Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Perjodohan / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:22.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: misshel

Teruntuk Moms, Single Moms, dan seluruh wanita yang sedang berjuang bagi anak-anaknya. Jangan sedih ... kamu hebat, kamu kuat! Aku di sini bersamamu!



"Jangan menyerah di awal, karena tidak ada awalan yang sempurna"

Warning!! 21 Area!!

Akira Shofie harus bertahan ditengah kerasnya kehidupan saat ia harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri setelah suaminya menceraikannya dan menelantarkan mereka.

Namun, kehidupannya berubah total ketika ia terpaksa menikah dengan anak dari atasan mantan suaminya.

Akira yang lemah dan tidak bisa melakukan apa-apa saat suaminya berselingkuh, akhirnya menemukan keberanian membalas sakit hatinya dulu dengan dukungan suaminya yang sangat perhatian dan menyayanginya juga ketiga anaknya.

Akankah Akira sanggup membalas dendam yang telah lama bersarang di hatinya? Ataukah ia berhasil berdamai dengan dendam dan hidup dengan baik bersama suami dan ke enam anaknya? Temukan jawabannya di dalam kisah ini.



NOTE : Ceritanya ngga bagus-bagus sangat...B ajah...hehehehe....

ig: misshel_88

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

De javu

"Selamat pagi Nyonya Bos” Johan tersenyum lebar.

Aku menghembuskan nafas panjang, sepagi ini sudah dibuat kesal. Johan membawa setelan sepertinya milik Harris, tengah unjuk gigi di depan pintu. Siapa yang menyangka dia seorang asisten, pembawaannya yang santai, membuatku meragukannya.

“Jangan panggil aku nyonya, Jo” aku berusaha untuk tidak berteriak, mengingat ini bukan rumahku.

“Aku di depan bosku sekarang, jadi aku harus bersikap formal” Ya ampun, orang ini pandai sekali mencari alasan.

“Masuklah” aku menggeser badanku ke samping, agar Johan bisa masuk. Tetapi, bukannya segera masuk, dia hanya menjulurkan kepalanya.

“Kau saja, Nyonya. Kau kan istrinya, sekarang kaulah yang menyiapkan kebutuhannya” Johan menyerahkan setelan itu kepadaku.

“Kau saja, Jo. Aku belum tahu apa kebiasaannya. Nanti salah semua, jadi kesiangan” Aku menyerahkan kembali baju itu pada Johan. Aku tidak beralasan, aku tak tahu apapun tentang dia. Bukannya membantu, nanti malah merepotkan.

“Dia bukan anak kecil Nyonya, cukup siapkan baju dan perlengkapan lainnya di satu tempat, biar mudah ketika akan memakainya” Dia sepertinya jengkel, seolah ingin berkata "apa susahnya?"

“Kamu aja Jo” Aku masih berkeras menolak.

Terjadi keributan di depan pintu karena aku dan Johan saling dorong setelan dalam plastik pembungkus itu. Sehingga menimbulkan bunyi sedikit berisik.

“Apa yang kalian ributkan?” Aku menoleh ke tempat tidur. Harris sudah duduk di tepi ranjang.

“Ini Tuan, saya mengantar pakaian anda tapi Nyonya Bos ngga mau menerimanya” Johan nyelonong masuk. Membuatku semakin kesal saja. Kenapa menunggu dia bangun, kenapa tidak masuk saja dari tadi. Aku merapatkan gigi ku di dalam mulut yang terkatup rapat.

“Letakan di sofa saja, aku mandi dulu” Harris beranjak dari ranjang untuk segera mandi. Sejenak Harris menatapku, sepertinya akan kena semprot pagi ini. Dia berjalan sambil menyisir rambutnya dengan jari tangannya. Ugh... Aku segera mengalihkan pandanganku darinya. Takut.

“Baik Tuan, saya akan menunggu di luar”

Astaga, apa aku baru saja melihat bunglon. Cepat sekali berubahnya, dari yang awalnya cengengesan berubah bersikap formal dan tegas. Apa mereka punya dua wajah? Tidak Tuan Dirga, tidak Johan, mereka sama.

“Sebaiknya anda menunggu sampai Tuan Harris selesai mandi Nyonya” Johan berbisik kepadaku ketika hampir mencapai pintu.

“Aku mau turun Jo, memangnya tidak sarapan? Aku akan menyiapkan makanan untuk sarapan” Aku berjalan mendahului Johan.

“Baiklah, terserah saja, paling-paling dia akan memarahimu” Johan melenggang ke pintu ketika aku menghentikan langkahku. Sikap tidak pedulinya, kentara sekali di buat-buat, tapi itu berhasil mempengaruhi ku.

Aku berhenti sejenak, berpikir. Baiklah, aku akan menuruti kemauan Johan. Tidak lucu juga, pagi buta sudah membuat keributan. Aku berbalik, kesal? Iya. Tapi adakah pilihan untukku? Mengingat kembali apa yang membuatku berada di sini. Sudahlah.

Aku menempatkan apa yang di butuhkan Harris di satu tempat. Aku tidak tau seleranya, aku hanya menggunakan pengalamanku saat masih bersama Mas Rian saja. Sembari menunggu dia mandi, aku merapikan tempat tidur yang berantakan.

Ketika pintu kamar mandi terbuka, aku seperti merasakan de javu. Sesuatu yang kudengar 10 tahun terakhir. 10 tahun kebahagiaan, 10 tahun yang menurutku, indah. Kilasan kenangan indah itu berhamburan keluar dari kuburan tempatku memendam semuanya, bagai laron beterbangan menuju cahaya.

Mendengar suara pintu terbuka di belakangku, di peluk dan di kecup mesra dari belakang, menjadi ritual pagi yang nyaris tak pernah terlewat. Membeku, seolah semua menjauh, hanya ada aku dan kenangan yang terasa nyata lagi.

Tanpa sadar, mataku terasa panas, dadaku terasa terbakar, ketika aku ingat, ada wanita lain yang di perlakukan sama denganku. Ada wanita lain yang membuka ikatan dasi yang ku buat. Ada dia yang selalu di perlakukan sama denganku, ketika kami tidak bersama. Membagi nafas yang sama, seperti denganku.

“Apa yang kau pikirkan?” Suara datar namun menghadirkan keheranan. Pria menjulang itu sudah berdiri beberapa langkah dariku. Pria berbeda, namun berhasil membangkitkan kenangan lama.

Gelagapan, ketika pandangan kami bertemu untuk pertama kalinya. Aku tak mampu menjawab, bibirku bergetar seolah lupa cara berbicara, otakku kehilangan kosa kata. Aku mengerjapkan mataku berulang, untuk menghapus air mata yang menumpuk di sudut mataku.

“Apa kau mulai merasa menyesal sekarang?” Lanjutnya kembali sembari mengancingkan lengan bajunya.

“Maaf, aku tidak tahu bagaimana seleramu berpakaian” Tanya apa ku jawab apa. Aku benar-benar tidak fokus. Ingatanku terakhir sebelum menjejak ke masa lalu, adalah seleranya berpakaian.

“Aku memakai apa yang ada, yang penting rapi dan serasi” Jawabnya singkat.

Catat, tidak ribet, dalam berpakaian. Dia tidak mempersulit diriku. Baiklah, laki-laki ini tidak sulit di mengerti dan tidak suka basa basi. Bolehkah aku bilang aku beruntung?. Pengalaman 10 tahun, setidaknya memberiku manfaat sekarang.

Meskipun terlalu awal untuk mengatakan, tetapi keterbukaannya, bahkan untuk hal berpakaian, itu adalah awal yang baik buatku. Bayangkan saja, kami belum 24 jam saling mengenal, tapi kami seperti teman lama yang baru bertemu kembali.

“Kau suka sekali melamun, apa lamunanmu akan menyelesaikan pekerjaanmu?” Kali ini dia terlihat kesal. Melihatku tidak menaruh perhatian penuh padanya.

“Maaf, em, apalagi yang bisa kubantu?” tanyaku. Kali ini aku memberanikan diri untuk menatap matanya lagi walau sekilas. Aku takut terjebak di sana.

“Sudah, aku sudah siap” Benar, dia sudah rapi dan.... tampan....sekali. Mempesona. Jika aku tak punya pengalaman buruk tentang jatuh cinta, aku sudah menghambur terjun kedalam pesonanya.

“Apa kau lapar?” Tanyanya. Matanya meneliti wajahku, membuatku salah tingkah.

“Apa?”

“Kau lapar? Barusan wajahmu seperti orang kelaparan” Jawabnya sambil mengalihkan pandangan ke ponsel yang baru di ambilnya. Dan duduk di tepi tempat tidur.

“Tidak, aku tidak lapar. Kalau sudah selesai, aku turun dulu” Aku kepalang malu. Berkali-kali kedapatan kehilangan fokus, tak ingin lagi menambah buruk diriku di matanya, aku memilih pergi. Secepat kilat aku melesat ke pintu tanpa menunggu jawabannya.

“Kita turun bersama” Aku berhenti. Apa dia sedang ingin bersandiwara di hadapan semuanya? Apa ini sebuah kode?

“Ayo” Harris sudah berdiri sejajar denganku. Memasukkan ponsel ke dalam sakunya, kemudian berjalan tegap ke pintu, meninggalkanku.

Apa yang ku pikirkan? Bodoh. Aku menggigit bibir, meringis, ngeri dengan pikiranku. Aku mengekor di belakangnya, jauh. Johan sesekali menoleh ke arahku. Mungkin memastikan aku masih mengikuti. Dia sedang berbincang dengan Johan. Mereka berbicara dengan suara pelan. Aku tidak ingin mendengarnya, bukan urusanku. Tetapi aku harus mengejarnya, jika tidak mau tersesat.

Melewati tangga, lorong, dan beberapa ruang tertutup, sampailah di meja makan super besar. Bayangkan meja makan ini muat setidaknya 20 orang, -di hitung jumlah kursi yang ada- dan yang menghuninya setiap hari adalah seorang pria tua. Bersama dengan asiseten rumah tangga.

Harris dan Johan duduk di meja makan. Mereka mengabaikanku, asyik membicarakan pekerjaan sepertinya. Aku melangkah ke belakang lagi. Dapur yang membuatku berdecak kagum. Mewah. Setidaknya 5 orang wanita sedang bekerja di sana, sambil mengobrol santai, sesekali mereka tertawa.

“Selamat pagi, Nona” sapa salah seorang asisten rumah tangga. Seketika, dapur menjadi senyap. 4 orang lainnya, menghentikan semua kegiatannya untuk menyambutku. Dengan hormat. Astaga, aku sungguh sungkan.

“Pagi, Bi. Sedang masak apa?” jawabku sambil tersenyum. Aku berjalan mendekati mereka. “Apa ada yang bisa ku bantu?”

“Tidak perlu Nona” Jawab mereka serentak.

“Tidak apa-apa, saya terbiasa memasak setiap pagi” Aku mendekati meja dengan sayur mayur dan bakal lauk yang sudah siap di olah.

“Ini pekerjaan kami, sebaiknya anda berjalan-jalan di luar. Udara pagi bagus untuk kesehatan. Santi, temani Nona berjalan-jalan" Wanita bernama Santi, segera melangkah maju.

"Tidak perlu, Bi. Saya akan ke kamar anak saya saja. Maaf, menganggu pekerjaan kalian" Aku menundukkan kepala sebagai permintaan maaf. Huh, aku segera meninggalkan dapur.

Di meja makan, 2 orang itu masih asyik berbincang. Aku terkejut ketika Johan tertawa dengan keras, di ikuti pandangan tajam dari Harris. Namun, begitu melihatku, tawanya mendadak berhenti.

"Nyonya, maaf, aku terlalu terbawa suasana pagi" Johan nyengir tanpa dosa ke arahku. Aku memilih mengabaikan 2 orang itu, suasana pagi seperti apa sekarang yang mampu membuat seseorang tertawa begitu keras?. Abaikan saja....

.

.

.

1
Dwi Setyaningrum
berkali kali baca ulang crita ini tetap aja ikut mewek..
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, Biar lebih mudah boleh langsung klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Dwi Setyaningrum
kangen baca ulang thor...
Tiktok: misshel_author: Makasih udah baca ulang kak, aku temenin dr jauh😍
total 1 replies
Nur Wakidah
lhah siapa ini main peluk aja 😆😆😆 jangan Rio tolong 🙈🙈🙈
𝓹𝓮𝓷𝓪𝓹𝓲𝓪𝓷𝓸𝓱: halo kak baca juga d novel ku 𝘼𝙙𝙯𝙖𝙙𝙞𝙣𝙖 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙪𝙨 𝙧𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖 atau klik akun profil ku ya😌
total 1 replies
Rasenniyya Mom
James dan Lily Potter nih? 😆
Rasenniyya Mom
Mau kasih kira lollipop ya, Ris??/Grin/
Kamiem sag
benar complicated
Kamiem sag
ya... Kiraterus terlena dgn pesona dan perhatian Haris sampai lupa tumbuh kembang anak anaknya
Haris juga sepertinya cuma butuh apem Kira gak butuh kehadiran anak anaknya maka dia bisa merajuk dan mengabaikan sapaan Jeje ( sakit tau anak sekecil itu merasa diabaikan dan gak dibutuhkan)
Kamiem sag
Jeje cerdas cumabelum tau aja dunia orang dewasa😄😄
Kamiem sag
memang gila si Haris mencintai Kira juga gila
Kamiem sag
sesal Rian makin bertambah
Kamiem sag
love you bang Haris
Kamiem sag
hancur
Kamiem sag
😲😮
Kamiem sag
kasih sayang ibu yg buat Viona jadi lebih baik
Kamiem sag
kupikir cuma Rio dan Jo yg patah hati ternyata Hendra juga
Kamiem sag
Kira itu hiena singa juga rubah betina😄😄😄😄😄
Kamiem sag
Evan ayah biologisnya Kristal??
Kamiem sag
aku gak coment
Kamiem sag
Viona berubah??
tersentuh oleh ibu??
Kamiem sag
😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!